"Jangan berharap terlalu tinggi, Aruna. Mahasiswi seperti kamu hanya akan menjadi sampah di industri ini."
Kata-kata tajam dari Baskara Dirgantara, dosen jenius yang berhati es, masih terngiang jelas di telinga Aruna. Di London, Baskara adalah hakim yang menghancurkan kepercayaan dirinya. Namun, sebuah tragedi besar memaksa Aruna kembali ke tanah air dengan rahasia yang ia simpan rapat-rapat, jantungnya sedang perlahan berhenti berdetak.
4 Tahun Kemudian, Aruna bukan lagi mahasiswi yang bisa diremehkan. Ia adalah pewaris tunggal yang siap mengambil alih kekuasaan. Namun, tepat saat ia mencoba berdiri tegak, sosok Baskara kembali muncul. Bukan lagi sebagai pengajar, melainkan sebagai pria yang mendadak muncul di setiap sudut hidupnya mengawasi setiap geraknya, memonitor setiap helaan napasnya, dan menunjukkan dominasi yang tidak masuk akal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 Gema dari Masa Lalu
Aroma antiseptik rumah sakit yang tajam perlahan mulai tergantikan oleh keheningan sore yang tenang. Aruna masih setia di posisinya, bersandar pada bantal ranjang dengan tumpukan berkas perkara agraria koridor barat yang kini telah bersih dari draf campur tangan Vano maupun ayahnya. Kemenangan hukum ini mutlak miliknya, namun batin Aruna tidak sepenuhnya merasa bebas. Sorot matanya beralih pada jendela besar, menatap langit Jakarta yang perlahan berubah jingga keunguan.
Pikiran Aruna kembali melayang pada peristiwa tadi pagi. Bayangan seorang Baskara Dirgantara pria yang biasanya mendikte ratusan kepala di ruang rapat dengan tatapan elangnya berdiri kikuk dengan keranjang buah berpita merah muda, benar-benar mengusik dinding pertahanannya. Aruna mengembuskan napas pelan, menyentuh dadanya yang berdegup dengan ritme yang lebih teratur. Ada rasa hangat yang asing, sebuah getaran halus yang berusaha mendobrak benteng trauma yang ia bangun sejak kepulangannya dari London.
Sebenarnya, skripsinya di London tidak memiliki masalah kecurangan apa pun. Hasil penelitiannya bersih dan valid. Namun, ego dan standar setinggi langit milik Baskara Dirgantara yang saat itu menjadi dosen pengujinya membuat pria itu dengan tega memberikan nilai B. Baskara menguliti setiap argumennya dengan dingin dan kaku, sementara dosen penguji asli London lainnya justru memberikan nilai A mutlak. Perbedaan nilai itulah yang menghancurkan draf kelulusan sempurnanya, memicu rentetan tekanan psikologis berat, hingga puncaknya terjadi di luar aula wisuda ketika Michelle menyerangnya secara verbal dengan kata-kata yang teramat kejam.
Benturan emosional yang bertubi-tubi malam itu membuat paru-paru Aruna yang rapuh menyerah. Ia kolaps, mengalami gagal napas akut, dan jatuh ke dalam koma panjang. Aruna tahu, Baskara baru mengetahui draf kondisi medisnya yang tragis itu setelah menemukan tubuhnya yang sudah tak berdaya dan mendingin malam itu. Namun, fakta bahwa penilaian kejam Baskara menjadi salah satu pemicu awal runtuhnya pertahanan mentalnya tetap menjadi luka yang teramat perih.
Saat Aruna sedang tenggelam dalam duka masa lalunya, pintu kamar VVIP terbuka perlahan. Sosok Baskara melangkah masuk dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, membawa aura dominan yang kini terasa aneh di matanya. Pria itu membawa sebuah draf laporan pemulihan saham Prawijaya Group yang baru saja ia selesaikan bersama Rian.
Namun, langkah kaki tegap Baskara mendadak terhenti di tengah ruangan. Sepasang netra elangnya menangkap siluet tubuh Aruna yang bergetar samar. Di atas ranjang, gadis itu sedang meremas ujung seprai dengan sangat kencang. Parasnya teramat pias, dan sepasang mata beningnya tampak berkaca-kaca menahan luapan emosi yang teramat pekat. Aruna terlihat begitu tertekan, begitu rapuh di bawah gema masa lalu yang kembali menghantuinya.
Ulu hati Baskara seketika mencengkeram nyeri yang luar biasa melihat kondisi Aruna. Pria yang dulu begitu dingin, tegap, dan tanpa kompromi mempertahankan nilai B di lembar akademis Aruna, kini mendadak merasa lumpuh. Kebisingan di dalam kepalanya kembali bergejolak hebat, membuat Baskara terjebak dalam pergulatan batin yang menyiksa.
Baskara melangkah mendekat, lalu duduk di kursi sisi ranjang. "Aruna," suara baritonnya yang biasa terdengar penuh otoritas kini mengalun rendah, sarat akan kecemasan yang mendalam. "Ada apa? Apakah dadamu kembali terasa sesak?"
Aruna tidak menoleh. Ia menghapus air mata di sudut matanya dengan gerakan cepat, mencoba mengembalikan wajah biasanya yang kaku dan berjarak. "Saya tidak apa-apa, Pak Baskara. Hanya sedikit kelelahan membaca berkas."
Baskara menatap jemari Aruna yang masih gemetar. Rasa bingung dan bersalah yang teramat pekat kembali mengikis keangkuhan maskulinnya. Di dalam benaknya, Baskara terus mengutuk kekakuannya empat tahun lalu. Mengapa dulu ia harus bersikap sekejam itu? Mengapa standar idealismenya harus mengorbankan perasaan seorang mahasiswi yang sebenarnya sudah berjuang mati-matian? Baskara mulai bingung dengan pusaran perasaannya sendiri yang kian tak terkendali. Ia tahu ia sangat ingin merengkuh tubuh ringkih itu, menghapus setiap tetes air mata yang jatuh, dan menjadi pelindung mutlak bagi Aruna.
Namun, Baskara menahan diri. Ia tidak ingin bertindak terburu-buru. Ia sadar betul, jika ia melangkah terlalu agresif atau mendadak menunjukkan afeksi yang berlebihan, Aruna yang memiliki harga diri setinggi langit pasti akan langsung mendeteksi hal itu sebagai bentuk rasa kasihan dan Aruna paling benci dikasihani, terutama oleh pria yang pernah menorehkan luka di draf masa mudanya.
Baskara menarik napas panjang, mengunci rapat gejolak hatinya yang bergemuruh di balik wajah esnya yang kembali tenang. Ia mengulurkan tangannya, meletakkan draf laporan bursa efek di atas nakas, tepat di samping keranjang buah berpita merah muda tadi pagi.
"Deon dan Vano sudah tidak memiliki celah hukum lagi untuk mengusikmu, Aruna. Saham Prawijaya Group sudah stabil setelah draf revisi Pasal 14 kita rilis," ujar Baskara dengan kalimat korporat yang dingin, sengaja menjaga jarak aman agar Aruna tidak merasa terdesak oleh kehadirannya.
Aruna menoleh perlahan, menatap wajah kaku Baskara yang kini kembali terlihat berjarak. "Terima kasih atas informasinya, Pak Baskara. Kerja sama kita dalam memulihkan koridor barat memang sangat efisien."
Suara Aruna terdengar begitu datar, konstan tanpa riak emosi sedikit pun. Ia memperlakukan kehadiran dan penjelasan Baskara layaknya draf agenda bisnis biasa. Aruna sengaja menahan batas di antara mereka dengan sangat ketat. Meskipun di dalam hatinya ada rasa nyaman yang perlahan merayap sejak Baskara menyelamatkannya di lapangan, memori malam wisuda di London tetap menjadi garis demarkasi tak kasat mata yang tidak boleh dilewati.
Aruna menolak untuk terlihat lemah di depan Baskara. Baginya, mempertahankan sikap biasa saja dan berjarak adalah satu-satunya cara untuk menjaga sisa-sisa harga dirinya yang pernah hancur.
Baskara bangkit berdiri, menyadari bahwa permainan sabar ini membutuhkan waktu yang panjang. Ia merapikan kancing kemeja hitamnya dengan gerakan yang kembali teratur, menatap Aruna untuk terakhir kalinya sore itu dengan sorot mata yang sarat akan intensitas emosional yang tertahan.
"Istirahatlah. Aku akan meminta Rian memastikan ruangan ini tetap steril dari gangguan luar," ucap Baskara rendah sebelum melangkah lebar meninggalkan kamar perawatan.
Di dalam kesunyian yang kembali merayap, Aruna menatap pintu yang tertutup rapat, membiarkan satu helaan napas panjang lolos dari bibirnya yang pucat. Perang taktik melawan ayahnya mungkin telah usai, namun laga emosional di antara dirinya dan Baskara baru saja memasuki babak yang kian rumit; sebuah tarian bisu di mana Baskara kian bergulat dengan kebingungan hatinya, sementara Aruna tetap berdiri kokoh mempertahankan batas sucinya dari gema masa lalu yang belum sepenuhnya usai.