Nama saya Yuda, Saya siswa SMA tahun ke 2. Kehidupan sekolah saya tidak ada yang istimewa. Tetapi ada seseorang yang sangat saya sukai dari tahun pertama sekolah, saya mengejar cintanya selama 2 tahun, namun tidak mendapatkan respon dan berujung penolakan yang menyakitkan. Sampai suatu saat saya mulai membuka mata saya, berapa banyak waktu yang saya buang sia-sia hanya untuk wanita yang tidak mencintai saya. Namun ini hanya permulaan dari cerita tahun ke 2 saya di sekolah. Dimana saya akhirnya memilih untuk melangkah maju dan berhenti membuang waktu, saya memutuskan untuk berhenti mengejar cintanya dan menjalin hubungan pertemanan dengan teman-teman lainnya. Berusaha mengupgrade diri dan mencoba membuka hati untuk orang baru walau rasa trauma dari orang lama masih membekas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dame Dha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34 Berkorban
~ Sudut pandang Yuna -
Setelah dari ruangan Andini berada aku kembali menuju tempat berkumpul keluarga kami di depan ruang tunggu ruangan Yuda dirawat.
Aku bertanya pada paman Juna tentang perkembangan kondisi Yuda. "Bagaimana paman, apa ada perkembangan?"
"Ada berita baik dan berita buruk, berita buruknya dokter berkata kalau Yuda kemungkinan akan kehilangan ingatan jangka pendek, tapi itu baru kemungkinan saja" jawab paman
"Maksudnya bagaimana paman?" tanyaku pada paman
"Dia tidak ingat semua kejadian sebelum dan saat dia mengalami kecelakaan, jadi sebisa mungkin jangan ingatkan dia soal kejadian itu sampai dia mengingatnya sendiri" jawab paman
"Aku rasa itu bukan hal yang terlalu gawat. Kalau berita baiknya?" tanyaku pada paman
"Berita baiknya Yuda sudah sadar dan sudah bisa di ajak berkomunikasi, tapi tetap masih harus dibatasi agar dia tidak mengalami stres" jawab paman
"Syukurlah, aku benar-benar lega paman" balasku
"Kamu dari ruangan tempat Andini kan, bagaimana keadaan dia, keluarga kita benar-benar diselamatkan olehnya. Kita harus berterima kasih padanya secara pantas" ucap paman padaku
"Soal Andini dia menitipkan permintaan padaku paman" balasku pada paman
"Apa itu?, paman akan sangat terhormat kalau bisa membantunya" tanya paman padaku
"Dia ingin agar identitasnya sebagai pendonor darah dirahasiakan dari Yuda, dia tidak ingin kedepannya Yuda merasa berhutang nyawa padanya" jawabku pada paman
"Begitukah, paman mengerti, Tapi kita tetap harus mengucapkan terima kasih padanya secara layak" balas paman padaku
"Aku setuju soal itu paman" jawabku pada paman
Disela obrolan kami Yui yang juga ada disitu memotong obrolan kami.
"Aku dengar dari kak Darius kalau kak Andini berlari dari sekolah menuju rumah sakit setelah mendengar kabar kak Yuu kecelakaan" ucap Yui padaku dan Paman
"Itu benar-benar nekad, siapa sebenarnya gadis bernama Andini itu Yui, ayah baru kali ini mendengar namanya?" tanya paman pada Yui
"Teman sekelas kak Yuu, aku juga kurang tau soal dia tapi dia sempat hadir di acara ulang tahun cafe" balas Yui pada paman.
Kalau dari sudut pandangku setelah mengobrol dengan Andini sudah jelas kalau dia menaruh rasa yang sangat dalam pada Yuda.
Harusnya ini bisa jadi jalan pintas untuk mendapatkan hati Yuda tapi dia memilih merahasiakannya.
Tapi aku percaya kalau dia gadis yang baik, dia juga adik dari Audy walau aku dan Audy tidak terlalu kenal dekat.
~ Sudut pandang Andini ~
Hari menjelang sore. Aku sekarang sudah merasa lebih baik dan sudah bisa pulang.
Jadi aku meminta kak Reva untuk melepas infus yang melekat di lengan ku.
"Kamu yakin mau pulang sekarang?" Tanya kak Reva
"Iya, besok aku juga harus sekolah" jawabku
"Baiklah, sesampainya di rumah langsung istirahat ya" balas kak Reva
"Iya kak, soal ini jangan beritahu kak Siva ya" jawabku
"Tenang, ini akan aman kok" balas ka Reva
Berselang beberapa saat kak Audy datang setelah mengurus semuanya.
"Bagaimana Andini, mau pulang sekarang?" tanya kak Audy
"Iya, tapi aku mau pamit dulu dengan keluarga kak Yuda" balasku pada Kak Audy
"Baiklah, kakak akan temani kamu" ucap kak Audy padaku
Kami berdua menuju ruang tempat kak Yuda dirawat, di depan ruang itu berkumpul seluruh keluarga kak Yuda.
Aku mendekat dan kak Yuna yang melihat kehadiranku langsung menyapa.
"Andini, sudah mau pulang sekarang" sapa kak Yuna padaku
"Iya kak, aku sudah ga papa kok, sekalian aku juga mau pamit" jawabku pada keluarga kak Yuda
Tante July meraih tangan ku dengan kedua tangannya sambil mengucapkan terima kasih.
"Terima kasih banyak Andini, kalau kamu butuh apa-apa hubungi saja kami, jangan sungkan ya" ucap tante July dengan lembut.
"Iya tante sama-sama, aku pamit ya semuanya. Permisi" jawabku pada tante July
Aku berpamitan dengan mereka dan pulang bersama kak Audy.
~ Sudut pandang Citra ~
Jam istirahat pelajaran.
Kehebohan yang terjadi dikelas kami benar-benar tak terelakkan.
Kecelakaan Yuda, Yuki yang pingsan di TKP, dan Andini yang pergi meniggalkan sekolah jadi topik pembicaraan seisi ruangan kelas.
Semua murid khawatir namun kami juga tidak bisa berbuat banyak.
Mungkin satu-satunya yang bisa kami lakukan adalah menjenguk Yuda ke rumah sakit.
Aku berdiri depan kelas dan berbicara lantang.
"Permisi semuanya, aku ada usulan, bagaimana kalau setelah pulang sekolah kita ke rumah sakit untuk menjenguk Yuda, tentu saja kalau kalian ada waktu luang"
"Ya, itu bagus"
"Aku ikut"
"Maaf aku harus les"
Jawab para murid yang ada dikelas
Beberapa ada yang luang dan ada juga yang tidak bisa ikut karena kepentingan masing-masing.
"Baiklah, siapa saja yang waktunya luang kita bertemu di depan sekolah nanti. Terima kasih semuanya" ucapku pada semua murid
Aku kembali ke tempat dudukku. Karena absennya Yuki dan Andini maka Siva yang duduk dibelakangku otomatis mengisi kursi kosong milik Yuki.
Siva adalah orang yang paling akrab dengan Andini jadi aku sedikit membicarakan tentang Andini dengan Siva.
"Aku tidak mengerti apa yang dipikirkan Andini" ucapku pada Siva
"Aku tidak terlalu kaget, dia akan terus mengejar apa yang jadi tujuannya. Itulah Andini" jawab Siva padaku
"Apa yang kamu maksud dengan tujuan?" tanyaku pada Siva
"Jangan paksa aku mengatakannya Citra" jawab Siva
"Aku mengerti, aku hanya terkejut" balasku
"Jangan tersinggung Citra, tapi menurutku kamu sudah salah mengambil langkah sejak awal. ucap Siva padaku
"Aku hanya tidak ingin ada perselisihan Siva, aku punya tanggung jawab disini" jawabku
"Naif sekali, Mengorbankan salah satu demi mendapatkan sesuatu itu hal yang normal Citra" ucap Siva padaku
"Kamu tidak mengerti, ini tidak semudah yang kamu pikirkan" balasku pada siva
"Egois sesekali bukanlah hal yang buruk Citra" jawab Siva
Aku tidak mengerti apa tujuan Siva. Jika yang dia maksud adalah tentang perasaanku pada Yuda, bukankah dia juga ada diposisi yang sama denganku.
"Apa maksudmu berbicara seperti ini padaku Siva?, apakah ini semua tentang Yuda, kalau begitu bukannya posisi kita disini sama?" tanyaku pada Siva
"Sama sekali tidak sama. Kamu sepertinya belum mengerti, lebih baik obrolan ini jangan diteruskan" balas Siva
Aku sebenarnya tidak tertarik dengan Siva. Obrolan kami sama sekali tidak nyambung.
Tapi aku faham garis besarnya. Dari pada harus memikirkan sesuatu yang tidak jelas lebih baik fokus pada diriku sendiri.
Bel pelajaran berbunyi, pelajaran kembali berlanjut.
~ Sudut pandang Raphtalia ~
Perasaanku saat ini campur aduk, khawatir, takut dan sedih semua bercampur aduk.
Baru saja kemarin aku mengobrol lepas dengan Yuda tapi hari ini dia seperti hilang dari peradaban.
Ku kira hari ini akan berlangsung menyenangkan tapi nyatanya terasa sangat gelap.
Jujur saja aku sempat terpikir untuk bolos seperti halnya Andini.
Tapi ini diluar kemampuanku. Aku harus tetap tenang dan tidak boleh gegabah. Untuk sekarang saran dari Citra cukup masuk akal.
~ Sudut pandang Jessi ~
Jam pelajaran berakhir.
Citra mengajak seluruh murid kelas untuk menjenguk Yuda ke rumah sakit.
Aku cukup kagum dengan ketenangan Citra dalam menyikapi situasi.
Walau aku tahu dia sendiri juga tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya terhadap Yuda.
Singkatnya Aku, Citra dan Darius akan pergi ke rumah sakit tapi kami akan menunggu di depan sekolah jika ada yang juga ingin ikut dengan kami.
Raphtalia dan Siva juga ingin pergi ke rumah sakit jadi kami berlima akan pergi bersama.
-Terima kasih sudah membaca cerita saya. Untuk ilustrasi karakter cerita ini bisa cek di Trending akun saya-
Jika ada kritik dan saran silahkan DM saya dan jangan sungkan-sungkan :D