Kesempurnaan seorang wanita adalah ketika bisa hamil dan melahirkan. Tapi, bagaimana jika bagian terpentingnya harus di relakan karena sebuah takdir. Apa yang harus kita lakukan? Sementara hidup terus berjalan.
Berdamai dengan sebuah takdir dan menjalani kehidupan seperti biasa adalah hal yang harus di lakukan. Itulah yang di lakukan seorang gadis belia yang harus menyerah pada takdir yang di miliknya.
"Kenapa Tuhan takdirkan aku seperti ini? Apa salah aku?".....
......
Cerita ini hanya hayalan penulis ya... Jadi, maaf jika ada kesamaan karakter atau apapun...
Semoga suka dengan cerita baru nya ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Meitania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perkuliahan
Masa orientasi mahasiswa baru telah berhasil Dita lewati. Walau ada beberapa kegiatan yang tidak bisa di ikuti akan tetapi Dita tetap menikmati masa-masa pengenalan. Hari ini hari pertamanya mengikuti perkuliahan. Angel selalu bersamanya dan kini menambah satu teman yakni Laela nama yang kental khas kedaerahan. Bahkan logam berbicara Laela pun sangat kental daerahnya.
"Dita Angel kita nongkrong di kantin dulu yuk sebelum pulang." Ajak Laela.
"Boleh, kebetulan laper nih." Angel.
"Lu makan terus kapan gemuk Gel." Dita.
"Lah, lu juga." Angel.
"Eh, La. Ikut kelas yoga yuk.." Ajak Angel.
"Aduh, mani gaya gitu pake kelas yoga segala." Laela.
"Ye... Biar ngga stres menghadapi perkuliahan ini." Angel.
"Baru juga sehari Gel." Dita.
"Ya ngga sekarang juga Dit. Kita adaptasi perkuliahan dulu baru ambil jadwal olah raga nya. Yang ringan aja biar li juga bisa ikut." Angel.
"Thanks Gel." Dita.
"Kamu teh sakit apa Dit?" Laela.
"Aku abis OP La. Udah beberapa bulan sih hampir setahun sekarang. Tapi kadang suka masih ngilu perutnya." Dita.
"Eh, OP apa?" Laela.
"Sesar La." Celetuk Angel.
"Hus... Bukan enak aja." Protes Dita.
"Heh dasar kamu mah becanda melulu.." Laela.
"Lagian lu mah serius banget. OP lambung." Angel.
"Beneran Dit? Kok bisa?" Laela.
Dita hanya mengangguk membiarkan kedua teman dekatnya berfikir jika dirinya bermasalah dengan lambung. Bukan maksud membohongi mereka hanya saja Dita tak kuasa mengatakan yang sebenarnya. Karena sampai detik ini Dita masih berusaha beradaptasi dengan dirinya sendiri.
Percakapan mereka bertiga semakin random. Hingga pesanan makanan mereka tandas tak bersisa. Setelah perut terisi mereka pun memutuskan untuk pulang. Angel pulang ke rumah Koko nya yang tinggal di kota Y. Sedangkan Dita dan Laela ke kost mereka masing-masing.
Dita memilih tempat kost campur yang di dalamnya bukan hanya mahasiswi atau mahasiswa ada juga yang sudah bekerja bahkan ada pasangan suami istri. Lingkungan di sana pun nyaman walau kadang suara tangis anak-anak mengisi keheningan malam.
Dita tak merasa terganggu sedikit pun. Dan sepertinya yang lain pun sama. Atau mungkin itu konsekuensi yang harus mereka terima karena tinggal bersama mereka orang-orang yang telah memiliki keluarga.
"Dita, kamu rajin banget sih masak. Biasanya nih mahasiswi tuh lebih milih buat beli aja yang praktis." Tegur Mba Noni salah satu penghuni kost yang sudah berkeluarga.
"Kebetulan di sini ada dapur umum Mba. Jadi aku ikut masak aja deh walau antri sama kalian." Dita.
"Kamu emang suka masak ya? Masakan kamu enak-enak." Mba Noni.
"Ngga juga sih Mba. Ya, terpaksa aja sih masak. Soalnya kalo ngga masak ngga bisa makan." Canda Dita.
"Ih, dasar kamu ini." Mba Noni.
"Nanti Kapan-kapan Mba yang belanja kamu yang masakin ya." Mba Noni.
"Wah, siap dengan senang hati. Lumayan dapet lauk gratis aku." Dita.
"Ih kamu bisa aja." Mba Noni.
"Ya udah Dita duluan ya Mba. Masakan Dita udah jadi. Nasinya juga udah matang." Dita.
"Iya. Selamat makan Dita." Mba Noni.
"Selamat makan juga Mba Noni." Dita.
Dita pun pergi membawa nasi dan masakannya ke dalam kamar. Dita memiliki rak kecil di kamarnya untuk menyimpan peralatan masak dan masakannya. Di dalam kamarnya terdapat kulkas kecil untuk menyimpan stok makanan dan minuman.
Karena rasa kekeluargaan yang sangat kental membuat seisi rumah kost yang Dita tempati selalu hangat dan saling tolong menolong. Bukan hanya dengan Mba Noni Dita dekat dengan yang lainnya juga sama hanya saja yang sering berada di kost memang Mba Noni karena Mba Noni merupakan ibu rumah tangga yang tidak bekerja.
Dita menikmati masakannya sendiri sambil membaca materi perkuliahan tadi pagi. Begitulah Dita yang hari-harinya selalu berkutat dengan buku. Dita tak pernah menyia-nyiakan kesempatan untuk membaca. Walau terkadang dirinya pun membaca novel.
Tidak satu pun yang tau siapa Dita di kost tersebut. Semua hanya tau jika Dita anak Rantau yang berkuliah di kota Y dengan segala kesederhanaan yang di milikinya. Kemana pun Dita selalu menggunakan angkutan umum atau berjalan kaki. Dita menolak menerima fasilitas kendaraan dari orang tuanya.