Jiang Hao hanyalah pemuda yang lugu dan polos , jujur dan sedikit konyol , kehidupan sehari harinya seperti kebanyakan pemuda pada umumnya.
Memiliki cita cita keluarga yang bahagia dan keinginan untuk menjadi kaya .
Tapi kehidupan yang di idam idamkan di dalam pikirannya, tidak ada sama sekali.
Tatkala adik kandung yang baru pulang dari dinas militer masuk ke kehidupannya.
Merebut tunangan yang di mana dalam satu minggu akan ia nikahi, serta sikap dan sifat keluarganya yang berubah dengan memutuskan semua hubungan darah termasuk tunangan dan keluarganya.
Juga ia mendapat fitnah keji , sehingga tubuh dan jiwanya hampir mati, namun itu menjadi berkah tersembunyi, darah dan bakat bela dirinya keluar setelah 20 tahun tersegel.
Saat itu juga dunia bela diri kuno terguncang dan nama Jiang Hao menjadi legenda yang di takuti lawan serta kawan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erik riswana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 14 sang putri pertama yang kuat
Terdengar nada suara mengejek yang sangat halus , suaranya mirip seperti seorang wanita dan memang benar, di belakang mereka berdiri wanita cantik dewasa dengan penampilan seperti ratu kecil yang menggoda.
Jiang Zhengzin berbalik untuk melihat siapa yang berbicara tentang jenius kerajaan Jiangnya, matanya melebar seketika saat melihat betapa cantik dan sempurnanya wanita yang ada di depannya .
Ia hanya bisa menelan ludah tidak bisa berkata kata , mata biru safir wanita muda cantik itu membuat hatinya tergoda.
Dengan sopan dan tidak mengeluarkan emosinya, Jiang Zhengzin berjalan dan menyapa " siapa anda nona cantik ini ?" Tanyanya dengan wajah dibuat berwibawa.
Sekedar untuk menarik perhatian dan mengesankan wanita cantik anggun di depannya.
Wanita muda itu hanya tersenyum tenang , dan berbalik tanpa menjawab pertanyaan dari Jiang Zhengzin.
Hal itu membuat beberapa jenius muda dari kerajaan Jiang emosi dan mata mereka tidak terima melihat pangeran mereka diperlakukan seperti boneka.
Namun diantara jenius muda kerajaan Jiang yang emosi , terlihat seorang pemuda yang tidak bisa berkata sejak kedatangan wanita muda cantik mempesona itu .
" dia ternyata bukan wanita sembarangan, pelayan itu .. pasti memiliki latar belakang yang kuat .. !"
Jiang Tian menyeka keringat dingin di wajahnya yang tampan biasa , ia memutuskan untuk tidak bersinggungan dengan wanita yang datang beberapa saat lalu itu .
Sementara suasana di Kota Jiangqi masih dipenuhi percakapan para jenius muda, di tempat yang jauh lebih megah dan terjaga ketat, di tengah jantung Kekaisaran Qing, peristiwa yang lebih besar sedang berlangsung.
Di sebuah paviliun bernuansa merah , seorang wanita dewasa berdiri tenang, pupil matanya berwarna merah , ada garis segitiga di tengah tengah pupil matanya , memancarkan aura dao surgawi yang kuat.
Wanita dewasa itu memiliki paras yang luar biasa cantik , tidak ada dewi yang bisa mengalahkan kecantikan sang wanita.
Auranya yang tenang memiliki kedalaman kultivasi yang tak terduga dan cahaya berwarna biru muda begitu lembut mengelilingi tubuhnya.
Trang.
Tiba tiba liontin giok yang memiliki warna merah darah bergetar dan redup , juga ada beberapa retakan di sekelilingnya.
Wanita dewasa itu hanya melirik sekilas, lalu menghembuskan nafas berat yang tidak terduga.
" Haoer dalam masalah.. , "
" apakah orang tua itu lupa dengan perjanjian 18 tahun lalu "
" sudah waktunya aku keluar dari kultivasi "
Auranya yang kuat dan tak terhingga membuat paviliun tempat dirinya berdiri secara tiba tiba berguncang dan membuat beberapa sosok dari arah kanan dan kiri keluar satu persatu .
" Yang Mulia putri pertama , mohon tenang !" Seru salah satu sosok yang ternyata seorang pria berzirah emas berkilauan , datang dengan wajah pucat .
" jenderal Baitian , kenapa kamu ada di sini , apakah kamu berjaga agar aku tidak keluar dari paviliun Qingshuang ini " nada suara wanita dewasa yang memiliki aura menekan dan tajam itu terdengar ketus tak berperasaan.
Jenderal paruh baya itu tidak bisa menjawab pertanyaan ketus dari wanita dewasa yang memiliki gelar sebagai putri pertama , ia hanya bisa berkata " Yang Mulia Kaisar memberikan tugas ini untuk melindungi Yang Mulia putri pertama " katanya menunduk .
" melindungiku, heh apakah kakak Kaisar takut aku pergi meninggalkan kekaisaran untuk menemui putraku yang hidup menyedihkan di luar sana !" Mata indah wanita dewasa itu tampak berair sembab, tidak bisa menahan rasa rindu terhadap buah hatinya yang sudah lama belum ia lihat sejak 18 tahun yang lalu.
Jenderal Baitian begitu khusuk, matanya terus menatap ubin kaca yang ada di bawah kakinya .
" jenderal Baitian, kalau anda bisa menemukan putraku , aku berjanji tidak akan menyulitkan dirimu lagi dan juga aku tidak akan kemana mana " kata Putri Pertama Kekaisaran Qing itu dengan nada tenang .
" tuan Putri Pertama, hamba tidak tahu bagaimana cara menemukan putra tuan Putri Pertama "
Qing Wushuang mengambil giok berbentuk ular berwarna merah darah dari cincin penyimpanannya , lalu memberikannya kepada sang jenderal paruh baya yang ada di depannya.
" dalam waktu 1 tahun , aku hanya bisa memberikan waktu 1 tahun , kalau tidak ketemu , aku sendiri yang akan memaksa keluar dari istana Dingin ini " katanya dengan aura api ganas menyebar hingga ke celah ruang di sekitarnya.
Sang jenderal dengan patuh memberikan hormat dan bergegas untuk melaksanakan perintah dari sang tuan putri pertama kekaisaran.
Melihat kepergian jenderal penjaga gerbang istana paviliun Qingshuang miliknya , ia hanya bisa menghela nafas pelan.
Perlahan berjalan dengan langkah hampa dan matanya yang berwarna biru safir begitu tajam saat menatap ke arah lukisan seorang pria tampan di depannya.
" aku tahu, Jiang Ningguo, kamu mengkhianatiku, hari ini sampai mati, tidak ada hubungan lagi "
Shuuuthh...
Lukisan pemuda tampan yang tampak gagah dan berwibawa itu langsung terbakar hangus , tidak tersisa, bahkan abunya hilang terbawa oleh udara dingin istana Paviliun Qingshuang.
" putraku semoga kamu masih hidup , bila tidak, dunia ini , negara Jiang, tidak akan ada lagi "
" bibi pertama , .. Ye Ya datang... !"
Ekspresi wajah cantik sempurna Qing Wushuang tampak berubah dan menjadi begitu lembut, senyumnya tampak lebar merekah .
" ah , gadis kecil Ye Ya , kenapa kamu lari lari , awas jatuh... " kata Qing Wushuang menyambut kedatangan gadis kecil berusia 11 tahun yang tampak lucu menggemaskan.
" aku datang membawa hadiah dan ayah juga datang !"
Mata indah Qing Wushuang begitu dingin saat mendengar tentang hal itu , tanpa mengurangi rasa sayangnya kepada keponakan perempuan kecilnya , ia menggendong dan menerima hadiah kecil dari gadis kecil Ye Ya .
" ohh kakak Kaisar datang , .. ?"
" benar bibi , katanya kangen sama bibi !"
" hahaha wajar saja , bibi kan adik kandung ayahmu.. !" Kata Qing Wushuang tertawa renyah.
" ahh iya ya , Ye Ya lupa... , bibi turunkan aku , .. aku sudah besar .. !"
" nanti bibi bisa sakit punggungnya.. !"
Qing Wushuang tersenyum , jari jarinya mencubit pipi gemuk gadis kecil yang lucu itu .
" kalau begitu pijat punggung bibi .. !" Goda Qing Wushuang seraya mengambil buah apel dari wadah kaca yang ada di sampingnya.
" tidak bisa , kekuatan Ye Ya tidak cukup... kata ayah harus memiliki kekuatan seperti gajah.. !"
" tapi Ye Ya tidak mau , gajah itu besar , nanti Ye Ya bisa seperti kingkong wanita yang galak ... !"
" hahahaha ada ada saja putriku .. !"
Terdengar tawa keras dari balik pintu paviliun istana Qingshuang, sesosok pria paruh baya yang memiliki aura ganas layaknya naga kekaisaran mendominasi seluruh sembilan surga.
Qing Wushuang hanya melirik sekilas , ada pandangan dingin saat melirik kedatangan sang kaisar Qing yang tampak gagah berwibawa.
" ada urusan apa kakak Kaisar datang ke istana dingin ini ?"
" apakah mau memaksa lagi untuk menikah ke Kekaisaran Yuan di utara sana ?"
" aku sungguh tidak tahu apa yang ada dalam pikiran kakak Kaisar, setelah ayah Kaisar mangkat, kakak tampaknya sudah berubah jauh sifatnya "
Nada suara Qing Wushuang begitu datar dan tidak memiliki emosi apapun , matanya yang tajam begitu penuh tekanan.
" apakah adik perempuan masih merindukan priamu, klan Jiang itu ?"
" cihh , aku tidak merindukan orang yang tidak tahu moral , aku hanya mengingat putraku saja !"