"Suuut" lelaki itu membekap Garima dengan telapak tangan besarnya, mereka saat ini tengah berada gang kecil penuh dengan kupu - kupu malam yang dengan gamblang menjajahkan tubuhnya.
Tubuh Garima bergetar karena ketakutan, matanya menatap lelaki misterius didepannya itu dengan melotot "siapa dia ?, apa dia seorang penjahat ?" gumam Garima dalam hati.
"Tuhan tolong aku" jerit batin Garima kembali, tidak berapa lama terdengar suara langkah kaki yang banyak membuat seluruh gang sempit dan kumuh itu menjadi ramai.
Para wanita yang sedang menjalankan pekerjaannya lari terbirit - birit karena kehadiran beberapa orang yang sedang mencari seseorang.
Lelaki itu mendorong tubuh Garima membuat rumah kecil milik Garima terbuka dan dia dengan sengaja mencium bibir Garima saat salah satu lelaki berambut gondrong memperhatikan mereka.
Garima terkejut dengan aksi lelaki didepanya itu hingga dia tidak bisa berkata apa - apa dan bingung akan melakukan apa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sukapena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pendekatan
Loka mengangkat atu alisnya menatap Bima dan tersenyum mengejek Bima "ku kira diriku yang berhutang cerita, ternyata kau juga sama Bim" Bima tersenyum kikuk kemudian berjalan kearah wanita yang saat ini masih mematung disana.
Bima membawa wanita itu untuk masuk kembali kedalam kamar agar berganti pakaian, sementara Loka berjalan keluar dari apartement Bima.
Loka mengirimi pesan pada Bima bahwa dirinya sudah mengirim file yang barusan saja mereka bicarakan sambil berjalan menuju lift.
Loka masuk kedalam apartement miliknya, mata Loka liar mencari keberadaan Rima dan ternyata wanita itu sedang meminum segelas susu sambil duduk didekat kaca jendela besar samping balkon apartement.
"Apa menungguku lama ?" Rima yang mendengar suara Loka didekatnya seketika mengalihkan pandangan dari kaca besar disamping kirinya menuju Loka.
Rima tersenyum kemudian menggeleng pelan, dia kembali melanjutkan minum susu hamil yang masih tersisa setengah "hari ini ingin pergi kemana ?" Rima menimbang kemudian mengingat sesuatu.
"Tunggu sini" Loka mengangkat satu alisnya kemudian meliha punggung Rima dengan penasaran, tidak lama Rima keluar dari kamarnya membawa kartu kredit milik Loka dan diserahkan pada sipemilik kartu.
"Terima kasih, aku membeli beberapa bahan masakan dan beberapa baju untuk ku kenakan" Loka tersenyum kemudian menarik tangan Rima membuat Rima duduk diatas pangkuan Loka.
"Untuk apa dikembalikan, sudah kuberikan padamu jadi sekarang ini milikmu" Loka berkata seraya mengapit kartu kredit miliknya dengan dua jari telunjuk dan jari tengah.
"Tapi kartu ini kan tidak memiliki batas limit apa kau tidak takut jika aku memakainya sesukaku ?" Loka tersenyum geli melihat kepolosan Rima.
"Ya, tapi aku masih tetap bisa mengontrolnya lewat jauh" Rima mengangguk mengerti "lusa aku harus kembali bekerja, jika aku tidak ada kabar untuk beberapa hari kau jangan marah okey ?" Rima melihat Loka tidak suka.
"Aku tidak marah, siapa yang marah" Loka menoel hidung Rima membuat Rima membuang muka "menangis dan membanting pintu, itu semua bukan karena aku tidak menanyakan kabarmu melalui pesan singkat ?" Rima bergerak dari pangkuan Loka membuat Loka mengeratkan pegangannya pada lengan Rima.
"Jika kau terus bergerak maka kita tidak jadi pergi, karena kau membangunkan yag dibawa" Rima melototkan matanya kemudian bangkit dari pangkuan Loka.
"Ah em aku akan berganti pakaian dulu" Rima berdiri dengam kikuk kemudian berjalan menuju kamar miliknya untuk berganti pakaian, Loka melihat punggung Rima dengan tertawa geli.
Tidak buruk juga ada seorang wanita yag menemani hari - hari Loka, Loka mulai mengecek berkas dan dokumen yang orang kepercayaan Loka untuk mengelola perusahaan mengiriminya melalui email.
Banyak yang belum tahu bahwa Loka memiliki perusahaan yang bergerak dibidang manufacturing, mengelola beberapa pabrik farmasi dan bahan pangan.
Bahkan keluarga Loka tidak mengetahuinya dan hanya satu orang saja yang tahu yaitu Bima, Loka masih belum mau memberitahu keluarganya tentang bisnisnya itu karena dia dulu menolak untuk meneruskan perusahaan milik keluarga besarnya.
Rima melihat Loka yang saat ini tengah sibuk dengan layar ponsel pintarnya itu, Rima baru menyadari bahwa Loka memang sangat tampan dengan cepat mengelus perutnya yang sudah menonjol sedikit.
"Apa sudah selesai ?" Loka mengangkat kepala dari ponsel pintarnya menuju Rima yang saat ini berdiri beberapa meter darinya, dengan cepat Loka menyimpan ponsel dan berdiri dari duduk mulai berjalan mendekati Rima.
"kita mau kemana ?" Loka menarik tangan Rima untuk berjalan bersama keluar dari apartement mereka "rumah sakit" Rima melihat Loka sengan heran.