Laras demi membahagiakan ibunya yang menginginkan cucu, rela menerima suami temannya yang dijadikan barang jaminan agar bisa mendapatkan uang yang banyak.
Seiring berjalannya Waktu, Laras benar-benar jatuh cinta pada suami jaminannya yang bernama Rayyan. Demikian pula Rayyan yang ternyata amnesia karena kecelakaan dan ditemukan oleh istri pertamanya( Naya) ia jatuh cinta pada Laras.
Mengetahui suaminya ternyata kaya raya, Naya ingin kembali pada suaminya dan melakukan berbagai usaha untuk memisahkan Rayyan dan Laras.
Akankah Laras bahagia dengan Rayyan? Siapakah yang akan dipilih Rayyan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aryani Ningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 20
Sepanjang jalan tak hentinya Cloe mendial nomor Vio, tapi hasilnya nihil ponsel gadis itu berdering namun tidak ada tanda-tanda Veo akan menjawab panggilannya.
"Gawat, kalau terjadi sesuatu pada Nona Vio bagaimana. Ayolah angkat telepon ku, Nona ..." Cloe mengigit bibirnya panik, demi apapun dia benar-benar panik karena belum menemukan Vio. Terlebih, ia tidak tahu kapan Veo memisahkan diri dengannya disaat ia tengah membeli pesanan Vio di salah satu kedai makanan.
Mobil mewah pemberian Dewangga pada akhirnya memutuskan kembali ke penginapan di hotel yang sudah dirinya booking untuk dirinya dan Veo selama beberapa hari anak majikannya itu liburan di Bali.
Akan tetapi, semua tidak sesuai dengan yang Cloe pikirkan ternyata Vio menghilang dari pengawasannya dan sampai saat ini Cloe belum dapat menemukannya, bagaimana ia memberitahu Velia jika begini. Rafael yang menghilang akibat kecelakaan itu saja membuat Velia tidak tenang, kini bertambah Vio yang hilang di kota orang lain.
Mengingat soal Rafael, Cloe kembali memutar memorinya manakala Zerina melaporkan bahwa rekannya itu menemukan jejak Tuan muda mereka, namun dengan identitas yang berbeda. Bukan Rafaela penerus Hanuraksa, tapi Rayyan seorang suami dari pemilik toko butik.
Baik Cloe, Zerina hanya mengetahui jika Rayyan adalah suami Laras si pemilik toko butik. Namun, beberapa media telah menyebar bahwa sosok Rayyan suami pemilik toko butik adalah penjual siomay. Akan tetapi, gosip mengedar kemiripan Rayyan dengan sang pewaris Hanuraksa. Sosok putra Dewangga Hanuraksa yang menghilang akibat kecelakaan.
Tin ... Tin ... Tin ...
Suara klakson dari pengendara di belakang mengejutkan Cloe dari lamunannya, wanita itu pun memutar stir berbelok ke arah halaman parkir hotel. Memikirkan Rafael dan Vio membuat Cloe tidak perhatiannya pada jalan tidak fokus.
Cloe menutup pintu mobilnya setelah itu menguncinya dengan alarm. Kaki jenjangnya melangkah masuk ke dalam Lobby, kini sampai di tengah-tengah dia membelalakkan matanya saat atensinya bertemu seorang gadis yang dia cari-cari dan hampir membuatnya pusing seketika.
"Astaga Nona Vio. Nona ...! Anda dari mana saja, saya mencari Nona Vio." Cloe menghampiri Vio dengan perasaan senang. Dirinya sudah mencari Vio keliling tempat, tapi gadis itu berada di penginapan.
Veo melipat bibirnya tak tega melihat raut cemas anak buah ibunya itu, tapi kaburnya Veo dari pengawasan Cloe pun karena ada tujuan tersendiri. Kini Veo hanya bisa meminta maaf pada asisten ibunya yang kini sudah menjadi pengawal pribadinya.
"Maafkan Vio, Aunty. Gara-gara Vio tidak izin, jadinya Aunty kecarian. Sebenernya Veo hanya jalan-jalan sebentar, tidak ada niat mau berpencar dari Aunty. Sekali lagi maafkan Vio," imbuh Vio berdusta. Dia tidak mengatakan sejujurnya karena Vio memang sedang berusaha memisahkan diri dari penjaganya itu.
"Ya sudah tidak apa-apa." Cloe menghela napas lega, "Kalau gitu Nona istirahat 'lah dulu. Besok kita harus kembali ke London." Ajaknya sembari membawa lengan Veo memasuki ke dalam menuju unit kamar hotelnya.
***
Keesokan harinya, menuju di jam makan malam Cloe dan Veo telah tiba di bandara London. Indonesia-London menghabiskan 13 jam penerbangan hingga keduanya sampai di negara kediaman orang tua Veo.
Sebelum dan sesampai di bandara ada sesuatu yang janggal. Cloe banyak memperhatikan Veo yang fokus pada layar ponselnya, penasaran Cloe hendak mengintip namun sudah ketahuan oleh Veo hingga ia tidak jadi melakukannya lagi.
Tapi, gelagat aneh Veo membuat Cloe berpikir keras seolah ada sesuatu yang tengah disembunyikan oleh putri Hanuraksa itu.
"Nona—"
"Aunty. Bisakah Aunty fokus saja menyetir mobilnya? Veo ingin cepat-cepat pulang ke mansion. Vio merindukan mama!" potong Vio setelah memasukkan ponselnya ke dalam tas. Gadis itu pun menatap jalanan di depan — tidak menolehkan pandangannya sama sekali kepada Cloe yang meliriknya bingung.
Cloe yang ingin bertanya gelagat aneh Vio pun urung. Alih-alih memikirkan yang belum dia tebak jawabannya, Cloe memutuskan untuk fokus berkendara dan akan ia cari tahu nanti setelah ini.
"Nona, sebenarnya kemarin kenapa anda kabur dari saya? Alasannya apa, jujur saja saya benar-benar panik jika Nona Vio kabur seperti kemarin." Akhirnya Cloe menanyakan nya pada Veo, antisipasi agar Veo tidak melakukan hal seperti kemarin di Bali — pun sekaligus agar Vio terbuka dan terus terang padanya karena ialah penjaga Vio dan diantara keduanya harus saling percaya satu sama lain.
Vio terdiam. Ia ingin segera turun, sesampainya di mansion Dewangga pun Cleo tidak segera membuka kunci mobilnya dan malah berdiam diri. Kini Vio menatap pintu masuk mansion, kediamannya yang pernah dihuni juga oleh Rafael.
Rafael, kakaknya itulah yang menjadi alasan Vio kabur dari Cloe. Namun, Veo telah berjanji pada sang kakak untuk menjaga rahasia besar ini. Rafael tidak ingin siapapun tahu identitas barunya, selain dirinya sendiri yang memang sudah telanjur tahu.
Vio tidak tahu apa yang direncanakan Rafael, sebagai adik Vio pun menurut saja selagi baik-baik saja dan tidak terluka ataupun dinyatakan meninggal dunia akibat kecelakaan itu.
Vio menghela napas pelan, ia mengulum bibirnya bingung ingin berbohong seperti apa lagi pada Cloe.
Mata indah itu melirik Cloe dari samping. "Aku ada urusan lain, Aunty. Bukan apa-apa, Aunty tahu kan kalau Veo suka menjelajahi kota. Jadi sebelum kembali ke hotel, Veo menghabiskan waktu sendiri ke pantai yang ada di Bali. Veo punya buktinya kok kalau di pantai memotret banyak foto." Kini Vio merogoh ranselnya, dan pergerakannya terhenti saat Cloe bertanya.
"Veo ingin ambil apa?" tanyanya mengerutkan kening.
"Camera. Huh ... Di mana ya Camera Vio, seingat Vio ada di sini deh. Aunty harus liat hasil potretan Vio!" serunya. Veo tak sepenuhnya berbohong, ia benar-benar memotret berbagai foto saat berada di pantai dan kuliner di Bali.
"Ah, tidak perlu Nona. Saya percaya kok. Kalau begitu ayo masuk ke dalam, Nyonya Velia pasti menunggu anda, Nona." Cloe pun akhirnya membuka kunci pintu mobilnya, membiarkan Veo keluar dari mobilnya masuk ke mansion Dewangga.
Sementara dirinya, Cloe menyandarkan kepalanya pada penyangga kursi. Matanya terpejam, kini otaknya bekerja untuk mencari tahu sesuatu yang ditutupi oleh Vio darinya, juga mencari keberadaan Rafael.