"Mengapa Istri orang ini begitu menggodaku, suaranya, tawanya, senyumnya, bodynya.. Astaga, kenapa otakku kotor begini? "~ Mario Abraham
"Jangan pernah mempertanyakan arti bahagia kepadaku, aku hanya mengenal pengorbanan dan kata luka, mungkin ini memang takdirku.. ini bukan kisah bahagia.. ini kisah sedihku.. dan juga pengabdianku.. jangan berharap ada senyuman, kisahku hanya airmata.. Ya aku Diana.. sepenggal kisah yang penuh airmata, entah kapan aku akan bahagia.. dan aku tidak mencarinya, aku tidak berharap banyak pada kehidupan ini.. Kedurhakaan kami menyisakan penderitaan yang berkepanjangan. ~ Diana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALSIB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berawal Dari Sini
"Mas.. aku sudah siapkan sarapan, apa Mas masih malas bangun?" Diana memasuki kamarnya, dengan melilitkan handuk sampai ke dadanya, seperti biasa Gilang mengamati gerak gerik istrinya sedang berpakaian, biasanya Diana telah menggunakan underwear dari kamar mandi dan berganti pakaian di kamar, namun kali ini Diana mengganti semuanya di kamar, tampak tubuh polosnya membungkuk meraih dan menaikkan underwearnya dihadapan Gilang yang mengamatinya dari balik matanya yang sayu di pagi hari,
"Diana" panggil Gilang.
"Hmmm" Diana menoleh kearah Gilang.
"Kemarilah, jangan pakai apapun" kata Gilang dan Diana pun menurutinya.
"Apa Mas.."
"Kau masih punya banyak waktu? Naiklah, peluklah aku" kata Gilang.
Diana pun naik duduk di perut Gilang dan Gilang melepas lilitan handuk Diana, Gilang menatap tubuh Diana dengan seksama, Gilang menarik tangan Diana agar merebah di dadanya, lalu mengusap - usap punggung Diana.
"Diana, berikan dadamu" Diana mengangkat tubuhnya dan Gilang memainkan dada Diana dan menuntunnya pada bibirnya, usapan lembut dan ciuman hangat terasa mengalun merdu pagi itu.
"Mas" desah Diana.
"Diana.. aku.. aku.. tidak.. tidak bisa" Gilang melepas tautan bibirnya dan memejamkan matanya.
"Mas.. Apakah sakit? Aaah Mas aku sudah berapa kali aku bilang.. jangan memaksakan dirimu" kata Diana menuruni tubuh Gilang dan merebahkan kepalanya di lengan Gilang.
"Aku tidak sakit Diana.. aku mati rasa.. aku.. aku.. entahlah" kata Gilang memejamkan matanya.
"Kau belum sembuh Mas, aku akan menunggumu.. Aku tidak buru - buru" kata Diana mencium pipi Gilang.
"Jangan bohongi dirimu, Diana.. Kau pasti membutuhkan kebahagiaan batin, kau pasti terangsang" kata Gilang.
"Mas, kalau terangsang pasti Mas.. Aku wanita normal.. tapi entahlah.. kebahagiaan batin yang kau maksud itu aku belum menginginkannya, itu bukan keharusan bagiku, kebahagiaan batinku melihatmu bersemangat dan sembuh, rasanya itu kepuasan tersendiri, kepuasan hasrat dan gairah itu bisa menunggu, karena aku akan menjalani sisa hidupku bersamamu" kata Diana memeluknya semakin erat.
"Diana, bagaimana bila aku akan seterusnya begini" Gilang memijat pelipisnya yang terasa menegang.
"Mas, aku mohon.. ini pagi hari.. mulailah dengan berpikir positif jangan negatif" kata Diana mengusap dada Gilang.
"Aku sendiri membutuhkan kepuasan batin, Diana.. tapi.. aku.. Aahh.. aku ingin tapi tidak bisa" kata Gilang.
"Mas itu semua karena kamu belum sembuh Mas, kau harus rajin melakukan terapimu" kata Diana.
"Entahlah.. pergilah Diana.. kau nanti terlambat" kata Gilang memejamkan matanya.
"Kau tidak ada jadwal terapi hari ini kan?"
"Tidak, besok jadwalku terapi ke Dokter Joe, aku juga akan konsultasi dengan Dokter Ardhi, tinggalkan kartu ATM nya aku akan menemui Dokter Ardhi besok" kata Gilang memejamkan matanya dan masih memegang pelipisnya.
"Baiklah aku akan bersiap, ini jadwalku naik angkot, aku harus berangkat lebih awal" Diana bangkit duduk lalu mencium kening Gilang dan menuruni ranjangnya.
*****
"Gilang? Bukannya jadwal terapimu besok?" tanya Dokter Joe.
"Saya mau konsultasi saja Dok" kata Gilang.
"Ada keluhan apa Gilang" tanya Dokter Joe.
"Tadi saya sudah konsultasi ke Dokter Ardhi karena Dokter Herman sedang keluar kota dan saya sudah menjalani serangkaian test dan laporan ini harus saya serahkan kepada anda kata Dokter Ardhi" jawab Gilang kemudian dengan menyerahkan laporan medis Gilang.
"Apa yang kau rasakan" tanya Dokter Joe menghela nafas panjang.
"Dok, saya tidak merasakan apapun pada organ vital saya.. Saya baru menyadarinya hari ini.. Badan saya pinggang keatas sudah membaik, kaki saya memang lumpuh.. saya rasa itu memang perlu waktu untuk menyembuhkannya, tapi organ vital saya kenapa ehmm tidak berfungsi.. seperti mati rasa.. saya baru sadar setiap pagi organ vital saya tidak seperti biasanya, tidak seperti dahulu.. saya pikir itu karena saya belum sembuh total tapi badan bagian atas saya sudah fit, bukankah seharusnya organ vital saya juga membaik?" keluh Gilang
"Gilang, menurut laporan medismu.. kau mengalami kelumpuhan pada organ vitalmu, seharusnya kau mengetahui ini dari awal, aku pikir kau sudah mengetahuinya, maafkan aku mengatakan ini padamu, tapi jangan berkecil hati, aku sudah mengatakan padamu bahwa ada pengobatan dari Tiongkok, kasus sepertimu rata - rata akan sembuh di sana, ya walaupun aku belum bisa menjamin 100%, tapi mencoba tidak ada salahnya" jelas Dokter Joe.
Gilang terdiam, seperti palu godam raksasa yang jatuh dari langit dan itu sekarang tengah menimpanya, segala kekuatannya, keyakinannya, harga dirinya, harapannya, kepercayaan dirinya bahkan semua cinta yang dia punya seakan terhempas ke dasar bumi hingga menembus ruang dan waktu, kesadarannya menghilang, amarahnya kepada dunia dan Sang Pencipta menguasainya.
Bagaimana dia akan menjadi berarti dalam hidupnya? Bagaimana dia akan membahagiakan orang yang di cintainya? Bagaimana dia menghadapi Diana bahkan dirinya sendiri? Selamanya dia akan merepotkan orang, selamanya dia akan menjadi orang yang tidak berguna. Sampah! Dia merasa dirinya seperti sampah yang tidak berguna, yang di buang dan di bakar menjadi abu, menjadi orang serendah - rendahnya, itulah yang dia rasakan Gilang, dunianya telah berakhir, hidupnya tidak berarti, lalu untuk apa dia hidup? Bukankah semua ini sia - sia? Bagaimana dia akan bertahan?
"Gilang, apa kau baik- baik saja?" tanya Dokter Joe.
"Siapa yang bisa baik- baik saja dalam keadaan seperti ini, Dok? Apakah ada?" tanya Gilang kembali dengan suara parau, laki - laki mana yang tidak menangis saat seperti ini, laki- laki yang masih terbilang muda, tampan dan mempunyai tanggung jawab, tapi masa depan yang akan di bangunnya hancur seketika menjadi debu yang menghilang hanya dengan terpaan angin.
"Bersabarlah Gilang dan tetaplah berdoa, yakinlah kau akan sembuh, aku akan resepkan obat untukmu dan jangan lupa besok terapimu" kata Dokter Joe.
Gilang keluar dari ruangan dokter dan mengayuh kursi rodanya dengan tangannya, Dia meremas resep obat dan hasil testnya hari ini dan di buangnya ke tempat sampah. Dengan menahan tangisnya Gilang terus mengayuh meninggalkan rumah sakit, dengan di bantu satpam Gilang menaiki sebuah taxi dan pergi dari tempat yang seperti neraka baginya.
"Ingatlah hari ini Gilang! Kau bukan anak Ibu lagi! Dan kau tidak akan pernah bahagia bersamanya! Hidupmu akan menderita! "
"Lihat saja saudaranya apakah ada yang perduli dengan gadis ini, mungkin gadis ini membawa sial dalam keluarganya dan akan membawa sial ke dalam keluarga kami, aku tidak ingin putraku mendapat sial karena menikahinya! "
"Gilang, Ibu bersumpah kau tidak akan bahagia dengannya!"
"Dan Gilang bersumpah, apapun yang terjadi, Gilang tidak akan kembali ke pangkuan Ibu, sebelum ibu memohonnya dan menerima Diana..
"Diana gadis yang baik, dia sangat berbakti kepadaku sebagai pengganti orang tuanya, dia tidak pernah mengecewakan aku, dia selalu patuh kepadaku, aku harap Nak Gilang bisa membahagiakan Diana, jangan membuatnya sedih, jangan pernah mengecewakannya, seumur hidupnya Diana selalu menangis, jangan pernah membuatnya menangis, aku harap kalian selalu bahagia"
"Ayah, Gilang sangat mencintai Diana dan Gilang tidak bisa mencintai wanita lain selain Diana, dia wanita yang baik dan wanita yang kuat, dia sangat mandiri, Gilang ingin membahagiakannya"
"Mas, apakah aku pernah meminta apapun darimu? Dan kau tahu hidupku jauh dari kata sederhana, aku hanya ingin bersamamu apapun keadaanmu, aku siap Mas, aku tidak menginginkan kemewahan atau harta berlimpah, aku ingin hidupku lebih hidup dan itu bersamamu, kita akan berjuang bersama Mas, dalam suka maupun duka, suatu hari nanti Ayah dan Ibumu pasti akan mengerti Mas dan akan menerima hubungan kita, berikan waktu untuk mereka, mungkin kita bisa menundanya Mas sampai Ayah dan Ibu Mas Gilang setuju"
"Mas.. kita tidak boleh mendahului atau menentang orangtua Mas.. kita tidak mungkin melangkah tanpa restu"
"Mas aku mencintaimu.. sangat mencintaimu.. bertahanlah untukku.. yakinlah, kita bisa melewatinya.. berharaplah pada harapan"
"Mas aku mohon bangunlah.. aku tidak bisa menghadapi ini sendiri, jangan tinggalkan aku.. aku takut Mas.. aku sendirian.. Apa kau tidak kasian padaku, Mas.. Aku akan selalu mencium mu dan tidak malu- malu Mas.. Aku akan memberimu banyak cinta.. aku mencintaimu.. jangan tinggalkan aku.. Harapanku hanya dirimu.. kalau kau pergi aku tidak punya harapan lagi.. kebahagiaanku hanya denganmu mas.. bangunlah demi aku.. bangunlah Mas"
"Aaaaaaaa.. aaarrgghhhh.. aaaaaaa.. huu.. huu.. huuu.. huuu.. aaarrgghhh!" Gilang membanting apapun yang ada di kamar yang menjadi studio melukisnya, kaca lemari pecah, lukisan dan peralatannya berserakan.
Tangisan Gilang mengharu biru dan menyayat hati, hingga sore menjelang Gilang tidak keluar dari kamar itu, kesakitan Gilang kekecewaannya semakin memenuhi hatinya, membuat lubang yang sangat besar, sehingga tidak ada satupun yang bisa menutupnya.
Diana... Hidupku telah hancur! SANGAT HANCUR
-
Bila kamu menyukai Novel ini, Jangan Lupa Dukungan Vote, Like, Komen, Koin, Poin dan Rate bintangku yaa Reader Tersayang.
Biar aku semangat nulis lagu disela - sela waktu jadwal kuliahku yang padat.
Terima kasih Reader tersayang 😘😘🥰🥰💕💐