"Kamu tidak perlu bertanggung jawab. semua yang kamu takutkan tidak akan terjadi,"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arzeerawrites, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Flashback 2
Pukul delapan malam, waktunya Alona lepas tugas. Alona akan dijemput oleh ayahnya seperti biasa. Gadis itu menunggu kedatangan Dandy di depan kedai. Suasana masih ramai karena saat ini merupakan akhir pekan.
Suara klakson motor berhasil membuat Alona tersentak. Dandy tertawa melihat raut kaget putrinya.
"Jantung aku hampir jatuh," ucap Alona.
Dandy mengisyaratkan Alona untuk naik ke motornya. Lalu menyerahkan helm pada Alona.
"Kedai ramai?" tanya Dandy seraya menoleh sebentar.
Alona menghela napas pelan. Ah, Ayahnya mengingatkan Ia pada kejadian siang tadi.
"Ramai, Yah," jawab Alona. Dandy mengangguk lalu mulai menyalakan motornya yang lusuh mengingat dibelinya motor itu ketika Alona masih menginjak bangku sekolah dasar.
*************
"Bagaimana keadaan Desta, Bu?"
Begitu sampai di rumah kontrakannya, Alona langsung bertanya mengenai adiknya yang masih di rumah sakit. Alona terlampau khawatir.
"Ibu tumben enggak jaga di sana?"
"Desta sudah bisa ditinggal sebentar. Mungkin tengah malam Ibu akan kembali ke rumah sakit, menemani Desta tidur,"
"Besok pagi saja, Bu. Pergi tengah malam tidak baik untuk kesehatan Ibu," jelas Alona yang juga mengkhawatirkan kesehatan Ibunya. Memang seharusnya mereka berdiam diri di rumah mengambiskan waktu senja berdua. Namun apa daya. Peran mereka masih sangat dibutuhkan ketika kondisi keluarga seperti ini. Alona harus mencari uang begitupun dengan Tita dan Dandy yang tak bisa berdiam diri di saat putri sulung mereka banting tulang setiap harinya. Sementara Desta juga membutuhkan perhatian lebih dari kedua orang tuanya. Saat ini Dandy bekerja sebagai buruk pabrik sementara Tita menjahit di sela waktunya merawat Desta.
"Kamu makan dulu ya? setelah itu langsung mandi," ucap Tita yang langsung dipatuhi putrinya.
Alona langsung melahap makan malam yang dimasak oleh Ibunya. Begitu juga dengan Dandy yang terlihat sangat menikmati masakan istrinya. Dandy juga baru pulang dari tempat kerjanya dan langsung menjemput Alona. Mereka sama-sama lelah. Ketiga orang itu tampak bersyukur dengan pemberian Tuhan hari ini sehingga mereka bisa makan walaupun dengan lauk sederhana.
"Ibu kira kamu di antar pulang lagi sama Pak Adin," ucap Tita di sela makannya.
Alona terdiam sebentar lalu menggeleng. Ia tahu kalau Ibunya tidak menyukai hal itu jadi sebisa mungkin Alona menghindarinya. Seperti biasa, Adin memang akan selalu mengajaknya pulang bersama.
"Jangan berurusan sama orang berada ya, Nak. Mereka punya segalanya, sementara kamu mau makan saja susah. Kamu akan jadi bulan-bulanan mereka nantinya," nasihat Tita agar Alona lebih berpikir untuk kedepannya sebelum mengambil langkah. Alona harus mampu menilai dirinya sendiri.
Alona tersenyum tipis. Alona cukup tahu diri kalau Ia adalah seorang gadis yang ditakdirkan untuk menjalani kehidupan yang serba berkecukupan. Dan Alona akan menjadikan kesulitan hidupnya itu sebagai motivasi sekaligus pengingat kalau Ia tidak bisa berteman dengan orang-orang berpengaruh.
***********
Alona tampak memasuki ruang kecil yang dijadikan sebagai tempat berkumpul oleh keluarganya. Penampilannya jauh lebih segar dari sebelumnya.
"Sini, duduk sama Ibu,"
Tita menepuk karpet yang juga didudukinya.
"Gimana kerjaaanmu hari ini? lancar?"
"Lancar, Bu," jawab Alona yang akan menghidupkan televisi.
"Kamu enggak terlalu lelah bekerja disana? sepertinya jam kerjamu semakin lama,"
"Enggak, Bu. Jam kerja masih sesuai sama perjanjin awal,"
"Kamu sudah mulai lelah, Alona. Ibu dan Ayah enggak masalah kalau kamu mau berhenti bekerja,"
Tita mengerti bagaimana situasi yang dihadapi Alona saat ini. Tidak seharusnya Alona yang menanggung semua ini. Putri sulungnya sangat bertanggung jawab atas keluarganya.
"Alona senang bekerja di sana, Bu. Justru Alona berharap bisa terus menjadi karyawan di kedai itu. Bekerja di sana benar-benar nyaman,"
Bohong , batin Alona yang berusaha mengingatkannya akan setiap kejadian buruk yang menimpanya. Alona sering menerima cercaan dari teman sesama karyawan dengan berbagai alasan. Ada yang menyikutnya dengan sengaja karena ingin naik jabatan, ada juga yang menjadikan Alona sebagai musuh dalam mendapatkan perhatian atasan mereka. Alona merasa bahwa sebenarnya hal itu lumrah terjadi dalam dunia pekerjaan. Untuk sejauh ini Alona masih baik-baik saja, tidak ada masalah yang perlu dibesarkan.
"Ini seharusnya bukan tanggung jawab kamu. Jadi kalau kamu ingin menyerah, maka jangan sungkan untuk melakukannya. Ibu enggak tega lihat kamu yang hampir tiap hari pulang malam dengan wajah lelah luar biasa, belum lagi badan kamu yang semakin kurus,"
"Enggak, Bu. Alona senang bisa membantu Ayah dan Ibu,"
mampir jg di bukalah hatimu untukku
Gabungin ja thor sm MCH biar bareng sm triple A.
Khadziya ketinggaln jauh dech si triple A udh pd gede si dziya mlh msh baby 😂