NovelToon NovelToon
Transmigrasi Gadis Angkuh

Transmigrasi Gadis Angkuh

Status: tamat
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Romansa / Reinkarnasi / Tamat
Popularitas:464.6k
Nilai: 5
Nama Author: Adira_Mutiara

Lisa Anggraeni , seorang gadis yang tengah berjalan dengan sahabatnya setelah dari aktifitas kuliah mengalami kecelakaan saat dia tengah menunggu bus yang ada di sebrang jalan. Dia menoleh dan melihat ada motor melanu cepat membuatnya mendorong Hani. Dan membuatnya menjadi korban kecelakaan. Lisa yang mengalami luka luka sempat di bawa ke rumah sakit. Namun sayang, saat dirinya sedang di operasi, nyawanya tak bisa di selamatkan.
Lisa yang tahu dirinya mengalami kecelakaan sebelumnya mengira dia selamat, dan berada di salah satu rumah sakit.
Tapi saat dia sadar justru, dia sedang di salah satu ruangan kosong gelap dan pengap.
Namun saat dirinya berusaha mencari jalan keluar, dia justru melihat bayangan seseorang dari kaca hias kecil.
"Aaaaaa... Wajah siapa yang ada di mukaku ini!!!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adira_Mutiara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nggak Jelas

jam sekolah akhirnya berakhir,

Rubby masih saja menggerutu kecil mengingat kejadian di perpustakaan hari ini. dia tidak menyangka jika pria itu mengajaknya menikah terang terangan.

Vera yang sedang berjalan beriringan dengan Rubby di buat bingung. ada apa dengan teman sebangkunya, karena sejak jam istirahat muka Rubby begitu masam. bahkan untuk tersenyum saja terasa begitu sulit di pandangan Vera.

"kamu kenapa?"

"nggakpapa kok. lagi cape aja," ujar Rubby dengan senyum kecil, "yakali aku jujur abis ketemu guru olahraga." lanjut Rubby dalam hatinya.

Sepanjang jalan menuju tempat penjemputan, Rubby masih mendumel tak jelas. dia juga merutuki dirinya sendiri yang tidak berhati hati dalam berucap.

*

*

"pak Rimba belum pulang?" tanya seorang guru wanita yang berdiri tak jauh dari Rimba.

"belum." singkatnya.

Wanita itu sedikit tertarik dengan jawaban yang begitu singkat. lalu sikap Rimba yang begitu dingin dan datar, biasa banyak guru pria yang berlomba mengajaknya berbicara. tapi dia merasa Rimba begitu berbeda dari guru pria lainnya.

wanita menatap sorot mata Rimba yang menuju salah satu tempat penjemputan. dan pikirannya langsung tertuju jika Rimba tengah menunggu seseorang menjemputnya.

"yang jemput belum datang pak? mau bareng sama saya?"

"tidak."

Setelah mengatakan itu, Rimba berbalik dan membuka pintu mobil yang ada di dekatnya. Rimba meninggalkan guru wanita dengan tatapan tak percaya jika dia di tinggalkan begitu saja.

padahal disisi Rimba, dia hanya menunggu wanitanya. Rimba sengaja menunggu Rubby di tempat parkir khusus guru, dia memastikan jika wanita incarannya sudah di jemput oleh mobilnya.

"sial, sombong sekali pria itu" ucap guru wanita yang melihat mobil Rimba pergi.

"awas aja. aku bakalan buat kamu bertekuk lutut di depan ku. bahkan kau akan memohon mohon agar aku bisa bersamamu." serunya dengan kesal.

*

*

Rimba duduk tenang di kursi belakang mobilnya, matanya tak lepas menatap mobil putih yang melaju beberapa meter di depan. Di balik kaca jendela yang sedikit terbuka, hembusan angin dingin menyapu wajahnya tanpa mengurangi fokusnya. Wajah Rimba tampak dingin dan serius, alisnya sedikit berkerut menandakan kekhawatiran yang disembunyikan rapat.

Di kursi depan, asisten yang setia duduk di samping sopir menyunggingkan senyum tipis sambil menatap Rimba sekilas. “Jika Anda seperti ini, musuh akan tahu kalau Anda sedang memantau putri dari Iram, Tuan,” ucapnya pelan, nada suaranya mengandung peringatan.

Rimba hanya mengangguk tanpa berkata sepatah kata. Matanya menatap lurus ke depan, tetap menjaga jarak aman tanpa menunjukkan gelagat mencurigakan. Ia tahu, setiap langkah Rubby harus terlindungi, perjalanan ini bukan sekadar perjalanan biasa.

Suara radio kecil di dashboard berdering, asisten itu segera berbisik, “Siapkan dua orang untuk menjaga gadis itu, Tuan.”

Rimba menoleh sebentar ke arah asisten, tatapannya penuh keputusan. “Baik,” jawabnya singkat, menegaskan bahwa tak ada ruang untuk kesalahan.

Mobil mereka melaju pelan mengikuti, bayangan putih mobil Rubby tetap menjadi titik fokus di mata Rimba yang penuh kewaspadaan. Ia tahu, keselamatan Rubby bukan hanya tanggung jawabnya, tapi harga dirinya sebagai pelindung.

"Tuan, pihak Regal menghubungi dan meminta persediaan senjata di pelabuhan malam ini," suara Bilu terdengar tenang namun penuh tekanan di balik kursi depan mobil Rimba yang mewah. Matanya sesekali menatap layar ponsel yang menampilkan pesan singkat berisi permintaan mendesak itu.

Rimba menghela napas panjang, lalu menatap tajam ke arah Bilu yang ada di depannya. "Siapkan senjata yang mereka minta. Pastikan harganya sesuai, aku tidak mau ada kesalahan yang bisa menarik perhatian polisi atau pejabat," ucapnya dengan nada dingin dan penuh kewaspadaan. Meski ia dikenal sebagai pebisnis sukses dengan reputasi bersih, sebenarnya ia menyembunyikan bisnis gelap yang sangat berbahaya.

Wajahnya tak memperlihatkan keraguan, hanya ketegasan yang membara di balik sorot matanya. Rimba tahu, setiap transaksi ilegal harus berjalan mulus tanpa celah sedikit pun, karena satu kesalahan kecil saja bisa menghancurkan segalanya.

"Langsung ke kantor," perintah Rimba singkat.

"Baik, Tuan," jawab sang supir yang berbelok di salah satu perempatan jalan.

Tak lama kemudian, BMW hitam berkilau itu meluncur pelan menuju gedung kantornya. Di balik kaca mobil, Rimba duduk tegap, tangannya menggenggam ponsel dengan erat, pikirannya sibuk menyusun strategi agar semua berjalan lancar.

Di jalan yang lain, mobil Rubby yang tan mencolok melaju dengan jarak cukup dekat. Dari balik jendela, beberapa sosok pengawal yang diperintahkan Bilu mengawasi setiap gerak-gerik mobil yang di tumpangi oleh Rubby, memastikan tidak ada gangguan yang mengancam jalannya bisnis rahasia tersebut. Atmosfer siang itu dipenuhi ketegangan, seolah setiap detik membawa ancaman yang siap meledak kapan saja.

*

*

Mobil hitam yang melaju pelan di jalanan kota itu berhenti tepat di depan gadis yang berdiri di pinggir trotoar. Mata Rubby yang tajam langsung menangkap sosok yang tak asing baginya—wajah yang selalu mengusik ketenangannya. Senyum licik merekah di bibirnya saat dia menurunkan jendela mobil perlahan, memperlihatkan ekspresi sinis yang menyayat.

"Wah wah wah, siapa ini?" suara Rubby mengalun penuh ejekan, menggantung di udara siang hari yang masih terasa begitu panas. Kepalanya mencondong sedikit keluar jendela, matanya menelusuri setiap inci sosok yang berdiri kaku, ragu tapi memaksa.

Gadis itu, yang selama ini membawa beban luka dan kesulitan dalam hidup Rubby, terkejut sekaligus gugup. Tubuhnya sedikit gemetar, tapi dia mencoba menyembunyikan rasa takut itu dengan senyum yang dipaksakan.

"Rubby, aku mau nebeng kamu dong," ucapnya dengan nada tak malu, seolah tak peduli pada masa lalu yang penuh derita itu.

Rubby mengangkat alis, menahan tawanya yang hampir pecah. "Eh, maaf, udah nggak muat," jawabnya dengan nada dingin dan penuh sindiran, sengaja menolak tanpa ampun.

"Tapi di samping kamu masih kosong."

Rubby menatap ke samping, lalu dia membuka resleting tas dan menumpahkan isi tasnya hingga bercecer di kursi sampingannya.

"Tuh liat, nggak muat kan." Gadis itu mendengus kesal melihat tingkah Rubby yang semakin menjengkelkan.

"Dasar pelit,"

Rubby menaikan satu alisnya, "kalo kamu mau di bagasi belakang masih kosong. Kamu rebahan di belakang aja. Ntar kalo udah sampe aku kabarin." ejek Rubby yang semakin senang melihat raut wajah gadis itu semakin kesal.

"Si*lan kamu, dasar anak haram." maki nya.

"Eits, gini gini anak orang kaya, jangan salah. Kamu aja sampe iri sama kehidupan aku. Jenia," Decak Rubby kesal, tapi dia bahagia melihat jenia.

Ya, gadis itu adalah Jenia yang sedang menunggu taksi online, semenjak kasus dengan Rubby. Beberapa fasilitas yang biasa Jenia dapatkan langsung di tarik oleh ayahnya karena marah dengan sikap putrinya.

Dan pastinya Rubby begitu bahagia melihat kesusahan yang Jenia rasakan. Mungkin ini adalah karma yang Jenia dapat karena sudah menyakiti Rubby dan membuat gadis cantik itu tiada.

"Jalan pak, terlalu panas karena melihat kebahagian aku yang sudah kaya raya dari kecil."

Dia menutup jendela dengan cepat, meninggalkan gadis itu berdiri terpaku di sana, merasakan dinginnya penolakan yang lebih menusuk daripada udara malam.

"Si*lan kamu Rubby. Awas aja, suatu saat aku bakalan balas dendam. Aku bakal buat kamu menjadi miskin."

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
nur fitriani
Bagus sekali
Eva Nietha✌🏻
Konflik lama bnyk blom usai ada lagi hmmm …. Lanjut
Eva Nietha✌🏻
Sonia atw sari hmmmmm
Eva Nietha✌🏻
Nah siapa ini sari ????mama Sonia kali ya
Eva Nietha✌🏻
Rencana hanyalah rencana saking bnyk rencana 😁
Eva Nietha✌🏻
Ruby plin plan ah tp lanjutkan lah 😁
Eva Nietha✌🏻
Nambah musuh lg hufffttttt 🤨
Eva Nietha✌🏻
Aldra psikopat banget sih nyeremin gitu
Eva Nietha✌🏻
Aldra ky psikopat serem ihhh
Eva Nietha✌🏻
Wah siapa tuh
Eva Nietha✌🏻
Makin seru lanjut lah yaa😁
Eva Nietha✌🏻
Seru
Sachiko Ethes
kadang sonia kdang sari,nm panjang makny rubi sonia sari ya
Hijriani Ibrahim
bingung dengan ceritanya
Allea
oon banget tokoh utamanya😑
this that PINK VENOM
wow
Puji Lina
nama mamanya berubah jadi sari toor?
Lucyana H
maaf thor bnyk typo ,jd bacanya kurang paham ..🤭
Lucyana H
thor jemari kali bukan jerami🤭,tlg di perhatikan lg penulisannya,msh bnyk typo 💪
awesome moment
rubby n anak hasil surrogate mother y? sonia pengin punya anak perempuan dan dina sahabatnya yg berkorban hamil tp malah meninggoy saat rubby lahir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!