Thanaya Radiva dikira menikah adalah akhir dari kesepiannya. Arkan lelaki yang selalu setia mendengarkan keluh kesahnya setiap malam, selalu membuatnya bahagia.
Tapi setelah menikah, malam pertamanya jadi malam terakhir Arkan menyentuhnya. Akhir dari sikap hangatnya, semuanya telah berubah.
Sampai Naya tau, Mertuanya yang ternyata bermuka dua dan kehadiran Bara, adik Arkan, jadi bumerang dalam rumah tangganya. Bara lelaki dingin berhati hangat, siswa populer di sekolahnya dulu, menyimpan sejuta rahasia yang Naya ingin bongkar. Semakin Naya tahu, semakin ia terjebak dalam hati Bara.
Akankah Naya terus terjerat dalam cinta yang salah dengan adik iparnya? Atau ia akan mengakhiri jeratan itu demi suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23•Cinta Atau Kasihan?
Ibu Desy diam setelah tatapan curiganya ke Bara. Tapi senyum tipis di bibirnya cukup membuat Naya menunduk lebih dalam. Meja makan kembali senyap. Hanya terdengar gesekan sendok ke piring.
Selesai sarapan, Arkan berdiri lebih dulu. “Aku berangkat.”
“Mobil Arkan masih di bengkel kan?” sahut Ibu Desy. “Berangkat sama Bara aja.”
Arkan tidak menjawab. Ia langsung melangkah keluar dan Bara mengikuti dibelakang, wajahnya terlihat kosong.
Sedangkan Naya hanya diam. Ia tau Arkan masih mengabaikannya pagi ini, tapi ia tidak berpikir panjang dan langsung naik ke lantai atas. Ibu Desy hanya melirik sekilas.
Di garasi, Bara menyalakan mesin. Arkan masuk ke kursi penumpang tanpa sepatah kata. Sepanjang jalan mereka saling diam, seperti dua orang yang sedang tidak akur.
Perjalanan ke kantor Arkan biasanya menempuh waktu empat puluh menit. Namun, separuh perjalanan, Arkan tiba-tiba bicara.
“Tepi.”
Bara melirik. “Apa?”
“Menepi. Gue turun di sini.”
Bara mengerem. Mobil berhenti di bahu jalan yang sepi. Ia menoleh ke Arkan. “Mau dijemput Dewi ya?”
Kalimat itu meluncur datar, tapi tajam.
Arkan langsung menoleh. Tangannya meraih kerah kemeja Bara, menariknya sedikit ke depan. “Jaga mulut lo.”
Wajah Arkan tegang. Napasnya cepat. Nama Dewi membuat ia ingat ucapan Naya semalam. Nama yang sama, tuduhan yang sama.
Bara tidak melawan. Ia tertawa pendek, hambar. “Gue cuma tanya. Lo kan yang bilang dia temen kerja? Jadi gue tebak aja lo bakal dijemput dia.”
“Omong kosong,” bentak Arkan. Ia melepas kerah Bara, mendorongnya kembali ke sandaran. “Gue turun di sini karena ada urusan.”
Bara tidak menjawab dan hanya mengangguk pelan. Lalu Arkan melepas sabuk pengaman dengan gerakan cepat dan membuka pintu, turun. “Balik aja. Gue jalan kaki dari sini.”
Bara tidak langsung pergi. Ia menurunkan kaca, menatap Arkan yang berdiri di trotoar. Lalu melaju pelan, berhenti di ujung persimpangan. Sengaja. Ingin lihat siapa yang datang menjemput Arkan.
Tiga menit. Lima menit.
Sebuah sedan putih berhenti tepat di depan Arkan. Pintu penumpang terbuka dari dalam. Dewi menurunkan kaca. Tersenyum.
Arkan masuk tanpa menoleh ke arah Bara.
Mobil itu pergi.
Bara masih di tempatnya. Tangannya menggenggam setir sampai buku jari memutih.
Untuk pertama kali sejak semalam, ia yakin Arkan tidak pantas untuk Naya. Tangannya mengambil ponsel dari saku, memotret plat mobil itu. Akan ia berikan foto itu kepada Naya. Buat bukti siapa yang menjemput Arkan di pinggir jalan.
**
Bara pulang saat langit mulai jingga. Satu-satunya yang ia pikirkan saat turun dari mobilnya adalah Naya. Ia ingin bicara. Ingin bilang kalau ia sudah lihat sendiri.
Tapi langkahnya terhenti di ruang tengah.
Jeslyn duduk di sofa. Tumpukan katalog baju pesta berserakan di meja. Di sebelahnya, Ibu Desy tersenyum manis.
“Pas banget kamu pulang,” kata Ibu Desy. “Kami lagi pilih baju buat pesta pertunangan kamu. Coba, pilih yang mana.”
Bara tidak duduk. Ia meletakkan tas kerja di kursi, lalu menatap Jeslyn. “Aku mau batalin pertunangan ini.”
Suara itu datar, tapi memotong udara.
Jeslyn langsung berdiri. “Apa maksud kamu?”
“Aku gak bisa lanjutin ini,” jawab Bara. “Aku minta maaf.”
“Maaf?” Jeslyn mendekat, suaranya naik. “Kamu pikir kamu bisa main-main kayak gini? Aku bakal telpon Papa sekarang juga. Dan tante, tolong bilang sesuatu!” Ia menoleh ke Ibu Desy, matanya mulai basah.
Ibu Desy melirik Arkan yang baru keluar dari dapur. “Arkan, tolong bujuk adik kamu.”
Arkan tidak bergerak. Ia menatap Bara beberapa detik, lalu mengalihkan pandangan. “Itu tergantung keputusan Bara, Ma.”
“Lihat,” Jeslyn menunjuk Arkan, lalu kembali ke Bara. “Bahkan kakak kamu gak belain kamu. Kamu mau mempermalukan keluarga kita di depan semua orang?”
Bara diam. Ia mengepalkan tangan.
Belum sempat ia jawab, ponsel di saku Jeslyn berdering. Dia mengangkatnya. Wajahnya berubah begitu mendengar suara di seberang.
“Papa?”
Suara laki-laki dari seberang terdengar keras, walau Bara tidak menangkap katanya. Tapi wajah Jeslyn yang menatap Bara sambil mengangguk cukup memberi tahu.
Jeslyn menyerahkan ponsel itu ke Bara. “Papa mau bicara sama kamu.”
Bara menerima ponsel. “Pak.”
“Bara,” suara Ayah Jeslyn berat. “Kamu pikir kamu bisa tarik mundur sekarang? Proyek di kantor kamu itu masih di bawah aku. Kamu batalin pertunangan ini, kamu pikir pekerjaan kamu aman?”
Jantung Bara jatuh.
“Kita majukan pesta seminggu lagi,” lanjut suara itu. “Biar semua jelas. Jangan bikin malu keluarga kami.”
Panggilan diputus.
Bara mengembalikan ponsel ke tangan Jeslyn. Tangannya gemetar, tapi suaranya tetap keluar. “Baik.”
Jeslyn tersenyum. Kemenangan kecil di wajahnya. Ibu Desy menghela napas lega.
Dan Bara tau, jalan keluar yang ia cari baru saja ditutup.
Di taman belakang, Naya duduk di ayunan besi. Ia menunggu. Sejak siang, satu-satunya orang yang ingin ia lihat adalah Bara.
Langkah kaki terdengar dari arah pintu kaca.
Bukan Bara.
Arkan keluar, membawa dua cangkir kopi. Ia pulang lebih awal dari biasanya. Kemejanya sudah ganti kaos rumah, wajahnya lelah.
“Aku bawakan kopi,” kata Arkan, meletakkan satu cangkir di meja kecil di samping Naya.
Naya tidak menyentuhnya. Ia tidak suka kopi.
Satu-satunya kopi yang ia suka adalah kopi dari Bara. Walaupun Naya hanya minum seteguk, senyumnya bertahan lama setelah itu.
Arkan pikir, mungkin kopi bisa melakukan hal yang sama. Tapi tidak bagi Naya. Kopi itu sudah membuat lambungnya perih sejak sekali lihat dari tangan Arkan. Naya langsung mengalihkan pandangannya.
Ia duduk di ayunan sebelah Naya. “Aku minta maaf buat kemarin.”
Naya diam. Matanya menatap lurus ke kebun bunga, tidak ke arah Arkan.
Arkan menarik napas bangkit dari ayunan lalu berlutut berhadapan langsung dengan Naya. Tangannya meraih tangan gadis itu, menggenggamnya lama. Hangat telapaknya kontras dengan dingin jarinya.
“Aku serius minta maaf, Nay,” suaranya rendah. “Aku janji, aku gak akan bikin kamu marah lagi.”
Ia menunduk sedikit, menatap mata Naya. “Aku cinta kamu, Nay.”
Cangkir kopi di meja mulai dingin. Naya masih diam. lalu beberapa detik setelahnya ia menarik tangannya kasar dari genggaman Arkan. Ia tidak menjawab.
“Aku keinget pas kita pacaran,” katanya. Tawa hambar keluar dari bibirnya. “Kamu cuma mau nemuin aku tiap malam.”
Ia menatap lurus ke depan, ke arah kebun yang mulai gelap. “Aku baru sadar pas kita udah nikah, Mas. Kamu ternyata punya waktu senggang pas matahari belum terbenam sempurna.”
Arkan terdiam. Lalu ia beranjak, duduk di ayunan sebelah Naya kembali. Ayunan itu berderit pelan.
“Aku gak mau ribut lagi, Nay,” ucap Arkan.
Naya menoleh sedikit, cukup untuk menatap profil Arkan. Suaranya datar.
“Kamu cinta atau kasihan sama aku, Mas?”
Arkan diam beberapa detik. Rahangnya mengeras, lalu mengendur lagi.
“Cinta,” jawabnya pelan. Tapi suaranya goyah, dan matanya tidak berani menatap Naya.
Naya mendengar. Ia menoleh sedikit, menatap profil Arkan yang kaku. Lalu ia tertawa kecil, bukan tawa senang.
“Kata itu gak ada harganya lagi, Mas,” katanya.
Arkan tidak membalas. Ia menunduk. Dan Naya tau, “cinta” yang baru saja diucapkan itu kosong.