Arsyila Almahira, seorang mahasiswi tingkat pertama yang berprestasi tetapi mengalami kejadian pahit. Tersebarnya video scandal itu membuat dirinya harus pergi jauh dari ibukota. Ayahnya bahkan mengusirnya dari rumah dan tak lagi menganggapnya anak.
Arsyila memutuskan untuk merubah penampilannya menjadi wanita bercadar. Ia berpindah kuliah di universitas Islam dengan jurusan berbeda dari sebelumnya. Ia juga tinggal di pesantren untuk memperdalam ilmu agamanya. Jujur, kejadian yang menimpanya membuatnya sedikit trauma dan berniat untuk memperbaiki diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amallia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode.32
Setelah dua hari menginap di kediaman Pak Wira, hari ini niatnya Adam mengajak istrinya pindah ke rumah miliknya. Ia sudah menyiapkan rumah untuk mereka tempati dari jauh-jauh hari.
"Nak Adam yakin mau pindahan sekarang saja? Apa tidak sebaiknya menginap saja disini untuk beberaoa hari ke depan?" tanya Pak Wira kepada menantunya yang tadi mengatakan niat baiknya.
"Adam pindah sekarang saja, Pah. Lagian rumah Adam lebih dekat jaraknya ke kantor," jawabnya.
"Baiklah, jika memang itu sudah keputusan kalian, papah hanya bisa mendukung saja," ucap Pak Wira.
"Mas, apa di rumah baru sudah di adakan selamatan?" tanya Arsyila.
"Sudah, sayang. Jika belum pasti Mas nggak akan mengajak kamu langsung pindahan."
"Syukurlah." Arsyila bernapas lega.
Setelah mengutarakan niatnya kepada Pak Wira dan Bu Fitri, kini Adam mengajak istrinya ke kamar. Ia akan membantu istrinya berkemas.
"Sayang, kamu bawa pakaian secukupnya saja. Tidak usah dibawa semua karena nanti juga pasti kita sesekali mrnginap disini," ucap Adam saat melihat istrinya yang sedang mengeluarkan pakaiannya dari dalam lemari.
"Baik, Mas," jawabnya.
Setelah selesai berkemas mereka memilih untuk beristirahat. Lagian mereka akan pindahan nanti sore. Jadi, masih memiliki waktu untuk bersantai.
Arsyila mengerjapkan keduanya matanya. Ia melepaskan tangan suaminya yang melingkar di perutnya. Lalu ia membalikan badannya sehingga kini menghadap suaminya. Ia pandangai wajah suaminya yang terlihat tenang saat tidur. Ketampanannya tidak berkurang sedikit pun. Perlahan Arsyila mendaratkan tangannya di wajah suaminya. Namun, seketika Adam membuka kedua matanya dan itu membuat Arsyila salah tingkah.
"Sayang, kenapa memegang wajahku? Apa kamu sedang memandangi ketampanan suamimu ini?" Adam memegang tangan Arsyila yang berada di wajahnya sebelum Arsyila menurunkan tangannya.
"Em tadi ada nyamuk. Aku hanya takut jika nanti wajah Mas Adam bentol-bentol," ucap Arsyila.
"Nyamuk?" Adam mengernyitkan kening. "Kenapa Mas tidak merasakan gatal? Harusnya kalau ada nyamuk nempel pasti langsung gatal."
"Em itu .... "Arsyila tampak berpikir.
Adam tersenyum melihat istrinya yang terlihat bingung mencari alasan. "Mas tahu nih pasti nyamuknya nyamuk cantik."
"Jadi Mas Adam ngatain aku nyamuk?" Arsyila memperlihatkan raut wajah tak bersahabat.
"Upss kenapa kamu marah, sayang? Apa karena kamu sengaja ingin pegang-pegang wajah Masmu ini." Adam terlihat bersemangat menggoda istrinya.
"Apaan sih." Arsyila menutupi wajahnya dengan selimut karena merasa malu.
"Sudah nggak usah malu-malu gitu. Mas ini suami kamu jadi wajar mau kamu pandang 24 jam juga."
"Iishh apaan sih." Arsyila beranjak dari atas tempat tidur lalu berjalan cepat menuju ke kamar mandi.
Adam tersenyum melihat istrinya yang tampak malu-malu. Justru sikapnya itu terlihat menggemaskan dan ia semakin menyukainya.
Adam dan Arsyila kini sudah selesai bersiap. Mereka berjalan menuruni tangga dengan penampilannya yang sudah rapi. Tak lupa Adam membawa koper milik istrinya.
"Kalian mau pergi sekarang?" tanya Pak Wira yany kebetulan sedang bersantai di ruang keluarga.
"Iya, Pah," ucap Arsyila lalu mendekati papahnya di ikuti oleh Adam di belakangnya.
Terlihat Bu Fitri yang baru muncul dari arah belakang. Kebetulan Bu Fitri baru akan mulai memasak. Tetapj mendengar suaminya berbicara dengan Arsyila, jadi Bu Fitri memilih melihatnya ke depan.
"Kalian tidak ingin menunggu makan malam dulu perginya," ucap Bu Fitri sambil melangkah mendekati mereka.
"Tidak, Mah. Nanti biar Adam ajak Cila makan malam di luar saja," ucap Adam.
"Biarkan saja, Mah. Mungkin mereka sudah tidak sabar berdua-duaan tanpa ada yang mengganggu," ujar Pak Wira.
Setelah berpamitan kepada orang tuanya, kini Arsyila dan Adam bergegas pergi.
Hanya menempuh perjalanan sekitar 30 menit saja mereka sampai di rumah baru yang akan mereka tempati. Ternyata rumah yang sudah Adam siapkan begitu mewah walaupun hanya berlantai dua.
"Mas, apa benar ini rumah kita?" tanya Arsyila yang baru turun dari mobil.
"Iya, sayang. Bagaimana? Apa kamu suka?" tanya Adam.
"Suka sekali, ini tuh rumah impianku sejak dulu."
"Ayo kita masuk! Pasti kamu akan lebih suka jika melihat bagian dalamnya." Adam menggenggam tangan istrinya lalu mengajaknya memasuki rumah baru mereka. Sedangkan koper milik Arsyila dibawakan oleh sopir.
"Selamat sore, Tuan, Nyonya," ucap dua asisten rumah tangga yang menyambut kedatangan mereka.
"Sore juga, Bi. Perkenalkan ini istri saya namanya Arsyila," ucap Adam.
"Salam kenal Nyonya Arsyila," ucap mereka berdua.
"Panggil saja Cila, Bi," pintanya.
"Baiklah, Nyonya Cila."
...
...
Adam sedang bersiap memakai kemejanya. Niat ingin cuti tetapi ada pekerjaan mendesak yang harus ia kerjakan di kantornya. Arsyila mendekati suaminya lalu memakaikan dasi.
"Sayang, kamu nggak apa-apa Mas tinggal? Atau mungkin kamu mau ikut ke kantor?" tanya Adam.
"Aku di rumah saja, Mas."
"Baiklah. Ayo kita sarapan!" Adam menggandeng tangan istrinya keluar dari dari kamar.
Arsyila menambahkan nasi dan lauk ke dalam piring suaminya. Memang sudah kewajibannya untuk melayani suaminya. Tak lupa mereka berdoa sebelum memulai makan.
"Mas, mau nambah lagi nggak?" tanya Arsyila saat melihat piring suaminya yang sudah kosong.
"Tidak usah, sayang. Mas sudah kenyang kok," jawabnya sambil mengelap sudut bibirnya dengan tisu.
Setelah selesai sarapan, Adam buru-buru pergi ke kantor. Tak lupa ia berpamitan kepada istrinya sebelum pergi. Arsyila memandang mobil suaminya yang kini sudah keluar dari pagar rumah itu.
Arsyila pergi ke dapur untuk melihat stok bahan makanan. Ternyata semua stok masih penuh. Bahkan cukup untuk persediaan memasak beberapa hari ke depan.
"Nanti siang aku bikin kejutan deh buat Mas Adam. Kalau aku antar makan siang pasti Mas Adam senang," gumam Arsyila.
Beberapa jam kemudian.
Tepatnya pukul sebelas lebih lima belas menit Arsyila bersiap untuk pergi ke kantor suaminya. Ia sudah menyiapkan masakan spesial untuk suaminya. Bahkan ia juga sudah berpakaian rapi.
Arsyila pergi dengan menggendarai salah satu mobil milik suaminya. Sepanjang perjalanan ia menampakan senyum manisnya. Ia sudah tak sabar untuk bertemu dengan suami tercinta.
Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit, kini Arsyila sampai di kantor suaminya. Ia memarkirkan mobilnya lalu bergegas memasuki bangunan menjulang tinggi yang ada di hadapannya itu. Banyak karyawan yang melihat kedatangan Arsyila, karena ia datang disaat jam istirahat. Mereka menyapa Arsyila dengan sopan karena tahu jika wanita bercadar itu adalah istri bosnya. Mereka pernah melihat Arsyila di pernikahannya.
Arsyila bertanya kepada resepsionis dimana ruangan suaminya, karena ini pertama kalinya ia datang ke kantor suaminya. Setelah bertanya, bergegas ia memasuki lift menuju ke ruangan CEO.
Ting
Pintu lift terbuka.
Arsyila melangkahkan kakinya sambil menatap kanan kirinya. Ia mencari dimana ruangan suaminya. Kini ia menghentikan langkahnya di depan ruangan suaminya. Tanpa mengetuk pintu ia membuka pintu itu. Betapa terkejutnya saat melihat suaminya sedang berpelukan dengan seorang wanita. Niat ingin memberikan kwjutan tetapi malah ia yang terkejut.
"Mas Adam, apa yang sedang kalian lakukan?" Arsyila menatap suaminya dengan tatapan kekecewaan.
hahaha 🤣🤣🤣
kamana wae eta .. 🤣🤣🤣
🤣🤣🤣
saudaranya mungkinn . atau adiknyaa . 🤣🤣🤣🤣🤣
org tua ga tau apa manten baru
pake nannya lagi ga buka pntu lama ngapain . 😝😝😝😝
habs ini apalgi konflik nyaa . 🤣🤣 seruu yaaa.