Malam itu hidup Alena hancur setelah tanpa sengaja menumpahkan minuman ke tubuh Kael Ardion, mafia paling kejam di kota. Satu malam kelam merenggut segalanya, lalu pria itu membuangnya tanpa belas kasih saat Alena datang membawa kabar kehamilan.
Delapan tahun berlalu.
Alena hidup susah membesarkan putranya seorang diri hingga takdir mempertemukannya kembali dengan Kael. Namun pria yang dulu menghancurkannya itu kini justru terobsesi mendekati putra kecil Alena, tanpa tahu bahwa anak tersebut adalah darah dagingnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Kael
Rina masih memegangi ponselnya dengan tangan gemetar. Wajah wanita itu perlahan memucat setelah mendengar suara Edgar dari seberang sana. Delapan tahun lalu… ia pernah melihat sendiri bagaimana anak buah Kael datang ke kost kecil mereka hanya untuk mencari Alena.
Dan saat itu… Rina berbohong. Ia mengatakan Alena sudah pergi jauh dan tidak pernah kembali. Padahal wanita itu sengaja membantu Alena kabur demi menyelamatkan sahabatnya.
Namun sekarang semuanya terasa seperti mimpi buruk yang kembali datang.
“Besok pagi Tuan Kael ingin datang secara pribadi,” ujar Edgar tenang.
Rina langsung menahan napas, mulutnya seolah sulit untuk sekedar mengeluarkan kata-kata.
“Untuk apa?” tanyanya pelan.
“Hanya ingin berbicara dengan anak itu.”
"Anak itu, maksudnya Kau."
Tatapan Rina langsung jatuh pada pintu kamar Kai yang tertutup rapat, tanpa sadar ia langsung menggelengkan kepalanya sendiri.
“Saya harap kalian tidak mencoba menghilang lagi,” lanjut Edgar sopan. “Karena kali ini Tuan Kael sudah menemukan orang yang ia cari.”
Tut.
Panggilan terputus. Seketika suasana rumah kayu itu langsung berubah sunyi. Alena terlihat benar-benar pucat sekarang. Sedangkan Rina perlahan menurunkan ponselnya dengan jantung berdegup kacau.
“Aku bilang juga apa…” gumamnya pelan. “Dia gak akan berhenti.”
Senna langsung berdiri emosi. “Memangnya dia siapa seenaknya datang begitu?!”
“Senna!” Anne buru-buru menahan sahabatnya.
Namun Alena justru terlihat semakin diam. Tatapan wanita itu kosong mengarah ke lantai kayu rumah mereka. Karena jauh di dalam hatinya. Ia tahu Kael memang seperti itu.
Pria itu selalu mendapatkan apa yang diinginkannya.
☘️☘️☘️☘️
Keesokan paginya.
Angin pantai bertiup cukup kencang sejak pagi. Langit biru terlihat cerah, membuat beberapa layang-layang kecil milik anak-anak tampak menari di udara. Sementara itu Kai terlihat paling bersemangat.
Bocah kecil itu berlari kecil di dekat rumah kayu sambil memainkan layang-layang barunya—hadiah kemenangan festival kemarin.
“Tinggi lagi! Tinggi lagi!” serunya antusias.
Tawa Kai terdengar begitu lepas. Hingga tiba-tiba— Sebuah mobil hitam mewah berhenti tidak jauh dari rumah mereka. Kai langsung menoleh penasaran.
Pintu mobil terbuka perlahan. Dan pria tinggi itu kembali turun dengan aura dingin yang langsung membuat beberapa warga sekitar diam memperhatikan.
Kael Ardion.
Kai memiringkan kepalanya kecil. “Om yang kemarin,” gumam bocah itu polos.
Kael melangkah mendekat perlahan. Tatapannya tidak lepas dari Kai sedikit pun. Entah kenapa semakin melihat anak itu, semakin terasa aneh di dalam dadanya.
“Kamu suka layang-layang?” tanya Kael pelan.
Kai langsung mengangguk semangat.
“Iya! Kai menang kemarin!”
“Hebat.”
Bocah itu langsung tersenyum bangga. “Kai bisa bikin sendiri juga.”
Untuk pertama kalinya sudut bibir Kael benar-benar terangkat tipis, bahkan tanpa tes apapun ia sudah bisa menyimpulkan jika anak ini benar-benar duplikatnya saat kecil.
“Boleh Om lihat?”
Kai langsung menunjukkan gulungan benang layang-layangnya dengan antusias. Sedangkan Kael memperhatikan anak itu diam-diam.
Tatapan mata, cara anak itu tersenyum bahkan ekspresi saat bersemangat semua tidak bisa dihindari lagi.
“Kamu tinggal sama Mama?”
Kai mengangguk lagi.
“Papa?” Pertanyaan itu membuat Kai diam sebentar. Namun bocah itu tetap menjawab polos.
“Kai gak punya Papa, tapi Kai punya empat Ibu yang hebat," sahut anak itu.
"Empat Ibu?" ulang Kael.
Kai segera mengangguk cepat. "Iya,empat Ibu yang selalu menjaga dan memastikan Kai bahagia," sahutnya pelan . "Ya meskipun kadang banyak yang mencibir karena gak punya ayah.
Deg!
Tatapan Kael perlahan berubah, ternyata selama ini banyak penderitan yang mungkin dialami oleh anak kecil itu bahkan dirinya tidak tahu bagaimana cara anak itu melawan dunia luar yang begitu kejam bagi anak seperti Kai.
Belum sempat pria itu berbicara lagi tiba-tiba...
“KAI!” Suara Alena terdengar dari arah rumah.
Wanita itu berjalan cepat dengan napas tidak beraturan. Wajahnya langsung berubah pucat saat melihat Kael benar-benar berada di dekat anaknya.
“Kai masuk dulu ke dalam.”
“Tapi Ma—”
“Sekarang.”
Nada suara Alena membuat Kai langsung diam.
Bocah itu akhirnya menurut sambil membawa layang-layangnya masuk ke rumah kayu meski masih sempat menoleh penasaran pada Kael.
Barulah setelah Kai masuk— Alena berdiri tepat di hadapan Kael dengan tatapan dingin penuh waspada.
“Saya pernah bilang jangan dekati anak saya.”
Namun Kael justru terlihat tenang. Tatapan pria itu lurus menatap Alena seolah tidak ingin kehilangan wanita itu lagi.
“Kita perlu bicara.”
“Tidak ada yang perlu dibicarakan.”
Alena langsung berbalik ingin pergi. Namun langkah wanita itu langsung terhenti saat suara Kael kembali terdengar.
“Jangan pernah menghalangiku lagi, Alena.”
Kalimat itu sukses membuat suasana sekitar terasa menegang. Alena perlahan membalikkan tubuhnya lagi. Tatapan wanita itu mulai dipenuhi luka lama yang selama ini berusaha ia kubur.
“Jangan menghalangi?” ulangnya lirih.
Lalu tanpa sadar Alena tertawa kecil penuh ironi. “Bukannya dulu Anda sendiri yang menyuruh saya menggugurkan kandungan itu?”
Dunia Kael seakan runtuh mendengar kalimat itu dan ekspresi wajahnya terlihat benar-benar berubah.
Sedangkan Alena terus menatap pria itu tanpa takut sedikit pun.
“Apa Anda lupa?” suara wanita itu mulai bergetar. “Waktu saya menangis sambil bilang kalau saya hamil… Anda malah bilang banyak wanita yang menjebak anda seperti itu, bahkan aku ini sedang mengandung benih anda dan anda dengan mudahnya berbicara aku menjebak."
Kael mengepalkan tangannya kuat. Tatapan pria itu perlahan turun ke arah pintu rumah kayu tempat Kai tadi masuk. Dan entah kenapa… dadanya mulai terasa sesak.
“Jadi sekarang…” lanjut Alena dengan mata memerah. “Apa Anda tidak malu datang mendekati anak saya?”
Suasana mendadak hening. Debur ombak terdengar samar memecah ketegangan di antara mereka. Namun Kael tetap Kael.
Pria itu tidak marah juga tidak membela diri.
Tatapannya justru semakin dalam menatap Alena.
“Itu kesalahan terbesar dalam hidupku.” Suara Kael terdengar rendah dan serius.
“Dan mulai sekarang… tolong ijinkan aku menebus semuanya.”
Alena langsung menggeleng cepat. “Tidak usah.”
Wanita itu mundur satu langkah dengan tatapan penuh perlindungan. “Anakku sudah terlalu bahagia bahkan tanpa kehadiran Anda sekalipun.”
Dada Kael Ardion mendadak sesak baru kali ini ia benar-benar merasakan sesuatu yang dulu tidak pernah ia pedulikan, namun sekarang penyesalan itu semakin nyata. bahkan ia kehilangan tumbuh kembang anaknya sendiri.
Bersambung….