Veyra Aletha, ia tidak pernah berniat mencintai siapapun selain suaminya. Baginya, Alvero Halim Winata adalah rumah pertama, lelaki yang ia pilih untuk membangun keluarga kecil mereka bersama putra semata wayang mereka, Renzio Althar Halim.
Kehidupan pernikahan tidak selalu berjalan seperti yang dibayangkan. Di tengah kesibukan Alvero yang semakin tenggelem dalam pekerjaan, hadir Regan Han Sebastian, sahabat sekaligus rekan kerja suaminya yang selalu punya waktu untuk hadir saat Veyra merasa sendiri.
Menemani Renzio bermain. Mengantar Veyra saat Alvero sibuk. Datang membawa makanan. Dan perlahan mengisi ruang kosong yang tidak pernah Veyra sadari sebelumnya.
Hingga suatu hari, kecelakaan mengubah segalanya. Veyra dinyatakan hilang di lokasi kejadian.
Saat semua orang percaya Veyra telah hilang, Regan justru membawanya pergi ke Singapura. Menyimpan rahasia besar yang perlahan mengaburkan batas anatara cinta, rasa bersalah, dan obsesi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lautan Ungu_07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 03: Anak Spesial
Langit sudah mulai abu-abu tua, langkah orang-orang bersahutan dengan suara mesin mobil di area parkiran kantor.
"Aku minta Kamu buat tanggung jawab, Regan." Alvero berdiri dekat pintu mobil miliknya.
"Iya, akan aku catat ulang semua isi berkas itu." Jawab Regan santai, tubuhnya bersandar ke mobil.
Alvero tak langsung menjawab, ia menatap Regan dengan sorot yang sudah lelah. "Terus... kenapa kamu mengikutiku?"
Regan nyengir kecil, tangannya menggaruk tengkuk yang tak gatal. "Aku gak mau lembur di kantor."
Alis Alvero bertaut, seolah menunggu kelanjutan ucapan rekan kerjanya itu. Lebih tepatnya, calon CEO yang lagi malas-malasan mengurus perusahaannya.
Regan menghela napas. "Kalau di rumahmu bagaimana, Al?"
Alvero terkekeh getir, pundaknya terasa berat. Aroma knalpot dan suara klakson membuat kepalanya semakin pening. Apalagi harus menghadapi Regan yang menyebalkan.
"Tidak mau gak papa," lanjut Regan. "Aku gak akan mengerjakannya sama sekali. Meeting besok urusanmu." Regan pergi dari hadapan Alvero. Tapi langkahnya dibuat lambat.
"Oke!"
Sesuai harapan Regan, suara Alvero kini menghentikannya. Regan langsung berbalik, alisnya mengernyit. "Kenapa gak dari tadi, Pak Direktur."
Regan langsung masuk ke kursi belakang. Sementara Alvero memijat pelan pelipisnya, sebelum duduk di kursi kemudi.
Jalanan menjelang malam kota Jakarta sedikit macet. Di dalam mobil, Regan duduk bersandar, tangan melingkar depan dada. Sementara Alvero meliriknya sesekali melalui kaca di depannya.
"Al, di supermarket depan berhenti dulu. Aku butuh banyak makanan." Ucapnya pelan.
Alvero hanya mendengus. Ia rasa hari ini Regan sangat menyebalkan. Ingin sesekali menghindarinya, tapi tak bisa. Semesta seolah sengaja mengirim Regan, untuk Alvero yang selalu serius bekerja.
Walaupun begitu, Alvero tetap menuruti apa yang Regan minta. Ia menepikan mobilnya di depan supermarket, mobil berhenti tapi mesin masih menyala.
"Regan, jangan lama-lama. Aku udah mau istirahat."
"Iya bawel," jawab Regan sambil keluar dari dalam mobil.
Setelah dipastikan Regan sudah jauh, Alvero menyalakan musik dari speaker mobil. Tubuhnya bersandar. Tangannya melingkar depan dada. Lalu, ia memejamkan matanya. Tidak ingin menyia-nyiakan kepergian Regan yang hanya sesaat itu, untuk merasa sedikit lebih tenang.
Sudah hampir dua puluh menit Regan pergi, sekarang dia kembali. Membuka pintu mobil, memasukan dua totebag yang isinya penuh makanan. Lalu, disusul dirinya.
"Udah, ayok jalan."
Tak ada reaksi. Tak ada jawaban. Kepala Regan nyembul dari belakang, menolah ke Alvero yang sudah tertidur lelap. Helaan napasnya terdengar stabil.
"Kasihan sekali kamu, Al," gumamnya. "Tapi gimana caranya aku mengambil alih stir, kalau kamu tidur di sana."
"Alvero," bisik Regan pelan.
Tangan Regan kini terulur ke atas stir mobil, lalu... Tiinn!!!
Suara klakson begitu nyaring, membuat Alvero terlonjak, ia reflek menginjak rem dan meraih stir. Napasnya terengah-engah.
Satu detik. Akhirnya Alvero ingat, dia langsung menoleh ke sampingnya. Regan sudah nyengir lebar, sekaligus menahan tawa agar tidak pecah. Alvero menghela napas panjang, campuran antara lega sekaligus kesal setengah mati.
"Kamu gak bisa bangunin dengan cara normal, Regan?" Suara Alvero sedikit meninggi. Matanya merah.
Melihat tatapan Alvero, senyum Regan langsung lenyap. Bibirnya mengatup rapat. "Maaf," katanya lirih. "Harusnya aku tidak bercanda saat kamu istirahat."
Melihat sorot mata Regan yang bersalah, Alvero hanya mengangguk. Lalu kembali melajukan mobilnya.
"Alvero, coba makan ini." Regan memberikan permen cokelat kecil. "Aku benar-benar minta maaf."
"Sudahlah. Aku juga salah tidur di mobil," jawab Alvero. Matanya melihat Regan dari kaca di depannya.
Alvero menggeleng, ia tahu Regan seusia dengannya. Tapi kenapa tingkah laku Regan seperti anak yang jauh lebih muda darinya. Alvero menatap Regan lagi, ada beberapa pertanyaan yang terbesit di kepalanya. 'Apakah anak remaja bertingkah seperti Regan? Atau jangan-jangan... Regan anak spesial?'
Ia cepat-cepat sadar. Tangannya pura-pura mengusap hidung, hanya untuk menutupi senyum tipis yang muncul.
Setelah beberapa menit, mobil Alvero masuk ke satu halaman rumah mewah. Lampu teras sudah menyala.
Alvero turun lebih dulu, lalu di susul Regan. Kedua tangannya heboh dengan tentengan yang ia bawa.
"Al, kamu gak punya inisiatif buat bantu aku?" Teriak kecil Regan.
Alvero berbalik sebentar. "Aku gak nyuruh kamu bawa makanan."
Regan mendecak, tatapannya berubah sinis. "Buat jagoan kecil aku lah."
Alvero membuka pintu pelan, aroma lavender yang khas di ruang tamu langsung menyambutnya. Regan mengekor di belakangnya.
"Zioo, Om Egan datang!" Suara Regan memenuhi ruangan. Jalannya cepat, mendahului langkah Alvero.
Begitu Regan muncul dari ruang tamu, semua mata langsung menoleh. Suara siaran anak-anak di televisi memenuhi ruang keluarga. Renzio langsung bangun, berlari kecil memeluk kaki Regan.
"Om Egan, bawa apa?" Celetoh anak laki-laki itu.
Regan langsung jongkok, tangannya mencubit gemas pipi gembul Renzio.
"Om bawain cemilan buat kamu," jawab Regan dengan senyum lebarnya, ia mendekatkan mulutnya ke telinga Renzio. "Sama bawain mainan juga." Bisiknya, seolah menjaga rahasia.
"Mainan, mana? Aku mauu," Renzio melompat kecil.
Alvero masih berdiri di belakang Regan, seperti menunggu sebutan Renzio selanjutnya. Tapi tak ada, anak itu hanya fokus pada Regan sekarang.
"Zio, Papa dibiarin, nih?" tanya Alvero akhirnya.
Renzio mendongak. "Papa," katanya singkat.
"Regan, bawain mainan lagi?" Tanya Serena sambil mendekat.
"Iya Tante, cuma mobil-mobilan kecil kok." Regan kembali berdiri, setelah memberikan satu mobil kecil ke Renzino.
Setelah menerima mainan, Renzio kembali berlari menghampiri Veyra yang duduk di sofa.
"Ayok duduk," ajak Serena.
"Mau ngopi?" Tawar Ardion yang dari tadi hanya diam.
"Nanti aja, Om. Aku juga bawa banyak makanan buat temen nonton." Regan mengeluarkan semua makanan di dalam totebag.
Donat kecil karakter, dimsum mentai, chiken garage dan soft cafe caramel. Aromanya naik bercampur ke udara.
"Aku juga bawain dimsum mentai kesukaannya istri, Pak Direktur," kata Regan sambil mendongak menatap Alvero.
Alvero terkekeh. "Aku mandi dulu, udah lengket banget ini badan."
"Iya, Mas. Abis mandi makan ya." Veyra mengelus lengan suaminya.
Alvero tersenyum lembut, mengelus kepala Veyra sebelum akhirnya ia pergi ke kamarnya.
"Zio, makan donatnya sayang. Lucu kan, ada karakter princessmya tuh." Regan nunjuk ke salah satu donat.
Veyra menepis tangan Regan. "Enak aja, Zio itu cowok, mana ada suka princess."
Serena yang tengah mengunyah chiken garage langsung tertawa kecil, di susul tawa dari Ardion.
Ardion meraih satu cup soft cake caramel, begitu dibuka. Aroma itu seharusnya tercium menggiurkan. Tapi tidak untuk Veyra.
Aroma yang biasanya enak, kali ini seolah asing. Perutnya tiba-tiba melilit, rasa mual menjalar ke tenggorokannya.
Veyra berusaha menahan, wajahnya perlahan memucat. Regan yang duduk di sofa sebelahnya, langsung menyadari perubahan ekspresi pada Veyra.
"Vey, kamu baik-baik aja, kan?" Tanyanya, membuat Serena dan Ardion ikut menatap Veyra.
Veyra mengangguk, bibirnya dipaksa tersenyum. "Aku baik-baik aja..." Tapi begitu ia buka mulut, rasa mual itu justru semakin kuat. "Huweekk!!"
"Papa maaf," ucap Veyra sambil bangun dari duduknya, berlari cepat ke toilet.
Regan menatap lorong dapur, gerakan mengunyah seketika melambat, ada gurat khawatir halus di hatinya.
"Veyra kenapa?" gumamnya, tapi masih bisa di dengar.
"Kayaknya cuma masuk angin." Jawab Serena, walaupun sebenarnya ia juga merasa khawatir.
"Om, Mama, joyok. Mau muntah," celoteh Renzio sambil duduk di pangkuan Regan.
"Mama kamu lagi kurang enak badan." Regan terus mencium pucuk kepala anak itu.
masih banyak cewek cantik kok. 🤣
normal ya Reg, punya pacar makanya🤣
ngalahin anaknya Al, ih kamu Reg.. 😩🤦🏻♀️🤦🏻♀️
apa Alvaro siap di binor sama Regan