NovelToon NovelToon
INVINCIBLE DIVINE EMPEROR NINE HEAVENS HAREM

INVINCIBLE DIVINE EMPEROR NINE HEAVENS HAREM

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Harem / Kultivasi
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Noxalisz

Di dunia kultivasi yang luas, Xiao Chen adalah anomali—diturunkan dari langit dengan ketampanan dan kekuatan absolut tanpa batas. Dibesarkan di Hutan Sunyi oleh Qing Yan, ia tumbuh tanpa memahami asal-usulnya. Saat berusia 15 tahun, ia memulai perjalanan menjelajahi dunia, mengungkap misteri dirinya, menghadapi berbagai faksi, serta membangun hubungan dengan wanita dan kekuatan yang mengguncang tiga alam.

bonus langsung 10 episode pertama

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noxalisz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Arsip Kuno dan Api yang Tersembunyi

Pagi di Kota Zamrud datang dengan suara lonceng kuil yang bergema di seluruh kota. Matahari menyinari atap-atap zamrud, menciptakan pantulan hijau keemasan yang menari-nari di dinding-dinding batu putih. Dari jendela penginapan mewah yang disediakan Paviliun Harta Surgawi, Xiao Chen bisa melihat seluruh kota terbentang seperti peta hidup.

Penginapan itu sendiri adalah bangunan lima lantai dengan kamar-kamar berlapis sutra, pemandian air panas pribadi, dan pelayan yang siap melayani kapan saja. Para pelayan perempuan—semuanya muda dan cantik, mengenakan seragam hijau sederhana—berbisik-bisik di koridor setiap kali Xiao Chen lewat.

"Kulihat dia tadi pagi..."

"Rambutnya benar-benar putih seperti salju..."

"Aku hampir menjatuhkan nampan sarapan..."

Xiao Chen mendengar semuanya. Dia hanya tersenyum kecil dan melanjutkan langkahnya.

Di ruang makan, Wei Ling, Lin Yao, dan Xu Mei sudah menunggu. Wei Ling dan Lin Yao duduk berseberangan—bukan karena bermusuhan, tapi karena mereka sudah terbiasa dengan posisi itu. Xu Mei duduk di ujung meja, peta dan catatan tersebar di depannya. Wei Zhen, Feng Mo, dan Zhang Yuan sedang sarapan di meja sebelah bersama beberapa kultivator lokal yang penasaran dengan penjaga batu di luar kota.

"Bagaimana tidurmu?" tanya Wei Ling saat Xiao Chen duduk.

"Aku tidak tidur."

"Kau harus mencoba tidur sesekali."

"Kenapa? Aku tidak butuh."

"Karena tidur itu menyenangkan."

Xiao Chen menatapnya, senyum nakalnya muncul. "Ada hal lain yang lebih menyenangkan dari tidur."

Wei Ling langsung menunduk ke piringnya. "Kau... pagi-pagi sudah..."

"Dia ada benarnya." Lin Yao menyesap tehnya dengan tenang.

"Lin Yao!" Wei Ling menatapnya dengan mata terbelalak.

"Apa? Aku hanya jujur."

Xu Mei berdeham sambil menyembunyikan senyum di balik cangkir tehnya.

Setelah sarapan, Liu Ruyan mengirim utusan untuk mengantar mereka ke Arsip Kuno Paviliun Harta Surgawi. Arsip itu terletak di bawah tanah—bukan di paviliun utama, melainkan di sebuah bangunan tua di pinggir kota yang dijaga ketat.

"Arsip ini sudah ada sejak sebelum Paviliun Harta Surgawi didirikan," kata Liu Ruyan, yang menunggu mereka di pintu masuk. Hari ini dia mengenakan jubah merah gelap yang lebih sederhana, tapi tetap elegan. Rambutnya diikat lebih longgar, memberikan kesan lebih santai—tapi matanya tetap setajam biasanya. "Isinya mencakup catatan dari peradaban kuno, peta-peta yang sudah tidak valid, dan artefak-artefak yang tidak teridentifikasi."

"Dan kau membiarkan kami mengaksesnya?" tanya Xiao Chen.

"Aku sudah membuat kesepakatan denganmu. Lagipula..." Liu Ruyan menatap Xiao Chen. "...kain emasmu mungkin terkait dengan beberapa benda di dalam sini. Aku ingin tahu jawabannya juga."

Mereka masuk ke dalam. Arsip itu adalah labirin rak-rak batu yang dipenuhi gulungan-gulungan kuno, beberapa begitu tua hingga hampir hancur. Lampu-lampu kristal melayang di udara, memberikan penerangan lembut. Di sudut-sudut, formasi pelindung kecil berkedip, melindungi gulungan-gulungan paling berharga.

"Kita akan mencari di bagian Peradaban Pra-Imperium," kata Xu Mei, memandu rombongan. "Itu era sebelum sekte-sekte modern didirikan. Beberapa catatan menyebutkan tentang 'pengembara surgawi' yang turun dari langit."

"Pengembara surgawi?" Wei Ling mengangkat alis.

"Istilah kuno untuk makhluk yang datang dari alam lebih tinggi. Dalam beberapa teks, mereka digambarkan memiliki rambut putih dan mata bersinar."

Semua orang menoleh ke Xiao Chen.

"Aku tidak turun dari langit. Aku muncul dari retakan ruang," katanya.

"Itu hampir sama."

Mereka menghabiskan berjam-jam menyisir gulungan. Feng Mo dan Zhang Yuan mencari di bagian peta kuno. Wei Zhen memeriksa catatan tentang formasi. Wei Ling dan Lin Yao membantu Xu Mei dengan teks-teks kuno.

Xiao Chen berjalan sendirian ke bagian terdalam arsip. Ada sesuatu yang memanggilnya—bukan suara, bukan cahaya, tapi perasaan. Denyutan samar yang mirip dengan kain emasnya.

Dia berhenti di depan sebuah kotak batu yang tertutup lumut. Formasi di atasnya sudah lama mati, tapi di dalamnya... ada sesuatu. Dia membuka kotak itu, dan di dalamnya terbaring sebuah kristal seukuran kepalan tangan. Kristal itu berwarna ungu keemasan—persis seperti warna matanya.

Begitu dia menyentuhnya, kristal itu menyala.

Gambar-gambar membanjiri pikirannya. Kota yang sama dari penglihatan sebelumnya—kota di langit, istana mengambang, tahta kosong. Tapi kali ini lebih jelas. Dia bisa melihat wajah-wajah. Sosok-sosok berjubah putih. Mereka membungkuk padanya. Memanggilnya dengan gelar yang tidak bisa didengarnya dengan jelas.

Dan kemudian—hancur. Sesuatu menghancurkan kota itu. Sesuatu yang gelap. Sesuatu yang sangat besar. Langit retak, istana runtuh, dan dia... dia jatuh. Jatuh melalui kegelapan tanpa akhir.

Gambar-gambar itu menghilang.

"Xiao Chen!" Suara Xu Mei membuyarkannya. Dia berdiri di ujung lorong, wajahnya khawatir. "Apa yang terjadi? Kami mendengar suara—"

"Aku baik-baik saja." Xiao Chen menatap kristal di tangannya yang sekarang sudah redup. "Aku menemukan sesuatu."

Mereka berkumpul di ruang baca arsip. Kristal ungu keemasan diletakkan di atas meja, dan Xiao Chen menceritakan apa yang dilihatnya.

"Kota di langit," ulang Liu Ruyan, yang bergabung setelah mendengar keributan. "Itu cocok dengan deskripsi 'Ibukota Surgawi' dalam beberapa teks kuno. Konon, itu adalah tempat tinggal para dewa sebelum mereka menghilang."

"Kapan mereka menghilang?"

"Tidak ada yang tahu pasti. Beberapa teks menyebutkan 'Kejatuhan'—sebuah bencana kosmik yang memisahkan Alam Dewa dari alam-alam di bawahnya. Sejak saat itu, tidak ada dewa yang pernah turun lagi."

"Sampai sekarang," kata Lin Yao, menatap Xiao Chen.

"Aku bukan dewa. Setidaknya... belum sepenuhnya."

"Kau muncul dari retakan ruang. Kau bisa menciptakan apa pun. Monster tunduk padamu. Penjaga batu memanggilmu 'Tuan'." Lin Yao menghitung dengan jari. "Kau yakin bukan dewa?"

Xiao Chen tidak menjawab.

Liu Ruyan menatap kristal itu. "Kristal ini adalah Kunci Ingatan—artefak yang digunakan para dewa untuk menyimpan memori. Jika kau bisa mengaksesnya, berarti kau memang terkait dengan mereka." Dia menatap Xiao Chen. "Siapa pun kau sebelumnya... kau pasti seseorang yang sangat penting."

Malam harinya, Liu Ruyan mengundang Xiao Chen ke ruang pribadinya di lantai sepuluh Paviliun.

Ruangan itu berbeda dari ruang rapat—lebih kecil, lebih intim. Dipan besar dengan tirai sutra, meja rendah dengan teh dan anggur, dan jendela besar yang menghadap ke kota yang bermandikan cahaya bulan.

"Aku ingin bicara," katanya, menuangkan dua cangkir anggur. "Tentang kristal itu. Tentang siapa dirimu."

"Apa yang ingin kau tahu?"

"Semuanya." Liu Ruyan menyerahkan satu cangkir padanya. Jari-jari mereka bersentuhan, dan dia tidak menarik tangannya dengan cepat. "Aku sudah menjalankan Paviliun ini selama lima ratus tahun. Aku sudah melihat banyak misteri. Tapi tidak ada yang sepertimu."

"Apa yang membuatku berbeda?"

"Selain fakta bahwa kau bisa menciptakan Artefak tingkat Raja dalam satu detik?" Liu Ruyan tersenyum tipis. "Auramu. Cara bicaramu. Caramu menatap dunia seolah kau sudah melihat segalanya, tapi tetap ingin tahu lebih banyak."

"Aku memang ingin tahu."

"Dan aku ingin tahu tentangmu." Liu Ruyan meneguk anggurnya, lalu meletakkan cangkirnya. "Aku sudah hidup lebih dari tiga ribu tahun, Xiao Chen. Aku sudah melampaui usia di mana pria masih menarik bagiku. Kebanyakan pria... membosankan. Mereka menginginkan kekuasaan, harta, atau tubuhku. Tapi kau..."

"Aku apa?"

"Kau membuatku penasaran." Dia berjalan mendekat. "Dan itu sangat langka."

Xiao Chen menatapnya. Liu Ruyan adalah wanita yang berbeda dari yang lain—lebih tua, lebih berpengalaman, lebih matang. Kecantikannya bukan kecantikan muda yang polos, tapi kecantikan yang diasah oleh waktu dan kekuasaan. Dan sekarang, di bawah cahaya bulan, dengan anggur di napasnya dan matanya yang tajam melembut, dia terlihat... rentan.

"Kau tahu," kata Xiao Chen, "kebanyakan orang takut padaku atau menginginkan sesuatu dariku. Tapi kau... kau hanya penasaran."

"Itu buruk?"

"Tidak. Itu menyegarkan."

Dia menciumnya. Liu Ruyan tidak terkejut—seolah dia sudah menduganya, menginginkannya. Tangannya naik ke rambut putih Xiao Chen, membalas ciuman itu dengan intensitas yang tidak mengejutkan dari seorang wanita yang telah menahan diri selama ribuan tahun.

"Kau tahu berapa lama sejak terakhir kali seseorang berani menciumku?" bisiknya di sela ciuman.

"Berapa lama?"

"Lebih dari seribu tahun."

Xiao Chen tersenyum di bibirnya. "Kalau begitu, aku harus membuat ini berharga."

Dia mengangkatnya dan membawanya ke dipan. Liu Ruyan—Direktur Paviliun Harta Surgawi, wanita paling berkuasa di Benua Selatan, kultivator Jiwa Baru Lahir tingkat 6—menyerah sepenuhnya di pelukannya. Tubuhnya yang matang dan penuh pengalaman melengkung di bawah sentuhan Xiao Chen, dan untuk pertama kalinya dalam ribuan tahun, dia membiarkan dirinya merasa.

1
TGT
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!