NovelToon NovelToon
The Archon

The Archon

Status: tamat
Genre:Fantasi / Action / Petualangan / Fantasi Timur / Tamat
Popularitas:2.9M
Nilai: 4.8
Nama Author: Domo~

Sebuah menara misterius muncul dari bawah tanah dan menghebohkan dunia. Menara tersebut memunculkan portal-portal berisikan monster dari dunia lain yang biasa mereka sebut "Dungeon". Kehidupan manusiapun ikut berubah bersamaan dengan munculnya menara-menara tersebut, dimana mereka menerima sebuah anugerah bernama “Force” untuk mengimbangi monster-monster yang berada didalam menara. Rado Gavriel seorang pemburu lemah dengan rank Eranel selalu menjadi umpan setiap penyerbuan (Raid) karena ketidakmampuannya dalam bertempur. Suatu ketika, saat ia sedang mengikuti dungeon kelas bawah, tiba - tiba sekelompok monster kelas atas muncul didalam dungeon tersebut dan membuat ia beserta tim raidnya mengalami kesulitan. Rado yang dianggap tidak berguna dikorbankan oleh timnya untuk alat melarikan diri mereka, namun disaat detik-detik akhir hidupnya, Rado ditunjuk sebagai "Archon" dan menerima kekuatan misterius oleh sebuah cahaya yang tidak ia kenal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Domo~, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penentuan Kapten Baru

Beberapa hari kemudian setelah kepergian Rado keluar negeri. Pemerintah Indonesia dihujani sebuah pertanyaan dari berbagai negara tetangga mengenai aksi Rado yang sudah tersebar di sosial media.

Mereka meminta jasa Rado secara jangka panjang untuk membersihkan dungeon rank atas di negara mereka. Namun karena Vasco berjanji untuk menyembunyikan identitasnya, pemerintah Indonesia mengatakan kalau Rado adalah pemburu yang singgah sementara dan tidak ada kaitannya dengan Indonesia.

Didalam Indonesia sendiri, juga sedang hangat perbincangan mengenai menghilangnya pria bermasker setelah insiden di menara dungeon lantai 2 tersebut. Aksi Rado sangat viral dan membuat dirinya menjadi orang yang paling dicari-cari karena kemisteriusannya.

Tetapi dalam kehebohan itu, ada beberapa orang yang saat ini sedang resah dengan menghilangnya Rado dari Indonesia.

"Bagaimana?" Tanya Geraldo kepada Gai dan Bon yang baru saja tiba di Hamstore ruang makan.

"Dia tidak ada dirumah.." Gai berbicara dengan wajah lesu.

"Mungkin alamatnya salah! Bisa kau tanyakan lagi kepada gate keeper?" Selica yang berdiri dari duduknya setelah mendapat hasil yang nihil.

"Kami sudah memastikan berkali-kali kalau ini adalah alamat kapten Rado, jadi tidak mungkin kalau kami salah alamat" Bon menegaskan hal itu.

Mereka yang berkumpul disana terlihat pundung dan bingung dengan hilangnya Rado, ini seperti seekor kelabang yang kehilangan kepalanya maka tubuh itu akan berhenti bergerak.

[Bos..] Guren yang duduk disudut meja merasa kecewa dengan Rado yang melepas tanggung jawab begitu saja. Wajahnya penuh dengan kekesalan yang tertahan.

"Lupakan bos Rado.. kita tidak bisa begini terus! Kita harus menunjuk seseorang untuk menjadi kepala baru" Guren dengan wajah seriusnya memberikan usulan.

Usulan Guren sontak membuat mereka menfokuskan pandangan kearahnya.

"Kau benar.. kita tidak bisa menelantarkan party ini begitu saja, tapi siapa yang akan mengambil posisi kapten?" Gai yang menanggapi usulan tersebut.

Mereka semua bersamaan menundukan kepala karena posisi tersebut adalah posisi yang sungguh berat.

"Geraldo bagaimana dengan mu?" Tanya CLoe menatap Geraldo.

"Aku tidak sanggup memimpin 50 orang, itu sangat berat bagi ku.., bagaimana dengan mu Guren? kau kan sudah lama dengan mereka, mungkin orang-orang itu akan mengikuti mu kalau kau yang memimpin.." Geraldo melempar tanggung jawab itu kepada Guren.

"Aku juga tidak yakin apakah aku bisa menjadi pemimpin, tapi menurut ku yang cocok menjadi pemimpin adalah Gai"

Mereka saling melempar tanggung jawab mengenai posisi kapten, lalu dalam perundingan tersebut Rudy dan Levi bersamaan masuk kedalam ruangan tersebut.

"Biar aku yang akan mengambil posisinya"

Rudy tiba-tiba menawarkan diri sebagai kapten untuk memecah kebuntuan itu dan sontak membuat mereka menoleh terkejut mendengar sukarela dari Rudy.

"Kaka? apa kau yakin?!" Tanya Geraldo dengan senyum tipisnya.

"Hei- hei apa kau meremehkan kemampuan ku dalam hal ini!?" Rudy tolak satu pinggang tersenyum percaya diri.

"Apa kau pernah berburu sebelumnya?" Tanya Gai.

"Hmmm tidak pernah hahahaha" Dengan santainya ia menjawab.

Mendengar pernyataan itu, mereka semua menghela nafas.

"Hah... Maaf tuan Rudy, bukan kami ingin menolak.. tetapi seorang kapten itu harus menjadi sebuah cover dalam sebuah tim, ia harus orang yang kuat dengan aura yang menarik" Guren menggaruk rambut belakangnya sambil tersenyum maksa.

"Hoooo jadi kau meremehkan aku? akan ku tunjukan apa yang ku bisa kepada mu!" Rudy menantang Guren.

Setelah pernyataan yang di lontarkan oleh Rudy, mereka semua berpindah tempat ke halaman belakang yang luas. Halaman tersebut Rudy biarkan karena ia belum tahu untuk dijadikan apa lahan tersebut.

Rudy dan Guren sudah berhadap-dapan satu sama lain, sedangkan yang lain berdiri mengelilingi mereka.

Rudy terlihat memegang busur dengan tas panah yang menggemblok dipunggunya dan juga ada sebuah belati menempel dibelakang pinggangnya. Sedangkan Guren hanya membawa pedang besar yang ia pinjam di toko Hamstore.

"Tuan Rudy, apa kau yakin bisa menang hanya dengan itu? jika satu lawan satu, pertarungan jarak dekatlah yang di untungkan" Guren dengan percaya dirinya meremehkan Rudy.

"Yah mungkin kau benar.. tapi..."

Sebelum Rudy menyelesaikan perkataannya, ia dengan cepat mengambil panah yang berada dipunggungnya dan melesatkan anak panah itu kearah Guren.

*Syuu.. Anak panah itu melesat cepat dan menggores pipi kanan Guren. Jika Guren tidak memiring kepalanya, mungkin saja anak panah itu bisa mengenai hidungnya.

Mata guren terbuka dan bergetar melihat kemampuan dari Rudy, [Ehhh... ternyata perkataannya bukanlah omong kosong, aku sampai tidak bisa bereaksi kapan dia mengambil anak panah itu!]

Mereka yang menyaksikan pertarungan itu tercengang melihat kemampuan Rudy.

"Hei Geraldo.. apakah kaka mu seorang pemanah yang handal?" Bon bertanya kepada Geraldo.

"Aku tidak tau.. tapi waktu semasa sekolah dia memang mengikuti beberapa kegiatan sekolah dan aku tidak tau kalau dia sehandal ini" Geraldo pun juga terkejut melihat kemampuan kakanya.

"Rudy adalah pemegang rekor panahan pada masa sekolah dulu. Semua target bisa ia kenai dengan kecepatan bidik yang diluar nalar manusia, Sakin hebatnya ia sampai di larang mengikuti turnamen panah pada masa itu" Levi sambil melihat pertarungan Rudy dan Guren, memberi tau kepada mereka siapa Rudy sebenarnya.

Mereka semua terkejut mendengar fakta tersebut.

"Kalau begitu kau juga seorang pemanah?" Tanya Geraldo.

"Hah.. jauh sebelum kami bertemu dan menjadi sahabat di universitas.. kami adalah rival di setiap turnamen panahan, dulu dia mewakili SMP 7 dan aku mewakili SMP 158, dan ya... dia adalah orang yang membuat ku berhenti mengikuti kegiatan panahan dan berubah menjadi seorang yang menekuni olahraga Kendo" Levi memegang dahinya sambil menghela nafas.

"Jangan bilang kau juga akan ikut turun dalam perburuan?!" Selica bertanya kepada Levi.

"Kalau Rudy menjadi kapten, aku juga akan turun menjadi seorang pemburu" Levi tersenyum sambil menatap pertarungan Rudy dan Guren.

Sudah beberapa saat mereka bertarung, terlihat Guren mulai kelelahan.

"Apa kau sudah lelah?" Tanya Rudy.

"Belum.... dasar belut.. aku tidak menyangka kalau kau akan selincah ini" dengan nafas yang tersenggal-senggal Guren kembali melancarkan serangannya.

Namun sekali lagi Rudy menghindar dengan cepat sambil melancarkan serangannya kearah Guren, tetapi panah itu dengan mudah ditangkis oleh Guren.

"Hahaha meskipun kau lincah, tetapi kau tidak bisa mengenai ku"

"Apa kau yakin?" Rudy tersenyum kepada Guren.

"Yah.. dan apa kau sadar kalau anak panah mu akan segera habis?"

Guren melihat kearah anak panah yang tinggal beberapa lagi berada ditas punggung Rudy.

"Aku tau.. setelah anak panah ini habis.. itu lah tanda kekalaham mu" Rudy memancing emosi Guren.

Mendengar itu Guren tersenyum dan mulai panas. ia melesat cepat kearah Rudy dengan pedang yang ia posisikan didepannya demi menangkis serangan anak panah dari Rudy.

Rudy tidak merubah posisinya dan terus menerus melancarkan anak panahnya dengan cepat sampai anak panah yang terakhir.

Tentu saja serangan panah yang beruntun dari Rudy bisa ditangkis oleh Guren dengan mudah, lalu pada akhir dimana Guren sudah berada di depan Rudy.. ia segera mengambil ancang-ancang untuk mengayunkan pedangnya.

"Maafkan aku.. tapi aku yang menang" Kata Guren percaya diri.

Rudy tersenyum dan segera mengambil belati yang berada dipinggangnya, lalu membenturkan belati tersebut ke pedang milik Guren demi menangkis serangan.

Namun tidak disangka-sangka, pedang Guren yang besar itu patah hanya dengan sekali ayunan belati yang ukurannya jauh lebih kecil.

"Apa?!!" Mereka semua terkejut sekali lagi.

Mata Guren bergetar dan keringat diwajahnya mulai menetes kebawah.

"Kau kalah.." Rudy tersenyum sambil menodongkan belatinya keleher Guren.

"Bagaimana bisa!?" Tanya Rovi yang sedang menyaksikan pertarungan itu.

"Kalian sepertinya tidak menyadari kalau serangan dari Rudy itu bukanlah serangan asal, tetapi serangan yang terpusat" Levi menjelaskan.

"Terpusat?" CLoe yang sedang terkejut menanyakan maksud dari pernyataan Levi.

"Kalau kalian sadar, semua serangan anak panah dari Rudy mengarah ke satu titik pada pedang Guren dan membuat ketahanan pedang itu melemah lalu retak pada serangan anak panah yang terakhir"

Wajah mereka seperti baru saja melihat sebuah maha karya yang besar setelah mendengar penjelasan dari Levi.

"Tetapi.. bagaimana bisa dia melakukan itu?! Guren mengayunkan pedangnya dan itu pasti membuat titik targetnya berubah-ubah bukan?!" Tanya Gai.

"Yah.. kalau kau bertanya seperti itu, sampai sekarang pun aku juga tidak tahu bagaimana cara dia melakukannya" Levi menghela nafasnya.

Pertarungan itu dimenangkan oleh Rudy dengan telak. Bagi dirinya, Guren hanyalah lawan yang empuk karena ia bertarung hanya mengandalkan instingnya saja dan hal itu yang membuatnya tidak menyadari kalau ketahanan pedangnya mulai melemah.

"Apa kau sudah mengakui ku?" Tanya Rudy tersenyum.

Guren segera menjatuhkan pedangnya ketanah dan mengangguk dengan malu.

"Good.. mulai sekarang aku kapten kalian.. sekarang, ayo kita makan" Rudy berjalan melewati Guren sambil tersenyum riang.

"Ahh untuk mu! kau harus membayar pedang yang sudah kau rusak itu" masih dengan senyumannya Rudy menoleh kembali ke Guren.

"Ehhh..!!" Guren menoleh dengan wajah yang tidak bersalahnya.

____________

NOTE : Maaf kalau ada kesalahan kata atau typo, karena saya nulisnya di hp.. Laptop saya rusak hahaha

1
Ameng lia
drow
Ameng lia
jangan kalah juga dong elfnya
Ameng lia
kelamaan nyamarnya
Ameng lia
nagatomo ,aku baca sutomo
Ameng lia
waduh zowie di culik
Ameng lia
god > tuhan , , kenapa tuhan jahaaat ??!!
Ameng lia
demigod ras jahat
Ameng lia
harusnya demiclesnya jng smpe keluar dulu takut ketauan Dogol
Ameng lia
pembantaian di mulai
Ameng lia
berkali kali baca epic moment ini lah yg terkesan
Ameng lia
mc bukan nnaif , tapi harus melihat realita
Ameng lia
mantapp
Ibrahim Rusli
nda tau sudah berapa kali baca cerita ini tapi sumpah chapter ini epic moment menutku ..✌️🤩
Mkh 18
Luar biasa
Gatot Suharyono
karakter MC nya sangat tidak menarik !
Gatot Suharyono
maunya mau bikin MC nya kelihatan rendah hati, tapi malah terkesan sombong ! ya salah MC nya sendiri gak mau menaikkan levelnya !
Gatot Suharyono
aaaahh. . . . author nya yang taik kucing, jelas satu tim, kok MC nya dimunculkan belakangan setelah anggota tim nya babak belur !? gak lucu hampir sama setiap novel beginian !
Mohd Harmizi
skipid skipid bomm pak pak
Ramadian Susanto
Luar biasa
Muh Ilham
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!