Keisya bangun kembali ke masa lalu–tepat sebelum kecelakaan yang mengubah segalanya. Dulu, rasa iri dan provokasi membuatnya menyiksa Keyla yang merupakan anak kandung keluarga Jordan yang tlah lama hilang, hingga akhirnya ia mati dibunuh oleh keluarga yang membesarkannya itu..
Kini, ia kembali ke usia 15 tahun dengan ingatan penuh penyesalan, dan setiap ia mengingat masa dimana ia menyiksa Keyla, kepalanya akan terasa sangat sakit, oleh sebab itu, sekarang ia hanya punya satu tekad yaitu melindungi Keyla dari bahaya, menebus kesalahan, dan membiarkan gadis itu mendapatkan tempatnya yang sesungguhnya di keluarga Jordan sebelum dirinya pergi dari keluarga itu agar bisa menjalani hidupnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Brak!
"Dasar anak tak tahu diuntung!"
Bentakan kasar itu menggema di ruangan yang remang-remang, bersamaan dengan balok kayu yang kembali menghantam tubuh ringkih yang tergeletak tak berdaya di lantai yang kotor.
Sebuah tendangan telak menghantam perutnya hingga napasnya nyaris terputus.
"Bukannya bersyukur karena sudah kupungut dan kubesarkan, kau malah berani menyakiti anak kandungku! Dasar brengsek!"
Keisya hanya bisa meringkuk. Seluruh tubuhnya terasa remuk, dipenuhi luka lebam dan darah yang mengering. Kesadarannya mulai memudar ketika seseorang mencengkeram rambutnya dengan kasar, memaksa kepalanya terangkat.
Pandangannya yang mulai kabur bertemu dengan sosok yang sejak tadi berdiri membisu di sudut ruangan.
Tatapan itu penuh kebencian... Begitu dingin hingga menusuk lebih dalam daripada setiap pukulan yang baru saja diterimanya.
"Matilah sambil membawa semua dosamu."
Kalimat itu menjadi hal terakhir yang didengarnya setelah sebuah kilatan pisau melintas di depan matanya dan dalam sekejap, rasa sakit yang luar biasa menyayat lehernya.
Hangat darah mengalir deras, membasahi pakaian dan lantai, bahkan memercik ke wajah tampan orang yang baru saja mengakhiri hidupnya.
Napasnya tercekat, telinganya bisa menangkap suara-suara di sekitarnya yang menggema dan perlahan menghilang hingga segalanya berubah menjadi gelap.
***
'Aku... masih hidup?'
Keisya terengah-engah sambil memegangi lehernya. Rasa perih akibat sayatan itu masih terasa begitu nyata.
Namun saat ia menatap telapak tangannya, tak ada darah setetes pun.
Kulitnya masih utuh, begitu menyadari itu, ia buru-buru mengamati sekeliling dan mendapati bahwa ruangan itu begitu dikenalnya.
Tempat itu adalah kamar yang telah menjadi tempat tinggalnya selama hampir delapan belas tahun.
"Nona? Anda sudah bangun?"
Suara yang sangat dikenalnya membuat tubuh Keisya menegang.
Di samping tempat tidur berdiri seorang wanita berusia sekitar dua puluhan dengan wajah penuh kekhawatiran.
"Ka Jena?", ia adalah pengawal sekaligus pelayan pribadinya.
Wanita itu tampak terkejut ketika melihat Keisya yang sekarang sedang menatapnya sambil menitikkan air mata.
Dengan gugup, Jena segera mendekat dan bertanya, "Apa Nona merasa tidak enak badan? Apa perlu saya panggilkan Tuan Besar?"
Keisya masih terpaku, ia menatap wajah wanita itu seolah sedang melihat keajaiban.
Perlahan, senyum tulus terukir di bibirnya.
'Ka... kau masih hidup.. Syukurlah..'
Dadanya dipenuhi rasa syukur yang begitu besar hingga sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Jena Delima adalah orang yang paling setia kepadanya sejak hari pertama ia dibawa ke rumah keluarga Jordan.
Bisa dikatakan bahwa ia adalah satu-satunya orang yang tetap berada di sisinya ketika semua orang telah meninggalkannya.
Meski mengetahui semua kesalahan yang pernah Keisya lakukan, Jena tak pernah sekalipun berpaling, ia selalu menggunakan kata-katanya untuk membela Keisya.
Bahkan menggunakan kedua tangannya untuk membantu setiap rencana yang dibuat olehnya.
Namun kesetiaan itu justru berakhir tragis ketika Keyla, anak kandung keluarga Jordan, diculik dan hampir kehilangan nyawa akibat siksaan para pelaku, seluruh bukti perlahan mengarah kepada Keisya sebagai dalangnya.
Saat itulah Jena maju. Tanpa ragu, ia mengaku sebagai pelaku penculikan.
Bukan hanya itu. Ia juga mengakui seluruh kecelakaan dan berbagai musibah yang menimpa Keyla serta keluarga Jordan selama beberapa tahun terakhir sebagai ulahnya.
Jena bahkan mengaku dirinya adalah mata-mata dari keluarga musuh yang dahulu merencanakan kecelakaan Nyonya Jordan sekaligus penculikan Keyla saat masih balita.
Padahal semua pengakuan itu hanyalah kebohongan.
Ia sengaja menanggung seluruh dosa Keisya agar posisi tuan mudanya tetap aman di keluarga Jordan.
Akibat pengakuan palsu tersebut, Jena ditangkap. Ia disiksa hingga akhirnya meninggal secara mengenaskan di ruang bawah tanah kediaman keluarga Jordan.
Semuanya demi melindungi Keisya.
Dan apa yang dilakukan Keisya setelah itu?
Bukannya bertobat, ia justru semakin tenggelam dalam kebencian. Ia terus mengusik kehidupan Keyla hingga akhirnya, tiga tahun kemudian, ia sendiri tewas di tangan keluarga yang selama ini membesarkannya.
"Nona?"
Panggilan Jena kembali menyadarkan Keisya dari lamunannya.
Tanpa berpikir panjang, ia bangkit lalu meraih tubuh wanita itu hingga yang dipeluk membelalakkan matanya ketika merasakan pelukan erat dari Keisya.
Tubuhnya bahkan hampir kehilangan keseimbangan.
"Maaf..." Suara Keisya bergetar.
"Maafkan aku..."
Air mata kembali mengalir di pipinya.
"Kali ini... kita akan hidup dengan cara yang berbeda."
Ia melepaskan pelukannya, lalu menatap Jena dengan senyum yang dipenuhi tekad untuk mengubah segalanya dan menebus seluruh dosa yang pernah dilakukannya.
Namun, di sela itu, Keisya tiba-tiba mengerutkan kening.
"Sebentar... sekarang tanggal berapa?"
Ia menatap kedua tangannya yang terlihat jauh lebih kecil daripada yang diingatnya.
"Tunggu dulu..."
Mata Keisya membulat.
"Kok tubuhku jadi sekecil ini?"
pasti lelah kmu
kok dikit amat siiihhhhh
satu dua tiga scroll abisssssa nunggu bab selanjutnya 😭😭😭😭
up banyak banyak yaa thorrrrr
semangattttttttttttt 💪💪💪💪
kesiannya keysia 😭😭
biar saja keluarga mu semua menyesal karena sudah mengabaikan mu keu