NovelToon NovelToon
Obsesi Cinta Sang Bodyguard

Obsesi Cinta Sang Bodyguard

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Penyelamat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Vedyta Hyuk

Ethan Spencer Eko Argantara menolak keras perjodohan sepihak yang diatur keluarganya setibanya dia pulang dari New York. Baginya, menikahi gadis pilihan orang tua adalah hal konyol. Sialnya, sebuah insiden di department store mempertemukannya dengan Nayla Syakila Atmaja, gadis angkuh yang sukses memicu emosinya dalam pertengkaran dramatis, yang ternyata adalah sang calon tunangan.
Namun, rasa kesal Ethan berubah menjadi simpati ketika dia tahu Nayla menjadi target dari mantan tunangannya. Ethan membuang rasa gengsinya lalu melindungi Nayla
Di bawah satu atap dengan Nayla sebagai pasangan suami istri, Ethan siap melakukan apa saja demi melindungi miliknya.siapa pun yang berani menyentuh Nayla, harus berhadapan dengan dia.

"Tugasku adalah menjagamu, tapi obsesiku adalah memilikimu sepenuhnya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vedyta Hyuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22. Permintaan maaf tulus.

Hari telah berganti malam. Teman-teman Ethan yang datang menjenguk pun tak melewatkan kesempatan untuk makan malam bersama di apartemen itu. Donghae duduk di dekat sahabatnya, tampak memperhatikan dengan prihatin, sementara Angga duduk di samping Dimas yang wajahnya terlihat cemberut. Pasangan mereka pun ikut menemani malam itu.

"Ethan sebaiknya segera beristirahat. Bang ayo pulang, dia juga masih demam," ujar Dimas.

"Eh iya, istrimu belum pulang? Sepertinya dia lebih sibuk darimu," celetuk Angga.

Mendapat tatapan tajam dari Dimas rupanya tak membuat Angga jera. Ia justru membalas mendelik saat Dimas tiba-tiba menarik lengannya.

"Kalau begitu kami pulang dulu ya. Semoga cepat sembuh, Bang Ethan." pamit Herina.

Hanya ketiga pria ini yang tahu sebenarnya apa yang menimpa Ethan. Para wanita yang ikut bersama mereka hanya tahu bahwa Ethan sedang sakit dan demam.

"Iya, semoga... semoga 'bagian penting'-mu itu cepat sembuh juga ya, hahaha~ Puasalah dulu, jangan asal masukkan sembarangan, hahaha~" Dimas berbisik sambil terkikik geli.

Angga langsung merogoh saku jaketnya lagi. "Eh, Ethan, kau hampir lupa. Minyak tangkur buaya ini juga kamu pakai ya, cukup oleskan saja~"

"Hei, Bang! Sudah kubilang singkirkan benda minyak aneh itu! Argh, dasar gila!"

"Apa katamu? Ikan cucut?! Dengar ya, minyak tamgkur buaya ini obat mujarab, ampuh sekali, bodoh! Dan dia butuh itu~~"

"Ethan sudah minum obatnya! Ayo pulang, Bang Angga!"

"Tapi aku masih mau kasih mmpt~~"

"Kami pulang dulu ya!!" Dua pria itu sampai lupa pada pasangan masing-masing. Dimas menarik paksa Angga pergi seakan menarik sapi yang tak rela berjalan. Kedua wanita mereka pun ikut berpamitan pada Ethan dan Marcus sambil menahan tawa geli.

**** 

Sekitar satu jam kemudian, suasana apartemen Ethan kembali sepi. Hanya Marcus yang memilih tinggal menemani kakak sepupunya malam ini, tak tega membiarkan Ethan sendirian dalam kondisi sakit.

Pintu depan terbuka. Seorang gadis tampak berdiri di sana, mengenakan mantel putih yang sebagian basah, lalu meletakkan payungnya di sudut ruangan.

"Nayla... ah, untunglah kau akhirnya datang juga," sapa Marcus lega.

"Maaf, Bang, tadi aku sibuk sekali. Hujannya tak berhenti sejak sore. Ehm... di mana suamiku?"

"Ethan sudah tidur di kamar sejak satu jam yang lalu. Tadi Shela meneleponku dan bilang kamu mulai bekerja di sebuah butik hari ini. Benarkah itu?"

Nayla menerima gelas air putih yang disodorkan Marcus, lalu mengangguk sambil meminumnya.

"Iya, Bang. Dia yang membantuku agar bisa bekerja di sana. Butik itu milik Kak Yuri."

"Apa yang dikatakan Shela tadi juga benar? Hubunganmu dengan Ethan makin buruk kah?" Marcus bertanya dengan hati-hati. Ia sudah mengenal Nayla sejak tiga tahun lalu, saat ia mulai berpacaran dengan Shela, jadi ia juga kenal baik dengan Nayla dan Revo. Nayla sudah seperti adiknya sendiri. Itulah sebabnya Marcus senang saat tahu Ethan menikah dengannya.

"Bang, tolong rahasiakan ini ya. Aku tak ingin Ibu dan Ayah mertua sedih..." Nayla meremas ujung gaunnya yang sebagian basah, lalu menunduk menahan air mata.

 "Baiklah... memang menyedihkan, tapi seharusnya kamu bisa memaklumi kakakku, hm?"

"Bang, aku hanya tak suka sikapnya. Tapi aku juga salah karena terus menuduhnya memperkosa. Padahal melayani suami adalah kewajibanku sebagai istri sah," ujar Nayla pelan, air matanya mulai menetes.

"Sst... jangan menangis. Kau harus kuat. Aku paham, semua yang diatur seperti ini memang sulit di awal, Nay. Tapi lambat laun kau pasti akan terbiasa. Aku berharap pernikahanmu dan Ethan tak sampai kandas."

"Entahlah, Bang. Aku hanya bisa berdoa, semoga hatiku perlahan bisa menerimanya."

Marcus mengangguk lalu menunjuk panci kecil di atas kompor. "Tadi Dimas dan yang lainnya ke sini. Itu bubur bawaan Mbak Herina. Besok pagi panaskan saja dan berikan pada Ethan. Ingatkan dia minum obat juga."

"Apakah dia masih demam?"

"Iya, mungkin karena cuaca buruk dan hujan terus, demamnya belum turun juga."

Nayla mengangguk paham, menyimpan panci bubur itu ke dalam kulkas, lalu menoleh ke arah Marcus yang sudah memakai mantel hitamnya.

"Karena sekarang sudah ada kau di sini, aku pamit dulu. Tante dan Om tak tahu kalau dia sakit. Tolong jaga kakakku ya. Ingat, bersabarlah dan ikuti saja alurnya. Mungkin lama-kelamaan perasaanmu bisa berubah."

"Iya, Bang. Terima kasih banyak." Nayla mengangguk pelan. Ia tahu harus menjalankan perannya sebagai istri saat suaminya sedang sakit.

 **** 

Jam enam pagi, Nayla terbangun dari tidurnya yang tak nyaman di sofa kecil di samping tempat tidur Ethan. Ia menggeliat pelan, melirik ke arah jendela yang sudah terang benderang. Tangan gadis itu terulur menyentuh dahi Ethan, memeriksa suhu tubuhnya — dan menghela napas lega karena demamnya sudah turun. Segera ia bergegas ke dapur untuk menyiapkan sarapan.

Ethan terbangun karena silau cahaya matahari yang masuk lewat jendela. Ia mengerjap, lalu meraba dahinya — pusingnya sudah berkurang.

"Hm... di mana Marcus?" Ia mengerutkan kening, melihat baskom berisi air dan handuk di samping tempat tidur, serta gelas air dan bungkus obat di meja nakas.

"Ya ampun... Marcus menemaniku semalam?" Baru saja ia berbicara sendiri, pintu kamar terbuka. Ethan terkejut melihat Nayla masuk membawa nampan berisi makanan.

"Kamu sudah bangun? Masih pusing? Makan dulu, bubur ayamnya masih hangat. Aku juga buatkan sup makaroni. Setelah makan minum obatnya ya." Ethan terdiam bingung. Sejak kapan Nayla ada di sini? Kemarin saat ia sakit dan menelepon istrinya, panggilannya tak digubris sama sekali.

"Kenapa diam saja? Aku tak memasukkan racun ke makananmu kok. Lihat, aku cicipi dulu biar kau percaya," ujar Nayla lembut.

"Tak perlu... Pasti aku makan. Kau di sini sejak kapan?"

"Semalam. Kenapa? Kau keberatan?"

"Tak kok. Terima kasih sudah menjagaku." Ethan duduk di tepi tempat tidur, meminum air putih, lalu menyantap sup makaroni itu perlahan.

"Setelah makan, cuci muka dan ganti baju. Jangan lupa minum obatnya juga."

Nayla menyiapkan dua butir obat dan hendak pergi ke kamar mandi, namun tiba-tiba dia merasakan pelukan erat di pinggangnya dari belakang. Lengan pria itu melingkar lembut namun tak ingin melepaskan, bahunya masih terasa hangat di punggungnya.

"Maafkan aku, Nayla..." bisik Ethan.

1
Ananda Boy
lanjutin kak, wahhhh buku baru😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!