“Aku hanya membutuhkanmu untuk melahirkan pewarisku. Tidak lebih!”
Itulah kata paling menyakitkan yang diucapkan Duke Cassian Clyvedon kepada Elowen Whitmore. .
Semua orang di kerajaan tahu bahwa Duke Clyvedon adalah pria yang ditakuti, dingin, kejam, dan tak pernah mempercayai siapa pun.
Sementara Elowen Whitmore hanyalah putri kedua dari keluarga bangsawan yang hampir bangkrut… seorang gadis yang bahkan tidak bisa berbicara.
Ia tidak seharusnya menjadi pengantin sang duke.
Namun ketika kakaknya melarikan diri dari perjodohan yang telah diatur kerajaan, Elowen dipaksa menggantikan posisi itu demi menyelamatkan kehormatan keluarganya.
Kini ia terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan pria paling menakutkan di kerajaan.
Semua orang yakin pernikahan ini hanya akan berakhir dengan kehancuran.
Tapi tidak seorang pun menyadari satu hal, bahwa sang duchess bisu mungkin adalah satu-satunya orang yang mampu meluluhkan hati sang Duke.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon farchahcha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
“Apa, bung?!” pekik Harry setelah mendapat pengakuan Cassian. “Kau melakukan apa saat malam pertama?” kepalanya meneleng memastikan dirinya tidak salah dengar.
Cassian memutar bola matanya malas. Harry brengsek.
Sayangnya dia tak bisa mengumpati ajudan pribadinya itu sekarang. Waktu teman. Dan umpatan merendahkan dilarang saat waktu teman. Apalagi memakai hierarki.
“Aku hanya menidurinya saat mabuk. Apa itu salah?” Cassian berusaha membela diri.
“Ya itu sangat salah, bung.”
Tangan Cassian mengepal, hampir saja menghunus pedang yang ada di sisi ruangan lalu menebas leher Harry.
Sadar kalau dia sedang ditargetkan. Harry mendeguk menahan tawanya keluar.
“Aku serius Cassian. Apa yang kau lakukan itu salah. Meniduri istrimu itu tidak salah, tapi memaksanya dalam keadaan mabuk. Itu yang terburuk.”
Harry serius dengan ucapannya. Cassian butuh banyak pelajaran tentang bagaimana memperlakukan wanita.
“Lalu aku harus bagaimana? Bukankah itu yang selalu dilakukan para pria bersama dengan para wanitanya di Winston?” kilah Cassian menyebut nama bar di pinggiran Arvendale.
Harry menggelengkan kepalanya, Oh Tuhan sang duke sudah tak tertolong. Bagaimana bisa dia menyamakan istrinya sendiri dengan para pelacur itu.
“Cassian, Oh, Cassian. Kau harus berlutut di depan istrimu. Bagaimana bisa kau menyamakan dia dengan wanita murahan di bar itu.”
“Aku tidak mau berlutut.”
“Kau harus melakukannya, bahkan kalau perlu mencium kaki Duchess. Ya Tuhan, Cassian… Kau sungguh akan bersikap seperti ini?”
Cassian terdiam lama. Apa sikapnya sudah sangat keterlaluan pada Elowen?
Harry menepuk pundak Cassian, sedikit memberikan petuah. “Jangan lepaskan yang ini Cassian. Aku melihat kalian cocok satu sama lain. Dia berbeda dari wanita-wanita yang mengejarmu, bung.”
Cassian melirik ke arah Harry.
“Aku harus menemuinya sekarang,” cetus Cassian kemudian.
“Harusnya aku tidak menahanmu di ruang baca dengan brendi sialan ini, kawan. Pergilah temui istrimu sekarang.”
Cassian meletakkan gelasnya di atas meja lalu pergi keluar ruang baca.
Harry bersorak keras. “Kejar dia Duke!” teriaknya lalu meneguk sisa brendi di tangannya.
***
Cassian melangkah cepat.
Tepat di depan ruang perjamuan, wanita yang dicarinya muncul. Dia mengenakan gaun warna jingga dengan aksen sederhana.
“Elowen.”
Cassian mengejar Elowen. Wanita itu berhenti sesaat. Menoleh padanya, harapan kecil muncul di dada Cassian.
“Aku ingin bicara denganmu.”
Elowen berbalik, mendongakkan wajahnya. Matanya yang teduh itu menatap lurus ke arah suaminya. Jika apa yang dikatakan Nyonya Wilson benar adanya, mungkinkah Cassian akan meminta maaf penuh penyesalan sekarang?
Tapi bau alkohol yang menguap di tubuh Cassian membuat Elowen berubah pikiran.
Dia memilih minumannya daripada makan malam bersama istrinya. Memberi kesempatan untuk Cassian? Elowen tidak mau, tidak sekarang.
“Aku lelah, ingin tidur.” Elowen menulis di catatannya bukan untuk Cassian melainkan untuk Nyonya Wilson.
Nyonya Wilson hanya menunduk tersenyum tipis sambil melirik ke arah Cassian. Sepertinya duchess masih marah dengan duke, pikirnya.
Wanita paruh baya itu melangkah mendekat pada Duke. “Duchess mengatakan kalau beliau lelah dan ingin segera tidur, Your Grace.”
Cassian menghela napas panjang, Elowen mengabaikannya. Lagi.
“Kalau begitu kita bicara di kamar.”
Elowen tidak merespon. Ia hanya kembali melangkah. Cassian mengikutinya dari belakang.
Langkah Elowen berubah cepat. Melewati tangga besar yang menuju ke kastil barat.
Cassian mengerutkan keningnya dalam. Elowen tidak berjalan menuju kamar, dia berbelok ke lorong timur. Cassian langsung menghentikan langkahnya.
Dadanya berubah sesak.
“Kau mau kemana? Itu bukan arah ke kamar kita, Elowen…” ucap Cassian.
Nyonya Wilson yang sejak tadi mengikuti Elowen ikut berhenti sejenak.
“Yang Mulia Duchess meminta agar kamar lamanya kembali dibuka, Your Grace.”
Kalimat sederhana itu menghantam keras dada Cassian.
Elowen meminta memindahkan kamar tidurnya. Ia tidak berniat tidur sekamar lagi dengannya malam ini.
Cassian mengepalkan tangan. Ujung jarinya sampai memutih menahan amarah yang memuncak di dalam dirinya.
Otot rahangnya menegang.
Tak sangka satu ciuman yang ia paksakan tanpa pikir panjang tadi membuatnya kehilangan kesempatan lain.
Wajah Cassian memerah, bukan karena amarah saja, melainkan karena penyesalan yang berubah menjadi frustasi.
Bagaimana ini?
Bagaimana kalau Elowen tidak ingin lagi berinteraksi dengannya. Bagaimana kalau Elowen meninggalkannya?
Kenapa Cassian merasakan perasaan seperti ini lagi? Dia benci kehilangan, benci ditinggalkan. Duke sangat benci diabaikan.
***
Brak!
Cassian membanting pintu ruang baca keras. Harry sampai tersentak kaget.
“Wow! Pelan sedikit, bung. Kau hampir melepaskan pintu itu dari tempatnya.”
Cassian mengabaikan suara sumbang Harry. Dia menjatuhkan tubuhnya ke kursi. Tangannya menyambar kasar botol brendi, meneguknya dengan kesetanan.
Harry mengedipkan matanya cepat.
“Apa ini karena proyek minta maaf yang gagal?” pancing Harry yang langsung mendapat tatapan tajam Cassian.
Harry mengangkat kedua tangannya ke udara. “Well, kalau itu sulit dilakukan. Kenapa tidak meminta maaf di depan banyak orang.”
Cassian mengerutkan wajahnya. “Apa maksudmu Harry?”
“Sebuah pesta dansa.”
“Bisakah kau menjelaskannya lebih baik? Aku bukan orang yang memiliki kesabaran.”
“Baik, Tuan Duke yang Terhormat. Bagaimana kalau mengadakan pesta dansa untuk Sang Duchess?”
Pesta dansa?
Sudah hampir satu dekade lamanya, kastil Clyvedon tidak pernah mengadakan pesta dansa.
Pertemuan para bangsawan? Itu dilakukan setiap triwulan sekali. Cassian mengundang para kepala keluarga untuk makan malam bersama membahas teritorial wilayah barat dan utara. Wilayah kekuasaan Duke Cassian Clyvedon.
Namun pesta dansa? Tidak pernah.
“Apa itu akan berhasil?” tanya Cassian skeptis.
Harry mengangkat bahu. “Setidaknya itu cara untuk mendapatkan maaf Duchess lagi, dengan membuat pesta meriah untuk dirinya.”
“Apa temanya?”
“Apa yang disukai Duchess Elowen?” tanya Harry balik.
Sial. Cassian tidak tahu apa yang disukai Elowen. Dia pun menggeleng tak bisa menjawab pertanyaan terakhir Harry.
Bibir Harry ternganga lebar. Mereka sudah hidup bersama setengah tahun, tapi Cassian tidak tahu apa yang disukai Elowen.
“Kau tidak tahu apa yang disukai istrimu?”
“Tidak.”
“Kudengar kau memilihnya sendiri. Jadi itu bukan karena cinta?”
Cassian terdiam. Dia memang memilih Elowen sendiri untuk menjadi istrinya. Tapi jelas itu bukan karena cinta.
Alasannya adalah dia harus menikah dengan wanita yang memiliki banyak kekurangan. Dari keluarga yang jauh di bawah statusnya sebagai Duke Clyvedon. Cassian hampir memilih seorang budak untuk itu.
Namun, kedatangannya ke kerajaan Arvendale untuk bertemu ratu malah mempertemukannya dengan Elowen. Putri bungsu keluarga Whitmore. Seorang wanita yang bahkan tidak bisa bicara. Itu sempurna untuk melawan keinginan ibunya, Lady Valerie.
Lady Valerie membuatnya kehilangan wanita yang Cassian cintai. Jadi, dia harus membalasnya dengan memberikan wanita yang ibunya benci. Itu adil, meski perasaan Cassian kini mulai merasakan dampaknya.
Seumur hidupnya, dia tidak pernah merasakan rasa bersalah sebesar ini. Bahkan saat kehilangan wanita itu.
“Cassian, kau harus memperbaiki hubunganmu dengan Elowen sebelum kau terjatuh lebih jauh.”
“Harry, apa pernah ada orang yang menyebutmu menyebalkan?”
Harry mengangkat sebelah alisnya.
“Komentarmu sangat menyebalkan.”
Harry terkekeh kecil.
Ajudan pribadi Cassian itu bangkit dari tempat duduknya.
“Kalau begitu, aku akan keluar saja bertanya pada Nyonya Wilson apa yang disukai oleh Duchess. Kau di sini, atau pergi ke depan kamar Duchess untuk memohon maaf, itu terserah padamu.” Harry menjeda kata-katanya, tangannya memutar gagang pintu.
Sebelum benar-benar keluar dari ruang baca. Harry kembali menoleh ke arah Cassian.
“Oh iya, untuk diingat saja pria menyebalkan ini akan menyiapkan pesta dansa yang paling meriah untuk membantu sahabatnya memenangkan hati istrinya lagi,” tukas Harry kemudian menghilang dari balik pintu.
Cassian mendengus. Dasar Harry brengsek! Tapi kata-kata soal memohon berputar di benaknya.
“Apa aku perlu memohon pada Elowen?” gumamnya kemudian kepada diri sendiri.
***
Semangat ya thooor.... terimakasih sdh up dan sllu kutunggu up mu banyak2😍
klo di rupiah kan setara dgn berapa kah...?
auto lsg tanta mbh gogle
you're amazing writer