NovelToon NovelToon
Pasal 7: Pernikahan Kontrak

Pasal 7: Pernikahan Kontrak

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Naura

Gara-gara utang ratusan juta dan insiden tumpahan wine di restoran, hidup Dokter Namira berubah 180 derajat. Ia mendadak dilamar oleh Maxwell Ezra Tanuwijaya—CEO dingin dan asing, yang ibunya merupakan pasien VIP-nya sendiri.

Awalnya Nami pikir ini cuma pernikahan kontrak biasa di atas kertas demi uang kompensasi. Sampai akhirnya ia membaca isi Pasal 7 di dalam map hitam itu:

"Pihak Kedua wajib melahirkan seorang anak hasil hubungan dengan Pihak Pertama selama masa kontrak berlaku."

Sanggupkah Nami bertahan dalam pernikahan sandiwara yang menuntut rahim dan harga dirinya ini?

Atau ia akan hancur sebelum kontrak itu selesai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Naura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26 - Gagalnya Proyek

Sisa pagi itu berlalu seperti mimpi buruk bagi Nami. Setelah buru-buru merapikan kembali ruang kerja Max agar tidak meninggalkan jejak, Nami kembali ke kamar utama dengan seluruh tubuh yang gemetar hebat.

Dadanya sesak, kepalanya pening, dan tepat saat ia duduk di tepi ranjang, sebuah rasa nyeri yang familier mendadak meremas perut bagian bawahnya.

Nami meringis, memegangi perutnya. Rasa kram itu datang perlahan, lalu memuncak hingga membuat dahi dan punggungnya basah oleh keringat dingin.

Dengan langkah kaku, ia bergegas menuju kamar mandi. Dan di sana, di atas hamparan kain putih celana dalamnya, noda merah pekat itu terpampang jelas.

Tamu bulanannya datang.

Bahu Nami yang tegang mendadak luruh. Di balik siksaan kram perut yang mulai menyiksa, sebuah senyum sarkas terukir samar di bibirnya yang pucat.

Nami tahu persis kontrak pernikahannya dengan Max sedang berjalan.

Di atas kertas, tugas utamanya adalah mengandung keturunan Tanuwijaya secepat mungkin.

Namun, alih-alih kecewa karena kegagalan bulan ini, Nami justru merasakan kelegaan yang luar biasa.

Syukurlah aku tidak hamil.

Bulan ini rahimnya kosong. Ia tidak harus mengandung benih dari keturunan Tanuwijaya.

Detik berikutnya, dadanya kembali sesak dihantam beban mental dari berkas yang ia temukan beberapa saat lalu.

B 1 TNJ.

Nami mencengkeram pinggiran wastafel dengan erat, menatap pantulan wajahnya sendiri di cermin yang buram.

"Kalau bukan Max, lalu siapa lagi? Plat nomor itu terpampang jelas di berkas perkara kematian orang tuaku," bisik Nami di kesendirian kamar mandi.

"Lagipula, untuk apa seorang Maxwell Ezra Tanuwijaya menyimpan berkas-berkas kecelakaan itu di ruang kerja pribadinya kalau dia tidak terlibat?!"

***

Waktu terus bergulir, merangkak maju hingga malam akhirnya tiba, membawa kegelapan yang terasa jauh lebih mencekam dari biasanya.

Di sudut kamar yang remang, Nami kini meringkuk di atas sofa. Dia duduk dengan kedua kaki yang tertekuk erat di depan dada, memeluk pahanya sendiri sembari menelusupkan kepalanya ke lutut karena rasa sakit di perutnya kian tak tertahankan.

Cklek.

Pintu kamar terbuka. Max melangkah masuk dengan setelan jas yang sudah sedikit berantakan setelah pulang larut malam.

Alis tebal pria itu langsung bertaut rapat begitu menyadari kamar mereka gelap, hanya menyisakan temaram dari lampu nakas.

Dan matanya yang tajam langsung menangkap sosok Nami yang meringkuk tak berdaya di atas sofa.

Mendengar rintihan kecil yang lolos dari bibir Nami, pria itu bergegas mendekat, berlutut di depan sofa, lalu mengulurkan tangan menyentuh dahi Nami.

"Namira? Kau kenapa?" Nada suara Max yang biasanya datar kini menyiratkan kepanikan yang kentara.

"Tubuhmu dingin sekali. Kita ke rumah sakit—"

"Jauhkan tanganmu, Max!" Nami menepis tangan Max dengan kasar. Dia mendongak.

Bukannya mundur atau melunak karena bentakan pelan Nami, Max justru mengunci tatapan itu.

Sepasang mata elangnya menyorot lurus, menembus sepasang mata Nami yang memerah dan basah.

"Jangan kekanak-kanakan. Kau sedang sakit," desis Max, suaranya memberat rendah.

Nami tertawa getir. Bawaan hormon datang bulan ditambah luapan emosi yang dipendamnya sejak siang membuat air matanya luruh begitu saja.

Dengan sisa tenaga yang ada, Nami bangkit berdiri dari sofa. Dia mengabaikan rasa nyeri yang luar biasa yang seolah meremas perut bagian bawahnya.

"Aku tidak sakit, Max," desis Nami, menantang tinggi tubuh Max yang kini ikut berdiri tegak di hadapannya.

Nami menatap pria itu dengan senyum yang dipaksakan.

"Lalu? Kenapa wajahmu pucat dan tanganmu dingin sekali?" tanya Max, melipat kedua tangan di dada dengan tatapan menuntut.

"Aku belum hamil, Max. Proyek bayimu bulan ini... gagal total."

Rahang Max seketika mengeras. Tatapannya menajam, berkilat dingin mendengar kalimat itu keluar dari bibir istrinya.

"Tamu bulananku datang di waktu yang sangat tepat," lanjut Nami, suaranya mulai bergetar hebat di ujung kalimat.

"Tuhan masih baik padaku. Dia tidak membiarkan aku melahirkan anak dari rahimku untuk pria sepertimu! Aku sangat bersyukur karena tidak perlu terikat selamanya dengan keluarga ini!"

Max maju satu langkah, memangkas jarak di antara mereka hingga Nami bisa merasakan hawa dingin yang mengintimidasi dari pria itu.

"Kau lupa dengan dokumen yang kau tanda tangani, Namira?" suara Max merendah, terdengar sangat berbahaya.

"Uang muka kontrak sudah ditransfer ke rekeningmu, seluruh fasilitas sudah kau nikmati. Kenapa? Sekarang kau mau berubah pikiran setelah semua uang itu masuk ke kantongmu? Jangan coba-coba bermain denganku."

"Uangmu?!" Nami selangkah maju, menantang dada tegap Max dengan napas yang memburu.

Tangisnya pecah, tapi emosinya meluap tak terkendali.

"Kau pikir aku peduli dengan uang sialanmu itu, Max?! Ambil kembali semuanya! Aku tidak sudi menjual rahimku pada monster yang sudah menghancurkan hidupku!"

"Namira!" Max mencengkeram kedua bahu Nami dengan kuat, memaksa wanita itu berhenti berteriak.

"Cukup! Apa yang sebenarnya terjadi padamu sejak siang tadi, hah?!"

"Kecelakaan lima tahun lalu di Jalan Metro Pondok Indah!"

Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Nami seperti bom yang meledak.

Max seketika tertegun. Cengkeramannya di bahu Nami mengendur. Keningnya berkerut dalam, menatap Nami dengan kilat kebingungan yang nyata di matanya.

"Apa... apa maksudmu?"

"Jangan berlagak bodoh! Mobil hitam mewah berpelat B 1 TNJ!" Nami berteriak di depan wajah Max, air matanya kian deras mengalir, meluapkan seluruh rasa kecewa dan hancur yang mencabik dadanya.

"Mobil itu yang menabrak mati ayah dan ibuku! Kau pembunuh, Max! Kau yang sudah menghancurkan hidupku!!"

Nami ingin meneriakkan semua makian yang ada di kepalanya, namun rasa kram di perutnya mendadak memuncak dengan sangat hebat.

Pandangannya mengabur, kepalanya berputar, dan kesadarannya runtuh seketika. Tubuhnya limbung ke depan.

Dengan kilat, lengan kekar Max bergerak menyangga tubuh Nami tepat sebelum wanita itu jatuh menghantam lantai.

Max mendekap tubuh ringkih yang sudah tak sadarkan diri itu ke dadanya.

Napas Max memburu. Matanya menatap wajah pucat Nami yang basah oleh air mata dengan ribuan pertanyaan yang berkecamuk di kepalanya.

Tangan Max gemetar samar, dan hawa dingin yang mencekam mendadak merayapi seluruh tubuhnya.

B 1 TNJ? Apakah kedua orang Nami adalah korban kecelakaan malam itu?

1
Linzyasila Linzyasila
ceritanya bagus kenapa gak up tiap hari?
Aksara Naura: karena sepi kak wkwk
total 1 replies
Aksara Naura
Akhirnya up lagi! sampai jumpa di next bab yahh💪
Linzyasila Linzyasila
lanjut dong thor
Aksara Naura: tungguin yahh
total 1 replies
Linzyasila Linzyasila
aku selalu menunggumu up lak😍
Aksara Naura: makasih yaaa kak🥺🫶🏻 ak jdi semangat wk
total 1 replies
Aksara Naura
Gimana bab ini???🤭
Risma Arsita
Max udah mulai suka sama dokter Nami🤭
Risma Arsita
Dokter Nami panik🤣
Risma Arsita
Nyimak, sepertinya cerita ini seru
Aksara Naura: makasihh! dan selamat kamu komentar pertama 🤭😭 makasih yaa, tunggu terus kelanjutannya!
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!