Dilarang boom like dan tabung bab, tolong baca bab nya satu per-satu tanpa dilompat yah 🙏
Sebuah tragedi membuat seorang wanita bernama Vania Garvita harus terpaksa berpisah dengan putra semata wayangnya, Alvaro Neandra.
Setelah menjalani hukuman selama beberapa tahun, Vania berhasil bebas dan langsung mendatangi putranya di panti asuhan.
Namun, Vania dikejutkan karena ternyata Varo tidak berada di tempat itu. Sampai akhirnya dia tahu jika putranya sudah diambil oleh sepasang suami istri beberapa tahun silam tanpa sepengetahuannya.
Apakah yang sebenarnya terjadi pada kehidupan Vania? Dan siapakah yang telah mengambil putranya dari panti asuhan?
Yuk, ikuti kisah mereka yang penuh dengan perjuangan dan air mata!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Andila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33. Bak Pinang dibelah Dua.
Vania dan Willy pergi menuju rumah wanita yang merupakan selingkuhan Johan. Vania sudah tidak sabar untuk segera menjalankan rencananya agar orang-orang yang dia benci mendapat balasan atas apa yang telah dilakukan.
Beberapa saat kemudian, sampailah mereka di tempat tujuan. "Itu rumahnya, Nona. Dan sepertinya Johan sedang berada di rumah itu." Willy menunjuk ke arah rumah bercet biru yang berada tidak jauh dari mereka.
Vania tersenyum sinis saat mendengarnya. "Bagaimana jika aku memfoto mereka untuk dijadikan sebagai ancaman agar wanita itu mau memihakku?" Dia bertanya bagaimana pendapat Willy tentang semua itu.
"Nona kan sudah mendapat banyak foto mereka, untuk apa foto lagi?" tanya Willy. Padahal dia sudah memberi lebih dari lima foto kepada Vania.
"Yah, aku hanya ingin menunjukkan jika sekarang aku sedang mengawasi Johan dan wanita itu. Ah, tapi aku belum sempat membeli ponsel," ucap Vania dengan lirih. Sangking sibuknya, dia sampai tidak ingat dengan benda pipih itu.
Willy terdiam saat mendengar ucapan Vania. Benarkah Vania sepolos itu, hingga lupa dengan benda yang sangat penting seperti ponsel?
"Saya akan menyuruh seseorang untuk membelinya, Nona. Silahkan pakai ponsel saya dulu," saran Willy sambil memberikan ponselnga pada wanita itu.
Vania membelalakkan kedua matanya saat melihat apa yang Willy lakukan. "Ti-tidak perlu sampai seperti itu kok, Willy. Aku bisa pakai foto yang kau kasi saja." Dia menolak dengan tidak enak hati.
Willy mengangguk, tetapi dia tetap menyuruh salah satu anak buahnya untuk membelikan ponsel keluaran terbaru untuk Vania agar wanita itu tidak kesusahan lagi.
"Baiklah, kalau gitu aku tinggal menunggu laki-laki itu pergi. Setelah itu aku baru bisa mendatangi wanita itu," gumam Vania sambil melihat ke arah rumah itu dengan tajam.
Willy hanya diam sambil memperhatikan ke sekitar tempat. Kemudian dia mengotak-ngatik ponselnya untuk memeriksa sesuatu.
Sementara itu, di tempat lain terlihat Brian sedang melamun di kursinya sambil memikirkan apa yang Arsen katakan tadi. Tidak mungkin wanita yang bersama laki-laki itu adalah ibu kandungnya, tetapi entah kenapa perkataan laki-laki itu sangat mengganggu sekali.
"Ayo kita ke kantin, Brian!" ajak salah satu teman Brian.
Brian menoleh ke arah samping, lalu sedetik kemudian dia menggelengkan kepalanya. "Aku tidak lapar, kau pergi saja." Dia kembali melihat lurus ke depan.
"Baiklah," sahut anak lelaki itu sambil menatap dengan bingung. Kemudian dia berbalik san segera pergi untuk makan siang.
Setelah temannya pergi, Brian tampak menundukkan kepalanya di meja dengan beralaskan tangan. Kepalanya terasa pusing dengan apa yang terjadi, apalagi dia sama sekali tidak tahu dan tidak mengerti dengan semua ini.
"Kalau aku cerita sama paman lagi, dia pasti akan khawatir. Kalau aku cerita sama mama, mama pasti akan heboh dan membuat papa tau," gumam Brian. Dia benar-benar merasa sangat bingung.
Brian lalu membuka tasnya untuk mengambil ponsel karena ingin menghubungi pamannya. Untung saja guru tidak tahu jika dia membawa ponsel, kalau tahu maka pasti akan disita.
"Loh, bukannya ini kotak yang tadi?" ucap Brian dengan kedua mata membelalak lebar saat melihat kotak pemberian Arsen berada di dalam tasnya. Kenapa bisa seperti itu?
Dengan ragu, Brian mengambil kotak itu dan meletakkannya di atas meja. Sebenarnya dia merasa penasaran dan ingin melihat apa yang ada di dalamnya, tetapi dia takut jika masalah semakin besar.
"A-aku akan melihatnya sedikit," gumam Brian. Dia janji akan kembali menutup kotak itu jika sudah melihat isinya, bila perlu dia juga akan membuang kotak tersebut.
Deg.
Tubuh Brian terdiam kaku saat melihat ada beberapa foto di dalam kotak itu. Dia lalu mengambilnya dan memperhatikan foto tersebut.
"Wanita yang difoto ini pasti wanita yang tadi," tebak Brian karena wajahnya benar-benar sangat mirip.
Brian terus melihat foto itu satu persatu, hingga ada sebuah foto yang menampakkan seorang lelaki dengan wajah mirip seperti wajahnya sendiri.
"Si-siapa dia, kenapa wajah kami mirip?" ucap Brian dengan penuh tanda tanya. Dia lalu mengambil ponselnya dan membuka album foto untuk mencari fotonya sendiri, kemudian dia meletakkan benda pipih itu di samping foto laki-laki tadi karena ingin membandingkannya.
Cukup lama Brian mengamati foto antara laki-laki itu dan dirinya sendiri, lali hasilnya mereka memang sangat mirip sekali, bahkan seperti pinang yang dibelah dua.
"Sebenarnya siapa dia, kenapa, kenapa wajahnta bisa mirip kayak gini?" ucap Brian kembali dengan tidak percaya, apalagi laki-laki itu sedang berfoto dengan wanita tadi sambil menggendong bayi yang juga mirip dengan wajahnya, walaupun hanya sedikit saja.
"Aku harus bertanya dengan mama."
•
•
•
Tbc.
beni jadi bima
dan Belinda sebaiknya kamu jujur sama Brian , daripada nanti Brian akan membencimu karena kebohongan mu .
lanjut terus kak... semangat moga sehat dan sukses selalu . saranghaeyo ❤️❤️❤️
helloooo..... Ivan apakah kau lupa bahwa kesempurnaan hanya milik sang pencipta alam semesta ini .
harusnya kamu sadar tekanan yang kamu lakukan pada Brian akan membuat dia menjadi sosok pria yang dingin dan kaku .
lanjut terus kak.... semangat dan moga sehat slalu .
lanjut terus kak... semangat dan moga sehat slalu .
Vania.... aku selalu mendukungmu , misi mu untuk menghancurkan keluarga suamimu pasti lah berhasil dengan dukungan dari Arsen ,
lanjut terus kak... semangat dan moga sehat slalu .