Bagaimana rasanya menjadi seorang anak yang tidak diinginkan, di tuntut untuk selalu mengalah dalam segala hal, menyerahkan apapun yang dimiliki untuk orang lain bahkan orang yang di cintai sekalipun harus ia lepaskan? Selalu salah dan di anggap pembawa sial.
Itulah penderitaan yang di rasakan oleh seorang wanita bernama Ayla, ia tumbuh di keluarga yang serba berkecukupan, punya dua kakak laki-laki dan orang tua yang masih lengkap, namun sayang sekali, meskipun memiliki semua itu Ayla sama sekali tidak memiliki kasih sayang dan kebahagiaan.
Di mata keluarga Ayla adalah pembawa sial, sosok yang selalu salah dalam segala hal, berbanding terbalik dengan Alena yang selalu menerima kasih sayang penuh dan selalu di utamakan oleh semua orang.
Siapa Alena? Dan kenapa Ayla memiliki nasip berbeda dengan nya? Cus baca kisah mereka di sini, bersama author Nadia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34# Pesta Ulang Tahun Gavin
"Aku tidak menyangka Ayla benar-benar bisa mengatur semua ini dengan sangat sempurna," ucap papa Hans kepada Maya yang saat itu berdiri di sebelahnya menyambut tamu dengan suasana hati yang terlihat sangat kacau.
"Menantu kita yang terlihat lemah itu ternyata memiliki kepintaran yang luar biasa, sperti bukan pertama kalinya dia melakukan hal ini," lanjut papa Hans yang notabene nya sangat terpukau akan pesta tersebut.
"Sudah berapa kali kamu mengatakan hal itu mas, telingaku panas mendengar nya, ayo fokus pada tamu-tamu saja," ucap Maya dengan wajah datar.
"Ya, baiklah, jangan tersinggung, ini kau sendiri yang meminta Ayla untuk melakukan nya," ucap papa Hans yang tau bagaimana geram nya Maya saat ini.
Papa Hans tau nya hanya semua ini bentuk ujian Maya untuk Ayla, namun pada dasarnya itu sama sekali tidak benar karena Maya memang sangat membenci Ayla dan Valen.
Tamu-tamu berdatangan ke rumah mereka, kebanyakan dari itu adalah teman-teman nya Gavin.
Sementara itu, dari keluarga Gunawan yang datang hanya Alena dan juga Bastian sebagai perwakilan, awalnya mereka ingat datang semua, tetapi ini adalah pesta anak muda, mereka jadi malu sendiri datang ke sana beramai-ramai.
Tiga puluh menit kemudian.
Seluruh tamu yang menerima undangannya sudah tiba, termasuk Alena dan juga Bastian.
"Kak, aku tidak menyangka rumah mereka akan jauh berkali-kali lipat lebih besar dari rumah kita," ucap Alena kepada Bastian. Sejak turun dari mobil dia sudah terpukau akan kemegahan serta kemewahan keluarga Aditama.
"Mereka keluarga kaya nomer satu, wajar saja," jawab Bastian sambil melihat sekeliling mencari sosok yang sebelumnya sudah lama tidak mereka lihat.
"Permisi semuanya, bisa minta waktu sebentar?" ucap papa Hans kini menyita seluruh perhatian para tamunya.
"Pertama-tama aku ingin mengucapkan terima kasih banyak untuk para tamu yang sudah datang ke pesta ulang tahun putra bungsu ku," ucap papa Hans sambil merangkul Gavin yang ada di sebelah nya.
Teman-teman Gavin yang melihat tingkah manja Gavin kepada sang papa merasa sangat mual.
"Lihat anak itu, masih saja manja sperti dulu, apa dia tidak sadar berapa usianya sekarang?"
"Dia kan memang seperti itu pada papa nya, dengan sang mama apakah kau pernah melihat nya bersikap manja? Dia tidak akan mendapatkan semua itu dari mama nya,"
"Di rumah dia anak manja tapi di luar dia memiliki jatie dirinya sendiri, Gavin sangat bijaksana aku saksinya, dia hanya menunjukkan sifat manjanya kepada orang-orang yang dia sayangi dan juga menyayanginya,"
Begitulah bisik-bisik teman-teman nya yang melihat Gavin di hadapan mereka.
"Kak, ternyata tuan muda Gavin sangat tampan," ucap Alena terpesona kepada Gavin pada pandangan pertama.
"Jaga bicaramu Alena, dia bukan orang yang bisa sembarangan kita ganggu, lagipula kau sudah memiliki tunangan, Rey akan marah jika mendengar mu bicara begitu," ucap Bastian menegur Alena.
Sementara itu, Rey yang ternyata juga mendapatkan undangan baru saja tiba dan berdiri di barisan paling belakang dari para tamu-tamu yang hadir.
"Kedua aku ingin berterima kasih kepada seseorang yang sudah menyiapkan pesta ini dengan sempurna, kali ini bukan istriku tapi menantuku tercinta," ucap papa Hans terlihat sangat bangga dengan Ayla.
Semua orang mulai saling pandang satu sama lain, mereka sama sekali belum mengetahui berita tentang Ayla yang menikahi anak pertama keluarga Aditama ini.
"Menantu? Itu artinya tuan muda Valen sudah menikah?"
"Ya tentu saja, memang nya selain tuan muda Valen dan tuhan mudah Gavin siapa lagi? Tidak mungkin Danu, dia bukan bagian dari keluarga ini,"
"Jadi yang menikah itu siapa? Tidak mungkin tuan muda Gavin kan?"
"Ya jelas kakak nya, tuan muda Valen, kalau tuan muda Gavin acara nya sudah pasti terdengar sampai penjuru kota,"
"Ya, itu benar, karena ini terlihat rahasia tampak nya yang menikah memang tuan muda Valen,"
Begitulah obrolan orang-orang yang merasa sangat penasaran dengan penuturan papa Hans barusan.
Sementara itu Danu yang berdiri di pojok ruangan memperhatikan betapa ramainya tamu-tamu.
Kalau bukan karena rencana mama, aku tidak mau datang ke tempat ini, menjengkelkan sekali," ucap nya sambil memegang segera angir merah yang diberikan oleh pelayan.
"Baiklah, semuanya aku tidak akan menunda-nunda lagi, aku akan segera memulai acara ini," ucap papa Hans.
Semua orang sudah menunggu momen ini, di mana lampu ruangan pesta di matikan sementara karena seseorang akan membawakan lilin untuk Gavin.
Tap ...
Suara lampu di matikan.
Seketika seluruh ruangan gelap gulita, namun itu tidak berlangsung lama, seseorang datang membawa lilin berjalan dengan angun menuju ke arah di mana tempat Gavin berdiri. Sosok yang memakai gaun gemerlap itu membuat semua orang bertanya-tanya dan penasaran.
Di samping nya terlihat seseorang yang duduk di kursi roda di dorong oleh seseorang. Mereka bertiga tak lain adalah Ayla, Valen dan Leo.
"Selamat ulang tahun, ayo tiup lilinnya," ucap Ayla kepada Gavin.
"Terima kasih ipar kecil," ucap Gavin yang kemudian meniup lilin itu dengan sangat senang.
Tap...
Lampu menyala kembali setelah Gavin selesai meniup lilin dan terlihat lah Ayla yang berdiri dengan angun di samping sang suami. Semua mata kini tertuju padanya termasuk Danu, Alena dan Bastian.
"Wah dia sangat cantik,"
"Ternyata benar, yang menikah adalah tuan muda Valen."
Semua orang tampak sangat mengagumi Ayla, dia benar-benar tampil seperti putri di pesta tersebut, jangan kan semua orang Valen yang sebelumnya lebih dahulu menghadap sang istri yang benar-benar sangat cantik.
"Ayla, bagaimana bisa dia secantik itu," ucap Rey kaget.
"Sial, mama tidak berbohong, Valen benar-benar berhasil menikahi wanita cantik, mereka sama sekali tidak cocok, Valen yang lumpuh bagaimana bisa mendapatkan wanita secantik dia," ucap Danu seketika melepaskan gelas anggur nya ke meja.
"Kak, itu benar-benar Ayla?" ucap Alena menatap Ayla penuh dengan rasa iri, di tambah lagi Valen yang terlihat sangat tampan dan Gagan meskipun duduk di kursi roda.
"Aku juga tidak menyangka kalau dia sangat cantik sekarang, apakah dia sekarang bahagia?" ucap Bastian menatap sang adik dari kejauhan.
Pesta pun semakin meriah, semua orang benar-benar menikmati dan saling ngobrol satu sama lain, yang paling penting adalah, Gavin dan teman-teman nya mengerubungi Ayla mereka satu-persatu bertanya dan berkenalan dengan Ayla sehingga membuat Gavin harus menjaga Ayla dan sesekali melihat reaksi wajah sang kakak yang duduk di pojokan sambil memantau sang istri.
"Tuan muda, sepertinya bintang utama kali ini adalah nona Ayla," ucap Leo yang selalu stay di samping Valen.
"Permisi," ucap seseorang yang tiba-tiba menghampiri mereka.
****