NovelToon NovelToon
Di Bawah Sepatu, Di Atas Tahta

Di Bawah Sepatu, Di Atas Tahta

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Anak Genius / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: arrasy

Di balik sapu yang digenggamnya, Bagas menyimpan kecerdasan yang tak pernah disadari siapa pun. Ia pun diam-diam memendam rasa pada Naya, wanita yang dunianya terasa sejauh langit dan bumi darinya. Dihimpit kemiskinan dan biaya pengobatan ibu yang mahal, ia bertekad mengubah setiap informasi yang didengarnya menjadi jalan keluar. Cintanya yang tulus perlahan meluluhkan hati Naya, meski harus berhadapan dengan penghinaan, saingan licik, dan larangan tegas orang tua. Saat segalanya tampak mustahil dan terhalang tembok kasta tinggi, Bagas pergi membangun kerajaan bisnisnya sendiri dari nol. Ia kembali bukan lagi sebagai OB yang diremehkan, melainkan pengusaha sukses yang membuat semua orang terdiam kagum. Bukti nyata bahwa kesabaran dan ketajaman akal mampu mengangkat derajat setinggi langit. Akhirnya, ia bersanding dengan pujaan hati, hidup bahagia, dan membuktikan bahwa nasib buruk bisa diubah menjadi kemewahan yang abadi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Kehadiran Laras & Kecemburuan Dimas

Kontrakan Bagas, yang selama ini hanya berisi dua orang jiwa yang penuh kesulitan, mulai berubah. Kedatangan Laras seperti angin segar yang menyejukkan. Ia tidak datang sebagai anak dari keluarga kaya yang memandang rendah. Ia datang sebagai seorang manusia yang baik hati, ingin membantu.

Seringkali, Laras datang membawa sembako, obat-obatan untuk Ibu Bagas, dan kadang-kadang, makanan yang ia buat sendiri. Ia tidak ragu untuk memasak, membersihkan rumah, atau sekadar duduk di samping Ibu Bagas, mendengarkan cerita masa lalu.

Ibu Bagas, yang selama ini hanya punya anak laki-laki, merasa seperti mendapatkan putri yang selalu ingin ia miliki.

"Laras, kamu seperti putri yang Tuhan kirimkan untuk Ibu," ucap Ibu Bagas suatu sore, saat Laras sedang membersihkan kakinya yang bengkak. "Terima kasih sudah ada di sini, buat Bagas dan buat Ibu."

Laras tersenyum, memegang tangan Ibu Bagas dengan lembut. "Ibu, saya senang bisa membantu. Bagas adalah orang baik, dan ibu orang yang sangat lembut. Ini yang saya inginkan, keluarga yang penuh kasih."

Kata-kata itu membuat hati Bagas berdebar. Ia melihat Laras, wanita yang indah dan baik hati ini, yang tidak hanya membantu dirinya dan ibunya, tapi juga berani membela Bagas di depan ayahnya sendiri, suatu hal yang tidak mudah dilakukan, mengingat status sosial Bagas. Bagas tahu, tanpa dukungan Laras, usaha kecilnya sudah pasti gulung tikar.

Namun, semakin dekatnya hubungan Bagas dengan Laras, semakin membara api dendam di dada Dimas. Dimas sudah tidak bisa menahan cemburu yang memenuhi jiwanya. Ia melihat Laras, wanita yang selama ini ia anggap sebagai miliknya, sekarang lebih sering berada di samping Bagas, seorang pendatang miskin, tidak punya apa-apa.

"Bagas itu bukan pantas untukmu, Laras!" seru Dimas pada Laras saat bertemu di sebuah acara sosial. "Dia cuma miskin yang ingin memanfaatkanmu dan kekayaan ayahmu!"

Laras menatap Dimas dengan dingin. "Dimas, jangan sekali-kali menyebut Bagas dengan cara itu. Dia lebih jujur dan berani daripadamu yang hanya bisa bergantung pada ayahmu. Saya suka Bagas, dan itu adalah hak saya."

Kata-kata itu seperti pedang yang menusuk hati Dimas. Ia merasa dihina, diabaikan. Ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa Laras lebih suka Bagas daripada dirinya. Amarahnya membutakan akal sehat. Ia tidak akan tinggal diam. Ia akan menunjukkan kepada Bagas siapa yang sebenarnya berkuasa di kota ini.

Dimas mulai menggunakan koneksi ayahnya, yang luas dan kuat di kalangan pengusaha dan pejabat. Ia memblokir semua jalur distribusi barang Bagas. Gudang-gudang besar ditutup rapat, supir angkot yang biasanya membantu mengangkut barang dihuni anak buah Dimas, dan bahkan pedagang kecil yang dulu mau membeli barang Bagas sekarang diancam agar tidak lagi berurusan dengan dia.

Usaha Bagas terhambat parah. Barang-barang yang sudah ia beli menumpuk di gudang sewaan kecilnya, tidak bisa dikirimkan. Uang yang ia punya hampir habis, dan utang mulai menumpuk. Bagas berjuang keras, mencari solusi, tapi semua pintu tampaknya tertutup.

Di tengah kesulitan itu, kehadiran Laras semakin sering. Ia menjadi tempat Bagas untuk bersandar, untuk mengeluh, untuk menangis. Laras selalu ada, memberikan dukungan moral, saran bijak, dan terkadang, bantuan finansial yang ia sediakan dari tabungan pribadinya.

Melihat ibunya yang semakin bahagia dan sehat dengan kehadiran Laras, melihat Laras yang selalu ada untuknya meskipun ia sedang dalam kesulitan terbesar, hati Bagas mulai goyah. Pertanyaan-pertanyaan muncul dalam benaknya.

"Apakah aku harus tetap berjuang untuk mimpiku?"

"Aku harus tetap bertahan di kota ini yang penuh musuh?"

"Atau... aku harus menyerah?"

"Kalau aku menyerah, aku bisa tinggal di kota sini saja, bersama Ibu. Mungkin hidup akan lebih tenang, lebih aman. Ibu tidak akan lagi khawatir."

Tentangan itu membuat Bagas tersiksa. Di satu sisi, ada mimpi besar yang ia ingin raih, janji yang ia buat untuk Naya. Di sisi lain, ada kebahagiaan dan ketenangan yang ia dapatkan bersama Ibu dan Laras, sesuatu yang selama ini ia tidak pernah bisa miliki.

Bagas tidak tahu apa yang harus ia pilih. Ia hanya tahu, keputusan yang ia buat sekarang akan menentukan masa depan dirinya dan ibunya. Dan ia harus memilih dengan hati yang jernih, meskipun itu sulit.

1
miumiu
ada sedihnya tapi ada kekuatan juga. lanjuut ya thor.
curbel
seru juga. Dan enak dibaca. 👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!