Cerita Mengenai Para Siswa SMA Jepang yang terpanggil ke dunia lain sebagai pahlawan, namun Zetsuya dikeluarkan karena dia dianggap memiliki role yang tidak berguna. Cerita ini mengikuti dua POV, yaitu Zetsuya dan Anggota Party Pahlawan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A.K. Amrullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mundurnya 1st Shadow dari jabatannya
Ruang rapat bawah tanah Hexagonia terasa tidak masuk akal besarnya.
Bukan sekadar luas, melainkan dalam, seolah aula itu bukan dibangun, melainkan diukir langsung dari perut dunia. Langit-langitnya menjulang tinggi hingga tak terlihat ujungnya, dipenuhi obor-obor magis yang melayang tanpa penopang. Api mereka berwarna kebiruan pucat, berdenyut pelan seperti napas makhluk raksasa yang sedang tidur.
Cahaya itu menyinari pemandangan yang akan membuat siapa pun yang waras merasa kecil.
Ratusan ribu, bahkan mungkin jutaan, anggota Kultus Kehancuran memenuhi aula. Mereka berdiri berlapis-lapis, dari lantai utama hingga balkon batu yang melingkari dinding, membentuk lautan hitam yang nyaris tak berujung. Tidak ada suara. Tidak ada bisikan. Keheningan kolektif itu sendiri terasa seperti ritual.
Di bagian paling depan aula, sebuah patung raksasa Dewi Anarkia berdiri menjulang. Sosok dewi kehancuran itu digambarkan dengan enam sayap patah, wajah tanpa ekspresi, dan tangan terbuka seolah menyambut kehancuran itu sendiri. Retakan-retakan kecil di permukaannya memancarkan cahaya merah redup, membuatnya tampak hidup, atau menunggu.
Di hadapan patung itu, enam kursi besar tersusun setengah lingkaran. Masing-masing terbuat dari material berbeda, mencerminkan identitas penghuninya. Di belakang setiap kursi, banner keluarga tergantung megah, berkibar perlahan meski tak ada angin.
Di sanalah mereka duduk.
Six Shadows of Doomsday.
1st Shadow – Felicia Clover
Felicia duduk dengan sikap santai namun anggun, satu kaki menyilang di atas yang lain. Rambut merah tuanya menjuntai lembut di bahu, berkilau di bawah cahaya obor magis. Pakaiannya, agak terbuka namun dirancang dengan presisi, memancarkan aura seorang penyihir kelas atas yang sadar akan kekuatannya.
Matanya yang berwarna emas berkilat tajam, penuh rasa ingin tahu, seolah seluruh aula ini hanyalah papan permainan baginya. Senyumnya tipis, menggoda, namun di baliknya tersembunyi sesuatu yang sulit dijelaskan, sebuah kedalaman, seolah ia bisa membaca isi pikiran siapa pun yang terlalu lama menatapnya.
2nd Shadow – Carl Horizon
Carl duduk dengan tangan bersedekap, tubuhnya tegap dan kokoh seperti pilar. Wajahnya keras, dihiasi bekas luka panjang di pipi, bukti dari pertempuran yang tak terhitung jumlahnya. Sebagai malaikat putih dari Celestial, sayapnya tersembunyi di balik jubah tebal, namun sesekali bergetar pelan, seolah bereaksi terhadap aura di sekitarnya.
Pakainya tertutup sepenuhnya, sederhana namun fungsional. Ia tidak butuh hiasan untuk menunjukkan siapa dirinya. Dari caranya duduk saja, jelas bahwa ini adalah sosok yang telah berdiri di tengah kiamat… dan keluar sebagai pemenang.
3rd Shadow – Theia Trent
Theia duduk dengan postur sempurna, punggung tegak, dagu terangkat sedikit. Keanggunan khas elf terpancar dari setiap gerakannya. Rambut pirangnya mengalir halus hingga ke punggung, kontras dengan mata zamrudnya yang dingin dan tenang.
Pakainya tertutup rapi, mencerminkan disiplin seorang jenderal. Tidak ada senyum di wajahnya, tidak ada ekspresi berlebihan, namun justru itu yang membuat auranya menekan. Dengan satu tatapan saja, ia bisa membuat seorang prajurit berlutut tanpa diperintah.
4th Shadow – Kyle Gregory
Kyle duduk dengan ekspresi santai, punggung bersandar nyaman di kursinya. Rambut putihnya berkilau, wajahnya tampan dengan garis tegas seorang ksatria. Ia mengenakan pakaian ksatria dengan armor biru khas keluarga Gregory, baju kulitnya terawat, bersih, terlalu bersih untuk seseorang yang bekerja di bayangan.
Berbeda dari Felicia yang misterius atau Theia yang dingin, Kyle memancarkan aura pria ideal: karismatik, cerdas, dan penuh perhitungan. Senyumnya hangat, dan justru itulah yang membuatnya berbahaya.
5th Shadow – Kaidou Shino
Shino duduk diam, tangan bertumpu di gagang katananya. Rambut cokelatnya diikat rapi dalam ponytail gaya samurai kuno. Kimononya sederhana, namun jelas dibuat dari bahan berkualitas tinggi.
Tatapannya tajam, fokus, dan dingin. Ia tidak bergerak, tidak bereaksi berlebihan, namun keberadaannya saja cukup membuat udara di sekitarnya terasa lebih berat. Ini adalah tipe orang yang tidak perlu mengancam. Semua orang tahu: sekali ia bergerak, seseorang akan menghilang dari dunia.
6th Shadow – Basir Al Farqi Saifuddin
Basir duduk dengan tubuh sedikit bersandar, tangan terlipat di atas perutnya yang bidang. Pakaiannya khas pedagang ulung, elegan, rapi, namun tanpa simbol militer. Rambut cokelat dan janggut tebalnya memberinya kesan bijaksana, hampir ramah.
Namun justru ketenangan itulah yang paling mengganggu. Di antara enam bayangan, Basir tampak paling santai, dan karena itu pula, paling berbahaya. Kata-katanya bisa menjatuhkan kerajaan tanpa satu tetes darah pun tumpah.
Di hadapan mereka, Kaede dan Ryunosuke berdiri.
Punggung mereka terasa dingin, bukan karena suhu, tetapi karena tekanan yang tak kasatmata. Enam tatapan itu, enam eksistensi yang bisa mengubah dunia, berada tepat di depan mereka.
Kyle melirik ke arah mereka dan tersenyum tipis.
"Selamat datang di pertemuan terbesar dalam sejarah kultus ini," katanya, suaranya menggema ke seluruh aula. "Hari ini, sejarah baru akan ditulis."
Felicia menyilangkan kakinya dengan anggun. Matanya yang berwarna emas menyapu ratusan ribu anggota kultus, sebelum akhirnya ia berbicara dengan suara lembut, namun memiliki bobot yang membuat seluruh aula terdiam.
"Aku, Felicia Clover, 1st Shadow of Doomsday... menyatakan keinginanku untuk mundur dari posisiku."
Sejenak, dunia seolah berhenti.
Lalu,
bisikan, gumaman, gelombang keterkejutan menyapu aula bawah tanah Hexagonia.
Kyle tetap santai, meski ada kilatan ketertarikan di matanya. Theia mengangkat alis tipis. Carl menghela napas panjang, seolah ini bukan hal yang sepenuhnya mengejutkannya.
Felicia berdiri dari kursinya, gaunnya bergoyang pelan.
"Rapat ini diadakan bukan hanya untuk pengunduran diriku," lanjutnya, "tetapi juga untuk memperkenalkan penggantiku."
Ia mengangkat satu tangan ke udara.
"Mulai hari ini, jabatan 1st Shadow akan diteruskan oleh adikku, Ferry Clover, dia lumayan kuat."
Dari sisi aula, seorang pemuda melangkah maju.
Ferry Clover.
Rambut merah tua seperti Felicia, namun lebih pendek dan acak-acakan. Matanya yang berwarna emas memancarkan ambisi mentah, liar, dan tak disembunyikan. Pakaiannya lebih tertutup, namun aura magis yang mengelilinginya begitu pekat hingga udara di sekitarnya terasa bergetar.
Felicia menatapnya sejenak, lalu berkata dengan yakin, "Dia lebih cocok untuk peran ini dibanding aku. Ke depannya, dia yang akan memimpin."
Semua mata kini tertuju pada Ferry.
Basir menyandarkan tubuhnya lebih dalam ke kursi, jarinya mengetuk sandaran tangan perlahan.
"Jadi," katanya dengan suara berat, "apa alasan utamamu ingin mundur?"
Felicia tersenyum santai.
"Aku menemukan cinta sejatiku."
Keheningan jatuh seperti palu.
Basir mendengus. "Cinta sejati? Sejak kapan seorang Shadow of Doomsday peduli dengan hal seperti itu?"
Felicia tidak kehilangan senyumnya. Dengan nada percaya diri, ia berkata, "Seorang pedagang di Eldoria. Dia juga ada di Hexagonia saat ini. Namanya... Zetsuya."
Gumaman kembali memenuhi aula.
Di antara kerumunan, Kaede dan Ryunosuke saling berpandangan.
"Zetsuya? Yang bener aja?" bisik Kaede, suaranya hampir tak terdengar.
"Itu merchant rendahan yang dulu ditendang keluar dari tim pahlawan, kan?" Ryunosuke berbisik balik. "Yang gak dikasih bekal sepeser pun sama kerajaan?"
Kaede mengangguk pelan. "Bagaimana bisa si Felicia Clover jatuh cinta sama dia?"
Ryunosuke menyipitkan mata, menatap Felicia dari kejauhan.
"Pasti ada sesuatu di balik ini."
Kaede menggigit bibirnya.
"Kalau ini benar… Zetsuya bukan lagi sekadar merchant biasa."
Setelah pernyataan mengejutkan Felicia, ruang rapat bawah tanah Hexagonia tidak langsung kembali tenang, ia membeku. Keheningan yang tercipta bukan keheningan biasa, melainkan tekanan berat yang menekan dada setiap orang yang hadir. Obor-obor magis yang melayang di udara berkedip tidak stabil, seolah ikut bereaksi terhadap fluktuasi mana yang mengalir liar di ruangan itu.
Namun, tak satu pun berani mempertanyakan keputusannya. Otoritas Felicia Clover sebagai 1st Shadow of Doomsday bukan sekadar jabatan, ia adalah hukum mutlak. Keinginannya adalah perintah, dan perintahnya adalah takdir.
Kyle Gregory akhirnya berdiri. Suara sepatu botnya menghantam lantai batu terdengar jelas, memecah ketegangan seperti palu hakim.
"Jika itu keputusanmu, maka kita akan mengadakan pemungutan suara untuk menetapkan Ferry Clover sebagai pengganti."
Tak ada perdebatan. Tak ada argumen. Di ruang seluas itu, ratusan ribu, mungkin jutaan, anggota Kultus Kehancuran menyatakan suara mereka secara serempak. Gelombang persetujuan itu terasa seperti badai tak kasatmata yang menyapu aula.
Hasilnya mutlak.
100% setuju.
Felicia tersenyum puas. Senyum itu lembut, hampir hangat, namun bagi mereka yang peka terhadap mana, senyum itu terasa seperti bilah pisau yang baru diasah. Ia menoleh ke kursi kosong di sebelahnya.
"Ferry, naiklah. Mulai sekarang, kau adalah 1st Shadow."
Langkah kaki Ferry Clover menggema saat ia berjalan ke depan. Rambut merahnya, sedikit lebih gelap dari milik Felicia, bergoyang ringan mengikuti gerakannya. Jubah penyihir hitam dengan aksen emas membalut tubuhnya, dan dari celah-celah kain itu, aura sihir pekat merembes keluar, membuat udara di sekitarnya terasa lebih berat.
Matanya yang tajam menyapu ruangan. Tidak ada kegugupan. Tidak ada keraguan. Tatapannya tenang, tenang yang justru membuat siapa pun yang ditatap merasa sedang diukur, dinilai, dan diputuskan hidup-matinya.
"Aku, Ferry Clover, menerima posisi ini dan akan menjalankan tugas sebagai 1st Shadow of Doomsday."
Dalam satu tarikan napas yang sama, seluruh anggota Kultus Kehancuran berlutut. Suara tubuh-tubuh yang menghantam lantai batu menciptakan dentuman serempak, seperti gemuruh doa bagi dewa kehancuran itu sendiri.
Di tengah lautan manusia yang berlutut, Ryunosuke dan Kaede tetap berdiri, namun kaki mereka terasa berat, seolah tanah di bawah mereka ingin memaksa ikut tunduk.
"Felicia benar-benar serius..." gumam Kaede, suaranya nyaris tak terdengar di antara tekanan aura yang mencekik.
Ryunosuke mengepalkan tangan, urat-urat di lengannya menegang. "Dan sekarang, ada pemimpin baru. Entah ini kabar baik atau buruk bagi kita."
Felicia melangkah mendekat ke Ferry. Di tengah aura kehancuran yang masih menggantung di udara, gerakannya justru terlihat lembut. Ia mencium kening adiknya, sebuah gestur penuh kasih yang terasa salah tempat, hampir tidak wajar, di hadapan jutaan pemuja kehancuran.
"Kau sudah besar... Kau tahu apa yang harus dilakukan, bukan?" katanya, suaranya lembut namun memiliki bobot perintah yang tak bisa ditolak.
Ferry menatap kakaknya dengan penuh hormat. "Aku tidak akan mengecewakanmu, Onee-sama."
Felicia tersenyum tipis, lalu berbisik, cukup pelan, namun entah bagaimana kata-katanya terasa menggema ke seluruh sudut ruangan.
"Jangan mudah percaya pada siapapun, bahkan pada bayanganmu sendiri."
Ia kemudian berbalik.
Saat Felicia menatap seluruh anggota Kultus Kehancuran, udara berubah. Mana emas gelap memancar dari tubuhnya, membuat obor-obor magis meredup seketika. Patung Dewa Anarkia di belakangnya seakan tersenyum samar, bayangannya memanjang dan menelan lantai aula.
"Satu hal yang harus kalian semua ingat."
Suaranya tidak keras. Tidak perlu. Setiap kata menembus tulang, merambat ke sumsum, dan menggetarkan jiwa.
"Jika ada di antara kalian yang berani mengganggu hidupku dan Zetsuya..."
Tekanan mana melonjak tajam. Beberapa anggota kultus gemetar, keringat dingin mengalir deras, sebagian bahkan kesulitan bernapas.
"Aku tidak akan ragu untuk menghanguskan seluruh kultus ini."
Keheningan mutlak menyelimuti ruangan. Tidak ada gumaman. Tidak ada napas berani terdengar terlalu keras. Bahkan Ryunosuke dan Kaede bisa merasakan panas membakar di udara, panas yang tidak berasal dari api, melainkan dari niat pembantaian yang begitu murni dan nyata.
Felicia tersenyum manis.
Namun di balik senyum itu, tersimpan janji kehancuran yang tidak main-main.
"Kalian mengerti, bukan?"
Tak satu pun berani menjawab.
Tak satu pun berani mengangkat kepala.
Karena mereka semua tahu,
itu bukan hanya sekedar ancaman. Itu adalah sebuah kepastian yang akan terjadi jika tidak diindahkan.