NovelToon NovelToon
Tak Berniat Mengkhianati Sahabatku

Tak Berniat Mengkhianati Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Obsesi / Pengkhianatan
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Lautan Ungu_07

Judul sebelumnya: Obsesi Sahabat Suami.

Regan Han Sebastian dikirim Dady-nya dari Singapura ke Indonesia untuk belajar bisnis di bawah bimbingan Alvero Halim Winata, sahabat sekaligus orang yang paling ia hormati.

Semua berjalan sesuai rencana... hingga Alvero mulai selalu melibatkan kehadiran Regan dalam rumah tangganya.

Kehangatan sebuah keluarga. Tawa seorang anak kecil. Dan perhatian sederhana dari seorang wanita bernama Veyra Alettha, istri dari Alvero.

Regan berusaha menjaga jarak, saat ada perasaan yang tak bisa ia jelaskan kepada siapapun. Ia bahkan memilih kembali ke Singapura demi melupakan semuanya.

Namun saat kembali ke Indonesia, yang pulang bukan lagi Regan yang sama.

Ia membawa perasaan yang tak pernah ia inginkan.

Perasaan yang perlahan berubah menjadi pengkhianatan terhadap satu-satunya sahabat yang paling ia hormati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lautan Ungu_07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Mulai Dari Mana

Dentuman musik keras dan lampu kelap-kelip menemani Regan malam itu. Setelah kegagalan untuk kembali menarik klient. Dan kekecewaan Alvero yang memberikannya syarat agar tidak menutup akses untuk Regan.

Bau alkohol dan asap rokok bercampur di udara. Banyak orang yang berjoget dengan perempuan-perempuan di club itu.

Tapi Regan hanya duduk sendirian di salah satu sofa, dengan satu botol whiski premium di atas meja. Gelas kristal di depannya berembun dingin. Es batu perlahan mencair.

Sementara Regan hanya melamun, tidak ada godaan untuk wanita, atau ikut berjoget.

"Kalau gak kayak gini, harusnya malam ini aku lagi main sama Renzio di rumah Alvero." Katanya entah kepadaa siapa.

Sampai akhirnya, seorang pria sekitar berusia lima tahunan berjalan ke arahnya, lalu duduk di sofa depannya.

"Lagi ada masalah apa? Di marahin istri?" Tanyanya.

Regan membuang napas. "Saya belum menikah."

"Lalu? Putus cinta?"

"Saya gak punya pacar."

Pria paruh baya itu mengernyit. "Lagi pengen happy-happy aja? Terus kenapa cuma melamun?"

"Nggak juga. Saya ada masalah kerjaan, klien itu rese." Jawab Regan sambil kembali meminum habis cairan whiski di gelasnya.

Tak ada lagi pertanyaan lain dari pria itu, ia hanya mengangguk beberapa kali.

Dua orang perempuan cantik dengan tubuh ideal dan pakaian semi terbuka, mendekat ke meja Regan.

Satunya lagi langsung duduk di sebelah pria paruh baya, dan satunya lagi duduk di sebelah Regan.

Pria itu di bawa ke lantai dansa. Sementara Regan hanya menatapnya sekilas, seperti tidak tertarik sedikit pun.

"Sepertinya kamu lagi butuh temen?" Kata perempuan itu sambil memeluk tangan Regan.

Tapi Regan cepat-cepat melepaskannya. "Jangan kayak gitu."

"Ahh, maaf. Apa kamu butuh temen untuk minum malam ini? Atau minta ditemani hal lain? Aku bersedia untuk menemanimu." Jari telunjuknya mendarat di dada Regan.

"Saya tidak butus servis apapun darimu. Hanya butuh tempat pulang selain penthouse saya." Jelas Regan sambil menyingkirkan jari telunjuk perempuan itu di dadanya.

Regan menyandarkan kepalanya, matanya perlahan terpejem. "Saya tidak butuh apapun. Saya hanya ingin keluarga Alvero tetap menerima saya." Ia terkekeh kecil. "Tapi semuanya retak gara-gara kecerobohan saya. Alvero kecewa."

Regan kembali membuka matanya, lalu menatap perempuan yang masih duduk di sebelahnya. "Dan klient itu..." ia menunjuk asal. "Memutuskan kontrak begitu saja. Padahal saya sudah datang dan minta maaf secara langsung."

Perempuan itu tidak memberikan jawaban apapun. Ia memilih pergi dari dekat Regan, dan mencari orang lain yang lebih butuh ditemani olehnya.

Waktu terus berjalan, tapi Regan hanya duduk diam. Memainkan ponsel sebentar, kembali minum. Sampai club itu mulai sepi.

Jam menunjukkan pukul 03:30 dini hari. Regan akhirnya memilih pulang. Tubuhnya hampir oleng saat dia bangun dari duduknya. Ia berusaha menjaga keseimbangan setiap langkahnya, walaupun selalu goyah.

Untungnya, di waktu itu jalanan tidak terlalu ramai. Jadi Regan bisa sampai dengan selamat ke parkiran penthousenya.

Tapi matanya sudah terlalu berat, tubuhnya seolah menolak untuk diajak bangun. Dan akhirnya Regan tertidur di dalam mobil.

Dalam sekejap... suara samar klakson dan deru mesin-mesin mobil membuat mata Regan mengerjap.

Ia perlahan mengangkat kepalanya yang masih terasa nyut-nyutan. Tangannya memijat pundaknya pelan, lalu ia meraih ponsel di kursi sebelahnya. Saat dinyalakan, jam di layar ponsel menunjukan pukul 07:45 pagi.

"Astaga!" Gumam Regan dengan mata melebar seketika.

"Aku harus cepat siap-siap. Kalau sampai hari ini gak masuk, mati aku." katanya sambil ke luar dari mobil. Berlari kecil menuju lift.

Hampir satu jam lamanya, Regan sudah kembali dengan stelan kantor. Tapi kali ini dengan versi sedikit berantakan. Bahkan, rambutnya pun belum disisir.

Ia kembali masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin. Kakinya menginjak pedal gas, membuat laju mobil melesat di jalanan yang mulai lengang.

Setelah beberapa waktu, mobil itu akhirnya masuk ke area parkiran kantor. Dari dalamnya, Regan turun cepat. Langkahnya lebar saat tiba di lobby.

Sepanjang jalan napasnya sedikit terengah. Pikiran dan tindakannya seolah tidak sejalan pagi itu. Kakinya membawa Regan menuju ruang Alvero, namun pikirannya membawa Regan ke ruangannya sendiri.

"Arghh, kenapa jadi ke sini," gumamnya saat langkah Regan berhenti di depan pintu Alvero.

Ia berbalik cepat, lalu berlari kecil di lorong kantor.

Langkahnya kini berhenti di depan pintu. Regan merogoh kunci, lalu membuka pintu. Untuk sesaat, ruangan itu terasa asing baginya. Karena selama ini, ruangan Alvero yang selalu ia datangi lebih awal.

Aroma samar almond masih memenuhi ruangannya. Regan mendekati meja kerjanya, ia duduk di kursi. Tangannya membuka laptop, tapi untuk beberapa detik Regan hanya bengong.

Tidak tahu harus mulai dari mana. Regan kembali membuka laptop, lalu menutupnya. Gerakan itu ia lakukan beberapa kali. Sampai akhirnya Regan mengacak rambut frustasi. Menghela napas panjang, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi.

"Alvero, aku harus mulai dari mana?" katanya sambil menatap langit-langit.

Regan bangun dari duduknya, ia membuka jasnya. Memyampirkan asal di sandaran kursi. Sementara ia menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa.

"Aku bingung harus ngapain. Jadi lebih baik aku tidur dulu."

Satu tangan tersimpan di atas dahinya. Satu lainnya lagi memeluk bantal sofa yang Ia simpan di atas perutnya.

Matanya perlahan mulai terpejam. Helaan napasnya terdengar jauh lebih stabil dari sebelumnya.

Menjelang siang, suara ketukan pintu terdengar pelan. Tapi Regan masih tertidur nyenyak di sofanya.

Sementara di luar, seorang pria yang hampir seumuran Regan masih berdiri. Menunggu pintu terbuka.

"Pak Regan kemana, ya? Tumben banget susah dicari," gumamnya, sebelum memilih untuk kembali ke ruangan Alvero.

Dia, Ahsan. Bawahan yang menjadi perwakilan Alvero untuk meeting saat jadwal Alvero padat.

"Pak Al, kayaknya Pak Regan gak masuk hari ini. Sudah saya panggil ke ruangannya, tapi gak ada jawaban." Jelas Ahsan.

Alvero menatapnya, kedua alisnya bertaut. "Tumben?"

Alvero melamun sebentar. Telunjuknya mengetuk permukaan meja pelan.

Alvero bangun dari duduknya "Coba saya periksa!"

Ia memilih untuk memeriksanya langsung. Karena tidak mungkin Regan tidak masuk kantor tanpa alasan.

Regan mungkin menyebalkan. Tapi soal hadir ke kantor, dia termasuk orang yang disiplin.

Di belakangnya, Ahsan mengikuti sambil membawa beberapa berkas yang Alvero berikan untuk Regan.

Sesampainya di depan pintu ruangan Regan, Alvero mengetuknya pelan. Ia menunggu cukup lama, tapi tak ada jawaban atau pintu terbuka.

Akhirnya Alvero memilih untuk membukanya langsung. Ketika pintu terbuka, sosok Regan masih terbaring di sofa.

Alvero melangkah mendekati. Tangannya terulur menggoyangkan lengan Regan.

"Regan, bangun!"

Regan hanya menggeram.

"Regan, bangun!" Kata Alvero lagi.

Mata Regan sedikit terbuka. Sosok Alvero terlihat samar. "Alvero?"

"Bangun. Kamu belum mulai bekerja? Kenapa tidur di sini?" Alvero memberikan dua pertanyaan.

Regan kini duduk dengan mata belum terbuka sepenuhnya. "Kepalaku sakit, Al. Setelah makan siang aku mulai kerja." Jawab Regan, suaranya masih serak.

Aroma yang familiar langsung tercium oleh Alvero. "Kamu minum?"

"Hanya sedikit," jawabnya lagi sambil mendongak.

Alvero hanya terkekeh. Ia mengambil berkas dari Ahsan. Lalu memberikannya ke Regan.

"Pelajari ini!" Katanya datar.

"Tapi, Al..."

"Pelajari!"

Regan mengambil berkas itu, tanpa memberikan protes apapun lagi. Sementara Alvero langsung pergi tanpa meninggalkan sepatah kata pun.

Ahsan mengikuti langkah Alvero.

"Ahsan, kamu jangan ikut pergi. Bantu aku mempelajari ini."

Ahsan yang sudah memegang gagang pintu, ia memutar tubuh, dan kembali masuk.

Ruangan masih terasa sunyi, Regan belum bangun dari duduknya. Tatapannya masih kosong.

Ahsan berdiri di samping sofa, satu tangannya masuk ke saku celananya. Ia tidak memulai pembicaraan, hanya menunggu Regan kembali bersuara.

1
Agatha soul
tanggung jawab lhoo
Its me
sikap veyra bisa mancing Regan nih
hati-hati lidah tak bertulang vey
mama Al
untung Alvero ga marah.
kebanyakan suami kan ga suka istrinya dekat dengan pria lain walaupun sahabatnya sendiri
arsyila putri
regan Regan kok bisa sih
Laila Sarifah
Kamu udah mulai ada rasa ya Gan sama Veyra?
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
ooooo.. regan memang begitu toh. mudah akrab ke siapa aja
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
di sini aku mulai curiga regan suka sama veyra
SANG
Lanjut👍👍👍💪👍👍👍👍💪💪💪💪👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
SANG
Like iklan plus komen 💪👍
SANG
Semangat ya thor 💪👍
SANG
Apaan tuh
SANG
Tuh, disana
SANG
Aku kasih suka ya Thor 💪👍
SANG
Habis dari mana sih
Pengabdi Uji
Duhh ituu bukann lakik muu 😭😭 Tapi ya netizen gimana lg ya? yaudh lah ya smg km bsa istikomen ttp jd istri yg stia y vey🙄
Pengabdi Uji
Ini siasat Regan buat dketin Veyra apa Al 🤣🤣
Pengabdi Uji
Regann sebenernya km milih siapaaa sihh🤣🤣 ko ambigu sgt km😒
Its me
Please deh kamu jangan mikirin apa kata orang di pasar malam itu. bisa baper kamu jadinya
Addb_Rh
harusnya Vyra bilang ini bukan suami saya, mlh senyum.. apa gk di salah artikan nanti🥲🥲🥲🥲
Its me
mertuanya ngebiarin mantunya pergi sama bukan muhrim
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!