Dijodohkan dengan putra seorang bos mafia? Fiorella Ferraz, delapan belas tahun, sudah bertekad menolak. Dia diseret dari Berlin ke Sydney untuk pesta pertunangan yang tidak pernah dia inginkan, dan di depan semua orang dia berani berkata: aku tidak mau menikah.
Satu orang tidak terima dibantah. Argo Romanov, bos mafia Australia sekaligus calon mertuanya, pria dingin yang tak pernah ditentang siapa pun. Gadis keras kepala itu langsung dia tahan di rumahnya, "sampai tahu aturan".
Namun semakin sering mereka bertengkar, semakin sulit Fiorella menjelaskan kenapa tubuhnya bereaksi setiap kali pria itu mendekat. Dan semakin keras Argo berusaha menjauh, semakin ia kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
Di tengah peperangan antar mafia, kontrak pernikahan yang membelenggu dua keluarga, dan rahasia yang menunggu terbongkar, siapa yang sebenarnya sedang menaklukkan siapa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larissa Marcelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34 - Tunangan yang Jatuh Cinta
...FIORELLA FERRAZ...
Buket mawar itu seperti bom yang siap meledak, dan surat di dalamnya adalah hitungan mundurnya. Jared di sampingku tampak penasaran siapa yang mengirim bunga itu untukku.
"Tidak mau lihat siapa pengirimnya?" Dia memegang punggungku dan mendorong pelan supaya aku melangkah.
Perutku mual. Kalau ini dari ayahnya, kami tamat, habis sudah. Aku mendekati ranjang dan dengan tangan gemetar mengangkat buket itu. Berat sekali, dan jujur, bunga-bunga paling indah yang pernah kulihat. Aku menelan ludah dengan susah payah dan meletakkannya kembali. Di atas ranjang ada surat dalam amplop.
"Pasti salah kirim, Jared." Aku berusaha menutupi. Dia berdiri di sampingku, menunggu aku membaca surat itu.
Aku memutari ranjang supaya dia tidak bisa membaca isinya. Aku harus mengarang apa? Otakku sudah mulai menyusun teks palsu, mungkin dari Papa untukku. Tidak ada penjelasan untuk tunangan yang menerima bunga dari pria lain. Yang dilakukan Argo di sini sangat berisiko.
Aku membuka surat itu dan mulai membacanya keras-keras.
Aku ingin mengaku, setiap hari kamu membuatku makin kagum, Fiorella Ferraz...
Suatu hari kamu akan bertemu seseorang yang jatuh cinta pada semua hobimu, menyukai semua seleramu, dan selalu mendukung keputusanmu...
Seseorang yang menghargai mimpimu, mengagumi tujuanmu, dan tidak mempertanyakan hal-hal yang ingin kamu capai. Aku bangga memilikimu dan bahagia melihatmu bahagia. Aku ingin jadi orang yang menggenggam tanganmu dan memelukmu tanpa kamu minta...
Seseorang yang tahu rasa sakitmu dan menjadi perisai supaya kamu tidak jatuh. Seseorang yang jadi cahayamu di kegelapan dan kekuatanmu saat kamu tidak menemukannya...
Seseorang yang bergelora dan membuatmu percaya hidup itu indah. Kenapa orang itu tidak boleh aku? Aku siap memberikan semua itu, bahkan lebih.
Aku melipat surat itu dan merasakan setetes air mata mengalir di pipiku. Tanganku gemetar tanpa sebab.
"Suka, cantik?" Jared tersenyum, dan senyumku langsung lenyap.
"Jadi... itu dari kamu?"
"Memangnya siapa lagi?" Dia memutari ranjang dan memelukku.
Tertipu, keliru, terkecoh, tersesat, terperdaya, semua sinonim dari tertipu itu aku. Kapan Argo Romanov mau mengirim bunga dan menulis surat seindah ini? Dia manusia gua, tapi aku tetap sempat mengira pengirimnya dia. Lebih mungkin dia kirim untuk istrinya yang penurut daripada untukku.
"Tidak suka?"
"Aku suka banget, Jared. Belum pernah aku menerima hadiah seindah ini."
"Aku mau cerita sesuatu." Dia memegang wajahku. "Kayaknya aku mulai suka kamu, Fiorella. Beneran."
"Oh ya?"
"Iya, tunanganku. Dan bunga ini karena kamu dapat wawancaranya."
"Tapi aku belum lulus."
"Aku percaya padamu dan yakin kamu bakal dapat pekerjaan itu."
"Terima kasih, Jared."
Dia mendekatkan mulutnya ke mulutku dan menciumku. Aku membuka mata kaget dan mundur sebelum bibir kami terbuka dalam ciuman dalam.
"Aku tidak tahan, maaf. Kubiarkan kamu istirahat." Dia mundur ke arah pintu, terus mengamati setiap reaksiku. "Sampai makan malam, cantik." Dia keluar dan menutup pintu.
Adrenalinku melonjak. Jared Romanov menciumku, cukup lama sampai aku merasakan napasnya di wajahku. Bibirnya penuh dan sangat lembut. Anak ini benar-benar berusaha menyenangkan aku, dan aku menyukainya.
Aku turun membawa bunga itu, menaruhnya di vas berisi air, lalu membawanya kembali ke kamar. Mawar-mawar itu mempercantik seluruh ruangan. Aku mandi dan istirahat. Aku bersemangat karena besok akan wawancara kerja, yang pertama seumur hidupku. Aku akan mandiri, dan itu membuatku terpesona.
Aku turun untuk makan malam, dan suasananya berbeda. Lebih menyenangkan. Jared tidak berhenti memandangiku, ada sesuatu yang lain pada anak ini. Argo dan Franco terkunci di ruang kerja, jadi tidak ikut makan malam. Aku ingin jadi nyamuk supaya bisa masuk ke sana dan tahu apa yang mereka bicarakan. Aku sedang memikirkan alasan untuk ke sana. Aku masih tidak terima dia mengabaikan fakta bahwa aku tidak datang menemuinya.
"Mereka tidak makan malam, Tante Lo?" tanyaku penasaran.
"Sepertinya sedang mengurus sesuatu yang penting, mungkin nanti."
Sisa makan malam diisi obrolan ringan. Begitu selesai, aku memutuskan membantu Loretha mengurus piring-piring.
"Jangan-jangan mereka lapar?" Aku takut ketahuan, tapi aku sangat ingin ke sana.
"Kalau lapar mereka datang sendiri, Fiorella. Ah, iya. Hampir lupa." Dia berbalik padaku. "Ada kebakaran di sebuah sekolah, besok pagi-pagi sekali aku harus berangkat membantu para guru di sana."
"Kebakaran? Ada murid yang terluka?"
"Untungnya tidak, sekolahnya tutup. Katanya tabung gas lupa ditutup lalu terbakar."
Aku akan sendirian di rumah ini bersama Jared dan Argo?
"Tante pulang hari apa?"
"Belum tahu kondisinya di sana. Semoga tidak lama. Aku ingin kamu ikut, Fiorella."
"Aku ada wawancara besok."
"Tidak apa-apa kamu di sini dengan para lelaki?"
"Ada penjaga di mana-mana, aku akan baik-baik saja."
"Bagus, tapi tetap saja aku khawatir."
Sekarang aku sendiri jadi khawatir. Aku melupakan soal itu dan malah memikirkan dua orang di dalam sana. Mereka tidak muncul untuk makan malam, pasti lapar.
"Tante Lo, aku antar kopi untuk mereka, mereka belum makan apa-apa." Aku menaruh teko dan dua cangkir di atas nampan.
Loretha setuju dan terus mengurus urusan di dapur. Aku berjingkat ke ruang pribadi tempat mereka berada. Aku payah menjaga keseimbangan dan takut nampannya jatuh lalu aku malu.
Aku menaruh nampan di meja kecil di samping untuk mengetuk pintu, tapi aku mendengar sesuatu yang tidak kusangka. Lantai di bawah kakiku terasa meleleh dan lenyap.