Soren Ravensdale-seorang assassin yang tak pernah gagal menjalankan misinya kini harus menerima kenyataan pahit ketika sahabat yang ia percaya-Vera, justru mengkhianatinya. Bukan hanya itu, Vera juga terlibat dalam pembunuhan adik angkatnya, Ellian Sorrel dan ternyata semua telah direncanakan atas perintah langsung dari ketua mereka sendiri.
Janji bahwa keluarga para anggota akan aman ... ternyata hanyalah kebohongan.
Dengan luka tembak di perutnya, Soren memilih mengakhiri hidupnya dengan kepercayaannya yang hancur dan terjun ke dasar jurang. Namun bukannya mati, ia justru terbangun di tubuh seorang gadis rapuh dengan wajah yang sangat mirip dengannya.
Yang kini statusnya adalah menjadi istri seorang Letnan Kolonel yang dingin dan penuh rahasia.
Dari seorang assassin menjadi seorang istri, apakah Soren benar-benar bisa berhenti dari dunia yang sudah menelan hidupnya atau justru kehidupan barunya hanya akan menyeretnya kembali ke lingkaran kejahatan yang lebih gelap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luo Aige, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Darah dan ludah
Keesokan harinya, suasana kediaman William berjalan seperti biasa sejak pagi. Para pelayan sibuk membersihkan rumah dan suara langkah kaki terdengar sesekali di lorong, sementara cahaya matahari masuk menyelinap lewat jendela besar, memantulkan kehangatan di atas lantai marmer yang bersih.
Di lantai atas, pintu kamar Aveline baru terbuka menjelang siang. Gadis itu keluar dengan langkah santai sambil merapikan rambut hitamnya yang masih sedikit berantakan, wajahnya tampak tenang seolah tidak ada kejadian berbahaya yang sempat terjadi semalam.
Liora yang berdiri di dekat lorong langsung menegakkan tubuh. “Nona.”
Aveline berjalan menuju meja kecil lalu mengambil beberapa lembar kertas yang sudah ia tulis sejak pagi. “Nanti pergi ke butik,” ucapnya sambil menyerahkan kertas itu.
Liora menerimanya dengan hati-hati. “Ada yang ingin dipesan, Nona?”
“Seragam berburu.”
Wanita itu sempat bingung sebelum akhirnya membaca isi tulisan di sana, dan semakin lama ia membaca, semakin jelas keterkejutan tergambar di wajahnya. Desain yang dibuat Aveline sama sekali tidak seperti pakaian berburu bangsawan pada umumnya. Potongannya ramping dengan jaket hitam yang tegas di bagian pinggang, lengkap dengan pengait kulit dan sabuk kecil, ditambah celana panjang yang memudahkan gerak serta sepatu bot tinggi. Terlihat sangat praktis dan jauh lebih cocok untuk seseorang yang terbiasa bergerak cepat.
“Aku sudah tulis detail ukuran dan bahannya,” ujar Aveline santai sambil berjalan ke arah jendela. “Suruh mereka membuat persis seperti ini dan jangan biarkan mereka mengubah modelnya hanya karena dianggap aneh.”
Liora kembali melihat desain itu beberapa detik lebih lama. Tatapannya sempat berhenti pada bagian sabuk paha dan sarung kecil yang digambar di samping celana. “Ini benar-benar pakaian berburu, Nona ...?”
Aveline menoleh sedikit. “Memangnya terlihat seperti gaun pesta?”
Liora langsung tersentak pelan. “Bukan begitu maksud saya—”
“Kalau mereka bertanya terlalu banyak,” potong Aveline tenang. “Bayar lebih.”
Liora langsung mengangguk cepat. “Baik, Nona. Saya mengerti.”
.
Sore harinya, William turun dari lantai atas dengan seragam militernya yang rapi sempurna. Langkahnya tenang namun aura dinginnya begitu terasa, hingga kakinya sedikit melambat saat melihat Aveline sudah berdiri menunggu di dekat pintu utama.
Hari itu gadis itu hanya mengenakan blouse putih berlengan panjang dengan rok hitam panjang yang sederhana namun rapi. Rambutnya diikat rendah memperlihatkan wajah pucatnya yang cantik, sementara lemari pakaiannya yang masih terbatas membuat penampilannya jauh lebih sederhana dibanding wanita bangsawan lain.
“Aku ikut,” ucapnya pelan.
William menatapnya beberapa detik. “Barak bukan tempat untuk bermain.”
“Aku juga tidak terlihat ingin bersenang-senang.”
Tatapan William turun sekilas memperhatikan pakaian Aveline sebelum kembali ke wajahnya. “Kau bahkan tidak memakai pakaian yang cocok untuk tempat itu.”
“Kalau begitu lain kali belikan aku seragam militer juga.”
Bram yang berdiri tak jauh langsung menunduk pura-pura sibuk, sementara rahang Kellan terlihat menegang menahan reaksi.
William menghembuskan napas pendek melalui hidung. “Aku tidak sedang bercanda.”
“Kau pikir aku juga?”
Beberapa detik berlalu dalam diam. Tatapan William masih tertahan di wajah Aveline, seolah mencoba memastikan apakah gadis itu benar-benar serius atau hanya sedang mencari alasan untuk ikut campur lagi. Namun ekspresi Aveline tetap datar dan santai seperti biasa, tanpa sedikit pun terlihat ragu.
Pada akhirnya William berbalik begitu saja tanpa mengatakan apapun lagi. Dan seperti yang sudah diduga, Aveline langsung mengikutinya dari belakang.
Sesampainya di markas militer, suasana langsung terasa jauh lebih tegang. Para prajurit langsung berdiri tegak dan memberi hormat saat William turun, namun perhatian mereka segera beralih pada Aveline yang muncul tepat di sebelahnya.
Ini adalah kedua kalinya istri sang Kolonel ikut datang ke barak militer, dan jelas sekali rasa penasaran mulai muncul di wajah beberapa orang. Ada yang diam-diam melirik, ada pula yang langsung membuang muka saat Aveline tanpa sengaja menatap balik. Namun gadis itu tampak sama sekali tidak peduli dan hanya berjalan santai mengikuti William masuk.
Belum lama mereka melangkah, seorang prajurit datang menghampiri dengan tergesa membawa laporan. “Tuan Kolonel.”
William berhenti. “Bagaimana?”
“Tawanan masih menolak bicara, Tuan. Kami sudah melakukan interogasi sejak semalam.”
“Apa saja yang sudah dilakukan?”
Prajurit itu sempat ragu sepersekian detik sebelum menjawab. “Pukulan fisik. Tekanan pada lukanya. Menahannya tetap sadar tanpa tidur.”
“Dan?”
“Dia tetap tidak mau mengaku.”
Tatapan William berubah sedikit dingin. “Dia masih bisa bicara setelah semua itu?”
“Masih, Tuan.” Prajurit itu menelan ludah pelan. “Bahkan beberapa kali tertawa.”
Aveline melirik sekilas ke arah prajurit tersebut. “Tertawa?”
Prajurit itu langsung menegang saat Aveline tiba-tiba ikut bicara. “Y-ya, Nona.”
“Berarti kalian melakukannya dengan buruk.”
Ruangan langsung hening beberapa detik.
Bram refleks menoleh pelan ke arah Aveline, sementara prajurit tadi terlihat makin gugup. Bahkan dua orang lain yang berdiri di belakangnya tampak saling melirik canggung. Tidak ada yang menyangka Aveline akan mengatakan hal seperti itu secara langsung di tengah markas militer.
William akhirnya bergerak lagi tanpa komentar. “Aku akan menemuinya.”
Mereka berjalan menuju ruang interogasi di bagian bawah tanah yang udaranya terasa jauh lebih dingin dan pengap. Langkah sepatu bot para prajurit menggema pelan di sepanjang lorong semen yang sempit. Semakin masuk ke dalam, suasananya terasa semakin tidak nyaman.
Begitu pintu besi terbuka, aroma darah dan logam langsung tercium samar di udara.
Ruangan interogasi itu cukup luas dengan cahaya putih redup yang menggantung tepat di atas meja logam di tengah ruangan. Di sanalah tawanan itu duduk.
Tangannya diborgol di atas meja besi tebal. Salah satu sisi wajahnya terlihat lebam, disertai dengan bibirnya yang pecah.
Dua prajurit berdiri di belakang kursinya. Satu lagi berjaga di dekat pintu.
Namun saat melihat mereka masuk, tawanan itu justru perlahan mengangkat kepala dengan senyum miring. Tatapannya langsung jatuh pada William, penuh kebencian. Dan kemudisn matanya beralih ke arah Aveline, membuat ekspresinya seketika berubah aneh.
Senyumnya perlahan melebar seolah baru menyadari sesuatu.
William menarik kursi lalu duduk tepat di hadapannya. “Aku akan bertanya sekali lagi.” Suaranya rendah dan dingin. “Siapa orang dalam yang membantumu keluar dari sana?”
“Aku tidak tahu.”
“Jalur perdagangan manusia?”
“Rumor belaka.”
“Jalur suplai?”
“Tidak pernah dengar.”
William menatapnya tanpa berkedip. “Kau pikir bisa terus diam dan keluar hidup-hidup dari sini?”
Pria itu tertawa pendek. Suara tawanya terdengar serak karena darah kering di tenggorokannya. “Apa itu ancaman, Kolonel?”
William menyandar sedikit. “Kau sedang tidak dalam posisi yang baik untuk bermain mulut denganku.”
“Benarkah?”
Pria itu sedikit memajukan tubuh meski kedua tangannya masih diborgol kuat di atas meja. “Kalau begitu kenapa aku masih hidup sampai sekarang?”
Suasana ruangan berubah lebih berat. Bram bisa melihat rahang William mulai mengeras perlahan, sementara dua prajurit di belakang tawanan itu mulai berdiri lebih waspada.
Namun tawanan itu justru kembali tertawa pelan sebelum mengalihkan pandangan ke arah Aveline.
“Oh ...,” ucapnya perlahan. “Jadi dia istrimu?”
Tidak ada jawaban.
Tatapannya turun naik memperhatikan tubuh Aveline tanpa rasa takut sedikitpun. “Tuan Kolonel ....” Sudut bibirnya terangkat makin lebar. “Dia benar-benar pandai memuaskan hasrat pria, ya?”
Dua prajurit di belakangnya langsung menegang. Bram refleks maju setengah langkah. “Jaga mulutmu—”
Namun Aveline justru berjalan mendekat dengan tenang. Langkahnya pelan dan tidak terburu-buru. Suara sepatu hak rendahnya terdengar pelan di lantai semen sebelum akhirnya ia berhenti tepat di samping William.
Tatapan tawanan itu semakin terang-terangan sekarang.
Aveline sedikit membungkuk hingga wajah mereka berada cukup dekat. “Aku mulai paham sekarang,” ucapnya pelan.
Pria itu menyeringai. “Paham apa?”
“Kenapa mereka gagal membuatmu bicara.”
Aveline tersenyum tipis. “Karena rupanya otakmu memang sudah terlalu rusak untuk bisa berpikir dan berbicara layaknya manusia normal.”
Beberapa prajurit langsung menahan napas. Salah satu dari mereka bahkan refleks menegakkan badan lebih lurus, seolah suasana ruangan mendadak berubah jauh lebih tajam dibanding sebelumnya.
Namun pria itu justru tertawa semakin keras. “Aku suka wanita bermulut tajam!” serunya sambil terkekeh dengan mulut berdarah.
Aveline tidak bergerak sedikitpun. Tatapannya tetap lurus dan dingin. “Sayangnya aku tidak suka pria yang menjijikkan.”
Tawanan itu menatap Aveline beberapa detik lebih lama. Lalu tawanya berubah semakin kasar dan keras, seolah sengaja memancing suasana sejak awal.
Dan detik berikutnya, ia menggigit keras bagian dalam lidahnya sendiri sampai darah segar langsung memenuhi mulutnya.
Bram langsung membelalak. “Sial—!”
Brufh!
Namun semuanya terlambat. Campuran darah dan ludah itu langsung dimuntahkan kasar ke depan. Tepat mengenai wajah Aveline, sehingga ruangan membeku total.
Dan di depan sana, tawanan itu justru masih terkekeh puas dengan darah mengalir dari sudut mulutnya.
“Sekarang kau terlihat lebih cocok berada di tempat seperti ini.”
Beberapa prajurit di sudut ruangan refleks tertawa kecil karena tegang dan tidak percaya seseorang benar-benar berani melakukan hal seperti itu tepat di depan William.
Namun suara itu langsung terhenti. Karena perlahan William berdiri dari kursinya.
Suara gesekan kaki kursi besi terdengar berat dan tajam memenuhi ruangan. Tidak ada yang bergerak ataupun berani bicara.
Tatapan William kini berubah jauh lebih dingin.
Aveline refleks memejamkan mata saat cairan hangat bercampur darah itu mengenai pipi dan sudut bibirnya. Ruangan langsung membeku dalam diam beberapa detik. Bahkan salah satu prajurit di dekat pintu terlihat refleks menahan napas saat melihat darah merah itu perlahan menetes dari dagu gadis tersebut.
Namun alih-alih marah, Aveline justru tersenyum ringan. Tanpa ada guratan emosi sedikitpun.
Tawanan itu masih tertawa serak di depan sana dengan darah mengalir dari sudut mulutnya. Bahunya bergerak pelan, seolah benar-benar puas berhasil melakukan hal sehina itu tepat di depan seluruh anggota militer.
Sementara itu, Aveline perlahan membuka matanya kembali.
Jika sebelumnya tubuhnya masih sedikit condong mendekati meja interogasi, kini ia mulai menjauhkan tubuhnya perlahan. Punggung wanita itu kembali tegak sebelum tangannya terangkat santai menyentuh pipinya sendiri. Ujung jarinya mengusap darah bercampur ludah yang menempel di wajah dengan gerakan tenang, tanpa jijik ataupun panik.
Tatapannya turun singkat melihat bercak merah di ujung jemarinya. Lalu sudut bibirnya kembali terangkat tipis.
Suasana ruangan mulai terasa aneh.
Beberapa prajurit saling melirik bingung. Bahkan Bram sempat mengernyit kecil karena ekspresi Aveline sama sekali tidak terlihat seperti seseorang yang baru saja dihina habis-habisan.
Kemudian Aveline berbalik membelakangi meja interogasi.
Langkahnya pelan dan terdengar santai.
Suara sepatu hak rendahnya menggema pendek di lantai semen saat ia berjalan menjauh beberapa langkah dari meja logam itu.
Tawanan tersebut kembali tertawa pendek sambil meludahkan darah ke lantai. Wajahnya masih penuh seringai meremehkan, seolah yakin wanita tersebut memilih mundur setelah dipermalukan di depan banyak orang.
Namun ... tanpa diduga.
Brak!
Suara benturan keras menggema memenuhi seluruh ruangan.
Dalam satu gerakan cepat, Aveline kembali berbalik, kaki rampingnya menghantam sisi meja logam itu dengan tendangan penuh tenaga.
Meja besi berat tersebut langsung bergeser brutal ke belakang bersama tubuh tawanan yang masih diborgol di atasnya.
“Ugh—khh!”
Tubuh pria itu tersentak keras.
Dadanya langsung terhimpit brutal oleh sisi meja saat kursinya terdorong kasar ke belakang. Kedua tangannya yang masih terborgol di atas permukaan besi ikut tertarik paksa sampai bunyi rantai borgol berdenting nyaring memenuhi ruangan.
Krak!
Salah satu kaki meja retak akibat benturan keras tadi.
Bagian samping logamnya bahkan sedikit penyok setelah menghantam tubuh pria itu dengan brutal.
Tawanan tersebut langsung batuk kasar bercampur darah. Wajahnya yang tadi penuh seringai berubah kacau dalam sekejap. Napasnya tersengal berat sementara tubuhnya terjepit di antara meja dan sandaran kursi yang nyaris patah di bagian belakang.
Rasa sakit itu jelas bukan sekadar pukulan biasa.
Borgol di kedua tangannya tertarik begitu keras hingga kulit pergelangan tangannya langsung lecet dan berdarah lebih parah. Bahunya ikut tertarik paksa ke belakang sampai pria itu sempat mengeluarkan suara tertahan saat mencoba bergerak.
Namun tubuhnya nyaris tidak bisa bergerak sama sekali.
Ruangan membeku total. Salah satu prajurit refleks mundur setengah langkah dengan wajah pucat. Yang lain hanya berdiri kaku sambil menatap meja retak itu tanpa suara.
Bram sendiri sampai tidak sadar rahangnya mengeras.
Sedangkan William ... tatapannya tidak lepas sedikit pun dari Aveline.
.
.
.
Bersambung
Foto hanya pemanis😍