Hanya seorang penjual ikan disiang hari. dan pengantar barang dimalam hari itulah pekerjaan pria yang bernama Satria.
Di caci maki sudah menjadi makanannya sehari-hari. Bahkan lebih parahnya lagi dia di khianati oleh istrinya sendiri dan hampir dibunuh oleh selingkuhan istrinya tersebut.
Tapi nasib merubah hidupnya sejak dia menolong seorang kakek tua misterius yang memberinya sebuah kalung pusaka naga.
Dan itu merubah hidupnya menjadi seorang penguasa.
Akhirnya Satria bertekad untuk membalas orang yang sudah merendahkan nya.
Penasaran dengan kisahnya? Baca yuk!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pa'tam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Satria dan Dewi keluar dari perusahaan. Karena keduanya ingin bertemu klien mereka disebuah restoran.
Dewi mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Karena pertemuan tersebut hanya tinggal beberapa menit lagi.
Kini keduanya pun tiba ditempat yang sudah dijanjikan. Dewi memarkirkan mobilnya ditempat parkir khusus mobil.
Kemudian Dewi keluar terlebih dahulu, Dewi membukakan pintu mobil untuk Satria. Satria dan Dewi pun masuk kedalam restoran tersebut.
"Selamat datang Tuan, Nona," sapa pelayan hotel tersebut.
Dewi dan Satria hanya mengangguk sedikit sebagai jawaban. Kemudian pelayan pun mengantar Satria dan Dewi ketempat pertemuan mereka.
Ruang VVIP ada tempat mereka membahas kerjasama mereka. Pelayan membukakan pintu ruangan tersebut.
"Maaf mister J, sudah menunggu lama," kata Satria.
"Tidak apa-apa, tuan Satria. Saya juga belum lama sampai kesini," jawab mister J.
Kemudian mereka membahas kerjasama, Dewi begitu cekatan dalam menyampaikan proposal. Sehingga mister J sangat berpuas hati.
Akhirnya kerjasama mereka pun terjalin, dan kedua belah pihak pun menandatangani kontrak kerjasama tersebut.
Pelayan datang membawa pesanan mereka. Karena sebelumnya mister J dan asistennya sudah memesan makanan terlebih dahulu.
Mister J sengaja, jika sudah selesai membahas kerjasama barulah pesanan makanan diantarkan.
"Saya sangat berpuas hati dengan kerjasama ini, tuan," kata mister J.
"Terima kasih mister, semoga kedepannya kita bisa bekerjasama dengan lebih baik lagi," jawab Satria.
Setelah selesai makan, Dewi dan Satria pun pamit undur diri. Keduanya bersalaman dan akan bertemu lagi nanti.
"Bagaimana menurutmu?" tanya mister J pada asistennya. Setelah kepergian Satria dan Dewi.
"Sangat bagus, Tuan," jawab asistennya.
"Maksudku cewek itu," kata mister J.
"Cantik cekatan dalam bekerja dan cerdas," ucap asistennya.
"Hmmm. Tapi tatapannya sangat tajam," kata mister J.
Kemudian mister J dan asistennya pun keluar dari ruangan itu. Mereka akan kembali ke perusahaan mereka.
Sementara Satria dan Dewi sedang dalam perjalanan menuju perusahaan mereka. Tiba-tiba mobil mereka dihadang oleh sebuah mobil besar. Sehingga Dewi mengerem secara mendadak.
Beruntung Dewi menyetir tidak terlalu laju. Sehingga tidak terjadi kecelakaan. Dewi menghela nafas berat.
Kemudian keluarlah 10 orang dari mobil yang menghadang mereka. Dewi hendak keluar, tapi ditahan oleh Satria.
"Siapa mereka?" tanya Satria yang memang tidak mengenal mereka.
"Mereka panglima perang dari wilayah tenggara," jawab Dewi.
"Apa kita bermusuhan dengan mereka?" tanya Satria.
"Tidak, bahkan kami sejak dulu tidak pernah menyinggung mereka," jawab Dewi.
Merasa kurang puas hati, Satria pun keluar dari mobil. Dan disusul oleh Dewi.
"Maaf, apa ada masalah? Sehingga kalian menghadang kami?" tanya Satria.
"Kami mendapat perintah dari ketua Jansen untuk menghabisi kalian," jawab salah satu dari mereka.
"Sepertinya kalian salah orang," kata Dewi.
"Tidak! Memang benar, kami mendapat perintah dari tuan kami," jawab si A.
Mereka adalah panglima pilihan yang terkuat di wilayah tenggara. Mereka mendapat tugas untuk menghabisi Satria.
"Bilang pada ketua kalian, kami tidak pernah menyinggung kalian," kata Dewi.
"Kami tidak akan mencegat kalian jika bukan kalian yang dulu memulai," kata si A.
"Itu semua bohong, kami tidak pernah mencari masalah dengan ketua kalian," jawab Dewi.
"Serang!" perintah salah satu dari mereka.
"Tunggu...!" Satria mencoba menenangkan mereka. Tapi mereka masih tetap menyerang.
Satria dan Dewi tidak membawa senjata. Jadi Satria meminta Dewi untuk mundur.
Satria mengibaskan tangannya. 5 orang terpenting ke tanah. Yang lain menghentikan gerakannya untuk menyerang.
"Jika kalian masih bersikeras, maka nasib kalian akan sama seperti teman kalian," ancam Satria.
Aura kepemimpinan Satria pun keluar. Mereka yang merasakan aura tersebut hanya bisa mematung di tempatnya. Dewi pun merasa takjub dengan aura dari tubuh Satria.
"Bilang pada ketua kalian, kami tidak ingin bermusuhan," kata Satria.
Tapi ternyata mereka tidak peduli. 5 orang yang tadi terlempar pun bangkit kembali. Mereka menyerang Satria dan Dewi secara bersamaan.
"Jangan salahkan kami bila kalian hancur," kata Dewi.
Akhirnya pertarungan pun tidak bisa terelakkan. Mereka melawan Dewi dan Satria menggunakan senjata berupa pedang.
Dewi tidak ada pilihan lain, ia juga mengeluarkan pedangnya yang biasa dijadikan ikat pinggang.
Senjata tersembunyi Dewi, pedang khusus yang lentur dan kuat tapi tidak mudah patah. Satria yang tidak membawa senjata hanya melawan dengan tangan kosong. Satria tidak ingin membunuh mereka. Hanya untuk mengalahkan mereka saja.
Pertarungan pun masih berlangsung. 2 lawan 10 memang tidak seimbang. Tapi Dewi adalah panglima perang terkuat. Tidak sulit baginya untuk mengalahkan mereka.
Satu persatu mereka tumbang. Dewi yang memang ahli dalam bertarung tidak merasa kesulitan sama sekali.
Akhirnya mereka semua terkapar di tanah. Ada yang terluka karena pedang, ada yang patah tulang karena pukulan.
Dewi mengelap pedangnya dan menyimpannya kembali. Kemudian mereka meninggalkan tempat itu.
"Apa sebenarnya yang terjadi? Mengapa mereka tiba-tiba menyerang?" tanya Satria.
"Pasti ada yang memprovokasi mereka, tuan muda," jawab Dewi.
"Hmmm. masuk akal, apakah itu Lohan?" tanya Satria.
"Bisa jadi tuan," jawab Dewi.
"Kalau begitu, kita harus musnahkan Lohan. Aku rasa dia sangat berbahaya," kata Satria.
Dewi mengangguk setuju. Ia juga sependapat dengan tuan mudanya. Karena antara mereka dengan wilayah tenggara tidak pernah berselisih.
Dewi melajukan mobilnya, sehingga keduanya cepat tiba di perusahaan. Dewi membukakan pintu mobil setelah ia memarkirkan mobilnya.
Kemudian keduanya pun masuk kedalam gedung perusahaan.
"Kamu tau persembunyiannya Lohan?" Tanya Satria.
"Rumah miliknya dan mansionnya tau tuan," jawab Dewi.
"Suruh orang kita menangkapnya hidup-hidup. Jangan lupa anaknya juga," perintah Satria.
Dewi segera menelepon bawahan untuk mengawasi Lohan. Dewi juga mengirimkan alamat tempat tinggal Lohan. Merekapun bergerak cepat.
"Sudah tuan muda. Mereka akan mengawasi Lohan dan anaknya terlebih dahulu," jawab Dewi.
Mereka tiba di lantai tempat ruang kerja mereka. Dewi kembali ke ruang kerjanya. Satria juga masuk kedalam ruangan nya.
Satria menyandarkan tubuhnya disandaran kursi. Satria ingin berpikir sejenak, untuk menenangkan dirinya.
Kemudian ia melanjutkan pekerjaannya yang tadi sempat tertunda. Satria masih memikirkan kejadian tadi. mengapa tiba-tiba mereka diserang oleh orang dari wilayah tenggara.
....
Para bawahan yang diutus oleh Dewi pun bergerak dengan cepat. Mereka akan mengawasi Lohan dan Ronald. Baru setelah itu mereka akan menangkap Lohan.
Selama ini Lohan selalu bisa lolos. Karena Lohan sangat licin seperti belut. Lohan juga sangat licik.
Beberapa orang yang di perintahkan oleh Dewi sedang dalam perjalanan menuju alamat yang sudah diberikan oleh Dewi.
Ada 10 orang yang akan mengawasi Lohan. Kali ini mereka bisa memastikan jika Lohan tidak akan lolos lagi.
Mereka yang terpilih untuk mengawasi Lohan, adalah orang-orang yang sudah terlatih dalam mengawasi seseorang.