Di tahun 2030, hujan darah mengubah dunia menjadi neraka penuh monster.
Yara mati tragis… namun terbangun kembali lima bulan sebelum kiamat di tubuh seorang wanita gemuk bernama Elara Quizel, istri presedir yang tak dicintai.
Dengan bantuan Sistem NOX, ia diberi kesempatan kedua untuk mengubah takdirnya.
Dari wanita yang diremehkan, Elara perlahan bangkit menjadi sosok yang dingin dan tak tersentuh.
Kali ini, ia tak hanya ingin bertahan hidup tetapi menguasai dunia yang akan hancur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blumoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Detak Jantung Menjelang Perang
Dua puluh empat jam telah berlalu sejak pembantaian Divisi Serbu Pertama Sektor 3. Sektor 7 kini diselimuti oleh keheningan yang tidak biasa sebuah ketenangan yang menipu sebelum badai terdahsyat menghantam. Di bawah permukaan, mesin-mesin perang pangkalan bertenaga Dark Matter Core terus menderu tanpa henti, memuntahkan energi murni untuk memperkuat perisai pelindung perimeter luar hingga tingkat maksimum.
Di ruang rapat utama menara komando, sebuah peta hologram tiga dimensi berukuran raksasa mengambang di tengah ruangan. Elara berdiri di ujung meja dengan gaun hitam taktisnya yang pas di tubuh, sementara Leonard, Herra, Tobi, dan Arkan mengelilingi meja dengan ekspresi serius.
"Sistem memantau pergerakan massal dari arah barat daya," ujar Arkan membuka presentasi, jemarinya menggeser beberapa titik merah di layar hologram. "Jenderal Markus tidak lagi mengirim pasukan pengintai. Dia benar-benar mengosongkan hampir seluruh pertahanan Sektor 3. Berdasarkan analisis citra satelit, dia memobilisasi lebih dari dua ribu prajurit infanteri, lima puluh kendaraan taktis, dan... monster ini."
Arkan mengetuk satu titik merah terbesar, memunculkan proyeksi visual sebuah tank raksasa berkaliper ganda dengan lapisan baja super tebal.
"Tank Penghancur Kelas Titan: The Goliath," bisik Herra, matanya menyipit menatap moncong meriam ganda berukuran 155mm di layar. "Markus membawa mainan terbesarnya. Meriam itu bisa meratakan dinding beton Sektor 7 hanya dengan tiga kali tembakan."
"Biarkan dia membawa apa saja yang dia inginkan," sahut Elara dingin, tatapannya tetap tenang tanpa riak kepanikan sedikit pun. "Bagaimana dengan persiapan di pihak kita?"
Leonard melangkah maju, meletakkan tangannya di atas meja. "Tiga kendaraan lapis baja penghancur yang kita sita kemarin sudah selesai dimodifikasi oleh Bobi dan tim mekanik. Bilah baja berputar di depannya kini dialiri arus listrik bertegangan tinggi dari sistem kita, dan bagian atasnya telah dipasangi pelontar api plasma. Pasukan pertahanan dalam juga sudah menempati posisinya masing-masing."
"Bagaimana dengan para ilmuwan?" tanya Elara lagi.
"Mereka mengurung diri di laboratorium B-2 sejak kemarin, Nona," jawab Tobi sambil memainkan belatinya dengan tidak sabar. "Saya sempat mengintip tadi pagi. Wajah mereka sudah seperti mayat hidup karena tidak tidur, tetapi mereka terlihat sangat terobsesi. Rian bilang, struktur energi dari Materi Gelap membuat progres penelitian mereka melompat sepuluh kali lipat lebih cepat."
Elara mengangguk puas. "Bagus. Biarkan mereka fokus pada serum itu. Pertempuran di permukaan adalah urusan kita."
Ia kemudian menatap ke arah Herra. "Herra, posisi penembak jitu di menara barat sudah diperkuat? Aku ingin kau memprioritaskan para perwira komunikasi mereka. Putus koordinasi lapangan mereka sejak menit pertama."
"Dengan senang hati, Ratu," jawab Herra dengan seringai kejamnya yang khas.
Elara mematikan peta hologram dengan satu lambaian tangan. Udara di dalam ruangan itu seketika menjadi dingin, dipenuhi oleh niat membunuh yang pekat dari para petinggi Sektor 7. "Jenderal Markus mengira kemarahannya bisa membakar tempat ini. Dia tidak sadar, bahwa dengan membawa seluruh pasukannya ke sini, dia hanya sedang mempermudah tugas kita untuk melenyapkan Sektor 3 dari peta dunia baru."
Waktu terus bergulir hingga jarum jam menunjukkan pukul tiga dini hari. Kegelapan malam mencapai puncaknya, diiringi oleh angin gurun yang berembun dingin. Namun, bagi mereka yang berada di Sektor 7, malam ini tidak ada yang memejamkan mata.
Di atas dinding perimeter luar, Leonard berdiri tegak seperti patung batu, membiarkan jubah hitamnya berkibar ditiup angin malam. Di sampingnya, Tobi bersandar pada pembatas beton, telinganya bergerak-gerak sensitif. Sebagai seorang *Awakened* dengan kemampuan sensorik yang tajam, Tobi bisa merasakan getaran tanah dari jarak beberapa kilometer.
"Mereka datang, Bos," bisik Tobi tiba-tiba. Matanya yang tadinya santai kini menajam, beralih menatap ke kegelapan gurun di depan mereka. "Getarannya sangat masif. Bumi seperti sedang berguncang. Monster tank itu... beratnya pasti luar biasa."
Tak lama kemudian, lampu-lampu sorot berdaya tinggi dari armada Sektor 3 mulai membelah kegelapan malam dari kejauhan. Ratusan berkas cahaya putih menyapu dataran gersang, bergerak maju dengan kecepatan konstan. Deru mesin diesel berskala militer terdengar seperti gemuruh guntur yang mendekat, memecah kesunyian malam pasca-kiamat.
Di barisan paling depan, berjalan dengan angkuh tank raksasa The Goliath. Di atas kubah tank tersebut, berdiri seorang pria paruh baya dengan seragam militer lengkap berhiaskan belasan lencana emas yang berkilat terkena sorot lampu. Jenderal Markus. Wajahnya yang kaku dan dipenuhi urat amarah tampak sangat mengerikan di bawah cahaya bulan.
Markus memegang interkom komandonya, suaranya menggema keras, disiarkan melalui pengeras suara berkekuatan tinggi yang dipasang di armada tanknya, sengaja untuk meneror mental para penghuni Sektor 7.
"RIAN! ELARA! KELUAR KALIAN, KEPARAT!" raung Markus, suaranya menggelegar membelah malam. "Kalian pikir kalian bisa bersembunyi di dalam cangkang baja itu setelah membantai divisiku?! Malam ini, aku akan meratakan Sektor 7 hingga menjadi debu! Aku akan menguliti setiap manusia di dalam sana dan menggantung kepala kalian di sepanjang pagar perbatasan Sektor 3!"
Mendengar teriakan penuh murka itu, Elara yang baru saja melangkah naik ke atas dinding pertahanan bersama Arkan hanya mendengus geli. Ia berjalan mendekati Leonard, membiarkan suaminya itu merangkul pinggangnya dengan protektif.
"Suara anjing tua itu berisik sekali di jam tidur seperti ini," gumam Elara dengan nada malas.
"Apakah kita akan langsung mengaktifkan meriam pertahanan, Nona?" tanya Arkan, tangannya sudah memegang sabak digital yang terhubung langsung dengan sistem persenjataan otomatis pangkalan.
"Jangan dulu, Arkan," sela Elara, matanya berkilat ungu pekat di kegelapan malam saat menatap armada besar yang kini berjarak kurang dari satu kilometer dari gerbang terluar mereka. "Biarkan dia merasa di atas angin. Markus adalah pria yang sombong. Pria seperti dia akan hancur paling parah ketika harapannya dihantam di titik tertingginya."
Elara maju selangkah, menumpukan kedua tangannya di atas pembatas dinding beton, lalu menggunakan sistemnya untuk memproyeksikan suaranya agar terdengar langsung di seluruh area pertempuran, membalas provokasi Markus dengan nada yang sangat tenang namun menusuk hingga ke tulang.
"Jenderal Markus... Anda datang jauh-jauh hanya untuk mengantarkan sisa pasukan Anda menjadi pupuk di ladangku?" suara merdu Elara menggema di udara, terdengar begitu jernih di antara deru mesin tank musuh. "Terima kasih atas kebaikan Anda. Pak Jaka memang sedang kekurangan bahan baku segar malam ini."
Di seberang sana, mendengar suara Elara, wajah Jenderal Markus semakin merah padam karena terhina. Ia mengangkat tangan kanannya, memberikan isyarat kepada seluruh divisi artilerinya.
"TEMBAAAKKKK!!! RATAKAN TEMPAT ITU!!!" teriak Markus histeris.
*BOOOMMM!!! BOOOMMM!!! BOOOMMM!!!*
Moncong ganda tank The Goliath beserta puluhan kendaraan taktis Sektor 3 memuntahkan tembakan meriam pertama mereka secara serentak. Puluhan bola api raksasa melesat membelah kegelapan malam, menuju langsung ke arah dinding tempat Elara dan Leonard berdiri. Perang habis-habisan antar sektor resmi dimulai.
Bersambung 🧟♀️🧟♀️🧟♀️
Cuma satu yang dipertanyakan. Apakah Elara memikirkan solusi? Atau hanya mengikuti misi dari sistem dan bertahan hidup?
Harusnya Elara memikirkan solusi untuk mengembalikan keadaan. Misalnya dengan mencari sebab dulu, baru menemukan solusi (walau masih belum pasti) dan menjadikan solusi itu tujuan cerita. Kita jadi tahu akan dibawa ke mana cerita ini pada akhirnya. Kedamaian hakiki walau ga bisa mengembalikan dunia secara utuh. atau mereka bisa mereset semuanya? Tapi kalau reset, Elara waktu rebirth pun ga ada niatan menghentikan terjadinya chaos. hanya sibuk menyiapkan 'payung'.
dan ke mana manusia-manusia pengkhianat itu? Kenapa Elara tidak pernah mencari mereka untuk balas dendam?