Sekte kuno Pedang Langit yang berjaya selama seribu tahun, dalam lima ratus tahun terakhir mengalami kemunduran akibat seluruh guru besar dan murid sekte bahkan sesepuh serta ketua sekte tewas dalam perang melawan Klan Iblis. Hanya tersisa, seorang murid luar Li Tianchen dan mendapatkan warisan dari guru besar. li Tianchen menjadi ketua sekte Pedang Langit.
Hidup damai dan nyamannya mulai terusik, saat Sekte -sekte baru menyerang dan ingin menguasai wilayah sekte Pedang Langit.
Mampukah Li Tianchen mempertahankan sekte pedang Langit? Dapatkah Tianchen mendapatkan murid untuk membantu sekte meraih puncak tertinggi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEKTE KUNO 30
"TIDAK MAU!" tolak Valeska keras-keras sambil melipat tangannya di dada. "Aku ini Ratu Rubah! Mana bisa dipaksa menjadi murid dari sekte sepi dan terbengkalai ini seenaknya sendiri?! Aku menolak!"
Tianchen menyipitkan matanya. Tanpa menggerakkan satu jari pun, ia melepaskan setitik hanya setitik tekanan niat membunuh purba yang tersimpan di dalam jiwanya.
BUMMMMMM!
Bagi Yuanling, tidak ada yang terjadi. Namun bagi Valeska, seluruh ruangan bawah tanah mendadak berubah menjadi lautan darah raksasa! Sebuah bayangan sosok penguasa abadi setinggi ribuan meter menatapnya dari atas langit dengan mata merah membara, siap meremukkan jiwa dan raganya menjadi debu hanya dengan satu kedipan mata!
Rasa takut yang teramat sangat, belum pernah ia rasakan sepanjang ratusan tahun hidupnya, seketika mencengkeram jantung Valeska! Lututnya gemetaran hebat, dan napasnya tersedak.
"A-Ampun... Ampun Tuan... Hamba ampun!" jerit Valeska ketakutan setengah mati, langsung berlutut di atas batu dingin dengan tubuh gemetaran. "H-Hamba menerima... Hamba bersedia menjadi murid kedua Sekte Pedang Langit!"
Tekanan mengerikan itu lenyap seketika bagaikan uap ditiup angin. Ruangan kembali normal. Tianchen tersenyum puas, menepuk tangannya pelan.
"Bagus," puji Tianchen santai. "Seharusnya dari tadi kau bersikap kooperatif seperti ini."
Yuanling yang melihat wanita bertelinga rubah itu gemetaran ketakutan di lantai merasa tidak tega. Ia melepaskan pegangannya dari Tianchen dan melangkah mendekati Valeska, lalu berjongkok di sampingnya.
"Suamiku... Jangan terlalu keras padanya," tegur Yuanling lembut, mengusap bahu Valeska yang masih bergetar. "Kasihan dia, sampai ketakutan seperti ini."
"Biarkan saja, Istriku. Dia butuh sedikit penyesuaian diri," sahut Tianchen. Ia melangkah mendekati Valeska dan menatapnya dari atas.
"Lingling, kau lebih tahu bagaimana kondisi dalam tubuhmu sendiri saat ini," kata Tianchen dengan raut wajah ahli medis yang sangat berpengalaman. "Akad spiritual dan fondasi Inti Jiwamu telah terluka sangat parah akibat serangan musuhmu di masa lalu, hingga tingkat kultivasimu merosot tajam ke Tingkat Inti Emas Menengah. Jika kau memaksakan diri bertarung atau menggunakan kekuatan penuh untuk kembali ke Tingkat Suci secara mendadak, itu sama saja dengan melakukan bunuh diri."
Valeska mendongak. Kemarahannya perlahan tergantikan oleh rasa terkejut yang mendalam. Pria ini... mampu mengetahui kerusakan paling tersembunyi di dalam jiwanya hanya dengan sekali pandang! Bahkan penatua penyembuh terbaik di klan rubah pun tidak sanggup melihat detail kerusakan akad spiritualnya!
"Berlatihlah dengan tenang di sekte ini," lanjut Tianchen, nada suaranya berubah menjadi lebih tenang dan meyakinkan. "Selama kau patuh dan menjaga sekte ini, aku akan membantumu menyembuhkan total akad spiritualmu. Bukan hanya kembali ke Tingkat Suci, tapi dengan bakat alami milikmu sebagai Hewan Roh Suci, aku bisa membawamu menembus ke Tingkat Maharaja."
Valeska menatap mata Tianchen yang dalam dan pekat. Ia tahu pria ini tidak sedang berbohong. Kemampuan dan pil obat yang diperlihatkan pria ini sudah lebih dari cukup untuk membuktikan kebenarannya.
Valeska menundukkan kepalanya dalam-dalam, kali ini dengan rasa hormat yang tulus. "Baik... Hamba paham, Tuan."
Tianchen mengangguk puas, lalu menoleh memandang Yuanling.
"Nah, Istriku," ujar Tianchen lega. "Kini aku bisa lebih tenang meninggalkanmu di sekte ini selama aku turun gunung mencari murid baru. Meskipun Lingling saat ini hanya memiliki fluktuasi Ranah Inti Emas, tetapi dengan struktur fisik Hewan Roh Suci dan pemahaman jiwanya, kekuatan bertarungnya yang sebenarnya sanggup melawan ahli Ranah Suci Tingkat Menengah."
Lingling... Lingling... Namaku Valeska! Nama Lingling itu sungguh sangat jelek! gerutu Valeska habis-habisan di dalam batinnya. Namun, mengingat tekanan mengerikan tadi, ia sama sekali tidak berani menyuarakan umpatannya secara terang-terangan.
"Untuk sementara waktu," tambah Tianchen memandang Valeska, "kembalilah ke dalam bentuk kucing mungilmu. Bentuk itu jauh lebih hemat energi spiritual dan akan sangat membantu mempercepat proses pemulihan internal jalur darahmu."
Valeska mengangguk pasrah.
Czzzt...
Sebuah uap cahaya putih menyelimuti tubuh indahnya, dan dalam hitungan detik, sosok wanita jelita itu menyusut kembali menjadi seekor kucing putih berbulu lebat yang sangat menggemaskan.
Dengan satu lompatan lincah, kucing putih itu melompat naik dan hinggap dengan nyaman di dalam pelukan hangat Yuanling. Yuanling tertawa gembira, mengusap-usap kepala sang kucing dengan penuh kasih sayang.
"Terima kasih, Lingling! Kau akan menjadi teman berteman yang sangat baik bagiku!" seru Yuanling ceria.
Meow... (Pasrah sajalah hidupku...) gumam Valeska pelan sambil menyandarkan kepalanya di dada Yuanling.
Sementara kesibukan dan rahasia baru terungkap di ruangan bawah tanah, di sudut lain dari kompleks Sekte Pedang Langit...
Di dalam kamar meditasinya yang terisolasi di bangunan sayap barat, Su Ziyan sedang duduk bersilak di atas permadani kayu tebal. Pintu dan jendela kamarnya tertutup rapat, dan suasana di dalamnya sangat hening.
Sejak dikeluarkan secara paksa dari Menara Sepuluh Waktu beberapa jam yang lalu, Ziyan melakukan Kultivasi Tertutup untuk mengendapkan seluruh hasil latihannya.
Napas Ziyan terdengar sangat teratur dan dalam. Setiap kali ia menghembuskan napas, seberkas uap dingin berwarna putih kebiruan keluar dari hidung dan mulutnya, membuat suhu udara di dalam ruangan merosot tajam hingga lapisan es tipis mulai membeku di permukaan lantai kayu dan dinding.
Sreeeeeng!
Ziyan membatin, fokus masuk jauh ke dalam dantiannya. Ia bisa merasakan perbedaan yang sangat luar biasa! Setelah melewati tiga hari pertempuran tanpa henti di dalam menara, kecepatan rotasi qi dan pemahaman spiritualnya telah meningkat sepuluh kali lipat dibanding masa lalunya!
Namun, raut wajah Ziyan yang berparas tegas itu mendadak mengernyit. Keningnya berkerut menahan ketidaknyamanan.
Di dalam jalur meridian utamanya, aliran energi spiritual Pencerahan yang meluap-luap mendadak menabrak sebuah hambatan keras di sekitar dada kirinya. Hambatan itu berasal dari Elemen Es Murni bawaan lahir milik Ziyan. Setiap kali energi spiritualnya mengalir kencang untuk memperkuat fisik, elemen es di dalam tubuhnya justru bereaksi secara liar dan memicu bentrokan sengit antara qi pedang yang tajam dan hawa membeku yang dingin!
Ugh! Ziyan merintih pelan, setetes keringat dingin menetes di pelipisnya sebelum seketika membeku menjadi butiran es kecil.
Mengapa elemen es dalam tubuhku terus bentrok dengan aliran qi spiritual Pencerahan? batin Ziyan gusar. Jika aku memaksakan aliran energi ini, jalan darahku bisa terluka akibat pembekuan internal!
Meskipun elemen esnya mengalami kendala dan hambatan yang memusingkan, ada satu hal yang membuat dada Ziyan bergetar oleh rasa bangga yang luar biasa, Inti Pedang miliknya!
Ziyan memusatkan kesadarannya ke dalam ruang jiwanya. Di sana, sebuah miniatur pedang bersinar biru terang mengapung anggun. Lima buah pola ukiran runcing melingkari pedang tersebut secara sempurna, menandakan bahwa Ziyan telah berhasil menguasai secara tuntas Lima Teknik Inti Pedang Utama!
Peningkatan Inti Pedang ini adalah lompatan raksasa yang sangat langka bagi seorang kultivator muda. Di dunia luar, membutuhkan waktu puluhan tahun berlatih mati-matian hanya untuk menguasai satu teknik inti pedang, namun Ziyan berhasil menggenggam lima sekaligus berkat pengalaman bertarung intensif di Menara Sepuluh Waktu!
Sreeeng!
Ziyan membuka matanya secara mendadak! Kilatan sinar biru tajam bagaikan sebilah pedang sungguhan memancar dari kedua matanya, membelah uap es yang memenuhi kamar.
Ia mengangkat tangan kanannya, memicu munculnya aura pedang biru tipis yang bergetar di ujung jemarinya. Udara di sekitarnya seketika terdengar berdesing tajam.
"Dengan Lima Teknik Inti Pedang ini dan Ranah Pencerahan Awal..." bisik Ziyan dengan mata berbinar tekad yang membara. "Bahkan jika aku harus berhadapan dengan murid-murid jenius dari Sekte Tiga Naga atau Sekte Lembah Sunyi di Turnamen Benua nanti, aku pasti sanggup menebas mereka!"
Ziyan mengepalkan tangannya rapat-rapat, memadamkan aura pedangnya. Ia menoleh menatap jendela kamar yang memperlihatkan pemandangan malam pegunungan.
"Tapi sebelum itu... aku harus menemukan cara untuk menyelaraskan elemen es dalam tubuhku ini," gumam Ziyan pelan. "Besok pagi, aku akan meminta petunjuk pada Guru sebelum beliau berangkat turun gunung!"
Dengan tekad yang makin membara di dalam dada para penghuninya, malam di Sekte Pedang Langit pun berlalu. Roda takdir telah bergerak, dan fajar baru bagi kebangkitan sekte paling misterius di Daratan Zhuisan siap menyingsing!