NovelToon NovelToon
I Love You Till Jannah

I Love You Till Jannah

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:140.7k
Nilai: 4.9
Nama Author: Novi Artikasari

Apa benar cinta tanpa restu dari kedua orang tua itu akan kandas di tengah jalan?

Pasrahkan semuanya pada Sang Maha Cinta.

Apa benar cinta akan hilang begitu saja ketika maut memisahkan?

Hanya dia dan Tuhan yang tahu jawabannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi Artikasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dilema Level Satu

Dengan langkah gontai Alia masuk ke dalam kamarnya. Ia menutup dan mengunci pintu kamarnya rapat-rapat. Kemudian ia menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur dan menelungkupkan wajahnya diatas bantal.

Alia sudah menangis. Ya, sedari tadi ia sudah menangis. Namun ingin rasanya ia berteriak. Meluapkan semua kekecewaan, kesedihan, dan sesak di dadanya.

Air mata itu terus saja membasahi kedua pipinya yang chubby. Lama ia di posisi itu dan akhirnya karena kelelahan menangis, ia terlelap dalam alam bawah sadarnya.

***

Alia mengerjapkan kedua kelopak matanya ketika ia mendengar suara ketukan yang berasal dari pintu kamarnya. Alia bangkit dan membuka pintu.

Ceklek....

Terlihat sosok sang Ibu dengan senyuman yang mengembang hangat di bibirnya. Ia memperhatikan lamat-lamat wajah anak gadisnya itu.

"Sudah hampir magrib, nak. Kamu mandi dulu ya." Ibu Nana mengelus lembut pipi Alia. Ia tahu pasti, tadi anaknya hanya menghabiskan waktu untuk menangis. Hal itu terlihat dari mata Alia yang sembab.

"Iya, Bu." Jawab Alia singkat. Kemudian ia mengambil handuk dan berjalan menuju kamar mandi.

Sebelum sampai di kamar mandi, Alia berpapasan dengan Pak Harry dan Alan di ruang keluarga. Ia tertegun sejenak, kemudian menundukkan pandangannya dan berlalu masuk ke kamar mandi tanpa sepatah katapun.

Pak Harry dan Alan sudah bersiap-siap untuk pergi ke surau dekat rumahnya untuk melaksanakan shalat maghrib berjama'ah. Sedangkan Alia dan Ibunya melaksanakan shalat maghrib di rumah saja karena itu lebih baik untuk kaum wanita.

Setelah shalat maghrib, Alan menghampiri Kakaknya yang masih mengurung diri di kamar pasca kejadian tadi siang. Alia hanya keluar kamar untuk mandi saja.

Alan duduk di tepi tempat tidur dimana sang kakak sedang berbaring membelakanginya.

"Kak..." Katanya sambil mengelus pelan bahu Alia. Namun Alia hanya berdehem saja.

"Ayo keluar, Ayah dan Ibu sudah menunggu di meja makan." Rayu Alan sambil menggenggam lengan Alia (Rayuan level satu).

"Kakak belum lapar, dik." Tolak Alia. Alan menggeleng pelan.

"Jangan seperti ini Kak, Kakak kan tahu seperti apa Ayah. Dia tidak akan marah berkepanjangan. Tadi juga kan Ayah cuma menasihati Kakak. Ayo kita makan bersama, aku sudah lapar banget nih." Sambil memegang perutnya Alan merengek (Rayuan level dua).

"Kamu makan saja dulu, dik." Alia masih tidak berubah posisi, menyembunyikan kesedihannya. Ia tidak ingin Alan melihat wajahnya yang berderai air mata.

"Kak Alia, setiap masalah pasti ada solusinya, Kak. Kenapa Kakak harus kalah sebelum berperang?.Semuanya belum berakhir, Kak." Kata-kata Alan mengena di hati Alia. Ia baru sadar bahwa ia tidak boleh lemah dan menyerah hanya karena satu penolakan dari Ayahnya.

Alia mengusap pipinya. Membersihkan sisa-sisa air mata yang menempel disana. Kemudian ia bangkit dan menatap Alan lamat-lamat. Senyum haru tersungging di bibirnya. Sontak ia langsung memeluk Alan.

Alan yang masih bingung dengan respon mendadak dari Kakaknya itu, lantas membalas pelukan Alia.

"Makasih ya dik. Makasih udah ngedukung aku." Alia menitikkan kembali air matanya, membuat kemeja yang dikenakan Alan basah. Alia sungguh tidak menyangka adik kecilnya itu bisa berbicara bijak dan dewasa. Merasakan hal itu, Alan langsung mengusap lembut punggung kakaknya.

"Sama-sama, Kak. Mulai sekarang harus tetap semangat ya. Jangan pantang menyerah. Kakakku kan selalu membanggakan. Ya sudah, ayo kita makan." (Rayuan level tiga)

"Tidak dik, kakak masih belum bisa bertemu dengan Ayah." Alia menolak kembali sembari melepaskan pelukannya dari Alan.

"Baiklah, kalau itu yang menurut Kakak terbaik saat ini. Kakak istirahat saja. Aku tinggal dulu ya." Alan mengelus pipi Alia dan keluar dari kamar Alia. Setelah bayangan Alan raib bersama daun pintu yang tertutup, Alia kembali membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Pandangannya mengarah ke langit-langit kamar.

"Maaf Ayah, bukannya aku benci. Aku hanya kecewa." Gumam Alia dalam hati.

Alia menarik nafas berat, kemudian menghembuskannya perlahan. Ia merubah posisi tubuhnya menghadap dinding pembatas antara kamarnya dan kamar Alan. Pikirannya kembali tertuju pada Aufar, kekasih hatinya.

"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa aku harus mengikuti keinginan Ayah dan mengakhiri hubungan ini? Bagaimana dengan Aufar? Ia pasti akan sangat terkejut dengan keputusanku yang terkesan sepihak dan mendadak. Ya Tuhaaaan..." Alia menutup wajah dengan kedua tangannya. Perasaannya campur aduk bahkan dilema level satu.

Saat ini ia benar-benar harus bisa mengambil keputusan yang tepat. Ia tidak ingin menyakiti Aufar. Namun disisi lain ia juga tidak ingin membantah titah Ayahnya.

Bagaimana tidak? Jika ia melanjutkan hubungan ini maka Ayahnya tidak akan mengaganggapnya sebagai anak lagi. Sadis dan miris memang, tetapi itulah Pak Harry, yang tegas dan tidak suka dibantah.

Berbeda dengan Alia. Prinsip Alia yang sedari dulu kebanyakan bertolak belakang dengan Ayahnya itu, membuat ia merasa hatinya selalu tertindas, dalam hal apapun.

Saking asyiknya melamun, Alia tidak sadar jika ponselnya yang terletak di atas meja di samping tempat tidur itu berdering. Entah itu sudah panggilan yang ke berapa kalinya, namun Alia masih saja tak bergeming. Ia masih saja terlihat seperti orang yang sedang

dilanda musibah besar.

Setelah beberapa saat, ponsel milik Alia berdering kembali. Kali ini sepertinya pikiran Alia telah kembali. Ia menoleh ke arah meja dan mengambil ponselnya. Terlihat satu panggilan masuk dari Aufar.

"Assalamu'alaik, Mas.." Ucap Alia.

"Wa'alaiksalam, sayang maaf mengganggu waktumu. Pasti kamu sedang sibuk ya?" Tanya Aufar dengan nada ragu.

"Nggak kok Mas, kenapa?" Alia bertanya dengan penasaran.

"Sebenarnya nggak begitu penting sih sayang.." Aufar menggantung kalimatnya. Membuat Alia mengerutkan dahinya. Ia ingin menanyakan kenapa sedari tadi Alia tidak menjawab telepon darinya. Namun ia urungkan.

"La terus apa, Mas?

"Ehm, Aku hanya sangat merindukan suaramu sayang.." Ketika itu juga pipi Alia bersemu merah mendengar kata-kata Aufar. Ia tahu dan sadar malahan kalau kekasihnya itu sedang menggombal. Namun tetap saja, ia sangat senang mendengarnya.

"Apa buktinya kalau memang beneran kangen?" Alia tidak akan melepaskan Aufar begitu saja kali ini.

"Emmmm gimana ya sayang?" Aufar malah balik bertanya.

"Nah tuh..makanya jangan suka gombal ah." Alia terkekeh.

"Eh, siapa yang gombal sayang. Aku bicara fakta kok." Aufar meyakinkan.

"Emmmm percaya nggak ya? Mau aku percaya aja atau percaya banget?" Alia kembali menggoda Aufar.

"Jangan memancing sayang..." Aufar tersenyum kecil namun hampir tak terlihat.

"Siapa yang lagi mancing, Mas. Aku lagi tiduran kok di kamar." Alia kembali terkekeh.

"Kamu ini ya..gemesin tahu nggak?" Aufar tersenyum membayangkan wajah kekasihnya yang lucu dan menggemaskan itu.

"Mas, lagi dimana?"

"Di kapal, sayang. Sebentar lagi berangkat. Kenapa? Kangen ya? Nggak ada kamu rasanya aku nggak selera sandar di ponti nanti." Aufar menghembuskan nafas berat.

"Aaah, nggak usah gombal terus, Mas. Awas aja genit-genit sama cewek lain ya." Ancam Alia. Aufar tersenyum mendengar nada cemburu wanitanya itu.

Ternyata sangat menyenangkan baginya jika Alia sedang memberi ultimatum seperti ini. Ingin rasanya ia selalu di beri bom cemburu seperti ini.

"Kok diem, Mas?" Alia mengerutkan dahinya.

"Ternyata sayangku kalau lagi cemburu suaranya terdengar semakin menggemaskan ya?" Goda Aufar.

"Iiih, siapa juga yang cemburu jangan GR deh." Alia mencoba menyembunyikan faktanya. Gadis mana sih yang tidak akan was-was dan cemburu jika mempunyai kekasih setampan dan sebaik Aufar.

Alia tak lagi memandang kekurangan Aufar yang nampak di mata orang lain. Baginya adalah mengenal Aufar adalah suatu anugerah yang akan selalu ia jaga dan syukuri.

Keputusannya sudah bulat. Alia tidak akan mengakhiri hubungannya dengan Aufar. Biarkan saja waktu yang menjawab teka-teki ini. Jodoh, harta, dan maut sudah ditakdirkan dan diatur oleh Yanga Maha Kuasa. Sebagai makhluk, kita hanya bisa berusaha.

Begitu juga dengan Alia. Ia akan selalu berusaha untuk memulai perjuangan hati ini. Untuk pertama kalinya ia mencinta. Oleh karena itu, ia tak ingin melepaskannya begitu saja. Aufar terlalu berharga baginya.

Bersambung...

Bantu like, komen dan vote ya 🙏

1
FRZY Company
Mantap sih ni cuy ceritanya
Machan
gempor kagak tuh jempol, mak. set dah, yang ngebut💪😅
NA_SaRi: Modal ngopas ceunah😆
total 1 replies
Maulana ya_Rohman
mampir thor
NA_SaRi: Terima kasih, Kak
Semoga betah bacanya ya🤗
total 1 replies
devi
lanjut lagi tor



mampir juga ya kak 🙏😊
Delfia
kok isinya sm dgn ABM kak nov....? tp judulnya ganti.......🤔🤔🤔
Delfia: oh gt......oke kk.....
total 2 replies
AdeOpie
apa ini yang Aufar nya ke jebak ea, perasaan udah baca ko di ulang lagi
NA_SaRi: gmna mau dilanjutin Alianya udh meninggal, Kak🤧
lagi pula sy lg garap novel baru jg😊

alasannya pengen disatuin aja sih kak, hehe
total 3 replies
Husna
kok ada lg ini,,? bukannya sama dgn yg sesi 2 ya kk nov,,?
NA_SaRi: Iya, mksh ya, Una🤗
total 3 replies
AdeOpie
oh .... cerita Alia dan Aufar yang ketemu di kapal, wah .... kirain udah ngga lanjutkan lagi
AdeOpie: ea mungkin karena aku ngrsa ngga pernah baca yang judulnya itu
total 4 replies
AdeOpie
ini cerita apa
Lady Meilina (Meilina07.)
yampun thor ni novel dah lm bgt trnyt ya
Lady Meilina (Meilina07.)
kirain cowo yg dtg hihi
Lady Meilina (Meilina07.)
good aliya
Lady Meilina (Meilina07.)
itu yg jd cover gmbr mu kah kak😍
NA_SaRi: Kok bs mikir gitu?
total 3 replies
Lady Meilina (Meilina07.)
wih karya prtm mu kk ini😍😍
NA_SaRi: Iyak, Yang🤗
total 1 replies
Maya Maya
manpir kk
NA_SaRi: Mksh, Kak
Semoga betah ya🙏
total 1 replies
mutoharoh
Mulai Baca 🤗🤗🤗🤗


Mampir juga ya kak ke karya ku 🤗🤗🤗👍
mutoharoh
Salam kenal Zalia 🤗
Ayuwidia
Mampir Akhhhh... di karya keren yang udah end plus ada audio booknya ... 😆😆😆

Ditunggu karya terbarunya, Kak 😊
NA_SaRi: Wah, mksh ya, Kak Ayu
Udah mau berkunjung🤗
total 4 replies
Siti Rohana
akhirnya sahhhh
Siti Rohana
nadzar KDI,,,Aya Aya wae di Jimmy
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!