Aku belum pernah bertemu atau pun berbicara dengan Komisaris di kantorku. Sampai kami bertemu di Pengadilan Agama, dengan posisi sedang mengurus perceraian masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Santai Bersama Papa Mama
Kami bangun di pagi harinya dalam kondisi payah. Rasanya tubuhku ini pegal-pegal dan ngantuk sekali. Untung saja makeupku bisa menutupi mata pandaku yang kentara ini.
Saat ini aku memang selalu dalam kondisi memakai makeup,karena tidak ingin terlihat jelek dimata Felix. Tak tahu ya kalau sudah jadi istri besok.
Saat kubuka pintu, di sudut sana sudah ada Felix yang menatapku dengan lembut. Tapi cukup terlihat kalau ia juga sedang dalam posisi kelelahan.
Dan saat itu aku pun mendengar dari mulutnya...
“Minggu ini aku ada Grand Launching untuk peluncuran saham kelas B Garnet Bank di Hotel Garnet,” Ia tampak sedang membetulkan posisi kancing di lengannya. Di antara lengannya tersampir pouch LV yang biasa ia bawa kemana-mana.
“Ya?” tanyaku.
“Aku mungkin akan menginap di hotel sampai hari H pernikahan kita,”
Mengingat tadi malam kami hampir saja lupa diri. Sepertinya aku mengizinkannya untuk tinggal terpisah dariku untuk sementara.
“Kamarku jangan diberantakin,” katanya sambil mengelus puncak kepalaku.
Masih sempat-sempatnya ia mengejekku.
Boleh tanya padaku bagaimana hari-hariku tanpa Felix?
Justru malah lebih tenang.
Saat tahu kalau di kamarnya tidak ada orang, entah bagaimana rasanya tidak ada beban yang terlalu kentara. Jantungku tidak berdebar-debar secara mendadak, dan rasanya lebih santai saja.
Aku menghabiskan waktu bersama Papa dan mama kulineran setiap hari setelah aku pulang kerja. Hubungan kami makin hari makin akrab sudah seperti orang tua dan anak kandung.
Kami saat ini sedang makan di daerah Sentul City, namanya Pasar Ah Poong. Suasananya cukup romantis kalau malam. Tapi aku penasaran dengan vibe-nya saat siang.
“Chin,” Papa memanggilku sambil menyeruput kopinya, “Tiga bulan lagi ada acara keluarga Ranggasadono di kampung. Kamu ikut ya,”
Itu perintah, bukan permintaan.
“Siap Pah, aku ajukan cuti dari sekarang,”
“Bukannya kamu harus resign?”
“Kenanga belum siap kutinggal,”
“Jadi ada kelonggaran peraturan untuk kamu ya?”
“Iya, dispensasi untuk tetap menjabat sampai penggantiku siap, Pah,”
“Memang kenapa dengan Kenanga? Bukannya dari cerita kamu dia cukup mumpuni untuk menghandle pekerjaan?”
“Dia sudah 10 tahun kerja di Bank lain, tapi di Garnet ini... hem, direktur Bisnis yang baru lumayan strict kalau urusan proposal, Pah,”
“Direktur baru? Theodore Ambrose kan ya?”
Aku mengangguk. “Kelihatannya dia tidak ingin berbuat kesalahan dalam pekerjaan karena sedang dalam masa percobaan. Katanya dulu itu Pamannya pernah berbuat salah di Garnet dan akhirnya owner memecatnya. Diharapkan keturunan lain yaitu Theodore bisa lebih baik dari pamannya itu,”
“Theo dipinang khusus oleh owner dulu, dipanggil dari cabang Inggris untuk bekerja di Garnet. Sama seperti Felix,”
“Kalau sama aku dia baik, Pah. Aku pernah ketemu dulu waktu dia mewakili Garnet di peluncurah saham Jade Construction. Ceria dan supel. Tapi kalau sama Kenanga... wuih! Kayak mau makan orang!” bukannya aku tak tahu cerita di balik ini semua. Ya kalau aku jadi Theo mungkin aku akan bersikap sama.
Aku dan Felix sepakat untuk... membiarkan itu terjadi. Biarlah kantor ribet-ribet dikit. Karena kami merasa dengan adanya Theo, Kenanga jadi termotivasi untuk meninggalkan suami fuceknya.
Masalahnya sudah ada gelagat tak beres di diri suami Kenanga.
Apakah dia punya istri kedua lagi? Menurut Detektif swasta sih begitu.
Menjadi istri kedua memang tidak salah. Hanya wanita dengan hati luar biasa kuat yang bisa menjabat posisi itu. Tapi masalahnya... dalam hal ini istri pertama tidak ridho. Walau pun memang tidak ada ketentuan laki-laki harus minta izin ke istri pertama untuk menikah lagi.
Tapi bayangkan azabnya kalau... istri pertama mengeluarkan keluhan, makian, Ain, dan setitik saja ketidak-ikhlasan.
Mungkin di dunia, dampaknya memang tidak terlihat.
Bukan salah istri kedua.
Tetap saja dalam hal ini, Prianya lah yang harus memilih, mau terjun ke jurang ngajak-ngajak istri kedua, atau terjun ke jurang sendirian, atau malah berdamai dengan istri pertama, bercerai baik-baik, nafkah sepantasnya, baru beralih ke istri yang lain. Saat itu urusannya dengan istri pertama baru beres.
Apakah Kenanga kali ini baru saja dapat karma dari istri pertama suaminya dulu?
Entahlah, hanya Tuhan yang tahu.
“Heh, bengong aja kamu,” Papa menjentikkan jarinya di depan hidungku.
“Mikirin Kenanga Pah, hehe,”
“Felix lagi nggak ada, kamu mikirin orang lain,”
“Iya, biasanya pikiranku tersita untuk Felix. Sementara pikiran Felix tersita ke Felicia. Bagaimana cara balas dendam yang sangat menyakitkan,”
“Sudahlah, urusan dengan Tommy juga belum bisa dibilang beres, loh. Felix sudah berbesar hati waktu kamu memutuskan untuk membantu Rani,”
Aku pun diam.
Iya, baru saja kusadari.
Saat aku menuduh Felix terlalu ikut campur di kehidupan Felicia, pakai ngambek segala. Akunya sendiri sebenarnya sudah ikut campur lebih dalam ke kehidupan Tommy!
“Jangan melongo gitu dong, Papah benar kan?!” tembak Papa.
“Ya ampun...” aku menunduk karena langsung merasa bersalah. Kepalaku langsung pusing.
“Yaaah, dia badmood deh,” masih kudengar Papa berbisik begitu.
Lalu mama akhirnya datang membawakanku Kembang Tahu.
“Chin? Kamu kenapa sayang? Pusing? Kerjaan atau kenapa?!” tanya Mama sambil mengelus-elus punggungku.
“Nggak papa,” kuraih lengan Mama, dan kupukul-pukulkan dahiku ke bahunya untuk meredakan pusingku. “Chintya lagi bego,” gumamku.
“Hah?” dengus mama tak mengerti.
Tapi Papa masih cengengesan sambil kembali menyeruput kopinya. “Kalo cowok sih woles ajaaa, gitu-gituan sih nggak diambil hati. Paling Felixnya sekarang lagi fokus mau Buyback yang mana.”
Aku harus minta maaf ke Felix secepatnya.
Tapi terlalu kentara kalau aku bilang ‘aku minta maaf atas... bla bla bla. Bisa-bisa dia kesenengan, dagunya makin terangkat tinggi kalau aku bilang begitu.
Minta maaf pakai caraku saja deh.
Kuketikkan beberapa potong kata.
Lalu ku send ke Whatsapnya.
Tulisannya : Kangen. Pingin peluk. Sayang kamu banget.
Tebak apa balasannya?
Balasan darinya : Cek Rekening.
Kurang ajar, dia pikir aku ini apa.
Tapi akhirnya ku cek juga rekeningku. Penasaran dong ah!
Belum... belum ada isinya. Masih 100ribuan, sebentar lagi juga terpotong jadi 90ribu untuk biaya adm. Gajiku bulan ini sudah habis untuk biaya perawatan Rani di Rumah Sakit Jiwa.
Kembali kukirim watsap ke Felix.
Tulisanku : Rekeningku masih kosong.
Dan tak lama, muncul balasan darinya : Iya, itu isi hatiku sekarang. Kosong dan hampa tanpa kamu di sisiku.
Widiiiihhhh!
Screen shot aja buat kenang-kenangan.
Tau aja nih sambel cobek kalau rekeningku jarang ada isinya. Tanggal 25, nolnya banyak, tanggal 25 sekitar sejam kemudian, balik lagi ke 100ribuan.
“Senyum-senyum sendiri...” gumam mama sambil menoel pipiku.
“Paling lagi pacaran. Besok kan nikah,” gumam Papa.
“Tapi si Felix pulang kan besok?!”
“Kalau nggak pulang, Papa geret ke KUA. Enak aja orang udah ngarep punya mantu, dianya mikirin Capital Loss...” omel Papa.
Aku diam saja ah.
Lagi pacaran virtual nih.
salah satu dari mininovel madam yg paling aku suka.. 😍
sesuka itu aq pada karyamu thor