Selama 2 tahun menjalin mahligai rumah tangga, tidak sekali pun Meilany mengucapkan kata 'tidak' dan 'tidak mau' pada suaminya. Ia hanya ingin menjadi sosok seorang isteri yang sholehah dan dapat membawanya masuk surga, seperti kata bundanya.
Meski jiwanya berontak, tapi Mei berusaha untuk menahan diri, sampai pada akhirnya ia tidak bisa menahan lagi ketika suaminya meminta izinnya untuk menikah lagi.
Permintaan itu tidak membuat Mei marah. Ia sudah tidak bisa marah lagi ketika sudah kehilangan segalanya. Tapi ia juga tidak bisa tinggal di tempat yang sama dengan suaminya dan memilih pergi.
Selama 7 tahun Mei memendam perasaan marah, sampai pada suatu ketika ia menemukan kebenaran di dalamnya. Kebenaran yang sebenarnya ada di depan matanya selama ini, tapi tidak bisa ia lihat.
Bisakah Mei memperbaiki semuanya?
*Spin off dari "I Love You, Pak! Tapi Aku Takut..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jnxdoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34 - Mundur
Seminggu setelah kejadian itu, Mei berusaha melupakannya. Peristiwa itu ia anggap tidak pernah terjadi atau setidaknya, ia berusaha untuk melakukannya. Bagaimana pun, ditolak suami, membuat kepercayaan dirinya jatuh. Apapun alasan Aslan, ia merasa dirinya sudah tidak menarik lagi di mata pria itu.
Mei takut mencoba lagi. Ia masih takut ditolak, karena ternyata rasanya sangat SAKIT.
Seperti biasa, setelah makan malam, keduanya duduk-duduk di sofa. Sejak pengalaman yang cukup buat Mei sakit hati kemarin, sedapat mungkin ia berusaha lebih berhati-hati lagi pada suaminya. Setidaknya untuk hal-hal yang berbau int*m, akan coba ia hindari dulu dan membiarkannya terjadi secara alami.
Yang pasti, Mei tidak bisa melepaskan Aslan. Ia tidak mau melepaskan suaminya seperti permintaannya. Ia baru akan pergi, di saat lelaki itu benar-benar tidak menginginkannya lagi di dalam hidupnya.
"Besok ada rencana apa mas?"
Menyuapkan buah ke mulutnya, mata pria itu tidak berpaling dari layar TV.
"Kaya biasa, lari di GOR. Kamu mau ikut?"
Wanita itu tersenyum dan mengangguk.
"Iya, Mei mau. Habis itu mau cuci mobil ga? Sudah kotor tuh gara-gara hujan kemarin."
Kegiatan cuci mobil adalah kegiatan yang beberapa kali dilakukan pasangan itu dulu. Mei menyiram tanaman dan suaminya mencuci mobil. Biasanya setelah itu, keduanya akan main air. Kegiatan yang menyenangkan.
Mengingat kenangan itu, mau tidak mau, bibir Aslan sedikit tersenyum. Ia menatap isterinya.
"Boleh. Mas nyabunin, kamu yang cuci. Seperti dulu."
Ada sesuatu di mata suaminya yang membuat tenggorokan Mei sulit menelan, tapi ia mengangguk ringan.
"Seperti dulu, mas..."
Kepala Aslan berpaling lagi ke arah TV. Keduanya kembali terdiam.
Selama seminggu ini, Mei berfikir dalam. Hubungannya dengan suaminya membaik, meski hasilnya masih jauh dari harapannya. Tapi ada beberapa hal yang ingin dia jernihkan dengan suaminya. Hal mendasar yang membuat hubungan mereka retak sebelumnya.
Mengambil mangkok kosong dari tangan suaminya, Mei berdiri dan mencuci benda itu di wastafel.
"Oh ya, mas. Mei sudah mikirin usul mas Aslan waktu itu."
"Usul?" Pria itu mengikutinya ke dapur dan duduk di meja makan.
"Soal Mei kerja lagi."
Pria itu sejenak terdiam dan memandang isterinya.
"Mei... Mas minta maaf kalau kesannya mas maksa kamu kerja, tapi mas sama sekali ga ada maksud begitu. Mas tahu kamu ga terlalu butuh uang dan sebagai suami, mas akan mencukupi kebutuhan kamu. Apapun itu, kamu tinggal minta. Tapi mas kasihan kalau kamu cuman di rumah ga ngelakuin hal-hal yang produktif. Di rumah ini, kita juga cuman berdua. Kalau mas pergi ke kantor, kamu juga ga punya kegiatan kan?"
Ada sesuatu dalam penjelasan suaminya membuat Mei merasa hatinya ringan, jauh lebih ringan dibanding minggu kemarin, bahkan lebih ringan dari tahun-tahun sebelumnya.
Mata pria itu tertunduk dan menatap tangan isterinya di meja. Pelan, jari-jari Aslan mengelus tangan itu.
"Akan beda ceritanya kalau... kalau kita ga hanya berdua... Tentu mas ingin... ingin... kamu di rumah..."
Suara berat Aslan berubah serak dan pria itu diam. Tangan yang memegang isterinya tadinya akan menjauh tapi Mei langsung menangkapnya. Ia memegangnya erat dan dapat melihat, tatapan tanya dari suaminya.
Kedua mata Mei sedikit berkaca-kaca, tapi ia menatap tajam suaminya.
"Jangan menyembunyikan apapun lagi dari Mei, mas... Apapun yang terjadi, kita akan hadapi bersama... Kan mas Aslan sendiri yang bilang, Mei isteri mas dan mas Aslan suami Mei. Selama Mei masih tinggal di rumah ini, Mei masih tetap isteri mas Aslan, kan?"
Mei dapat melihat sorot mata suaminya yang memandanginya penuh arti, dan pria itu mengangguk.
"Iya... Kamu isteri mas, Mei. Selama kamu tinggal di sini, kamu itu isteri mas satu-satunya..."
Pasangan itu saling memandang dan akhirnya tersenyum satu sama lain. Genggaman keduanya mengerat.
"Oh iya. Soal usul mas Aslan itu. Mei izin buat kerja lagi mas."
"Sebagai apa? Asisten seperti buat Conrad kemarin?"
"Engga mas. Mei ngelamar jadi translator freelance buat subtitle, buku atau jurnal. Kerjanya remote juga kok. Mei ga mau jadi asisten atau sekretaris lagi. Godaannya terlalu banyak."
Jakun Aslan naik-turun dan mengamati isterinya intens. "Kamu pernah digoda Conrad?"
Tahu ke mana arah pertanyaan suaminya, Mei hanya tersenyum.
"Itu sudah masa lalu, mas. Tidak usah diungkit lagi. Tapi yang jelas, Mei sudah ga mau kerja terlalu dekat dengan lawan jenis, apalagi sudah ada mas Aslan di samping Mei. Cukup banyak contohnya dulu di kantor yang buat Mei ilfeel. Susah untuk tetap waras kalau ada di lingkungan toxic. Mei cukup beruntung mas, masih selamat di sana. Sekarang lebih baik Mei milih kerja remote, meski gajinya jauh lebih kecil."
Suaminya tampak tertegun memandangnya, dan kemudian tersenyum lebar. "Makasih, Mei..."
Meski cuma dua kata yang diucapkan suaminya, tapi Mei sangat tahu, maknanya jauh lebih besar. Refleks, ia memegang tangan pria itu lebih kencang.
"Kalau ada yang mas ga suka dari Mei, tolong kasih tahu Mei langsung ya mas. Kadang Mei mungkin ga ngerti mau mas Aslan gimana, jadi tolong jelasin ke Mei sampai Mei ngerti. Mei juga akan lakuin itu ke mas. Mei ga mau kita salah paham kaya dulu, mas. Sama sekali Mei ga mau."
Jempol Aslan mengusap tangan isterinya dan mer*masnya lembut.
"Sama Mei. Mas juga ga mau kita miskomunikasi kaya dulu. Mas akan usahain buat komunikasiin apapun dulu ke kamu. Maafin mas ya Mei, dulu mas ga berani ngelakuinnya..."
Melihat kesempatan, wanita itu menatap mata cokelat suaminya yang sedang bersinar lembut.
"Boleh Mei tanya sesuatu, mas? Tentang bunda."
Terlihat, topik itu membuat suaminya tidak nyaman, tapi pria itu hanya menghela nafas dan mengangguk.
"Tanyalah, Meichan. Ga seperti dulu, mas akan menjawabnya sekarang dengan jujur."
Hati Mei melambung di dalam. Setelah meredakan debaran jantungnya, ia memberanikan diri menanyakan hal yang selama ini menjadi pertanyaan di benaknya bertahun-tahun.
"Kenapa waktu itu mas Aslan setuju untuk menikah lagi?"
meican Ama aslan gak terpisah
bibit bebet bobot penting, agama penting, kaya penting....
tapi juga gak penting penting amat
yang terpenting watak dan akhlak...
jika baik insyaallah rumah tangga juga baik.....
makasih Thor.........
payah loe Aydin