Ketika ibu lain bahagia menanti kehadiran sang buah hati, Syifa Amira Chandani harus menelan derita. Kebahagiaannya direnggut paksa, padahal dua bulan lagi dia melahirkan. Syifa diceraikan hanya karena Haris masih mencintai Nadia, istri pertamanya.
Janji-janji Haris hanya manis di bibir. Nyatanya, dia hanya dijadikan pelarian.
Syifa berpikir, pelangi akan muncul di langit setelah hujan mereda. Namun, hujan tak kunjung reda. Badai belum berakhir. Dia harus tegar demi sang buah hati. Akankah Syifa berpeluang mengecapi manisnya madu setelah ditinggalkan Haris?
Mohon baca setiap bab yang update. Jangan menumpuk bab. Terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Tiga Puluh Empat
Syifa memandangi wajah Haikal dengan penuh tanda tanya. Terlihat sekali jika pria itu kurang suka ketika dihubungi.
"Baiklah, aku akan segera ke sana!" ucap Haikal lagi. Setelah itu, dia menutup sambungan telepon.
Haikal lalu memandangi Syifa, membuat wanita itu makin penasaran, siapa yang menghubungi calon suaminya itu. Pria itu menarik napas sebelum bicara.
"Celine tadi yang menghubungi. Hawaa sakit, suhu badannya cukup tinggi. Apakah kamu keberatan jika mengantar aku ke rumah mertuaku? Aku ingin bawa Hawaa ke rumah sakit," kata Haikal.
"Tentu saja aku tak keberatan, Mas. Segera saja kita kesana. Hawaa harus cepat di bawa ke rumah sakit," ucap Syifa panik.
Haikal lalu memutar balik mobilnya dan melaju menuju ke rumah mertuanya. Beruntung dia masih berada di dalam kota itu. Sehingga perjalanan tidak terlalu jauh, hanya setengah jam.
Sampai di rumah mertuanya, Haikal segera turun. Di perjalanan dia sudah menghubungi Celine, mengatakan agar bersiap-siap. Gadis itu sempat bertanya kenapa Haikal berada di kota ini.Namun, dia tak menjawab. Orang tua Haikal dan mertuanya kebetulan tinggal di satu kota yang sama.
Haikal mengetuk pintu. Baru satu kali, telah terdengar langkah kaki mendekat. Ternyata Celine yang membuka pintu. Mertuanya memangku Hawaa.
"Selamat malam, Ma. Bagaimana keadaan Hawaa?" tanya Haikal.
"Suhu badannya turun naik. Celine tak berani bawa mobil sendiri, karena sudah larut malam. Maaf kalau mengganggu kamu, Nak Haikal. Tapi kenapa kamu cepat sekali sampainya?" tanya Ibu Tuti, mantan mertua Haikal.
"Kebetulan aku baru dari rumah mama," jawab Haikal.
Haikal langsung meraih putrinya dan menggendong. Celine lalu mendekati pria itu. Tadi sudah aku kompres. Jadi panasnya sedikit turun. Aku pikir Mas ada di rumah, pasti akan lama sampai," ucap Celine.
"Terima kasih, biar aku bawa ke rumah sakit sekarang, Bu," balas Haikal.
"Tunggu aku ambil jaket dulu, Mas," ucap Celine.
Celine langsung masuk ke dalam kamarnya dan mengambil jaket. Dia lalu berjalan menyusul Haikal yang telah berjalan terlebih dahulu di depannya.
Haikal membukakan pintu mobil. Celine langsung mendekat ingin masuk. Gadis itu pikir, pintu dibuka agar dia masuk. Saat melihat ada Syifa, wajahnya langsung cemberut dan merah karena menahan amarah.
"Syifa, tolong pangku Hawaa," ucap Haikal. Dia melihat ke arah Celine yang berdiri tepat dibelakangnya.
"Kamu ikut juga atau tunggu di rumah saja?" tanya Haikal.
"Aku ikut, dong. Takut nanti Hawaa mencari jika aku tak ada," jawab Celine dengan suara kesal.
"Kalau begitu, masuklah. Hati-hati, jangan sampai Adam terbangun," ucap Haikal.
Haikal langsung berjalan menuju pintu dan masuk. Celine semakin kesal karena dia berpikir pria itu akan membukakan pintu. Kekesalannya makin bertambah saat melihat kursi belakang hanya tersisa sedikit. Dipenuhi dengan tubuh Adam.
Celine duduk di sudut dengan wajah cemberut. Apa lagi melihat Haikal yang sering mencuri pandang ke arah Syifa dengan tersenyum. Terlihat sekali jika pria itu sangat mencintainya.
Celine meremas tangannya menahan rasa cemburu. Dia membuang pandangan ke luar jendela, memandangi jalanan. Namun, rasa ingin tahunya membuat gadis itu akhirnya membuka suara untuk bertanya.
"Kenapa Mas dan Mbak Syifa bisa keluar malam-malam? Katanya tadi dari rumah mama?" tanya Celine.
"Kami memang dari rumah mama. Membicarakan tentang pernikahan kami," jawab Haikal.
"Mas mau menikah dengan Mbak Syifa?" tanya Celine lagi.
"Ya, segera dalam waktu dekat ini," jawab Haikal.
Dada Celine terasa sesak mendengar jawaban dari mantan kakak iparnya. Dia tak bisa berkata apa pun lagi. Semua diam larut dalam pikiran masing-masing.
Sampai di rumah sakit, Hawaa di gendong Syifa dengan penuh kasih sayang. Sedangkan Adam di gendong Haikal. Mereka langsung menuju ruang IGD. Setelah diperiksa, bocah itu ternyata hanya demam tanpa ada penyakit lainnya. Saat ini sudah di ruang perawatan. Dokter memberikan dua pilihan. Mau rawat inap atau jalan. Haikal memilih rawat inap agar bisa diawasi dokter.
Haikal memilih kamar VVIP agar bisa menampung banyak pengunjung nantinya. Semua juga agar sang putri merasa nyaman di rumah sakit.
"Bunda ...," ucap Hawaa saat membuka mata dan melihat Syifa. Wanita itu memang meminta Hawaa untuk memanggil dirinya dengan sebutan bunda.
"Iya, Sayang. Apa yang Hawaa inginkan, Nak?" tanya Syifa dengan lembut. Hal itu membuat Celine makin merasa cemburu.
"Bunda ... aku kangen," ujar Hawaa lagi. Ucapan bocah itu tentu saja membuat Haikal terkejut, apa lagi Celine. Dalam pikiran mereka, kenapa anak itu bisa mengatakan itu pada orang yang baru di kenal. Mungkin Hawaa merasa nyaman karena merasa jika Syifa memiliki hati yang tulus dan ikhlas.
"Bunda juga kangen Hawaa," balas Syifa. Dia lalu mengecup dahi bocah cilik itu. Terlihat sekali ketulusan dari sikapnya. Haikal tersenyum bahagia melihat interaksi keduanya.
Haikal menidurkan Adam di tempat tidur untuk keluarga pasien. Di ruang VVIP memang tersedia dua tempat tidur. Satu buat pasien dan satu buat keluarga yang menjaga. Tadi bocah itu sempat terbangun, tapi tidur kembali.
"Bunda, jangan kemana-mana ya. Di sini saja," pinta Hawaa.
"Baik, Sayang. Sekarang Hawaa bobok. Bunda jaga di sini," jawab Syifa dengan penuh ketulusan.
Syifa tidur di kursi samping ranjang. Dengan tangannya yang digenggam Hawaa. Sepertinya bocah itu takut jika tangannya terlepas, wanita itu lalu pergi meninggalkannya.
Melihat semua sudah tertidur, Haikal bermaksud keluar untuk membeli roti atau cemilan lainnya. Celine yang tadi tertidur di sofa, langsung bangun. Dia lalu menyusul Haikal.
Dengan tergesa dia berjalan. Rupanya tadi, gadis itu hanya berpura-pura tidur. Saat jarak makin dekat, Celine memanggil nama Haikal. Pria itu menghentikan langkahnya dan memandangi wajah gadis itu dengan wajah keheranan. Tadi dia berpikir jika adik mantan istrinya itu telah lelap tidurnya.
"Mas, aku ingin bicara!" ucap Celine.
"Apa yang harus kita bicarakan? Haikal bukannya menjawab pertanyaan Celine justru balik bertanya.
"Ada banyak yang ingin aku sampaikan dan katakan padamu Mas," jawab Celine.
Haikal terdiam dan tampak berpikir. Dia mungkin mencoba menebak apa yang ingin adik iparnya itu katakan. Beberapa saat keduanya saling diam. Akhirnya pria itu setuju.
"Baiklah, kita bicara di kantin rumah sakit saja," ucap Haikal. Kantin rumah sakit itu buka dua puluh empat jam.
...----------------...
bukan pere yg bergilir
si harris pun brasa piala bergilir mungkinnn...laku looooo...????
kl pere baik2 gk mungkin deketin org yg dh ada pasangan nya.
mk nya nm nya jd pelakor...