"Setelah lima tahun menjadi pelayan tak bergaji bagi suami dan keluarga mertuanya, Rania pergi membawa luka dan kembali sebagai badai yang akan menghancurkan kerajaan mereka."
Selamat membaca...jangan lupa dukung authir yaa...terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Labuhan Terakhir Sang Nyonya
Malam itu, halaman belakang rumah mewah Rania di kawasan Menteng disulap menjadi tempat yang sangat indah. Lampu-lampu warm white berukuran kecil melingkar cantik di antara tanaman hias, menciptakan pendaran cahaya yang romantis. Sebuah meja makan bundar dengan taplak putih bersih berhiaskan rangkaian bunga mawar segar diletakkan di tengah-tengah taman.
Rania melangkah keluar dari pintu kaca geser dengan gaun brokat sederhana berwarna salem yang pas melekat di tubuh anggunnya. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang malam ini. Di sana, di dekat meja makan, Elang Danuarta sudah berdiri gagah dengan kemeja putih yang pas di badannya, menampilkan aura ketampanan seorang pebisnis matang yang berwibawa.
"Kamu cantik malam ini, Rania," ucap Elang dengan nada suara yang lembut, matanya menatap lekat wanita yang selama ini menjadi tujuan dari seluruh perjuangannya.
Rania tersenyum tipis, rona merah muda terbit di kedua pipinya. "Kamu bisa saja. Ini kan cuma makan malam biasa di rumah, Lang."
"Bagi kamu mungkin ini makan malam biasa, Rania. Tapi bagi aku, malam ini adalah penentu sisa hidupku," sahut Elang dengan tatapan mata yang mendadak serius dan mengunci pandangan Rania.
Elang perlahan merosot kan tubuhnya, berlutut di atas satu lutut di hadapan Rania. Dari saku kemejanya, Elang mengeluarkan sebuah kotak beludru merah kecil. Ketika kotak itu dibuka, sebuah cincin bermata berlian soliter berkilau mewah di bawah siraman lampu taman.
"Rania International mungkin sudah kembali ke genggamanmu, dan kamu sudah menjadi wanita yang mandiri. Tapi malam ini, aku berdiri di sini bukan sebagai rekan bisnismu. Aku di sini sebagai seorang pria yang ingin mengabdikan seluruh sisa hidupku untuk menjaga kamu dan Abid," ucap Elang, suaranya dalam dan penuh ketulusan tanpa ada keraguan sedikit pun. "Rania... maukah kamu menikah denganku? Menjadi nyonya di rumahku, dan mengizinkan aku menjadi pelindung abadi untukmu?"
Rania tertegun. Napasnya sempat tertahan di dada. Bayangan masa lalu yang kelam bersama Rendra sempat melintas sekelebat di benaknya—rasa sakit karena dikhianati, ditelantarkan, dan dihina. Namun, begitu melihat ketulusan yang murni di sepasang mata Elang, ketakutan itu menguap tanpa sisa. Elang berbeda. Pria ini telah membuktikannya lewat tindakan, bukan sekadar janji manis.
Sebelum Rania sempat membuka mulut untuk menjawab, terdengar suara langkah kaki kecil berlari dari arah teras.
"Bunda! Terima, Bunda! Abid mau punya Papa Elang!" teriak Abid dengan riang. Bocah kecil itu menggemaskan dengan piyama tidurnya, langsung berlari menubruk kaki Bundanya sembari mendongak menatap Rania dengan mata bulatnya yang berbinar penuh harap.
Rania menunduk, menatap anak tunggalnya. Kepolosan Abid meluluhkan sisa pertahanan di hatinya. Abid membutuhkan sosok seorang ayah sejati yang bisa merangkulnya dengan kasih sayang nyata, bukan ayah biologis manipulatif seperti Rendra yang hanya bisa memberikan trauma psikologis.
Rania kembali menatap Elang, lalu perlahan menganggukkan kepalanya dengan air mata kebahagiaan yang menetes di pipinya. "Iya, Elang... aku menerima lamaranmu."
Elang langsung berdiri dengan senyuman paling lebar yang pernah ada di wajahnya. Dia menyematkan cincin berlian itu ke jemari manis Rania, lalu sedetik kemudian menarik Rania dan Abid ke dalam satu dekapan pelukan yang erat dan hangat. Malam itu, di rumah Menteng, persiapan pernikahan megah antara sang penguasa bisnis dan Nyonya Arania resmi dimulai.
Sementara itu, di sudut jalanan pinggiran Jakarta yang gelap dan dingin, Rendra Wijaya duduk bersandarkan tiang lampu jalan setelah menyelesaikan sif malamnya menyapu trotoar. Ponsel pintar lamanya yang layarnya sudah retak parah bergetar, menampilkan notifikasi berita dari salah satu akun gosip bisnis kelas atas.
[BREAKING NEWS: Elang Danuarta Resmi Melamar Pengusaha Cantik Rania, Pernikahan Megah Siap Digelar Bulan Depan!]
Tangan Rendra yang kotor terkena debu jalanan seketika lemas. Ponsel itu tergelincir dari cengkeramannya, jatuh menghantam aspal jalanan dengan bunyi klik yang getir.
Rendra menyembunyikan wajahnya di antara kedua lututnya yang ditekuk. Tubuhnya berguncang hebat di balik seragam oranye petugas kebersihannya. Kabar itu menjadi palu godam terakhir yang menghancurkan seluruh sisa harapan di dalam hidupnya. Tidak ada lagi celah. Tidak ada lagi kesempatan baginya untuk bisa bersatu lagi dengan Rania atau memeluk Abid sebagai seorang ayah. Rania sudah melangkah jauh ke atas langit, sementara dia tertinggal membusuk di dalam selokan kemiskinan seumur hidupnya.
pst dapat cap pelakor😄🤭