"Saya tidak mau nikah kontrak, Pak. Saya mau pernikahan ini berjalan sebagaimana mestinya ...." Rea terdiam sejenak. Mengambil napas sebelum ia melanjutkan kalimatnya. Sebuah kalimat yang mungkin akan ia sesali seumur hidupnya.
Bagaimana tidak. Tidak ada yang ingin menikah untuk bercerai, tapi Rea melakukannya.
" ... tapi, kapanpun Pak Dewa ingin menceraikan saya. Saya akan siap."
_________________________________________________
Demi biaya keluarganya di kampung, Rea rela menerima tawaran untuk menjadi istri sementara seorang aktor terkenal—Dewangga Rahardian. Awalnya ia meyakinkan diri semua akan mudah, karena Dewangga menjanjikan bahwa ia tak akan pernah menyentuh Rea dan akan menceraikan Rea dalam waktu dekat. Pun kompensasi yang akan Rea terima nantinya bernilai cukup fantastis bagi Rea yang merupakan anak kampung.
Namun, seiring waktu apa yang Dewa janjikan tak pernah terjadi. Pria itu lebih suka menyiksa Rea dengan membelenggunya dalam ikatan pernikahan palsu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon annin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 2
"Udah sampai?" Suara lembut di ujung sana menyambut kedatangan Dewa di hotel yang sudah disediakan oleh pemilik brand yang mengundang Dewa ke Surabaya.
"Baru aja sampe," jawab Dewa sembari merebahkan tubuhnya di atas sofa.
Obrolan berlanjut cukup lama. Sampai Luky mengetuk pintu kamar Dewa.
"Udah dulu, ya. Ada Luky, nih. Katanya gue harus siap-siap."
Di seberang sana suara si wanita terdengar kecewa, pasalnya ia masih rindu dan masih ingin terus berbincang dengan Dewa. "Ok, jangan nakal ya di sana. Jangan sampai genit sama ani-ani lokal."
"Hmmm," jawab Dewa malas. Lalu mengakhiri panggilan.
Luky yang sejak tadi sudah masuk dengan sabar menunggu Dewa menyelesaikan panggilan. "Waktunya lo bersiap. Kita makan malam sekarang."
Dewa dengan cekatan masuk ke kamar mandi, mempersiapkan diri untuk bertemu klien yang akan menggunakan jasanya sebagai brand ambassador sebuah produk skin care khusus pria.
Begitu keluar, Dewa sudah tampil memukau mengenakan polo shirt yang dibalut dengan jas casual, dipadukan dengan celana jeans sobek-sobek yang makin membuat aura nakalnya keluar. Tampilan wajah yang memesona, dengan branding bad boy-nya, Dewa selalu berhasil memikat mata kaum hawa.
Sebuah meja dipesan khusus malam ini demi pertemuan ini. Malam ini akan dibahas mengenai kontrak kerja sama antara Dewa dan pemilik brand skin care asal Surabaya itu.
"Selamat datang di Surabaya, Mas Dewa," sapa Galih—pemilik brand—dengan ramah. Ia menyalami Dewa seakan sudah akrab sebelumnya.
"Gimana perjalananya, menyenangkan?" sambung Paramitha—istri Galih. Tak lupa wanita itu pun menyalami Dewa sama ramahnya dengan sang suami.
"Sangat menyenangkan," jawab Dewa penuh senyum.
"Mari-mari, silakan duduk," ujar Galih usai menyalami Luky.
Dewa dan Luky sudah biasa pergi berdua saja. Dewa juga bukan orang yang ribet dengan banyak barang bawaan. Bagi pria itu yang penting ada handphone dan rokok. Itu sudah cukup. Soal baju dan sebagainya, Dewa cukup pandai memadu padankan baju yang sesuai style-nya. Itu yang membuat Luky suka bekerjasama dengan Dewa. Walaupun ada banyak juga yang Luky tidak duka dengan Dewa sebagai manager sekaligus teman. Namun, Dewa masih sangat menguntungkan dalam bisnis show bizz ini. Talenta pria itu sangat bisa dipertimbangkan dalam dunia hiburan ini. Selain wajah tampan rupawan, Dewa punya talenta akting dan modeling yang mumpuni. Terbukti dari banyaknya sutradara yang mau memakai Dewa untuk berperan dalam film garapan mereka.
Pun, dalam bidang modeling. Dewa sering mendapat tawaran untuk memamerkan baju-baju rancangan designer ternama Indonesia. Bahkan di era digital ini, Dewa sering mendapat tawaran sebagai brand ambassador produk-produk yang dijual secara on line. Seperti sekarang ini, tawaran menjadi BA dari sebuah produk skin care yang sedang tren di kalangan anak muda, tidak Luky lewatkan. Sebagai manager, ia tahu benar daya tarik Dewa di kalangan anak-anak muda.
Usia Dewa mungkin bukan remaja lagi, tapi pesona pria itu masih mampu menyihir banyak pasang mata. Tampilan muda dan energik, menjadi daya tarik tersendiri dari seorang Dewangga Rahardian.
Acara makan malam di mulai, diselingi pembicaraan tentang produk-produk skin care yang nantinya akan dipromosikan oleh Dewa. Tak lupa keuntungan apa saja yang nanti Dewa dapatkan dari menjadi BA.
Luky yang mendengar semua penuturan Galih dan istrinya, sangat tergiur dan tidak sabar untuk Dewa segera menandatangi kontrak tersebut. Ia sudah bisa membayangkan berapa bagian yang nanti ia terima jika kontrak ini deal.
Dan benar saja, di akhir makan malam pengacara dari Galih sudah menyiapkan lembar kontrak untuk Dewa baca dan pelajari. Tentu itu adalah bagian Luky, bagian Dewa hanya tanda tangan saja. Ia sangat percaya dengan managernya itu.
Luky hanya butuh waktu tak sampai lima belas menit untuk membaca semua klausul dalam lembar kontrak kerja sama. Dan ia menyerahkan dengan yakin pada Dewa untuk segera di tanda tangani.
Deal!
Dewa, resmi menjadi BA dari produk skin care milik Galih dan Paramitha. Mereka sudah menyusun semua kerja sama dengan rapi. Untuk menyingkat waktu, karena Dewa masih banyak kegiatan lain, esok hari mereka akan mulai syuting sekaligus pemotretan untuk kepentingan promosi.
Makan malam selesai, tapi Dewa dan semua orang yang hadir di traktir untuk bersenang-senang di kelab malam, di hotel yang sama. Tak ada yang menolak, semua terlihat antusias.
Di kelab, sangat berbeda dengan di restoran tadi. Di sini mereka terlihat lebih santai dan happy. Ini seperti hadiah pesta atas kerjasama yang terjalin antara Dewa dan Galih. Pengusaha itu tak pelit dalam mentraktir minuman atau apa pun yang dibutuhkan Dewa dan Luky.
Bahkan ia mengundang wanita-wanita kelab malam untuk menjamu dua tamunya dari Jakarta.
Pesta di kelab berakhir jam tiga dini hari. Luky dan Dewa yang dalam keadaan mabuk, diantar ke kamar masing-masing oleh petugas hotel yang diminta oleh Galih.
Dewa sendiri yang sudah mabuk berat langsung jatuh tertidur begitu saja. Ia bahkan belum sadar benar ketika hari sudah pagi dan suara ketukan di kamarnya terdengar sayup-sayup.
"Permisi, housekeeping." Rea mengetuk pintu kamar yang hari ini menjadi bagiannya untuk dibersihkan. Tak ada sahutan dari dalam. Rea mencoba sekali lagi, barang kali pemilik kamar tidak dengar.
"Permisi, housekeeping, boleh saya masuk?"
"Masuk!" Suara dari dalam terdengar. Rea pun segera masuk dengan mendorong troli untuk membawa handuk dan botol-botol kecil berisi peralatan mandi tamu.
"Permisi, Pak, Bu, boleh saya bersihkan kamarnya?" Rea tidak tahu yang menginap di kamar ini laki-laki atau perempuan. Sebab tamu itu masih tidur di tas ranjang dengan selimut menutupi tubuhnya.
Sejujurnya Rea sedikit bingung juga, ia dengan jelas mendengar perintah masuk tadi, tapi si pemilik kamar rupanya masih tidur.
"Hmmm," sahut orang di atas ranjang.
Karena jawaban itulah, Rea mengganggap ia diijinkan untuk membersihkan kamar ini. Rea pun mulia membersihkan kamar sementara tamu itu masih tertidur.
Usai bagian kamar sudah bersih dan rapi, sekarang giliran bersihkan kamar mandi. Sebelum mengganti semua peralatan mandi tamu, Rea membersihkannya lebih dulu. Mulai dari menyikat closet, lantai juga bath tube. Semua Rea lakukan dengan hati-hati, sebab ia tak mau membuat kesalahan yang bisa berakibat dipecat dari tempat ini. Saat ini ia benar-benar butuh pekerjaan, ia butuh uang.
Sampai sekarang pun, ia masih memikirkan cara untuk mendapat tambahan pekerjaan agar bisa menghasilkan uang lebih. Belum ada kabar dari Hana, sementara tawaran yang datang dari teman satu kos-nya kemarin hanya pekerjaan yang menyeramkan.
"Kon nek meh oleh duit akeh tur cepet, yo nge-l*nte ae." Itu kata dari Ayu, orang yang satu kos dengan Rea. (Kamu kalau mau dalat duit cepat dan banyak, ya jadi l*nte aja.)
Mendengar itu, Rea langsung bergidik ngeri. Ia memang butuh banyak uang, tapi bukan dari hasil jual diri juga. Ia masih ingin bekerja dari jalan yang halal.
Saking sibuknya tangan dan pikiran Rea, ia sampai tidak menyadari jika ada orang yang masuk ke kamar mandi. Ia baru sadar saat suara air dinyalakan.
Saat itu juga, Rea menyibak tirai yang menjadi penghalang antara bath tube dan closet.
"Argh!" Suara teriakan Rea kontan memenuhi ruangan begitu tirai disibak.