NovelToon NovelToon
Transmigrasi Petarung Ke Istri Yang Tidak Dianggap

Transmigrasi Petarung Ke Istri Yang Tidak Dianggap

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Fantasi Wanita
Popularitas:24.6k
Nilai: 5
Nama Author: Jeje Jennifer

Xaviena Avanzi seorang petarung bebas di Mexico tidak pernah tau siapa orang tua kandungnya.
Hidup seorang diri membuat Xaviena hanya peduli dengan dirinya saja. Tidak pernah berusaha mengetahui dunia luar, dan hanya fokus pada pekerjaannya sebagai petarung. Xaviena tertidur panjang karena diracuni oleh seorang pria yang tidak terima dikalahkan oleh gadis itu.

Saat membuka mata, dia terkejut karna terbangun di tubuh seorang wanita asal Spanyol yang sudah menikah. Bukan pernikahan yang bahagia tapi pernikahan yang hanya membawa kesakitan dan penolakan untuk sang wanita. Xaviera bertekat untuk membalas semua kesakitan dan perbuatan suaminya.
Bagaimana jika jiwa Xaviena, si petarung bebas yang bodoh amat, masuk ke dalam tubuh Xaviera, si istri yang sangat mencintai suaminya?
Dan apa yang terjadi pada tubuh Xaviena? ikuti kisah mereka.

Ayo mampir, dijamin ga bikin bosen!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeje Jennifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Thirty four

Matahari belum sepenuhnya tenggelam ketika sebuah badai tak kasat mata mulai berembus di dalam ruang rapat utama lantai tertinggi Costa Tower. Xaviero terpaksa harus hadir dalam pertemuan penting ini meninggalkan istrinya.

Pertemuan sore itu bukan sekadar pertemuan bisnis legal biasa ini adalah konvensi rahasia yang dihadiri oleh tujuh petinggi sindikat dunia bawah dari berbagai belahan Eropa dan Asia mulai dari faksi logistik pelabuhan Italia, perwakilan kartel senjata daratan timur, hingga mafia perdagangan rute laut utara.

Semua yang duduk di mengelilingi meja panjang berlapis marmer hitam itu adalah manusia-manusia berdarah dingin yang terbiasa menentukan hidup mati seseorang lewat selembar dokumen.

Namun, fokus utama di dalam ruangan kedap suara itu justru tertuju pada pria yang duduk di kursi kebesaran di ujung meja. Xaviero Costa.

Sore ini, sang penguasa tertinggi tampil dengan atmosfer yang jauh lebih mengerikan dan mengintimidasi dari biasanya. Tubuh tegap menjulangnya dibalut setelan jas hitam, tetapi ada satu pemandangan asing yang membuat para kolega asing itu saling lempar pandang dengan dahi berkerut. Xaviero mengenakan masker kain hitam yang menutupi setengah wajah tegasnya hingga ke batas hidung.

Di balik masker itu, rahang Xaviero mengeras sempurna. Sepasang netranya menyorotkan kilat pembantaian yang murni. Pria itu sedang berjuang mati-matian menahan gejolak mual yang luar biasa hebat di ulu hatinya.

Di indra penciumannya yang sedang rusak membuat aroma cerutu Kuba, parfum mawar buatan, hingga bau keringat kecemasan dari orang-orang di ruangan itu berubah menjadi kombinasi bau ma*at dan zat kimia busuk yang menusuk langsung ke saraf otaknya.

Tangan kiri Xaviero yang dihiasi jam tangan mewah tampak mencengkeram erat sapu tangan sutra milik Xaviera di balik saku jasnya satu-satunya penawar racun yang tadi sempat ia hirup di dalam mobil.

Namun di ruang rapat ini, ia harus mempertahankan wibawanya sebagai komandan tertinggi aliansi.

Di sisi tengah meja, seorang bos sindikat rute laut asal Marseille bernama Pierre Dupont, diam-diam memberikan kode mata kepada seorang wanita muda yang berdiri di belakang kursinya. Wanita itu bernama Elena, seorang pembunuh bayaran sekaligus penggoda terlatih yang sengaja dibawa Pierre melintasi perbatasan Spanyol dengan satu misi khusus yaitu menaklukkan atau setidaknya menyandera perhatian Xaviero Costa lewat pesona fisiknya.

Pierre tidak tahu atau mungkin mengabaikan rumor bahwa sejak dulu, jauh sebelum menikahi Xaviera, Xaviero Costa terkenal sebagai pria yang 'anti wanita'. Pria itu memiliki reputasi kejam yang tidak segan-segan memotong tangan siapa pun yang berani menyentuh kulitnya tanpa izin.

Elena melangkah maju dengan gerakan yang teramat anggun dan ritmis. Gaun merah satinnya yang berpotongan rendah bergesekan halus dengan udara, menyebarkan aroma parfum musk yang sengaja dirancang untuk merangsang indra penciuman pria. Namun, begitu aroma parfum musk itu menguar dan mendekati area kursi Xaviero, perut sang Tuan Costa seketika berkedut kasar. Bau itu di hidung Xaviero terasa seperti bau bangkai besi yang membusuk.

Xaviero reflek memejamkan matanya erat, tangan kanannya di atas meja mengepal hingga buku-buku jarinya memutih. Sialan, menjauh dariku, jal*ng, umpat Xaviero di dalam hatinya yang mulai mendidih oleh amarah.

Sementara itu, tepat lima menit setelah mobil Rolls-Royce Xaviero meninggalkan pelataran mansion Costa, sebuah mobil SUV hitam lain diam-diam menyusul di belakang. Di dalam kursi penumpang, Xaviera duduk dengan tangan mengusap lembut perut ratanya. Entah karena bawaan bayi mereka yang mendadak merindukan kehadiran sang ayah, atau karena rasa tidak nyaman yang tiba-tiba melanda, Xaviera merasa harus berada di dekat Xaviero sore ini.

Saat ini, Xaviera sudah melangkah keluar dari lift VIP lantai teratas Costa Tower. Langkah kakinya yang dibalut sepatu berhak rendah terdengar ritmis di atas lantai marmer steril. Beberapa pengawal divisi satu Costa yang berjaga di depan pintu ganda ruang rapat langsung menegakkan posisi dan membungkuk takzim, tidak berani mengeluarkan suara sedikit pun saat Nyonya Besar mereka memberi isyarat dengan telunjuk di bibir agar tetap diam. Xaviera memilih berdiri tepat di depan pintu kaca tebal yang sedikit retak ruang rapat, memperhatikan situasi dari luar tanpa berniat mengganggu.

Di dalam ruangan, Elena sudah berdiri tepat di samping kursi Xaviero. Dengan keberanian yang didorong oleh perintah bosnya, wanita itu membungkuk sedikit, membiarkan tubuhnya mendekat ke arah bahu kokoh Xaviero.

"Tuan Costa," bisik Elena dengan suara yang dibuat serak memikat, jemari lentiknya yang dihiasi kuku merah darah perlahan merayap naik, berniat menyentuh kerah jas hitam Xaviero. "Mungkin... Anda butuh bantuan untuk merilekskan ketegangan sore ini? Anda terlihat sangat... tidak nyaman."

Sentuhan ujung jari Elena baru saja menempel di helai kain jas Xaviero, dan aroma busuk parfumnya langsung menusuk sisa-sisa kesabaran sang Tuan Costa hingga hancur berkeping-keping.

Klik. Dor!

Suara letupan senjata berperedam jenis Barretta dari balik saku jas Xaviero memotong kalimat Elena seketika.

Semuanya terjadi dalam fraksi detik yang teramat cepat dan mematikan. Elena bahkan tidak sempat berteriak ketika sebutir timah panas menembus tepat di tengah keningnya. Matanya membelalak horor, dan tubuh rampingnya langsung ambruk bergedebuk di atas lantai marmer, menciptakan genangan merah pekat yang perlahan melebar di dekat sepatu kulit mahal Xaviero.

Seluruh ruangan rapat seketika membeku. Para bos dunia bawah dari berbagai negara itu reflek menegakkan tubuh, beberapa di antaranya bahkan sudah menyentuh sandaran senjata di balik jas mereka, namun mereka urung menariknya saat melihat moncong senjata Xaviero kini sudah berpindah arah.

Xaviero berdiri dari kursinya. Tubuh tingginya yang menjulang tegap memancarkan aura kematian yang begitu pekat dan pekat, sanggup mencekik pasokan oksigen di dalam ruangan. Tanpa melepaskan maskernya, ia melangkah maju, mengitari meja marmer hitam, dan langsung menodongkan laras senjatanya tepat di antara kedua mata Pierre Dupont—bos dari wanita yang baru saja ia eliminasi.

"A-Tuan Costa... apa maksudnya ini?!" gagap Pierre, wajahnya seketika pucat pasi, keringat dingin bercucuran membasahi pelipisnya saat merasakan dinginnya besi senjata menempel di kulit keningnya. "Dia hanya ingin menyapamu!"

"Aku tidak suka disentuh," desis Xaviero Costa. Suara baritonnya di balik masker terdengar sangat rendah, ketat, penuh dengan penekanan mutlak yang sanggup membuat bulu kuduk siapa pun berdiri. Setiap kata yang keluar dari bibirnya seperti ketukan palu hakim di ruang eksekusi. "Sejak dulu, aturan di aliansi ini tidak pernah berubah. Siapa pun yang lancang mendekatiku tanpa izin... artinya mereka sudah bosan hidup."

Xaviero menekan moncong senjatanya sedikit lebih dalam, memaksa kepala Pierre mendongak pasrah. "Dan untukmu, Dupont... membawa jal*ng busuk untuk memancing emosiku di rumahku sendiri adalah kesalahan terbesar dalam hidupmu."

Tatapan mata Xaviero yang memerah menatap dingin ke arah Pierre yang sudah gemetar hebat di kursinya. Pria Costa itu memberikan tatapan mengintimidasi yang mutlak ke sekeliling meja makan rapat, memberikan peringatan tak tertulis kepada lima bos kolega asing lainnya untuk tidak ada yang berani bertingkah lancang atau mencoba menguji batas kesabarannya sore ini.

"Any last words, Dupont?" tanya Xaviero dingin, sebuah pertanyaan retoris yang menandakan vonis mati telah dijatuhkan sepihak.

"T-Tuan, tun—"

Dor!

Satu tembakan dilepaskan tanpa ragu. Kepala Pierre terkulai ke belakang, menyusul sang bawahan ke alam baka dalam hitungan detik.

Di lantai marmer, dua ma*at kini tergeletak berdampingan dengan genangan merah yang kian meluas.

Namun, pemandangan mengerikan itu tampak seperti hal biasa bagi para petinggi dunia bawah yang tersisa di ruangan tersebut. Mereka hanya memperbaiki posisi duduk mereka, kembali melipat tangan di dada dengan wajah datar seolah-olah baru saja menyaksikan selembar kertas dokumen yang robek dari atas meja.

Tidak ada jeritan ketakutan, tidak ada kepanikan masal. Ini adalah hukum rimba dunia bawah yang sah.

Di luar pintu kaca, Xaviera yang menyaksikan seluruh adegan pembantaian cepat itu sama sekali tidak menunjukkan raut wajah takut atau ngeri. Alih-alih gemetar, sepasang netra jernih Nyonya Besar Costa itu justru berkilat bangga. Sudut bibirnya melengkung membentuk senyuman manis yang dipenuhi kepuasan.

Ia selalu menyukai sisi dominan dan kejam suaminya jika menyangkut perlindungan harga diri dan kesetiaan hubungan mereka.

Lagipula, wanita tadi memang pantas menerima peluru karena berani menebarkan aroma parfum busuk di dekat suaminya yang sedang sensitif.

Xaviera tahu suaminya butuh waktu untuk menyelesaikan sisa rapat pembersihan ini. Tanpa berniat merusak momen intimidasi Xaviero, Xaviera perlahan memutar tubuhnya, melangkah anggun meninggalkan area depan pintu rapat menuju ke ruang kerja pribadi Xaviero yang terletak di ujung koridor yang sama untuk menunggu di sana dengan tenang.

Xaviero perlahan menurunkan senjatanya, melirik ke arah sisa kolega rapat yang kini menatapnya dengan kepatuhan total yang mutlak. Ia menarik napas di balik maskernya, meraba sapu tangan kamomil milik Xaviera di sakunya, lalu kembali duduk di kursi kebesarannya dengan tenang. "Sekarang, kita bisa melanjutkan pembahasan rute logistik tanpa ada gangguan bau busuk lagi di ruangan ini. Ada yang keberatan?"

"Tidak ada, Tuan Costa," jawab mereka serempak, mengunci kepatuhan aliansi di bawah kuasa sang penguasa tertinggi.

Pertemuan rahasia itu akhirnya ditutup tiga puluh menit kemudian tanpa ada satu pun interupsi atau perdebatan tambahan. Sisa-sisa bos sindikat dari berbagai negara itu mengangguk patuh pada setiap poin regulasi baru yang didiktekan oleh Xaviero, sebelum mereka bergegas meninggalkan ruangan dengan langkah teratur melangkah hati-hati agar sepatu mahal mereka tidak menginjak genangan merah pekat yang masih segar di atas lantai marmer.

Bagi mereka, dua ma*at yang ditinggalkan di dalam ruangan itu adalah pesan visual yang sangat jelas: jangan pernah mengusik singa Costa yang sedang kehilangan selera humornya.

Begitu pintu ganda ruang rapat tertutup rapat dan menyisakan dirinya sendiri, Xaviero langsung menurunkan masker kain hitamnya dengan sentakan kasar. Ia menyandarkan punggung tegapnya pada kursi kebesaran, lalu meraba saku jas untuk mengambil sapu tangan sutra milik Xaviera. Pria itu menekan kain beraroma kamomil itu ke hidungnya, menghirupnya dalam-dalam seolah-olah tabung oksigennya baru saja dikembalikan setelah tenggelam di dalam lumpur hisap yang busuk.

"Riccardo," panggil Xaviero dengan suara bariton yang teramat serak dan lelah, tanpa melepaskan sapu tangan dari wajahnya.

Pintu samping terbuka, menampilkan Riccardo yang masuk dengan wajah datar tanpa riak, sudah sangat terbiasa dengan efisiensi kerja bosnya. "Saya di sini, Tuan Costa."

"Bereskan ruangan ini. Buang dua rongsokan itu ke tempat peleburan besi di pelabuhan barat," perintah Xaviero dingin.

"Dan pastikan seluruh lantai ini disemprot dengan disinfektan tanpa aroma. Jika aku masih mencium bau parfum musk murahan itu besok pagi, aku akan memotong anggaran operasional divisi keamananmu."

"Dimengerti, Tuan. Semuanya akan bersih dalam waktu lima belas menit," jawab Riccardo sigap, langsung memberi kode pada tim pembersih khusus yang sudah bersiap di luar dengan kantong pembungkus tebal.

Xaviero tidak menunggu hingga proses pembersihan dimulai. Tubuh tingginya bangkit dari kursi, melangkah lebar keluar dari ruang rapat yang pengap itu.

Tujuannya hanya ruang kerja pribadinya di ujung koridor, tempat di mana indra penciumannya mendeteksi keberadaan satu-satunya penawar racun yang paling ia butuhkan sore ini.

Di dalam ruang kerja pribadi Tuan Costa yang bernuansa kayu jati gelap dan mewah, Xaviera sedang duduk santai di atas sofa kulit hitam yang empuk. Kedua tungkai kakinya yang mulus disilangkan dengan anggun, sementara tangannya sibuk membolak-balik lembar majalah fashion terbaru yang sengaja diletakkan di sana. Wajah cantiknya tampak sangat tenang, sama sekali tidak terpengaruh oleh aroma kematian yang baru saja terjadi beberapa meter dari posisinya berada.

Brak.

Pintu ruang kerja dibuka dengan sedikit sentakan kasar, menampilkan sosok Xaviero yang melangkah masuk dengan rahang mengeras. Begitu sepasang netra gelapnya menangkap sosok Xaviera, seluruh ketegangan di bahu kokoh pria itu mendadak kendur.

Xaviero menutup pintu di belakangnya, menguncinya secara otomatis, lalu melangkah tergesa-gesa menghampiri sofa. Tanpa berkata apa-apa, ia langsung menjatuhkan tubuh besarnya di samping Xaviera, menarik tubuh ramping istrinya ke dalam pelukan posesif, dan menyurukkan wajah tegasnya seutuhnya di ceruk leher jernih sang istri.

"Xera... mi amor" gumam Xaviero, suaranya terdengar sangat parau, berat, dan dipenuhi rasa lega yang teramat sangat saat aroma manis kamomil dan vanila segar khas tubuh Xaviera kembali merajai indra penciumannya.

Xaviera terkekeh halus, meletakkan majalahnya ke atas meja kaca, lalu membiarkan kedua lengan lentiknya melingkar di sekeliling leher kokoh suaminya. Ia mengusap lembut rambut hitam legam Xaviero yang sedikit berantakan. "Bagaimana rapatnya, Daddy Xavi? Apakah berjalan lancar setelah kamu melepaskan dua tembakan?"

Xaviero sedikit menjauhkan wajahnya, menatap Xaviera dengan dahi berkerut.

"Kamu melihatnya?"

"Tentu saja," sahut Xaviera dengan binar mata yang berkilat bangga, jemarinya merayap naik mengusap rahang tegas Xaviero yang masih terasa kaku. "Aku berdiri tepat di depan pintu kaca tadi. Tembakanmu sangat presisi, Sayang. Dan aku sangat suka caramu memberi pelajaran pada jal*ng yang mencoba menyentuh jas suamiku dengan tangan kotornya."

Mendengar pujian dari sang istri, sudut bibir Xaviero perlahan melengkung membentuk senyuman miring yang teramat seksi sebuah ekspresi yang hanya berhak dimiliki oleh Nyonya Besar Costa. Rasa mual yang sedari tadi menyiksa lambungnya seolah menguap tak berbekas, digantikan oleh kehangatan gairah yang kembali menggelitik dadanya.

"Dia bau sekali, Xera. Seluruh ruangan itu berbau busuk," gerutu Xaviero, kembali mengecup sekilas leher jenjang Xaviera sebelum mengeratkan dekapannya pada pinggang ramping istrinya, seolah ingin menyatukan tubuh mereka agar tidak ada lagi celah udara yang tersisa. "Kenapa kamu menyusul ke kantor, hm? Bukankah dokter bilang kamu harus banyak istirahat di mansion?"

Xaviera tersenyum manis, menyandarkan keningnya pada kening kokoh Xaviero hingga napas mereka yang hangat saling berkejaran di udara. "Aku tidak bisa diam di mansion sementara bayimu di dalam perutku ini terus-menerus merindukan ayahnya. Dia bilang dia ingin berada di dekat daddy-nya yang galak ini agar tidak merasa mual."

Xaviero memejamkan matanya lekat-lekat, merasakan getaran kebahagiaan yang membuncah di dalam dadanya mendengar penuturan istrinya. Tangan besarnya turun, merayap lembut di atas perut rata Xaviera, mengusapnya dengan kelembutan yang teramat kontras dengan tangannya yang beberapa menit lalu digunakan untuk mencabut nyawa orang.

"Kalau begitu, tetaplah di sini bersamaku, mi amor" bisik Xaviero mutlak, menonjolkan sifat dominannya yang tidak terbantahkan. "Jangan pernah menjauh dari jangkauanku. Karena sore ini, dan sampai trimester ini berakhir, duniamu hanya berputar di sekitarku, dan duniaku sepenuhnya ada pada aromamu."

Xaviera hanya bisa melenguh pasrah, menerima ciuman dalam penuh pemujaan yang kembali mendarat di bibirnya, membiarkan diri mereka tenggelam dalam ketenangan protektif di atas lantai tertinggi Costa Tower.

1
Memyr 67
xaviera xaviero, kebolak balik namanta. dahlah babay
Memyr 67
episode membingungkan. mana yg xaviena mana yg xaviera, sepertinya othornya bingung. episode berikutnya nggak jelas mana xaviena mana xaviera aku babay
Memyr 67
xaviero masuk perangkap betmen
Memyr 67
visual xaviera benar benar cantik. siapa sih?
awesome moment
visual xavier yg gemoy mana? pake AI jg boleh
Osie
terkadang aku kurang suka inilah..udahlah disakiti sp mati eh gitubidup lagi typ aja bertahan jd istri..bego aja sih menurutku..apa g bisa dibuat xaviera lepas gitu dr xaviero..enek bgt
Osie
je jeeee aku mampir dimari nih sambil nunggu yg ono up..selalu suka cerita transmigrasi dgn sosok MC tangguh..smart..licik..gak menye menye n cantik..
Jennifer
nggak banyak yg suka ya, pdhl sdh sejauh ini🥲
Fitrian
woowwww😱
badassss🤣👍
Muft Smoker
kak terimakasih buat update an cerita ny ,,
duuuh kalo liat cara kerja mafia ,,
ngeri2 sedaaap🤭🤭🤭🤭
Muft Smoker
si kulkas raksasa udh ketemu pawang ny jugaa ,,
ayooooo qta lihaat masa2 Xander bucin ke axel 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker
si dingin Jovan udh punya pawang ny yg luar biasa poloos 🤭🤭🤭
Muft Smoker
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker
meski gx detail kak ,, tp bikin readers senyum malu2 kak🤭🤭🤭🤭
Kadek Muliarti
foto kurang jelas kak
Muft Smoker
😁😁😁😁 semua org udh menemukan kebahagiaan ny masing2 ,, cuma ad yg sadar ,, Dan ad beberapa yg gx sadar🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker
awwwww ,, axel ,, jgn bilang km melon makan melon 🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker
waaaah kakak skrang rajin up ,,
sayang byk2 ,, 🫰🫰🫰🫰🫰
Muft Smoker
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Muft Smoker
aaaa sweet km mereka ,,
mafia juga manusia kn ,, bisa sakit ,, bisa manja ,, bisa Nangis juga ,, 🤭🤭🤭🤭 ,,

semoga kalian selalu bahagia ,, 😁😁
lanjuuuut kak ,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!