Di sekolah, semua orang mengenal Aurora Kayanza sebagai gadis yang selalu mengejar uang. Baginya, uang bisa menyelesaikan banyak hal, bahkan menjadi alasan untuk menerima tantangan paling nekat sekalipun. Demi imbalan yang menggiurkan dari teman-temannya, Aurora setuju melakukan satu hal yang dianggap mustahil—mendekati cowok paling dingin dan sulit disentuh di sekolah mereka.
Namun semuanya berubah ketika Aurora tiba-tiba menemui Gama di rooftop sekolah dan tanpa ragu mengajaknya berpacaran.
Ajakan yang awalnya hanya dianggap permainan dan tantangan perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit. Di balik sikap dingin Gama, tersimpan luka dan rahasia yang tidak diketahui siapa pun. Sedangkan Aurora mulai terjebak di antara uang, rasa bersalah, dan perasaan yang tumbuh tanpa ia sadari.
Hubungan yang dimulai karena kepentingan itu perlahan mengubah hidup mereka berdua, membawa Aurora dan Gama pada kisah penuh rahasia, konflik sekolah, perasaan yang tak pernah mereka rencanakan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xylona, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAGIAN 1.
Aurora Kayanza gadis yang sangat menyukai uang dia akan melakukan apapun untuk mendapatkan uang termasuk tantangan dari temannya, di sebut nekat memang nekat tapi demi uang ia akan melakukan apapun demi mendapatkannya.
Aurora bisa menjadi gadis yang cerewet banyak bicara kalau sudah dekat, tapi minusnya Aurora selalu overthinking, selalu merendah diri menganggap dirinya tidak cantik di banding dengan kedua temannya, selalu merasa bahwa Aurora tidak se beharga itu untuk di cintai oleh sosok seorang pria.
Sampai kedua temannya jengkel dengan pola pikir Aurora yang tidak masuk di akal itu, seberapa kali pun kedua temannya menyadarkan Aurora tidak sekalipun Aurora menggubrisnya.
Kadang temannya saking gemasnya ingin sekali membenturkan kepala Aurora tapi temannya ingat itu tindakan kriminal.
Kedua temannya yang di maksud Aurora adalah Zara Kania dan Khanza Nisa mereka seperti tiga serangkai yang tidak terpisahkan, selalu kemana mana bertiga dari zaman SMP sampai sekarang bahkan mereka selalu di takdirkan sekelas. Karna selalu bersama mereka menjadi tahu sifat masing-masing dan karna mereka bukan tipe yang selalu mengucapkan “gue sedih” atau “gue capek”. Tapi entah bagaimana, dari cara duduk, cara menarik napas, atau bahkan dari diamnya, mereka sudah saling mengerti.
Malam tiba mereka memutuskan untuk
menginap di rumah Aurora bisa di bilang rumah Aurora seperti basecamp mereka, karna bertepatan besok hari minggu jadi mereka bisa begadang tanpa di ganggu besok sekolah, orang tua Aurora tidak masalah mereka menginap di rumahnya karna mereka sudah akrab dengan orang tua Aurora, bahkan bukan hanya dengan anak temannya yang kenal dengan orang tuanya sesama orang tua dari mereka bertiga sudah saling mengenal bahkan mereka suka ketemuan tanpa anak mereka bayangkan seerat apa mereka.
"Woy, dengerin gue mau ngomong serius." Ujar Zara, Zara ini termasuk orang yang blak-blakan dan frontal dari mereka bertiga mantannya ada dimana mana bahkan senior mereka mengenal Zara bukan hanya tampangnya yang cantik karna dia hyper active tidak bisa diam sama sekali, selalu asbun tanpa pikir panjang, dan lagi karna dia mantannya dimana mana jadi dia bisa terkenal di sekolahnya.
"Apa sih?." Jawab Khanza judes, kebalikan dari Zara, Khanza orangnya judes, sinis, nggak pintar basa basi, sekali ngomong pedesnya ngalahin cabe rawit di hati, tapi kelebihannya Khanza termasuk peka di antara kedua temannya, Khanza yang paling perhatian kepada kedua temannya.
"Yeu... santai dong ngegas mulu lo." Desis Zara kesal dengan respon Khanza.
Khanza memutar bola matanya malas.
"Mau ngomong apa?." Tanya Aurora
Seolah lupa yang sebelumnya Zara yang kesal dengan Khanza, sekarang Zara terlihat senang menatap kearah Aurora antusias."Gini gue punya tantangan buat lo berdua, kalau kalian berdua berhasil gue kasih 7 juta."
Aurora yang mendengar uang seketika semangat."Tantangan apa?."
Zara menyeringai sok misterius."Setuju dulu nanti gue kasih tau."
Aurora yang tidak sabaran akhirnya mengangguk mengiyakan tanpa pikir panjang, tanpa tahu apa tantangannya, karna di pikirannya hanya demi mendapatkan uang jika Aurora berhasil dari tantangan Zara.
"Lo emang bego ya! maen setuju aja tanpa lo tau dulu tantangannya apa." Karna sudah terbiasa dengan omongan Khanza yang kadang tidak di saring itu Aurora menghiraukannya.
"Apa sih lo?! diem deh lo nggak di ajak." Desis Zara kesal.
"Gue juga nggak mau kalau di ajak juga."
"Yaudah lo diem aja! jangan ganggu kita berdua."
Khanza memutar bola matanya dan fokus dengan buku yang ia baca.
"Udah deh kalian berdua malah berantem." Lerai Aurora.
"Dia duluan!." Zara yang tidak mau di salahkan membela diri.
"Dih apaan." Khanza menatap Zara sinis.
Sebelum mereka ingin berdebat lagi Aurora langsung di bantingnya buku yang di pegangnya ke kasur, membuat keduanya diam tanpa berdebat lagi, mereka memalingkan wajah seolah tidak ingin menatap satu sama lain, Aurora geleng-geleng kepala melihat kelakuan mereka.
"Jadi apa?." Lanjut Aurora yang sempat tertunda karna mereka berdua.
Zara yang awalnya masih kesal seolah sirna tersenyum lebar memandang kearah Aurora. "Janji dulu lo setuju kan sama tantangan dari gue?."
Aurora menghela napas pelan lalu mengangguk pelan.
Zara tersenyum gembira tanpa sadar Zara tepuk tangan kegirangan."Okay...karna lo udah setuju jadi setelah gue kasih tau tantangannya lo nggak bisa nolak okay."
Aurora mengangguk lagi.
"Lo harus dekati Gama dan bilang lo suka Gama dan ajak Gama jadi pacar lo, gue kasih waktu satu bulan, kalau lo berhasil uang yang gue janjikan 7 juta jadi milik lo, tapi kalau lo gagal ya uang 7 juta itu hangus." Terang Zara.
Aurora membelalakkan mata apa telinganya tidak salah dengar Gama maksudnya Gama Pradika si cowo misterius, irit bicara, bahkan irit ekpresi. Tidak ada yang berani mendekati Gama meskipun tampangnya yang tampan rupawan, bahkan cewe cewe genit di sekolahnya tidak berani menggoda Gama bukan hanya karna sikapnya yang dingin, tapi katanya Gama melakukan sesuatu yang membuat semua murid takut padanya bahkan kakak sekelas mereka takut pada Gama.
Bahkan cowo nakal terkenal di sekolahnya takut pada Gama, ada pernah satu kejadian Aurora lihat sendiri saat itu Aurora dengan kedua temannya sedang berada di kantin, saat itu suasana kantin seperti biasanya ramai datanglah cowo tukang bully, cowo nakal, yang selalu memalak murid dengan cara kekerasan sebut saja Rama Mahendra CS mereka adalah murid murid nakal di sekolahnya suka keluar masuk ruang BK, suka bolos, suka merokok, kadang katanya mereka sampai minum minuman alkohol.
Di saat suasana ramai saat orang-orang mengerubungi Rama CS menyaksikan korban yang di palak oleh mereka, seketika hening seolah keramaian tadi lenyap dalam sekejap dan yang awalnya jalan penuh sesak secara tiba-tiba terbuka memberi jalan kepada sesosok pria tanpa ekpresi melirik kearah orang yang sedang di rundung, tidak ada yang berani melawan dan Rama CS sekalipun.
"Berisik."
Satu kata hanya satu kata kerumunan murid-murid langsung bubar bahkan Rama CS langsung keluar kantin tanpa perlawanan, suasana mencekam setelah kedatangan Gama Pradika si cowo dingin, irit bicara, misterius tersebut. Aurora menyaksikan kejadian itu antara takut tapi penasaran, banyak pertanyaan di kepalanya, tapi Aurora takut untuk mengutarakannya.
"Lo gila ya! lo suruh gue deket sama Gama, belom juga gue deketin gue udah di tendang kali." Protes Aurora.
"Eitttt...kan perjanjiannya apa lo udah setuju jadi lo nggak bisa nolak." Tolak Zara karna Zara tahu Aurora pasti akan menolak tantangan darinya.
"Ya lo mikir anjir dia Gama bahkan cewe secantik Veronica aja di gubris ama si Gama, apalagi gue mungkin kalau gue udah di bunuh kali."
"Hiperbola banget anjir ampe di bunuh segala." Zara memutar bola matanya malas mendengar penuturan Aurora yang tidak masuk akal.
"Ya kan bisa jadi, kita nggak tau sifat manusia kayak apa."
"Kan udah gue bilang juga apa! si bajingan ini nggak patut lo percaya omongannya, karna gue tau lo itu bego jadi nggak heran sih." Ujar Khanza pedas.
Zara yang kesal dengan penuturan Khanza melayangkan bantal kearah wajah tanpa dosa Khanza."Heh!! setan lo perlu di lakban kayaknya mulut setan lo itu."
Aurora menghiraukan pertengkaran mereka Aurora lebih peduli pikirannya sekarang, bagaimana nasibnya kalau Aurora nekat mendekati Gama, bahkan harus menembak Gama supaya mau berpacaran dengan Aurora.