Aurelia hanyalah seorang anak yatim piatu yang diadopsi keluarga penyihir terpandang. Dibesarkan bersama tiga putra berbakat, ia tumbuh ditengah kasih sayang sekaligus harapan untuk menjadi bagian dari keluarga itu selamanya.
Namun takdir berkata lain.
Dibalik senyumnya, Aurelia menyimpan kekuatan langka yang mampu mengubah dunia. Saat masa lalunya perlahan terungkap, ia dipertemukan kembali dengan sosok yang pernah menyelamatkannya di masa kecil—seseorang yang tak pernah berhenti mencarinya, sementara ia telah melupakannya.
Di antara takdir, sihir, dan perasaan yang tak pernah terduga, siapa yang akan dipilih oleh hati seorang penyihir terakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyushine / Widi Az Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 – Celah yang Terbuka
Angin berhembus pelan melewati Arena Celestia. Debu-debu halus masih beterbangan di udara akibat hentakan kaki Golem Penjaga beberapa saat sebelumnya. Di berbagai sudut arena, kelompok-kelompok peserta mulai terlihat kelelahan.
Sebagian dari kelompok ada yang terpaksa memilih untuk mundur, ada pula yang harus diselamatkan oleh para professor setelah kehilangan keseimbangan. Namun di sisi timur arena, kelompok Aurelia masih berdiri utuh.
Kelompok Aurelia memang belum berhasil menjatuhkan Golem, tapi tidak satu pun dari mereka mengalami luka berat. Aeron semakin mengamati setiap gerakan makhluk itu tanpa berkedip sedikit pun.
“Dia akan mengangkat lengan kirinya…” gumamnya pelan. “… lalu dia akan menghantam tanah. Aku sudah melihat pola seperti itu sebanyak tiga kali.” Lanjut Aeron yang tak melepaskan pandangannya dari makhluk raksasa didepan sana.
“Kau benar. Setelah itu, cahaya di dadanya akan menyala lebih terang.” Ujar Selene yang berdiri tepat disamping Aeron dan Lyra langsung meniup pelan rambut merah mudanya yang tertiup angin.
“Kalau begitu, kita tinggal membuatnya mengulang gerakan itu sekali lagi.”
Kini, Aurelia mulai menggengam kembali tongkat Astralisnya lebih erat lagi, sehingga kristal putih di ujung tongkat itu mulai memancarkan cahaya lembut seolah sedang merespon tekad pemiliknya.
Raungan Golem kembali terdengar, tubuhnya yang besar mulai bergerak maju dan setiap langkahnya membuat arena berguncang.
“Dia datang,” teriak Lyra dan Aeron segera mengangkat busurnya.
“Jangan menyerang dulu, kita tunggu sebentar.” Mereka tetap bertahan sesuai dengan intruksi yang diberikan oleh Aeron dan Golem pun semakin dekat dengan mereka. Saat Golem mengangkat lengan kirinya tinggi-tinggi, Aeron langsung berteriak. “SEKARANG.” Lyra langsung mengangkat kedua tangannya.
“Lux Mirage.”
Puluhan bayangan dirinya kembali bermunculan, namun kali ini lebih banyak. Satu menjadi lima, lima menjadi sepuluh, lalu dua puluh. Seluruh arena dipenuhi sosok Lyra yang berlari ke segala arah dan para penonton di tribun sampai kehilangan sosok aslinya, bahkan professor Elowen pun sampai tersenyum kagum.
“Ilusinya semakin stabil.” Profesor Cedric mengangguk setuju.
“Dia gadis yang cepat belajar.”
Golem menggeram marah, matanya bergerak liar mengejar puluhan bayangan itu, ia tidak lagi mengetahui mana yang asli, dengan marah ia menghantam tanah. Hantaman itu sampai membuat guncangan, namun semua yang dihancurkan hanyalah ilusi.
“Kau tertipu lagi,” seru Lyra seraya terkekeh.
“Itu dia.” Teriak Selene. “Dadanya.” Semua mata langsung tertuju ke arah dada kiri Golem, dan benar saja, retakan cahaya biru disana berdenyut jauh lebih terang dari sebelumnya. Lalu, Aeron langsung memasang tiga anak panahnya sekaligus.
“Relia. Hanya ada satu kesempatan,” Aurelia lekas mengangguk.
“Aku tahu.”
Aeron menarik napas panjang dan angin mulai berkumpul di sekeliling busurnya. Rumput di sekitar kakinya pun ikut bergoyang mengikuti aliran mana. “Triple Wind Pierce.” Tiga anak panah melesat bersamaan.
Whuusshhh~
Anak panah pertama mengenai bahu, yang kedua menghantam siku dan anak panah ketiga tepat mengenai lutut kanan, tubuh Golem pun kehilangan keseimbangan. Makhluk raksasa itu terdorong miring.
“Tahan dia.” Teriak Aeron. “Selene, sekarang.” Gadis mungil itu langsung membuka halaman lain dari buku mantranya. Tangannya masih sedikit gemetar, namun matanya kini penuh keyakinan.
“Terra Bind.” Puluhan rantai sihir berwarna keemasan muncul dari tanah. Rantai-rantai itu melilit kedua kaki Golem hingga membuatnya meraung keras untuk melepaskan diri dan retakan pada rantai sihir pun mulai muncul.
“Kuatkan.” Teriak Lyra. “Aku akan membantumu,” begitulah ucapnya lagi dan dengan cepat Lyra langsung menciptakan ilusi tanah yang membuat Golem salah memperkirakan pijakannya sehingga tubuh besarnya semakin kehilangan keseimbangan.
“Itu dia,” ucap Aeron. “Relia.” Kini Aeron pun berteriak dan Aurelia langsung melangkah maju.
Untuk sesaat, semua suara disekelilingnya seolah menghilang, karena yang ia lihat saat ini hanya cahaya biru di dada Golem. Tongkat Astralisnya mulai bersinar semakin terang, kristalnya memancarkan ribuan serpihan cahaya kecil yang berputar mengelilinginya.
Angin disekitar mulai berhenti seketika dan udara pun mulai terasa hening, bahkan para professor mulai memperhatikan dengan serius. “Mana Astralis bertambah lagi,” bisik professor Lyren, namun Aldric yang berada disana pun tidak menjawab.
Tatapan Aldric terus terfokus pada Aurelia, dan di kejauhan, Orion yang tengah berdiri di atas Menara Astralis perlahan mengepalkan tangannya.
“Jangan…” gumamnya. “… tolong jangan lepaskan terlalu banyak mana.” Lanjutnya lagi. Namun Aurelia tidak mendengar apapun, ia hanya mengingat satu hal, yaitu ucapan ibunya bahwa kekuatan yang paling besar bukan untuk menghancurkan, tetapi untuk melindungi.
Aurelia mengangkat tongkatnya hingga cahaya putih memenuhi seluruh arena,
“Stella Astra.” Sinar putih melesat lurus menuju dada Golem,
DUAAARRRR~
Ledakan cahaya memenuhi Arena Celestia, semua orang pun refleks menutup mata mereka dan gelombang mana menyapu seluruh arena. Debu-debu beterbangan, kristal-kristal cahaya di atas arena ikut bergetar dan untuk beberapa detik, tidak ada seorang pun yang bisa melihat apa pun.
Saat cahaya perlahan menghilang, semua mata membelalak. Retakan besar memenuhi dada Golem, cahaya biru yang semula memenuhi tubuhnya mulai padam satu per satu. Makhluk itu mundur beberapa langkah, tubuhnya bergoyang.
BRUUUKK~
Tubuh raksasa itu roboh ke tanah dan membuat seluruh arena berguncang. Keheningan memenuhi Arena Celestia, tidak ada satu pun murid yang bersuara, mereka hanya memandangi empat murid tahun pertama dan kedua yang masih berdiri di depan Golem.
“Hebat.” Gumam Profesor Cedric sekaligus menjadi orang pertama yang tersenyum.
“Mereka bahkan tidak saling berebut menjadi yang paling menonjol.” Profesor Elowen menambahkan seraya menulis sesuatu di papan penilaian. “Mereka saling melengkapi.” Tambahnya dan Aldric mengangguk setuju.
“Kerja sama yang baik.” Namun keheningan itu tidak berlangsung lama, dan tiba-tiba saja..
KRAAKK~
Suara retakan terdengar dari langit hingga membuat semua orang spontan mendongak, dan sebuah riak hitam muncul di udara, tepat di atas kubah pelindung Akademi Aetherion. Riak itu kecil, namun perlahan semakin membesar. Profesor Lyren yang melihat itu pun langsung berdiri.
“Itu…”
“Tidak mungkin.” Profesor Cedric pun membelalakkan kedua matanya dan Aldric langsung mengangkat tongkat sihirnya.
“Seluruh professor bersiap.” Suara tegasnya menggema ke seluruh arena dan para peserta saling berpandangan bingung.
“Apa yang terjadi? Itu bagian dari ujian?” Ucap salah satu peserta. Beberapa peserta mulai saling bertanya ketika retakan hitam itu semakin membesar di langit.
Di sisi lain Arena Celestia, Kael yang baru saja menangkis hantaman Golem Penjaga mendongakkan kepalanya. Tatapannya langsung berubah tajam ketika merasakan gelombang mana asing menyapu seluruh arena
“Tidak.” Gumam Kael dari medan yang berbeda dan tatapannya berubah menjadi tajam. “Itu bukan sihir akademi.” Tak jauh darinya, Lucien yang sedang memimpin kelompoknya segera menutup buku catatan kecilnya.
“Ada sesuatu yang sedang merusak penghalang Aetherion.” Sahut Lucien. Sedangkan Rowan yang berdiri di atas bongkahan batu hasil sihirnya ikut menatap langit, senyum santainya perlahan memudar.
“Kalau begitu, ini benar-benar keadaan darurat.”
Di langit, burung gagak hitam yang sejak tadi berputar, perlahan mengepakkan sayapnya. Matanya merah menyala, ia terus menatap lurus ke arah Aurelia. Lalu, tubuhnya berubah menjadi kepulan asap hitam.
Asap itu kini menembus celah kecil yang baru saja muncul pada penghalang akademi. Tidak ada satu pun murid yang menyadari hal itu kecuali satu orang—Orion. Saat ini, tatapan abu-abunya mendadak berubah menjadi sangat tajam.
“Jadi, mereka akhirnya bergerak.” Bisiknya lirih.
Tanpa menunggu lebih lama, tubuh Orion menghilang dari atas menara, menyisakan hembusan angin yang berputar di udara. Sementara itu, jauh dibalik hutan yang mengelilingi Akademi Aetherion, pria bertopeng putih perlahan mengangkat wajahnya ke arah langit. Di balik topeng tanpa ekspresi itu terdengar tawa pelannya.
“Permainan yang sebenarnya akhirnya dimulai.”