Apa?!! Menikahi Musuhku? Apa itu mungkin?... Namaku adalah Demian Wulfric, yaitu raja dari kerajaan Endom, kerajaan terkuat di belahan bumi Eropa. Aku disebut sebagai raja dari kayangan, karena parasku yang sangat rupawan dan sifatku yang sangat dingin.
Selama hidupku, aku menanggung amarah yang amat dalam kepada musuh yang telah membunuh orang tuaku dan memporak-porandakan rakyat serta kerajaanku.
Namun, takdir berkata lain, aku terpaksa harus menikahi putri dari musuhku, yaitu putri dari kerajaan Alamore yang bernama Putri Aurora Delacour. Ia adalah putri yang sangat cantik jelita yang memiliki 'Mutiara Abadi' di dalam tubuhnya. Mutiara yang membuatku sangat bergantung kepadanya dan aku harus menahan rasa cinta yang mendalam kepadanya, hanya karena masa lalu yang sangat menyakitkan di antara kami.
Bagaimana kisah perjalanan cinta kami selanjutnya? Jangan lewatkan kisah kami ya...
Jangan lupa like, komen & dukung cerita ini dengan 5 Vote yaah...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ekouchi Aya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gua Dalam Hutan
Selamat membaca, semoga suka episod ini ..., Jangan lupa tinggalkan jejak yah, Thank you semuanya ..
"Kita harus segera kembali ke rumah bibi Luis, sebelum matahari terbenam," terangku yang terlihat basah kuyup
"Tapi, kita ada di mana, Yang Mulia?" tanya Aurora sambil memeras rambut hitam panjangnya.
"Kita telah terbawa arus sungai cukup jauh. Sekarang posisi kita ada di tengah hutan," tuturku seraya mengambil nafas dalam.
"Hutan? lalu bagaimana kita kembali?" Aurora sedikit panik.
"Sebaiknya kita berjalan menuju ke arah berlawanan atau arah barat, baru kita bisa menemukan perkampungan." Aku mulai melangkah untuk melihat sekeliling hutan.
Kami pun berjalan menyusuri hutan belantara. Banyak sekali pohon-pohon besar yang membuat kondisi hutan sangat gelap dan menakutkan. Suara-suara burung dan hewan lainnya berbunyi seakan menyambut kami berdua.
"Kenapa hutan di sini sangat gelap sekali?, tak sedikitpun sinar matahari yang mampu menembus sampai tanah. Jika seperti ini, baju kita akan lama mengering. Bisa - bisa, akan terserang flue," sautku berbicara sendiri.
"Tubuh manusia adalah sumber panas, mungkin jika kita terus bergerak, baju yang kita kenakan akan kering dengan sendirinya," ujar Aurora membalas pernyataanku.
Kala itu Aurora sedikit ketakutan ketika berjalan langkah demi langkah, karena ia tak lagi memakai alas kaki. Sepatu yang ia kenakan terhanyut di sungai. Sedangkan sepatu yang kugunakan masih menempel di kedua kakiku.
"Kenapa?" tanyaku kepada Aurora.
"Maaf Yang Mulia, saya tidak terbiasa berjalan di hutan dengan kaki telanjang," ujar Aurora yang kakinya terlihat mulai kotor.
"Sepatuku pun takkan muat untuk ukuran kakimu." Aku mulai melepas sepatuku.
"Kenapa Anda melepas sepatu Anda?" tanya Aurora yang melihatku memutuskan untuk berjalan tanpa alas kaki.
"Aku tak terbiasa berjalan di hutan dengan memakai sepatu," terangku sambil melanjutkan perjalanan.
Kemudian kami berdua terus berjalan menuju arah barat dan berharap bisa segera menemukan perdesaan. Akan tetapi, terlihat matahari mulai memerah dan langit mulai menghitam tanda akan turun hujan.
"JEEDDDUUAAARRR," suara petir membuat Aurora ketakutan.
Tiba-tiba turunlah hujan yang sangat deras. Kami berdua berlari tanpa tujuan untuk menghindari guyuran hujan. Sesegera mungkin kupetik tumbuhan yang memiliki daun yang lebar sekiranya cukup untuk melindungi kami berdua dari derasnya air hujan.
Tanpa isyarat apapun, kudekap tubuh Aurora untuk ikut serta berlindung di bawah daun itu. Kami pun terus melanjutkan perjalanan hendak mencari tempat berteduh.
"Kita harus segera menemukan sebuah gua, biasanya di setiap hutan pasti ada gua," terangku sambil mengangkat daun itu di atas kepala kami berdua.
"Iya, Yang Mulia." Jawab Aurora yang tak sadar dengan suasana.
Selama kami terus berjalan, kami pun menemukan sebuah gua di hadapan kami.
"Ayo kita masuk, sebelum kita mati kedinginan." Aku mengajak Aurora melangkah masuk gua itu. Tapi, tiba-tiba langkah Aurora terhenti seakan tak mau memasuki gua tersebut.
"Tunggu apa lagi?" tanyaku yang mulai terburu-buru.
"Apakah gua ini aman?, saya khawatir gua ini adalah rumah hewan buas, seperti beruang hutan misalnya?" ucap Aurora dengan kepolosannya.
"Kamu sering membaca cerita dongeng anak kecil ya?" tanyaku pada Aurora yang berdiri kaku karena khawatir.
"Tidak akan ada apa-apa, ayo masuk," ajakku pada Aurora.
Aku pun berhasil membujuk Aurora untuk memasuki gua yang lumayan luas itu. Karena cuaca sedang hujan dan udara sangat dingin, aku mencoba untuk membuat api kecil menggunakan batu dan kayu-kayu di dalam gua.
"Untuk sementara ini, terpaksa kita harus bermalam di gua ini," tuturku kepada Aurora yang sedang melihat setiap sudut gua.
"Kenapa? kau takut tiba-tiba akan muncul beruang?" ejekku sambil meletakkan kayu di dalam api unggun.
"Bukan begitu, saya belum pernah dalam kondisi seperti ini," jelas Aurora yang duduk sambil menekuk lututnya karena kedinginan.
Aku melihat bibir Aurora yang mulai membiru, kulit halusnya pun mulai memucat karena baju basah yang ia kenakan. Aku masih ragu untuk meminta Aurora melepas gaunnya, agar aku bisa mengeringkannya. Kemudian aku pun berfikir untuk melepas jubah merahku, dan akan kukeringkan menggunakan sebatang pohon sehingga jubahku yang kubentangkan bisa berfungsi sebagai penutup untuknya.
"Lepaslah gaunmu!" perintahku kepada Aurora.
"Apa? apa maksud Anda?" saut Aurora sembari menyilangkan kedua tangan menutupi dadanya.
"Tidak ada cara lain, lepas gaunmu, kemudian bersembunyilah di balik jubah merahku. Biar kukeringkan gaunmu supaya kau tak mati kedinginan," paparku tanpa ragu.
"Tidak mau!, saya baik-baik saja dengan kondisi seperti ini," timpal Aurora yang keras kepala.
"Kau masih berfikir kotor tentangku?" tanyaku padanya.
"Baiklah, terserah padamu." Aku pun membuka kemeja putihku di hadapan Aurora.
"Tu -- tunggu!, kenapa Anda membuka baju di hadapan saya?!" seru Aurora yang menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Aku tak mau memakai baju dalam kondisi basah, jadi aku akan mengeringkannya," jelasku dengan meletakkan baju itu di samping panasnya api unggun.
"Kau masih tetap ingin memakai baju basah itu semalaman?, kau serius?!" tanyaku lagi memastikan.
"Aku tak bisa melepasnya di hadapan lelaki," kata Aurora yang membuatku ingin tertawa.
"Di hadapan lelaki?, bukankah aku sudah melihat semuanya?" Pernyataanku membuat wajah Aurora memerah dan langsung berdiri.
"Jangan teruskan!" seru Aurora sambil menutup telinganya.
"Baiklah, saya akan melepasnya. Saya melakukan ini bukan karena permintaan Anda, tapi karena saya tak ingin kedinginan semalaman," tutur Aurora yang mulai sembunyi di balik jubah merahku yang telah kubentangkan menggunakan kayu.
"Terserah apa katamu," jawabku singkat.
Aurora pun mulai melepas seluruh kain yang menempel di tubuhnya. Ia lemparkan gaunnya ke arahku, supaya aku membantunya untuk mengeringkan gaun miliknya. Tak kusangka aku benar-benar mengeringkan gaun milik Aurora.
Aurora pun duduk di belakang jubahku, yang hanya terlihat bagian kepalanya saja. Sejenak kami saling bertatapan, bagaimana tidak kondisi berbahaya ini harus aku lalui sebagai seorang lelaki.
Aku pun mulai merasa tak nyaman, mengetahui Aurora di balik jubahku dengan keadaan tanpa busana. Aku pun sengaja membuat topik pembicaraan untuk mengisi malam yang sangat dingin itu.
"Sebenarnya, apa yang kau lakukan, sehingga membuat Clara sangat marah padamu?" tanyaku berusaha memendam perasaan buasku.
"Waktu itu, saya hanya ingin mengobati penyakit jantung yang diderita oleh Lucas, tapi dia salah faham," jelas Aurora yang hanya terlihat kepalanya yang menghadapku.
"Lalu, kenapa Lucas merasa kesakitan?" tanyaku lagi.
"Entah, mungkin karena jantungnya merasa lelah, bukankah Lucas berlari-lari dengan Anda waktu itu?" tanya Aurora.
Aku pun tak berkosentrasi mendengarkan pertanyaan Aurora. Ternyata keadaan dengan kondisi seperti ini membuat pikiranku teralihkan kepada hal-hal yang tak ingin kulakukan.
Aku pun terus menahannya.
seorang raja ko sifatnya seperti itu menyebalkan