Setelah menerima penolakan Shena yang memilih untuk hidup bersama pria lain, dunia Joe Mafarulls tentu runtuh hingga hancur lebih dari apa yang dirasakannya ketika dulu gadis itu pergi jauh akibat terlalu sering ia lukai hatinya. Joe berubah menjadi pria kaku nan dingin.
Kehancuran yang dirasakan Joe nyatanya tidak berhenti sampai di situ saja. Saat gadis yang dicintainya itu dalam perjalanan menuju bandara, ia terlibat dalam kecelakaan hebat dan nahasnya menewaskan semua orang. Kecuali Shena. Gadis itu mengalami luka yang cukup serius dan berujung koma.
"Aku bisa saja merebutmu dengan paksa dari laki-laki mana pun! Tapi jika Pemilik Kehidupan yang mengambilmu, aku bisa apa?" Adakah seseorang yang bersedia merangkul pemilik segenap luka yang melumuri jiwa hampa seperti Joe? Jikapun ada, apakah Joe akan menerimanya dan berpaling dari Shena?
Kisah ini merupakan sequel kedua dari "JARAK ANTARA DUA HATI"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 - Biar Aku Ingatkan
"Tolong percaya padaku, Ma. Itu semua hanya rekayasa! Mama lebih mengenalku, kan? Aku mencintai anak Mama, gak mungkin sanggup melakukan tindakan tercela itu!" sanggah Erlita panjang lebar.
Tidak. Ia tidak akan diam saja! Membalaskan dendam sang kakak telah berjalan sejauh ini, mana mungkin mau berhenti begitu saja.
Erlita terus merayu Mama Amelia dengan mulut manisnya.
Akan tetapi, wanita paruh baya itu sungguh telah kecewa.
Mereka sudah tak lagi berada di ruangan Shena, lantaran Zoe yang gemas dan muak telah menyeret tubuh sang suster keluar ruangan, lalu diikuti pula oleh yang lainnya.
"Mama benar-benar gak nyangka, Erli. Selama ini kamu terlihat tulus dan baik. Tapi ternyata itu hanya upayamu untuk melancarkan rencana busukmu ...." Mama Amelia menjeda ucapannya. "Apa kamu memiliki kepribadian ganda? Ha?"
Mama Amelia berbicara dengan suara yang datar, tetapi tegas dan menekan. Sorot matanya bahkan menyala-nyala, menumpahkan kekecewaannya.
Alih-alih kembali menampik, Erlita kini pilih mengangguk. Sorot matanya berubah, datar dan tajam. Ia seka pelan air mata yang sebenarnya tak ada itu menggunakan ibu jari, lalu tertawa yang terdengar miris seperti orang tidak waras. Tak lama, Erlita lanjut menangis, tangisan yang teramat lirih dan terkesan pilu.
Kedua orang tua Zoe bahkan mengernyitkan dahinya, kemudian menggelengkan kepala.
"Maafin aku, Ma. Aku melakukan itu semua karena cemburu pada Mbak Shena, dan cemburu itulah yang membutakanku. Percayalah padaku, Ma. Aku ...."
Kepala Mama Amelia bahkan sampai menggeleng berulang kali, tak habis pikir pada gadis ini. Semakin Erlita banyak bicara, maka Mama Amelia semakin yakin bahwa selama ini ia telah salah menilai.
Matanya telah berkaca-berkaca, sesak sekali rasanya. Mama Amelia memang kecewa pada gadis itu, tetapi setelah mengetahui semuanya ia jadi lebih kecewa pada dirinya sendiri. Tangannya bahkan memukuli dadanya sendiri karena mendadak sulit bernapas.
Zoe dan Papa Ruly yang melihat hal itu sontak saling pandang, lalu memberi isyarat pada sang Papa agar membawa Mama Amelia ke kamar mereka.
"Ayo, Ma. Biar putra kita yang mengurus semuanya," ajak Papa Ruly dengan lembut. Mama Amelia tak mengatakan apa pun, ia mulai melangkah mengikuti perkataan suaminya. Sebab, berdiri di sini pun telah tiada guna.
Erlita yang sadar akan pergerakan Mama Amelia kembali berteriak, lalu meronta seraya bersimpuh, hendak menarik tangan wanita paruh baya itu. Namun, dengan cepat Dokter Andrew menahannya.
Sang nyonya tentu tak lagi sudi percaya. Bukti menyatakan gadis di hadapannya ini benar-benar memiliki topeng tebal disertai mulut berbisa.
Lantaran kondisi semakin kacau dan Erlita terus mengelak, Zoe akhirnya menghubungi Pak Erlan Sagara. Seorang pengacara kondang yang selalu bekerjasama dengannya.
Zoe tidak mungkin mendatangkan anggota kepolisian ke rumah ini, atau dalam sekejap wartawan akan berdatangan dan menyebarkan berita yang dilebih-lebihkan. Ia tak ingin sampai itu terjadi.
"Bawa dia ke kantor polisi dan pastikan dia dipenjara!" titah Zoe pada Pak Erlan ketika sudah tiba di hadapannya. Ia sudah menjelaskan perkembangan kasus ini beberapa waktu lalu.
"Tenang saja, Pak. Kasus ini jelas pembunuhan berencana, hukumannya tidak akan ringan. Apalagi dengan semua bukti yang ada, mengelak pun percuma."
Mendengar percakapan itu, Erlita yang berada di cekalan tangan Dokter Andrew sontak meronta. Ia tak terima hidupnya harus berakhir di balik jeruji besi sendirian.
"Aku tidak akan hancur sendirian, Dok. Kamu juga bersalah. Menyeretmu ikut bersamaku bukan hal yang sulit!" geram Erlita.
"Coba saja!" Dokter Andrew sama sekali tidak takut, jikapun nanti ia dinyatakan bersalah, ia siap mempertanggungjawabkan semuanya.
Tanpa banyak kata lagi, Dokter Andrew menarik paksa Erlita memasuki mobil Pak Erlan Sagara. Sementara pengacara tersebut mendekati Zoe untuk berjabat tangan.
"Saya akan melakukan yang terbaik, Pak!" Katanya. Zoe mengangguk kecil, rahangnya masih saja mengetat karena emosinya belum jua sirna.
"Dan ... senin besok saya akan ke kantor Anda. Ada beberapa hal yanga harus kita diskusikan," katanya lagi.
"Hem, datang ke ruanganku jam sepuluh pagi. Karena jam makan siang aku harus berada di sini menemani istriku."
"Baik, Pak. Istri memang prioritas utama," balas Pak Erlan. Keduanya kembali berjabat tangan sebagai tanda perpisahan.
Suasana kembali tenang, Zoe memijat pelipis dan membuang napas berulang kali. Namun, dadanya masih saja bergemuruh, dan satu-satunya orang yang mampu menenangkannya hanyalah Shena.
Ia membuka pintu perlahan, kepalanya lebih dulu masuk dan langsung melihat senyum sang istri di sana.
"Sayang," panggil Zoe dengan suaranya yang lembut. Berbeda sekali ketika ia menghadapi Erlita tadi.
Waktu telah menunjukkan pukul 9 malam, di luar hujan turun dengan sangat deras. Shena yang sejak tadi sendirian hanya bisa menikmati pemandangan sendu tersebut dari tempat tidur, diiringi keributan dari arah luar tadi yang saling bersahutan.
Perasaannya sempat ikut sendu, tetapi juga senang karena sedikit banyaknya telah berhasil membantu misi sang suami. Kini, ia dapat beristirahat dengan baik.
"Aku mau duduk," pinta Shena, tangannya terulur antara menyambut dan meminta bantuan suaminya.
Zoe buru-buru mendekat dan menggenggam tangan Shena, lalu menarik kursi tunggu yang ada di samping ranjang.
Matanya menatap ke arah sang istri, tetapi bibirnya tak henti-henti mengecup tangan hangat itu.
Ia tahu Shena pasti telah menyaksikan seluruh kejadian tadi, tetapi saat ini tak ingin lagi membahasnya. Persoalan suster gila itu telah usai, kini waktunya mereka fokus pada kesehatan Shena.
"Laper nggak? Aku kupasin buah, ya!" tawar Zoe tiba-tiba. Kamar ini dilengkapi kulkas portable, di dalamnya dipenuhi beberapa buah segar yang khusus disiapkan untuk Shena.
"Aku nggak mau buah." Shena balas menatap suaminya.
"Terus? Pasti mau bilang gini 'Aku gak mau buah, mau kamu aja' iya, kan?" kata Zoe dengan nada menggoda.
Shena memutar bola matanya, tetapi bibirnya mengulum senyum. Menahan diri agar tak terlihat termakan godaan.
"Sini aku peluk!" kata Zoe lagi. Pria itu berdiri, lantas menarik lembut kepala sang istri. Shena kini telah berada di dekapannya, rasanya ia tak tahan untuk tidak melabuhkan kecupan bertubi di pucuk kepala wanitanya ini.
Zoe ingin mengungkapkan rasa syukur dan terima kasihnya, tetapi ia telah kehabisan kata-kata. Jadi, hanya inilah yang mampu dilakukannya.
Ajaibnya, Shena memahami maksud tersebut.
Kali ini saja, izinkan aku menikmati kebahagiaan. Meski sejenak, tetapi aku ingin menerimanya. Shena terus bermonolog.
"Masa lalu kita memang menyakitkan, Sayang. Tapi, di balik kesakitan itu, ada banyak kenangan manis yang gak seharusnya kita lupakan."
Shena tersenyum, lalu mengangguk tanda setuju. Tatapannya lurus ke depan, ke arah rinai hujan yang menghiasi jendela kamar ini.
"Kamu ingat ketika kita liburan ke pantai waktu itu?" tanya Zoe memastikan ingatan istrinya.
Meski ingatannya samar-samar, tetapi Shena pilih mengangguk, lalu menjawab, "Ada beberapa pantai yang pernah kita kunjungi, kamu mau bahas pantai yang mana?"
"Pantai Tanjung Aan," sahut Zoe, "tapi bukan pantainya yang akan kita bahas, melainkan kenangannya."
"Yang mana? Kamu masih inget aja," balas Shena seraya mendongak.
Zoe tak langsung menjawab, ia tersenyum manis lalu berkata, "Serius kamu lupa, Na?"
Bagaimana mungkin Zoe melupakan ciuman pertama mereka, kejadian itu bahkan masih membekas jelas di kepalanya hingga saat ini.
Shena tersenyum kikuk, merasa tak enak karena sudah ketahuan melupakan kenangan yang sepertinya istimewa.
"Aku tahu memori ingatanmu belum sepenuhnya sempurna. Jadi, biar aku ingatkan."
Ada pedes-pedesnya
Ada pahit-pahitnya.
Nano-Nano memang.
Best-lah
Ya namanya bener sih