Laras Kusuma Widjaya adalah definisi gadis sempurna: ningrat, cantik, dan sangat penurut. Hidupnya adalah deretan protokol kaku. Masalahnya hanya satu, Laras tidak tahu cara bilang "tidak"—bahkan saat Bara, cowok paling pembuat masalah di sekolah, mengajaknya melakukan hal paling gila dalam hidupnya.
Semua hal nyeleneh yang dilarang keras oleh keluarganya, justru menjadi pintu keluar bagi jiwa Laras yang selama ini terkekang. Namun, saat perasaan mulai tumbuh melampaui batas kasta, tembok tradisi menuntut ketaatan yang mustahil ia sanggupi. Di antara tuntutan keluarga dan debaran jantung yang tak masuk akal, Laras harus memilih: tetap menjadi putri mahkota yang sempurna, atau membiarkan gelar ningratnya hancur berantakan demi satu-satunya kebebasan yang pernah ia rasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penavana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Takdir Terlalu Asli
Keesokan harinya, SMA Merah Putih diselimuti udara panas yang menyengat. Laras berjalan menyusuri koridor terbuka yang menghubungkan gedung perpustakaan dengan kelasnya. Ia memeluk sebuah buku tebal dengan langkah anggun dan tenang seperti biasanya.
Laras merasa ada sepasang mata yang memperhatikannya. Ia berhenti sejenak di tengah lapangan, lalu entah mengapa, instingnya menuntunnya untuk mendongak ke arah rooftop gedung lama yang jarang dikunjungi murid lain.
Di sana, di balik pagar pembatas besi yang berkarat, sosok jangkung berdiri dengan santai.
"Bara?" batin Laras.
Bara sedang menyandarkan sikunya di pagar, sebatang rokok yang belum dinyalakan terselip di jemarinya. Jaket denim kusamnya berkibar tertiup angin kencang di ketinggian. Dari jarak sejauh itu, Laras masih bisa merasakan tajamnya tatapan pria itu yang terkunci lurus ke arahnya.
"Kebetulan macam apa ini?" gumam Bara.
Bara tidak berteriak. Ia hanya mengangkat tangan kanannya, menunjukkan sebuah benda putih yang berkibar tertiup angin. Sapu tangan milik Laras. Bara memberikan isyarat dengan kepalanya, sebuah gerakan kecil yang menyuruh Laras untuk naik ke sana. Itu bukan ajakan, melainkan perintah yang tidak bisa dibantah.
Laras menaiki anak tangga terakhir menuju rooftop dengan napas yang sedikit memburu. Saat ia membuka pintu besi yang berat, suara deru angin menyambutnya. Bara masih di sana, membelakanginya, menatap hamparan kota dari ketinggian.
"Sapu tangan ini sudah bersih," ucap Bara tanpa menoleh. Suaranya serak, nyaris tenggelam oleh suara angin.
Bara membalikkan badan. Ia berjalan mendekat, langkah sepatunya beradu dengan beton lantai yang kasar. Ia mengulurkan sapu tangan itu. Laras meraupnya dengan cepat, namun Bara tidak segera melepaskannya. Mereka berdua memegang ujung kain yang berlawanan.
"Terima kasih," ucap lirih Laras, mencoba menarik kain itu, namun Bara menahannya.
"Lo tau kalau kita satu sekolahan?" tanya Bara.
Laras hanya menggangguk.
"Hmm.. Sangat menarik! Sekalian ada yang mau gue tanya"
Bara mencondongkan wajahnya hingga Laras bisa mencium aroma maskulin pria itu.
"Jalan Anggrek Blok 8 Nomor 34. Sejak kapan lo tinggal di sana?"
"Kenapa? Ada yang salah?" jawab Laras kembali bertanya.
Sesaat, hening menyergap. Hanya suara angin yang menderu keras di ketinggian rooftop gedung lama itu. Tiba-tiba, bahu Bara berguncang. Seulas senyum miring muncul, yang kemudian pecah menjadi tawa lepas. Bara tertawa terbahak-bahak, sebuah tawa yang terdengar sangat tulus namun penuh nada ejekan. Ia sampai harus sedikit membungkuk, memegangi perutnya, sementara Laras hanya bisa berdiri terpaku dengan wajah yang mulai memanas karena bingung.
"Kenapa tertawa?" tanya Laras, suaranya sedikit meninggi karena tersinggung.
Bara meredakan tawanya, meski sisa-sisa geli masih menari di matanya yang kecokelatan. Ia melangkah maju, memperkecil jarak.
"Tuan Putri, Tuan Putri..." Bara menggelengkan kepala, wajahnya kini hanya berjarak beberapa senti dari Laras.
"Dari ribuan alamat di kota ini, dari ratusan gang sempit yang bisa lo karang buat bohongin gue... lo malah nyebut alamat rumah gue sendiri," Bara kembali tertawa.
Mata Laras membelalak. Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat.
"Apa?" ucap lirih Laras terkejut.
"Jalan Anggrek Blok 8 Nomor 34. Itu rumah gue," bisik Bara, suaranya kini berubah menjadi godaan yang tajam. "Lo tahu apa artinya ini?"
Laras terdiam, kehilangan kata-kata. Lidahnya terasa kelu.
Bara menyeringai nakal, ia menarik sedikit sapu tangan itu hingga tubuh Laras condong ke arahnya.
"Ini namanya takdir. Kayaknya semesta emang mau lo main ke rumah gue. Atau jangan-jangan... lo diem-diam udah sering merhatiin gue sampai tahu alamat rumah gue, hm?"
Wajah Laras seketika merona merah padam—bukan karena malu yang manis, tapi karena harga dirinya yang ningrat merasa tertangkap basah dalam kebodohan yang luar biasa.
"Aku tidak sengaja! Aku benar-benar tidak tahu kalau itu rumah kamu!" bela Laras dengan suara bergetar.
Bara tertawa kecil lagi, kali ini lebih lembut. Ia melepaskan sapu tangan itu ke tangan Laras, lalu menyelipkan tangannya ke saku jaket denimnya dengan gaya santai.
"Nggak usah panik gitu. Gue suka kok takdir yang kayak gini," goda Bara sambil mulai berjalan mundur menuju pintu keluar rooftop.
"Gue bakal tunggu lo di rumah 'kita' nanti malam, Tuan Putri. Jangan lupa bawa kuncinya... oh, sori, gue lupa kalau gue yang pegang kuncinya."
Bara mengedipkan sebelah matanya, lalu menghilang di balik pintu besi, meninggalkan Laras yang berdiri mematung di tengah hembusan angin.
⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️
Suasana kantin siang itu sedang riuh rendah. Laras duduk bersama Sekar di salah satu meja tengah. Sekar sedang asyik bercerita, namun fokus Laras terpecah saat matanya menangkap sosok Bara yang baru saja memesan makanan. Bara berbalik membawa nampan berisi semangkuk bakso dan es teh. Ia mulai melangkah, matanya sempat bersitubruk dengan Laras. Ada kilat jenaka yang baru saja muncul di mata Bara—ia tampak berniat menghampiri meja Laras untuk melancarkan godaan "alamat rumah" andalannya. Namun, belum sempat langkah itu sampai, sebuah kaki terjulur dengan sengaja ke tengah jalan.
BRAKK!
Bara tersungkur. Nampannya terlempar, mangkuk baksonya pecah berkeping-keping, dan kuah panas menyiram jaket denim serta lengannya. Gelak tawa pecah seketika. Di sana berdiri gerombolan siswa yang membenci Bara—dipimpin oleh seorang cowok bertubuh gempal bernama Edwin.
Bara terdiam di lantai. Ia memejamkan mata, rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya menegang. Ia sedang berusaha mati-matian menahan sesuatu di dalam dirinya. Sesuatu yang jika lepas, tidak akan bisa dihentikan.
Bara mulai bangkit berdiri perlahan. Ia menyeka sisa kuah di jaketnya, menatap Edwin dengan tatapan dingin yang kosong. Ia masih diam, mencoba menelan amarahnya bulat-bulat.
Melihat Bara yang hanya diam, Edwin merasa di atas angin. Ia tertawa semakin keras, lalu maju satu langkah dan menepuk bahu Bara dengan kasar.
"Duh, kasihan banget. Kenapa diem aja? Takut ya?" Edwin menoleh ke arah teman-temannya sambil tertawa ngakak. "Woi, liat nih! Ternyata mentalnya nggak jauh beda sama bapaknya yang pecundang itu! Seno! Seno! Bangun, Seno! Anak lo cupu banget!"
Seketika, atmosfer di kantin seolah membeku.
Nama itu. Nama bapak Bara.
Dalam satu kedipan mata, segalanya berubah. Laras tidak sempat melihat bagaimana mulainya, yang ia tahu hanyalah Bara sudah menerjang Edwin dengan kecepatan yang mengerikan.
BUGH!
Satu pukulan mentah mendarat tepat di rahang Edwin, membuatnya terjungkal menabrak meja kayu. Tapi Bara tidak berhenti. Ia menarik kerah baju Edwin, menyeretnya jatuh ke lantai, dan menghujaninya dengan pukulan brutal. Wajah Bara yang biasanya penuh seringai kini gelap, kosong, dan sangat mengerikan.
"Sekali lagi lo sebut nama bokap gue dengan mulut najis lo itu..." suara Bara terdengar rendah, bergetar karena amarah yang meluap, "...gue bunuh lo!"
Bara mengangkat kepalannya lagi, namun suaranya tertahan oleh pekikan histeris murid-murid di kantin. Edwin sudah tak berdaya, wajahnya bersimbah darah. Teman-teman Edwin yang lain bahkan tidak berani maju, mereka mematung, nyali mereka ciut melihat Bara yang berubah menjadi monster.
Laras menyaksikan semuanya dengan tubuh bergetar. Ia tertegun, melihat sisi Bara yang selama ini hanya ia dengar sebagai rumor.
"BARA AKSARA! BERHENTI!" teriakan melengking dari pengeras suara portabel merobek kekacauan itu.
Pak Umar dan dua guru olahraga berlari menerjang kerumunan, berusaha menarik Bara menjauh dari Edwin yang sudah setengah pingsan. Bara tidak melawan guru-guru itu, namun matanya tetap tertuju pada Edwin dengan napas yang memburu hebat.
"Ikut ke ruang BK! Sekarang!" bentak Pak Umar.
Bara berdiri tegak, menyisir rambutnya yang berantakan ke belakang dengan tangan yang masih berlumuran darah Edwin. Sebelum berjalan pergi menuju ruang BK, matanya sempat melirik ke arah meja Laras. Tatapannya tidak lagi jenaka. Hanya ada kekosongan yang dalam dan menyakitkan.
Laras hanya bisa diam mematung, menatap punggung tegap itu menjauh.
Ijin mampir🙏