Siapa sangka jika pria yang membuat gue naik pitam adalah lelaki yang sudah dijodohkan oleh kedua orang tua kami sejak dulu. No way. 😬 (Fiza)
Siapa sangka si tomboy yang gue jadikan rival dalam menebar pesona ke cewek - cewek klub adalah calon istri gue. 😑(Aksa)
Siapa sangka seseorang yang gue sangka babang hensem dan sempat gue taksir adalah calon kakak Ipar. kyaaaa 😱😱 (Yuna)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eeeewy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fiza : Haru Biru
Setiap perempuan pasti mempunyai angan - angan untuk menikah dengan pria yang dicintai, dan mendapat restu dari kedua orang tua mereka. Soal bisa mengadakan pesta mewah, itu abaikan saja! Yang terpenting adalah, pasangan pengantin tersebut di kelilingi orang - orang tercinta dan turut merasakan kebahagiaan sang pengantin.
Sayangnya itu tidak berlaku bagi gue. Soalnya gue menikah dengan lelaki yang mencintai wanita lain. Tubuhnya menjadi milik gue, tetapi hatinya milik perempuan lain. Lalu yang lebih ngenes, gue menikah tanpa didampingi orang tua yang lengkap. Hanya ada ayah. Itu pun dalam kondisi sakit dan akhirnya meninggalkan gue pergi untuk selama - lamanya, tepat setelah ijab qobul usai. Benar - benar kesedihan paket lengkap. Tapi ya sudahlah, mungkin ini memang takdir yang harus gue lalui. Yang penting gue sudah melakukan darma bakti gue pada pak Bani di akhir hidup beliau. Mengenai pernikahan gue dengan big baby boy? Itu juga bisa disesuaikan dengan situasi dan kondisi.
Hari pertama setelah gue menjadi istri sekaligus menjadi seorang yatim piatu adalah bangun dengan wajah sembab dan tampang semrawut.
Bukan karena gue menangis akibat kesakitan setelah malam pertama, atau semrawut akibat percintaan yang liar dan panas dengan suami gue. Tapi karena hati ini masih terpukul menerima takdir yang harus gue jalanin. Rasanya semua ini seperti mimpi buruk.
Gue hanya menatap nanar hiruk pikuk dua kakak beradik yang sibuk menyiapkan sarapan di dapur. Mereka tampak panik karena harus segera berangkat ke kantor dan berangkat sekolah. Terbiasa dilayani pembantu membuat aksi mereka pagi ini terlihat konyol. Sayangnya tingkah menggelikan mereka gue lawatkan begitu saja. Gue kan masih sedih. Tambah sedih hati gue ketika melihat dapur berantakkan akibat aksi dua kakak beradik yang sekarang sudah resmi menjadi suami dan adik ipar gue.
Gue mendengar Aksa dan Yuna sedang berdebat menentukan mana gula dan mana garam. Sekalian aja mereka berdebat tentang mana ketumbar dan mana merica. Dijamin mereka bakalan bingung dengan dua bumbu yang serupa tapi tak sama itu. Dan bodohnya mereka enggan untuk mencicip kedua benda tersebut tapi malah sibuk berdebat. Gue jadi tepok jidat, Sob.
"Kalian ingin makan apa?" Teguran gue membuat keduanya menoleh secara serempak ke arah gue.
"Mbak.... Yuna bingung mau membuat sarapan." Yuna menghambur ke dalam pelukan gue. Sedangkan big baby boy hanya meringis.
"Kalian duduk saja! Biar aku yang memasak."
Dengan patuh, dua bersaudara itu duduk di ruang makan sederhana di rumah gue.
Gue segera menjerang air, lalu mengecek isi magic com. Ternyata di dalamnya masih ada nasi sisa kenduri semalam. Lalu ada sisa lauknya juga.
"Kalian mau nasi goreng, atau lauk sisa kenduri tadi malam?" gue menawarkan dua opsi.
"Nasi goreng...." jawab mereka berdua dengan kompak.
"Gue segera menyiapkan bumbu nasi goreng. Biar cepat, bumbunya sengaja tidak gue ulek. Hanya gue geprek lalu potong halus. Darurat, Sob. Keburu Yuna terlambat berangkat ke sekolah.
Gue menghidangkan secangkir kopi pahit untuk big baby.... oh salah, suami gue. Dan segelas teh manis untuk adik ipar gue. Kemudian melanjutkan memasak nasi goreng.
Gue menghidangkan nasi goreng yang telah matang untuk Aksa dan Yuna.
"Mbak nggak makan?" tanya Yuna.
"Entar aja! Mbak belum lapar."
"Dari kemarin, Mbak belum makan lho." Yuna kembali mengingatkan.
"Iya nanti Mbak makan. Kan hari ini nggak pergi ke kantor." Jujur saja, gue sedang tidak nafsu makan.
"Nanti biar aku telpon mami supaya menemani kamu." Aksa mencoba menunjukkan perhatiannya sebagai seorang suami.
"Nggak usah, kasihan mami nanti capek. Kemarin seharian mempersiapkan kenduri," tolak gue. Sungkan lah baru sehari menjadi menantu, tapi sudah merepotkan budhe Harsono eh mami mertua. Harap maklum jikalau gue masih kagok menyebut mami mertua dengan sebutan budhe.
"Kamu nggak apa - apa sendirian?" Sekali lagi Aksa bertanya. Ada nada khawatir yang sempat gue tangkap, membuat hati gue tiba - tiba merasa hangat.
Gue mengangguk, walau begitu raut kecemasan masih nampak di wajah suami dan adik ipar gue.
"Kalau begitu, aku ijin kerja saja. Biar papi yang sementara menggantikan aku duduk di kantor." Aksa memilih untuk menemani gue.
"Ya iya kan. Mas Aksa kan baru aja menikah. Sehrusnya Mas Aksa dan Mbak Fiza honey moon...!" Yuna berkedip - kedip nakal. Aksa segera menyentil jidat adiknya.
"Kamu masih kecil nggak boleh mesum!"
Gue salah tingkah. Apalagi menyinggung topik honey moon segala. Gue jadi teringat ucapan Aksa yang mengatakan berasa main pedang - pedangan jika bercinta dengan gue. Hadu...du..du... gue nggak siap. Lagipula gue masih berduka cita.
"Gue anter adek gue dulu ya!"
"Mbak, Yuna berangkat sekolah dulu ya."
Yuna pamitan sambil cipika - cipiki ke gue.
"Sambil menunggu Mas Aksa balik, Mbak Fiza dandan yang cantik ya! Soalnya Yuna ingin segera dipanggil tante sama keponakan. Hehehehe..." Yuna masih mencoba mengajak gue bercanda. Ternyata anak jaman now lebih paham urusan pengantin baru ketimbang gue.
Gue hanya tersenyum sumir. Dalam hati gue membatin.
"Minta sama abang kamu tuh, jangan sama gue!"
കകകകക
Gue baru saja selesai membersihkan kamar mendiang bokap gue. Sambil bersih - bersih, gue juga sambil melamunkan nostalgia semasa kecil dulu. Sejak SD, keluarga gue memang sudah tidak utuh, dan sekarang gue benar - benar ditinggalkan sendiri.
Air mata kembali mengalir di mata gue, saat teringat ucapan mendiang bokap tentang nyokap yang hadir di mimpi beliau. Seandainya gue cepat tanggap dengan firasat yang disampaikan oleh bokap, pasti gue akan menghabiskan waktu gue untuk menemani beliau. Gue akan memilih bercengkrama dengan bokap dan menyimpan setiap detik kenangan bersamanya untuk gue simpan di hati. Gue akan berada di samping bokap gue ketimbang menjadi asistennya Aksa.
Tapi sudahlah, sesal tiada guna. Yang lalu biarlah berlalu. Sekarang bokap gue sudah bahagia karena bisa bertemu lagi dengan nyokap. Gue juga sudah dewasa dan bekerja, jadi gue bisa ditinggal sendirian. Meskipun hati gue, sakiiit...
Suara ketukan pintu dan salam, membuyarkan lamunan gue. Bergegas gue keluar dari kamar mendiang bokap untuk membukakan pintu.
"Bobby, Sam, Agung, dan Gilang." Gue absen satu - satu personil Bobby and the gank yang sekarang berdiri di depan pintu rumah gue.
"Maaf, Za. Kami baru sempat hadir. Kami nggak tahu bokap Lo meninggal dunia kalau gue nggak baca komentar seseorang bernama Yuna di ig, Lo."
"Terima kasih teman - teman. Ayo masuk."
Gue persilakan sahabat - sahabat gue untuk masuk ke dalam rumah. Dengan tertib, mereka masuk dan duduk di kursi tamu.
"Maaf rumah gue masih berantakan. Kalian udah makan belum. Makan yuk, tapi lauknya sisa kenduri semalam."
"Yaela, Za. Kita kesini bukan nyari makan kalee...."
Gue nyengir. "Sorry, Sob! Soalnya kalau bertemu kalian membuat gue ingat saat kita ngamen demi sesuap nasi."
"Za, kenapa Lo nggak mengabari kita kalau bokap Lo sakit." Bobby si leader segera menginterogasi gue.
"Gue nggak kepikiran, Bob. Karena kelewat panik jadi blank ini otak. Tahu sendiri kan, gue cuma sendirian. Kalian juga pada kuliah. Gue segan, Sob," jawab gue sambil menunduk dalam karena merasa tidak enak hati.
"Lo itu terlalu, Za. Padahal Lo kan udah gue anggap saudara. Meskipun kita udah nggak ngeband bareng lagi." Bobby mengingatkan status kami berlima. Sekali berteman tetap berteman.
"Iya maaf.... eh sebentar gue buatkan minum dulu. Kalian ingin yang anget atau dingin."
Gue mencoba mencairkan suasana. Bener sih, salah gue juga karena tidak mengabari sohib - sohib gue. Betapa egoisnya gue. Padahal mereka teman senasib dan seperjuangan.
"Entar aja, Za! Kami datang hanya ingin memastikan Lo baik - baik aja."
"Iya gue..." Ucapan gue tidak berlanjut, karena terdengar bunyi mobil yang berhenti di depan rumah. Aksa pulang sambil menenteng sebuah bungkusan.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Sohib - sohib gue menjawab salam dan ikut menoleh ke arah Aksa.
"Lho Za, ini bukannya temannya mas Lanang yang julid sama Lo?' Bobby langsung menunjuk Aksa. Gue hanya nyengir. Gimana jelasinnya ya?
Tbc
bayikk pikir ini crta tntang anak betawi ...ehh ternyata ada campuran jawax ...keren
klamaan tinggal di kalimantan kangen jg potongan2 bahasa kramanya