Arjuna Baskoro adalah ketua Geng Petir yang tampan, kaya, dan berpengaruh di SMA Cendekia. Ia dikenal sebagai pemuda yang suka bersenang-senang dan menganggap hubungan dengan wanita hanya sebatas hiburan semata. Semua berubah saat ia bertemu Laila Arsyila-siswi berprestasi, sederhana, mandiri, dan harus bekerja paruh waktu untuk membantu kehidupan keluarganya.
Awalnya Arjuna hanya iseng mengganggu Laila, karena gadis itu satu-satunya yang tidak terpesona dan selalu berani melawannya. Namun rasa penasaran itu perlahan berubah menjadi cinta yang tulus untuk pertama kalinya. Sementara Laila yang awalnya kesal dan menolak, mulai melihat sisi baik Arjuna di balik sikap nakalnya.
Dengan latar belakang kehidupan yang sangat berbeda, keduanya harus menghadapi berbagai rintangan mulai dari kecemburuan orang lain, pandangan lingkungan, hingga tantangan untuk saling memahami. Mampukah cinta mereka menyatukan dua dunia yang terasa begitu jauh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Anggit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17. Mulai Terusik
Bel masuk akhirnya berbunyi nyaring. Laila sudah duduk tenang di kelasnya, sementara Arjuna kembali ke ruang kelasnya setelah memastikan gadis itu aman sampai tempat duduknya. Semua murid pun fokus mengikuti penjelasan guru hingga bel istirahat berbunyi, membebaskan mereka sejenak dari kegiatan belajar.
Saat Laila sedang membereskan buku dan alat tulisnya di meja, tiba-tiba pintu kelas terbuka lebar. Arjuna melangkah masuk dengan senyum lebar, menyapa semua siswa-siswi yang masih ada di dalam ruangan itu.
“Halo guys, izin lewat ya. Gue mau jemput calon pacar nih,” ucapnya santai dengan tatapan yang membuat hampir semua siswi di kelas terpesona dan meleleh.
Laila yang melihat kedatangan laki-laki itu hanya bisa menghela napas panjang, rasanya sudah bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya.
Arjuna berhenti tepat di samping meja Laila, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, berdiri dengan gaya santai khasnya. “La, ke kantin bareng yuk.”
“Ogah,” jawab Laila singkat sambil segera bergegas berdiri hendak keluar kelas.
Arjuna tak mau kalah, langsung mengikuti di belakangnya sambil terus menggoda. “Nggak boleh begitu sama calon pacar lho. Jangan lupa, kita harus selalu bareng-bareng biar tumbuh kecocokan dan bertambah dekat, namanya membangun chemistry,” ucapnya sambil mencoba merangkul bahu Laila, tapi segera ditepis kasar oleh gadis itu.
Belum sempat mereka bertengkar lebih lanjut, sebuah suara memanggil dari arah belakang. “Juna!”
Begitu perhatian Arjuna teralihkan, Laila langsung memanfaatkan kesempatan itu dan melarikan diri secepat mungkin agar tidak dikejar lagi.
Arjuna hanya mendengus kesal, wajahnya cemberut karena waktu berduanya terganggu. “Apaan sih manggil-manggil, ganggu waktu gue aja,” omelnya.
ternyata yang memanggil adalah ketiga sahabat sekaligus anggota inti Geng Petir: Gibran, Bowo, dan Rian.
“Santai Bos. Masalahnya ini ada informasi penting dan genting yang harus lu denger,” ucap Rian dengan nada serius.
“Informasi apa? Kalau nggak penting, gue tonjok lu ya, ” ancam Arjuna sambil mengerutkan dahi.
“Kita obrolin di taman belakang aja, tempatnya lebih sepi dan aman,” usul Gibran.
Mereka pun berjalan beriringan menuju taman yang jarang dikunjungi siswa lain.
Di sisi lain, Laila yang berhasil lolos dari ketempelan Arjuna akhirnya bisa bernapas lega. Ia masuk ke kamar mandi untuk mencuci tangan dan menyegarkan wajahnya sejenak.
“Sejak kejadian di ruang UKS, hidup gue di sekolah ini jadi nggak tenang. Baru kali ini rasanya kesabaran gue selalu diuji habis tiap kali dekat sama si Jumaedi itu,” gumamnya pelan sambil mengusap air di wajahnya.
Belum sempat ia keluar dari toilet, tiga sosok wanita tiba-tiba menghadang langkahnya. Salsabila berdiri paling depan, diikuti oleh Ita dan Gita di sampingnya dengan tatapan garang.
“Heh cupu! Punya nyali banget lo ngedeketin cowok gue,” bentak Salsabila dengan nada tinggi.
Laila yang sejak dulu tidak suka ditindas langsung menatap balik dengan tatapan dingin dan tajam. “Maksud lo apa? cowok siapa? Di sekolah ini banyak cowok, dan gue sama sekali ngga ngerasa dekat sama siapapun.”
“Ngga usah pura-pura bego deh! sekalinya pelakor ya pelakor!. gara-gara lo yang terus ngedeketin Arjuna...hubungan temen gue jadi berantakan.” tuduh Ita sambil mendorong bahu Laila hingga ia mundur selangkah.
Laila segera menyeimbangkan tubuhnya, lalu menatap balik dengan tegas. “Jangan asal tuduh. gue bukan pelakor, Arjuna sendiri yang selalu ngedeketin gue dan bukan gue yang deketin Arjuna. Jadi ya itu bukan salah gue." Lalu Laila menunjuk Salsabila. "Harusnya lo lebih ketat jaga cowok lo, biar ngga genit dan cari perhatian ke mana-mana.”
Mendengar jawaban berani itu, Salsabila dan kedua temannya saling bertukar pandang dengan wajah memerah menahan amarah. Tanpa memberi kesempatan Laila untuk pergi, mereka langsung meringkus lengan dan bahu gadis itu dengan kasar, lalu menyeretnya paksa menjauh menuju bagian gudang sekolah yang sepi.
Laila berusaha memberontak sekuat tenaga, namun usahanya sia-sia. Melawan tiga orang sekaligus dengan tubuh yang lebih mungil membuat tenaganya cepat habis. “Lepasin gue! Lepas!” teriaknya berusaha meminta tolong, tapi suaranya tertahan karena posisinya yang ditarik paksa. Sebenarnya ada beberapa siswa yang melihat kejadian itu, namun mereka hanya diam seribu bahasa seolah tidak melihat apa-apa. Tak ada satu pun yang berani menolong, karena mereka tahu betul betapa berpengaruhnya keluarga Salsabila.
Sesampainya di depan pintu gudang tua yang jarang digunakan, Salsabila membuka kuncinya. Tanpa belas kasihan, Ita dan Gita mendorong tubuh Laila masuk ke dalam hingga gadis itu terjatuh tersungkur di lantai semen.
BRUK!
“Selamat tinggal, cewek cupu. Ini hukuman untuk lo karena udah berani deketin Arjuna,” ucap Salsabila sambil tersenyum sinis.
setelah itu, pintu ditutup rapat dan dikunci dari luar.
“Sal, beneran kita tinggalin dia di sini aja? Kalau sampai terjadi apa-apa nanti gimana?” tanya Gita dengan nada sedikit cemas.
“Tenang saja. Kita bakal balik lagi saat jam istirahat kedua nanti. Dan gue yakin,dia udah nangis tersedu-sedu dan memohon-mohon belas kasihan pada gue agar dibebasin,” jawab Salsabila dengan penuh keyakinan.
“Betul kata Salsa. Setelah ini dia pasti nggak bakal berani lagi deketin Arjuna,” tambah Ita menyemangati.
Mereka bertiga pun pergi meninggalkan gudang itu, meninggalkan Laila sendirian di dalamnya.
Di dalam gudang yang agak gelap itu, Laila masih meringis menahan rasa sakit. Lututnya terasa perih dan mengeluarkan darah, sementara telapak tangannya lecet karena menggesek lantai saat jatuh.
“Ssshh… bener juga dugaan gue. Hidup gue di sekolah ini benar-benar nggak bakal tenang lagi sekarang,” gumamnya sambil mencoba berdiri meski kakinya terasa nyeri.
Dengan langkah pincang, ia berjalan menuju pintu dan mencoba mendorongnya, tapi tidak bergerak sedikit pun. pintu itu terkunci rapat dari luar.
Untungnya gudang ini tidak terbengkalai dan tidak sepenuhnya gelap. Matanya mulai beradaptasi dengan cahaya remang-remang, lalu mencari jalan keluar lain. Pandangannya tertuju pada sebuah jendela berukuran cukup besar yang terletak agak tinggi di dinding.
Namun untuk mencapainya, ia butuh pijakan. Syukurnya, di sudut ruangan teronggok tumpukan bangku dan meja kayu tua yang sudah tidak layak dipakai.
Laila menyusun bangku dan meja itu sekuat tenaga, memastikan posisinya cukup kuat untuk dipijak. Saat merasa cukup stabil, ia mulai memanjat meski rasa nyeri di lututnya makin terasa. Sesampainya di depan jendela, ia berusaha mendorong dan membukanya hingga akhirnya terbuka lebar.
Ternyata jendela itu menghadap langsung ke arah taman belakang sekolah. Laila sedikit bingung bagaimana cara turunnya, tapi kebingungan itu bertambah saat tumpukan bangku yang ia pijak mulai bergoyang dan berderit karena kayunya sudah lapuk dimakan usia.
Laila segera mencengkeram bingkai jendela dengan erat, lalu mengangkat tubuh dan duduk di atasnya. Tak lama kemudian, terdengar suara gemuruh keras BRUK! Tumpukan bangku dan meja yang ia pijak ambruk jatuh ke lantai, meninggalkan Laila sendirian di ketinggian sekitar empat meter dari tanah taman belakang sekolah.
“Ternyata tembok di luar ini lebih tinggi dari yang gue duga…” gumamnya pelan sambil menunduk ke bawah. “Apa gue lompat aja ya? Paling cuma keseleo,” pikirnya ragu, ia sama sekali tidak menyadari bahwa di bawah sana sekitar beberapa meter dari gudang. ada beberapa orang yang sedang berkumpul, Arjuna beserta anggota inti Geng Petir yang sedang berdiskusi serius.
Saat mereka asyik membahas soal Geng lain yang mulai mengganggu wilayah kekuasaan mereka, pandangan Bowo terangkat tanpa sengaja ke arah jendela gudang. Matanya terbelalak melihat sesosok tubuh gadis yang sedang duduk di sana.
Bowo mengucek matanya berulang kali, takut salah lihat. Namun sosok itu tetap ada, bukan ilusi. Dengan panik ia langsung menunjuk ke atas.
“Bos! Bos! Lihat itu! Ada cewek di atas, kayaknya mau bun** diri!” serunya dengan suara keras.
Semua orang langsung menoleh ke arah yang ditunjuk. Wajah Arjuna seketika berubah pucat dan matanya membelalak tak percaya....gadis yang duduk di jendela itu bukan orang lain, melainkan Laila.