Ketika efisiensi bertemu dengan kekacauan, siapa yang akan benar-benar menaklukkan siapa?
"Cinta bukan soal efisiensi, tapi tentang bagaimana ia membuatmu kehilangan kendali."
Kisah tentang Ben Arganza, asisten dingin dan merupakan bayangan Baron Frederick yang sedang menjadi target penaklukan seorang gadis ceroboh bernama Lala Narayan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 Bermain Api
"Karena apa? Karena ini Hadiah?" tuntut Lala karena memang tidak mendengar gumaman Ben.
Ben tidak menjawab karena ia memang tidak perlu menjawab. Wajahnya kembali dingin dan kaku.
"Ish! Ya udah. Saya akan simpan kemeja anda seperti harta karun, mungkin bisa saya berikan pada calon suami saya, makasih tuan Ben. Ini pasti mahal banget," ucap Lala seraya menyentuh kemeja premium milik pria itu.
Ben yang tadinya sedang fokus menatap jalanan, langsung mengerem mobil secara mendadak hingga ban berdecit pelan di bahu jalan yang sepi. Tubuh Lala terhentak ke depan, sabuk pengamannya menahan tubuhnya dengan kasar.
Suasana di dalam mobil mendadak beku. Ben memutar tubuhnya menghadap Lala, auranya berubah tajam, jauh lebih dingin daripada saat ia menghadapi pengawal Mano Fransiska.
"Calon suami?" suara Ben berat, tertahan, dan mengandung ancaman yang tidak bisa disembunyikan.
Lala mengerjapkan mata, benar-benar tidak paham kenapa pria di depannya ini tiba-tiba terlihat seperti ingin mencabik seseorang.
"Iya? Ya... mungkin suatu saat nanti? Kan saya cuma bilang mau saya simpan sebagai harta karun. Memangnya kenapa, Tuan?"
Ben menatap kemeja yang melekat di tubuh Lala yang nampak kebesaran, lalu menatap telapak tangan gadis itu yang masih menyentuh kain katun premium di bahunya.
Dengan gerakan yang sangat cepat dan posesif, Ben meraih kerah kemeja itu di dekat bahu Lala—bukan untuk menariknya, tapi untuk memastikan ia memegang kendali atas percakapan ini.
"Dengarkan saya baik-baik, nona Priscila," bisik Ben, napasnya terasa panas di permukaan wajah Lala. "Kemeja itu milik saya. Kamu tidak berhak memberikannya kepada siapa pun. Apalagi... 'calon suami' imajiner yang bahkan tidak ada dalam daftar prioritas hidupmu."
Lala menahan napas. Jarak mereka begitu dekat hingga ia bisa melihat setiap helai bulu mata Ben yang kini tampak bergetar karena emosi yang meluap.
"Kenapa Anda mengatur baju saya juga?" tantang Lala, meski suaranya sedikit bergetar.
Ben menatap bibir Lala sejenak, lalu kembali menatap matanya dengan tatapan yang bisa membakar segalanya.
"Karena kemeja itu sudah menyerap aroma saya, dan kamu sudah memakainya. Di dunia saya, barang yang sudah menjadi milik saya—terutama yang telah menyentuh orang lain—tidak boleh berpindah tangan ke pihak ketiga tanpa izin saya."
Ia melepaskan cengkeramannya, lalu segera menatap kembali ke depan, menginjak gas dengan kasar hingga mobil melesat maju.
"Simpan kemeja itu. Tapi jangan pernah sebut kata 'calon suami' itu lagi di depan saya, kecuali kamu ingin saya memastikan bahwa kariermu di Frederick Group berakhir sebelum benar-benar dimulai."
Lala terdiam, hatinya berdegup kencang. Ia menatap profil wajah Ben yang keras dan kaku dari samping. Sang "robot" itu baru saja menunjukkan sisi posesif yang begitu pekat, sisi yang jauh dari sekadar efisiensi atau profesionalitas.
Lala menyentuh kemeja itu lagi, kali ini dengan gerakan yang lebih pelan. "Anda cemburu, Tuan?"
Ben tidak menjawab. Ia tetap menatap jalanan dengan pandangan yang lurus dan dingin, namun di balik kaca spion tengah, Lala bisa melihat setitik keraguan di mata abu-abu pria itu.
"Saya tidak cemburu," sahut Ben datar, meski telinganya memerah jelas. "Saya hanya... memastikan aset perusahaan tidak jatuh ke tangan orang yang tidak kompeten."
Bohong, batin Lala sambil tersenyum kecil. Robot ini benar-benar sedang korsleting hebat.
"Kamu pikir kamu siapa sampai saya harus cemburu heh?" ucap Ben berusaha menutupi perasaan asing yang sedang bergejolak di dalam dadanya.
Ben menyalakan lampu sein dengan gerakan yang terlalu tajam, membelokkan mobil ke area parkir yang agak sepi di tepi jalan, jauh dari keramaian lalu lintas. Ia mematikan mesin, namun alih-alih keluar, ia justru menyandarkan punggungnya ke jok, menatap lurus ke depan dengan rahang yang mengeras.
"Definisikan 'siapa'," sahut Ben dingin, suaranya sedingin es yang baru saja retak. Ia menoleh ke arah Lala, kali ini dengan tatapan yang begitu intens hingga Lala merasa seolah sedang dipindai oleh laser.
"Kamu adalah orang yang baru saja mengacaukan jadwal 48 jam saya, menumpahkan teh ke rok istri majikan saya, dan membuat sistem kerja saya yang sudah sempurna selama bertahun-tahun menjadi... tidak bisa diprediksi."
Ben sedikit condong ke arah Lala, mempersempit ruang di antara mereka.
"Jadi, tidak perlu bicara soal cemburu. Itu adalah emosi yang tidak efisien. Tapi saya memiliki standar tinggi atas apa yang saya miliki. Dan saat ini..." Ben berhenti sejenak, suaranya sedikit merendah, menjadi serak dan berbahaya, "karena kamu sedang mengenakan barang milik saya, dan karena kamu sekarang bekerja di bawah pengawasan langsung saya, maka apa pun yang berkaitan dengan dirimu adalah tanggung jawab saya."
Ben menatap kemeja yang dikenakan Lala, lalu beralih ke tatapan gadis itu yang tampak menantang.
"Kamu ingin tahu siapa saya?" Ben tersenyum tipis—bukan senyum hangat, melainkan senyum tipis yang penuh dengan kesombongan seorang pria yang terbiasa memegang kendali. "Saya adalah orang yang memegang kontrak kerjamu, dan orang yang berhak memastikan tidak ada 'calon suami' mana pun yang berani mengganggu efisiensi kerja aset perusahaan saya."
Ia meraih kunci mobil dari kontak, memainkannya di antara jari-jarinya dengan gerakan yang sangat tenang.
"Jadi, lupakan kemeja itu untuk calon suami. Kamu ingin kemeja itu tetap menjadi milikmu?" Ben menatap Lala lekat-lekat, menantang keberanian gadis itu. "Maka pastikan selama kamu bekerja untuk saya, tidak ada pria lain yang masuk dalam radar hidupmu. Itu adalah prosedur standar untuk desainer internal di tim saya."
Lala ternganga. "Prosedur standar? Sejak kapan ada aturan seperti itu dalam kontrak kerja Frederick Group?"
"Sejak hari ini," jawab Ben datar, kembali menatap jalanan di depan. "Saya yang membuat prosedurnya. Dan jika kamu tidak setuju, kamu boleh kembali ke kontrakanmu sekarang."
Ben menyalakan kembali mesin mobil.
"Pilih, Lala. Mau tetap bekerja dan menyimpan kemeja itu, atau mau mencari calon suami yang tidak akan pernah bisa memberikanmu fasilitas seperti yang saya berikan?"
Ben melirik sekilas dari sudut matanya, menunggu jawaban yang sudah ia tahu tidak akan pernah bisa Lala berikan dengan logis.
Robot itu sedang bermain api, dan ia tahu betul bahwa kali ini, dialah yang akan terbakar.
***
Like dan Like
jadi nikmati aja alurnya