Mikayla benci rumah barunya. Ia benci Hesti, ibu tiri tegas yang dianggapnya menghancurkan keluarga lamanya. Demi membalas dendam, Kayla nekat masuk ke pergaulan bebas bersama Gavin, mengabaikan peringatan Arka.
Namun, saat bahaya mengintai, bukan ibu kandungnya yang datang menyelamatkan, melainkan Hesti—ibu tiri yang selama ini ia lawan habis-habisan. Di sela perang dingin dan tingkah bucin kocak ayahnya pada Hesti, sebuah rahasia besar masa lalu siap terbongkar. Siapa korban dan siapa pelaku sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Reuni yang Salah Tempat
Setelah menempuh perjalanan yang terasa sangat sunyi dan kaku selama tiga puluh menit, mobil sedan mewah milik Pak Hendra akhirnya berbelok dan berhenti tepat di area lobi sebuah gedung akademisi musik elit. Gedung bernuansa klasik modern itu memiliki plang nama emas berukir indah: Aria Music School.
Kayla menatap gedung di balik kaca mobil dengan helaan napas berat. Baginya, tempat ini tidak ubahnya seperti penjara baru berkedok kelas seni.
"Belajar yang bener ya di dalam. Jangan kebanyakan melamun, nanti kesambet," ucap Hesti dari kursi depan, membalikkan tubuhnya sedikit untuk menatap Kayla. Nada suaranya terdengar datar, namun ada nada jahil terselubung di sana.
"Iyaaaa," sahut Kayla malas dengan nada yang sengaja dipanjangkan. Ia membuka pintu mobil, menyandang tas ranselnya, dan melangkah keluar tanpa mengucapkan pamit yang layak.
Kayla melangkah masuk melewati pintu kaca lobi gedung yang megah. Aroma wangi lilin aromaterapi dan sayup-sayup dentingan piano dari kejauhan menyambut indra pendengarannya. Namun, baru saja ia hendak berjalan menuju meja resepsionis untuk melapor sebagai murid baru, sebuah suara yang sangat familier memanggil namanya dari arah kanan.
"Kayla?"
Kayla refleks menoleh. Langkahnya seketika terkunci saat melihat sosok yang berdiri di dekat pilar besar. Citra. Gadis populer di sekolahnya itu tampil sangat anggun dengan mengenakan terusan rok kasual berwarna pastel, rambutnya yang hitam panjang diikat setengah dengan pita yang senada.
Kayla mencoba menetralkan raut wajahnya yang sempat terkejut, lalu memaksakan seulas senyum tipis. "Citra? Lo... les di sini juga?"
"Iya! Wah, aku gak nyangka kamu les di sini juga, Kay," ucap Citra dengan binar mata ramah yang sangat tulus. Ia melangkah mendekat. "Kamu baru mau mulai hari ini ya?"
"Iya, ini hari pertama gue masuk," jawab Kayla, suaranya terdengar sedikit canggung.
"Senang banget deh rasanya, akhirnya ada teman dari satu sekolah di tempat les ini. Jadi aku gak bakal merasa kesepian lagi di kelas teori," ucap Citra bersemangat.
Kayla hanya tersenyum tipis, hampir tidak kentara. Jauh di dalam lubuk hatinya, rasa cemburu yang sempat tersulut kemarin saat melihat Citra mengobrol akrab dan tertawa lepas bersama Arka di kafe mendadak kembali mengusik ketenangannya. Ada rasa tidak nyaman yang mencubit dadanya saat menatap kesempurnaan Citra. Namun, Kayla dengan cepat menepis perasaan itu jauh-jauh. Gue gak berhak cemburu. Sadar diri, Kay, batinnya mengingatkan.
"Lo... udah lama les di sini, Cit?" tanya Kayla, mencoba mencairkan kecanggungannya sendiri.
"Lumayan, sudah sekitar satu tahunan," jawab Citra manis. "Gak nyangka loh, Kay, ternyata kamu punya minat di bidang musik, khususnya piano."
Kayla mendengus pelan secara refleks. "Kepaksa sih sebenarnya. Ada orang rumah yang sok ngatur jadwal hidup gue."
Citra sempat mengerutkan dahinya heran, namun ia langsung tersenyum maklum. "Gak apa-apa, Kay. Les piano itu seru banget kok kalau udah dicoba. Yuk, masuk kelas bareng aku!" ajak Citra ramah sembari merangkul lengan Kayla dengan santai. Mereka pun berjalan bersama menuju ruang kelas instrumen.
Selama kelas berlangsung, Kayla berulang kali kehilangan fokusnya. Alih-alih memperhatikan instruksi guru di depan, matanya secara tidak sadar terus melirik ke arah Citra yang duduk di depan tuts piano grand di sebelah mejanya. Jemari lentik Citra bergerak dengan sangat lincah dan anggun di atas tuts hitam putih, menghasilkan alunan melodi klasik yang begitu indah dan menenangkan.
Wajah Citra tampak begitu cantik, teduh, dan penuh konsentrasi saat bermusik.
Pantas aja... cewek sesempurna ini, siapapun pasti bakal mudah jatuh hati sama dia. Termasuk Arka, batin Kayla berbisik pedih. Ada rasa rendah diri yang mendadak menyusup ke sela-sela egonya yang tinggi.
Di belahan kota yang lain, setelah menurunkan Kayla di tempat les, Pak Hendra dan Hesti memutuskan untuk memanfaatkan waktu luang mereka dengan berjalan-jalan ke salah satu mall kelas atas di pusat kota.
Suasana di antara mereka tampak sangat hangat. Hesti dengan manja melingkarkan tangannya ke lengan kokoh Pak Hendra, berjalan beriringan menyusuri koridor mall yang dipenuhi butik-butik barang mewah. Mereka terlihat persis seperti sepasang kekasih baru yang sedang dimabuk asmara, mengabaikan status mereka yang sebenarnya sudah tidak muda lagi.
Namun, kebahagiaan kecil itu mendadak terusik oleh sebuah pertemuan yang sama sekali tidak direncanakan.
Saat mereka baru saja keluar dari salah satu toko kosmetik bermerek, sosok wanita paruh baya dengan pakaian glamor dan kacamata hitam bertengger di kepalanya berdiri tidak jauh dari mereka. Meyda. Mantan istri Pak Hendra sekaligus ibu kandung Kayla.
Meyda yang sejak tadi memang memperhatikan kemesraan mantan suaminya dari kejauhan merasa dadanya bagai terbakar oleh api cemburu yang luar biasa. Dengan langkah anggun yang sengaja dibuat-buat, ia berjalan menghampiri pasangan baru tersebut dengan senyuman sinis yang tersungging di bibirnya.
"Kebetulan banget ya... kita bisa ketemu di sini," sapa Meyda dengan nada suara yang dibuat seramah mungkin, namun terdengar sangat palsu di telinga Hesti.
Seketika itu juga, senyum ramah di wajah Pak Hendra langsung luntur tanpa sisa. Rahangnya mengencang, menatap mantan istrinya dengan pandangan dingin yang tidak bersahabat.
Hesti yang menyadari perubahan atmosfer itu tetap bersikap tenang. Ia menaikkan sebelah alisnya, menatap Meyda dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Loh, Mbak Meyda? Bukannya tempo hari Kayla bilang kalau Mbak sedang berada di luar negeri ya?" tanya Hesti dengan nada menyindir yang halus.
Meyda sempat gelagapan mendengar pertanyaan Hesti. Wajahnya sedikit berubah tegang sebelum akhirnya ia memaksakan tawa kecil sebagai alibi. "Ah... iya. Sebenarnya saya ini kemarin baru saja balik dari luar negeri. Ada beberapa urusan bisnis yang mendadak harus saya selesaikan di sini," bohong Meyda. Padahal kenyataannya, ia sama sekali tidak pernah kembali ke luar negeri setelah kepulangannya waktu itu.
Meyda kemudian mengalihkan pandangan matanya lurus ke arah Pak Hendra, mencoba mengabaikan keberadaan Hesti di samping mantan suaminya. Ia tersenyum manis, memutar memori lama yang sengaja ia bawa untuk memicu pertengkaran.
"Mas... kamu ingat gak? Dulu, kamu selalu beliin aku hadiah tas-tas branded di mall ini? Tokonya yang di sebelah sana itu, kan? Kamu selalu manja-manjain aku di sini dulu," ucap Meyda dengan nada manja yang sengaja dibuat-buat, berharap Hesti akan terbakar cemburu mendengar masa lalu suaminya.
Mendengar provokasi murahan tersebut, Pak Hendra justru mengembuskan napas pendek dengan tawa hambar yang terdengar sangat meremehkan.
"Iya... saya ingat sekali, Meyda," jawab Pak Hendra dengan nada suara yang teramat dingin dan menusuk. "Waktu itu... waktu saya harus bekerja keras banting tulang siang dan malam hanya untuk membelikan hadiah mewah demi menyenangkan hati kamu. Tapi sayangnya, di saat saya sibuk bekerja, andanya justru sibuk bermain gila di belakang saya dengan berondong muda itu, kan?"
Pak Hendra menjeda kalimatnya, menatap Meyda yang kini wajahnya mendadak memucat pasi. "Eh, ngomong-ngomong... gimana kabar berondong kesayangan kamu itu sekarang? Masih setia menemani di sisi kamu, atau... sudah pergi meninggalkan kamu begitu saja karena sadar uang kamu sudah habis dan gak bisa diporotin lagi?" tambah Pak Hendra telak, menghantam langsung pada titik terlemah masa lalu kelam mantan istrinya.
"Pfftt..." Hesti yang berdiri di samping Pak Hendra spontan menutup mulutnya menggunakan punggung tangan, mencoba sekuat tenaga menahan tawa kemenangan yang hampir meledak dari bibirnya.
Wajah Meyda yang semula dipoles bedak tebal kini berubah merah padam menahan rasa malu yang luar biasa. Kesalahan masa lalunya yang menjadi penyebab utama perceraian mereka kini dikuliti habis-habisan oleh Hendra tepat di depan mata istri barunya.
"Mas! Kamu kok tega banget sih ngomong begitu di depan orang lain? Kamu itu cuma salah paham soal masa lalu kita!" bela Meyda dengan suara yang mulai meninggi karena panik dan malu.
Hesti segera melangkah satu tapak ke depan, memotong pembelaan diri Meyda dengan gerakan yang sangat elegan namun tegas. "Sudah, Mas. Gak usah dilayani lagi. Gak baik ngobrol lama-lama di tempat umum begini sama mantan istri yang belum bisa move on. Mbak Meyda, kami permisi dulu ya. Saya rasa sudah tidak ada lagi obrolan penting yang berfaedah di sini," ucap Hesti sembari melayangkan sebuah senyuman smirk penuh kemenangan yang sangat menyebalkan di mata Meyda.
Meyda hanya bisa mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat di sisi tubuhnya, menatap kepergian pasangan itu dengan pandangan mata yang berapi-api penuh kebencian.
Sombong sekali wanita itu! Lihat saja nanti, aku pasti akan merebut kembali Mas Hendra dan menendang kamu keluar dari hidupnya! batin Meyda penuh dendam.
"Yasudah, silakan pergi! Lagipula saya juga sedang sibuk. Permisi!" ketus Meyda sebelum berbalik arah dan melangkah lebar meninggalkan tempat itu dengan sisa harga diri yang hancur berantakan.