Kayla dan Arka terjebak dalam hubungan friends with benefits yang nggak pernah punya arah. Buat Arka, Kayla cuma tempat pulang saat lagi kesepian. Tapi buat Kayla, Arka adalah orang yang diam ia cintai selama bertahun tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahendra Andhika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14.
Langit Jakarta Kamis pagi ini terasa cerah, udara polusi khas kota Metropolitan tersebut terlihat. Di ruang Apartmen lantai paling atas terlihat dua sejoli yang bercumbu mesra, menikmati pagi dengan kegiatan mesum mereka. Arka membawa Clarissa untuk membolos ke Apartmennya, melupakan Kayla secepat itu.
Memang itulah sifat Arka sejak kenal Kayla, saat tidak bersama orang baru ia begitu perhatian ke Kayla, namun saat bersama orang baru Kayla dengan mudah tersingkirkan.
"Ahhh gue keluarrr.." Arka mengeluarkan putihnya diatas perut Clarissa, melakukan kegiatan tidak senonoh dipagi hari, apalagi mereka anak SMA, Arka masih mengenakan baju seragam dengan kancing yang terbuka.
Celananya sudah ia lempar tak tau arah kemana, sementara Clarissa, cewek itu tak mengenakan apapun, lebih tepatnya seragamnya dirobek oleh Arka.
Posisi Arka sekarang sangat hot, napas terengah engah kancing baju terbuka, kepalanya mendongak keatas menikmati pelepasannya.
Kamar di apartmen itu sangat berantakan, beberapa kondom sisa sisa bau amis, tercecer kemana mana.
"Uuhhh, h-hahhh." Clarissa terengah engah, Arka begitu brutal, menyebabkan badannya kini banyak sekali tanda merah, Clarissa memeluk Arka, mereka bercumbu, saling mencium sekarang.
"Hhmmphh." Arka menarik tengkuk Clarissa lebih dalam, ia memainkan lidahnya disana.
Tangan Arka bermain di dada Clarissa, meremasnya kuat.
"Akkhh." Bau anyir keluar dan terasa, Arka mengigit bibir Clarissa saking nafsunya membuat bibir cewek itu berdarah. Membuat Arka kesal lalu menghentikan ciumannya.
"Kenapa digigit??!." Clarissa mengaduh kesakitan, ia duduk membenarkan posisinya, Arka duduk dipinggir ranjang, mengambil rokoknya di nakas lalu menghidupkannya, ia merokok di dalam kamar apartmen.
Kalau ada Kayla disini pasti ia sudah kena marah, Kayla paling tidak suka bahwa Arka merokok didalam ruangan, itu sebabnya Arka memilih ke balkon tiap kali ia merokok jika ada Kayla disini.
"Hm." Arka tidak menjawab, ia menghembuskan asap nikotinnya.
Ting.
Suara notif dari ponsel Arka dibalik bantal terdengar, Arka mengambilnya, melihat bahwa teman temannya yang ngechat.
...GGS, ganteng ganteng sial...
Mavin: @You, lo kmn? Kita dh di markas
Keano: cpt sini, bnyk cwek bohay ka, pulen pulen bdannya
Mavin: ngilang mlu anj
^^^Arka: skip^^^
Keano: lh napa? dpt yg bru y?
Mavin: pntesan ngilang, dh brp hri lu g sm kita cih
^^^Arka: bcd^^^
Keano: dpt dmn bre? cicip dkit la
Mavin: pnya lo kcil, mn bisa puasin cwek
Keano: kurang ajar, lo mau liat? besaran pnya gw dr pd lo
Mavin: lol, @You kyla lo apain?
^^^Arka: pnya gw^^^
Mavin: lah, lo sm cwek baru mnding kayla buat gue
Keano: dh siap d gorok lu? @mavin
^^^Arka: lo yg gw ambil^^^
Itulah percakapan diantara mereka, Setelah Arka mengirim pesan ia melihat ke arah Clarissa, karena cewek itu memanggilnya.
"Arkaaa."
"Kamu denger aku ga sih?!, sibuk banget, bales pesan siapa?!." Clarissa menaikkan volume suaranya pasalnya dia dari tadi ngomong malah Arka sibuk bales chat.
"Gaada, sorry babe." Arka beranjak pindah, menidurkan kepalanya di paha Clarissa. Melihat bahwa pemandangan diatas sungguh menggoda, dada Clarissa yang tidak tertutupi apapun itu tergantung.
Arka langsung menyeringai lalu, tanpa aba aba langsung mengecupnya, menggigit dan menghisap bak anak kecil yang haus akan susu.
"AHHH." Clarissa menarik rambut Arka, sementara Arka semakin gencar menghisap seolah ada cairan susu yang akan keluar
Mereka berdua dipenuhi nafsu, tidak peduli dengan sekolah, memilih membolos untuk melampiaskan nafsu semata.
... ---...
Suasana di SMA NEGERI 2 Jakarta sekarang tengah ramai, tepatnya di kelas XII.1, kelas tempat Kayla menempuh pendidikannya, sebab jamkos itulah mengapa dikelas itu sudah seperti pasar, meja berantakan, suara kencang.
Walau suara kencang dan suasana tidak kondusif itu, tidak mengganggu aktifitas kedua remaja yang asik mengobrol.
Dimas, lelaki itu setelah ditempatkan dikelas XII.7, malah bukan ke kelasnya ia mencari duluan, namun kelas Kayla.
"Berisik banget disini, ke perpus yuk?." Dimas bersuara, posisi mereka berhadap hadapan membuat Dimas bisa menatap puas pesona Kayla.
"Kebetulan gue belum tau area sekolah, bisa lah kali lo temenin gue hari ini jalan keliling sekolah." Ntah kalimatnya ada maksud tertentu atau tidak, Dimas memang baru masuk sih wajar saja minta ditemenin, atau dia sengaja mau berduaan sama Kayla? Modus banget.
"Oh, boleh kok, sekarang?." Kayla mengangguk setuju, ia bertanya kembali apakah mau ditemanin sekarang atau ngga.
"Sure, ayok." Dimas memegang tangan Kayla dengan lembut, lalu mengandengnya berjalan keluar kelas.
"Yes, misi pertama berjalan, hahahay." Dimas tertawa dalam hati ia semakin menguatkan genggamannya ke tangan Kayla, berjalan pelan menikmati suasana koridor.
Sementara Kayla juga menikmati, Dimas yang berperilaku lembut seperti ini, membuatnya melting, apakah Arka akan tergantikan?.
... ---...
Kayla jalan di samping Dimas, tangannya masih digenggam. Sesekali dia kayak mau narik, tapi nggak jadi lebih ke belum kebiasa aja.
“Ini koridor utama. Kalau kamu nyasar, patokannya di sini aja” kata Kayla sambil nunjuk ke tangga gede di ujung.
“Aku sih fokus ke yang jelasin aja.” ucapnya santai, Dimas ngangguk-ngangguk, tapi matanya malah ke Kayla.
“Apaan sih.” Kayla langsung nengok.
“Serius. Sekolahnya biasa aja… tapi yang nemenin nggak biasa.” Ntah Dimas yang melebih lebihkan kata atau sengaja menggoda Kayla, kalau diliha jelas ini sekolah udah besar mana ada biasa.
“Ih apaan, gombal.” Kayla langsung senyum dikit, terus mukul lengan Dimas pelan. “
“Bukan gombal, tapi jujur. " Dimas nyengir.
Mereka lanjut jalan. Kayla jelasin ini itu ruang guru, kantin walau udah mereka temui pagi tadi, tapi tetep aja Kayla tunjukin, lapangan. Tapi Dimas lebih sering nyelipin candaan daripada beneran dengerin.
“Kalau lo jadi tour guide, gue kayaknya sengaja nyasar tiap hari deh.” Dimas mulai mengeluarkan kalimat nyelenehnya, sengaja banget
"Biar bisa jalan sama aku terus?” Kayla nengok lagi, kali ini matanya agak nyipit, Kayla kayaknya mulai mau ngebahas gombalan Dimas, bakal seru juga pikirnya.
"Iya.” Dimas diem sebentar, terus senyum tipis, langkah Kayla sempet melambat dikit, tapi dia nggak jawab. Cuma lanjut jalan aja, pura-pura santai.
Sampai akhirnya mereka nyampe taman sekolah. Lumayan sepi, cuma ada beberapa anak duduk santai.
“Ini taman. Biasanya kalau lagi pengen tenang atau kabur dari kelas, orang-orang ke sini,” jelas Kayla, Dimas ngeliat sekitar, terus matanya berhenti ke bunga kecil yang jatuh di dekat bangku. Dia ambil, diputer-puter bentar.
“Diam ya bentar.”
“Hah?” Kayla cuma bisa bingung, dia disuruh diem buat apa, belum sempet Kayla protes, Dimas udah nyelipin bunga itu ke telinga Kayla, sambil benerin sedikit rambutnya.
“Cocok.” Dimas memasangkan bunga itu ke daun telinga Kayla membua pesona Kayla semakin manis, detak jantung Dimas memacu cepat
"Apaan sih kamu…” Kayla langsung kaget, pipinya mulai anget, mulai merah lagi pipi Kayla, ia menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan rona pipinya
“Ya emang cocok." Jawab Dimas santai, tapi tatapannya beda.
Suasana jadi hening sebentar. Nggak canggung cuma kayak ada yang berubah dikit, apakah akan mulai tumbub benih benih cinta?.
“Udah, yuk ke perpus" kata Kayla akhirnya, ngelirik ke depan.
Hanya diangguki oleh Dimas, mereka lanjut jalan lagi, pelan. Dan entah kenapa, tangan itu masih saling genggam, nggak dilepas.
...---...
TO BE CONTINUE