NovelToon NovelToon
Bukan Menantu Sempurna

Bukan Menantu Sempurna

Status: tamat
Genre:Angst / Penyesalan Suami / Ibu Mertua Kejam / Pihak Ketiga / Tamat
Popularitas:340.3k
Nilai: 4.9
Nama Author: Santi Suki

Hafsah, seorang istri yang sering mendapat perlakukan tidak adil dari ibu mertuanya, hanya karena belum bisa memberikan cucu untuknya. Ruqoyah meminta Ali untuk menceraikan istrinya yang dia anggap mandul.

Hinaan, sindiran, dan dijadikan babu di rumahnya sendiri sering Hafsah dapatkan. Meski begitu dia selalu sabar menjalani semuanya dan ada Ali yang selalu menjadi kekuatan dirinya.

Sarah, cinta pertama dari Ali hadir kembali di tengah-tengah kemelut kehidupan rumah tangga Hafsah. Wanita kaya itu banyak menawarkan kebahagiaan untuk Ruqoyah.

Akankah Hafsah bertahan atau memilih pergi? Benarkah Hafsah adalah wanita mandul?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34. Permainan Panas Ali

Bab 34

Ruqoyah tetap asyik makan dan seakan tidak peduli dengan Ali saat ini. Dia menyangka kalau putranya itu memang sakit karena kelelahan. Jadi, dia membiarkan anaknya itu untuk beristirahat di kamar hotel. Wanita paruh baya itu juga percaya kalau Ali dan Sarah tidak akan berbuat macam-macam.

Wanita yang dilihat oleh Ali dalam pelukannya adalah Hafsah. Mereka saling bercumbu dengan mesra. 

"Kenapa?" tanya Sarah.

"Sayang, kenapa wangi tubuhmu berbeda?" Ali balik bertanya.

Kedua orang itu sedang berada di atas ranjang. Ali mengungkung tubuh Sarah dibawahnya.

'Memangnya si Hafsah wangi apa tubuhnya? Jangan-jangan dia bau badan dan tubuh aku wangi parfum,' batin Sarah.

"Aku memakai parfum baru. Apa Abang suka dengan wanginya?" tanya Sarah sambil membelai rahang kokoh milik Ali.

Laki-laki itu menggeleng. Dia tidak suka aroma wangi parfum itu. Menurutnya wangi tubuh Hafsah yang biasanya itu sering membuatnya tenang dan senang.

"Kalau begitu aku tidak akan lagi memakai parfum ini jika Abang tidak suka sama wanginya," tutur Sarah dengan senyum genitnya.

Ali terdiam menatap wajah Sarah. Dia merasa pancaran mata dan raut wajah istrinya juga berbeda.

Tiba-tiba saja terlintas dalam otak Ali bayangan Hafsah yang sedang duduk di atas sajadah sambil menangis. Tentu saja dia panik dan mencari keberadaan wanitanya.

"Abang ada apa?" tanya Sarah saat melihat Ali seperti linglung.

Ali langsung berlari ke arah kamar mandi. Dia masukan kepalanya ke wastafel dengan kran mengucur deras. Lalu dia menepuk-nepuk wajahnya dan melihat ke cermin.

"Abang ada apa?" Terlihat Sarah sedang berdiri di pintu kamar mandi dengan penampilan yang acak-acakan.

Ali beristighfar saat menyadari kalau keadaan dia saat ini sedang berbahaya. Selain itu gairah ditubuhnya juga kembali menguat. Langsung saja laki-laki itu berlari meninggalkan Sarah di kamar itu.

Jarak dari lantai paling atas ke lantai dasar terasa sangat lama oleh Ali. Sementara itu tubuhnya sudah tidak kuat lagi menahan gairah yang terasa meledak-ledak.

'Ya Allah, aku mohon lindungi aku. Jangan sampai aku berbuat dosa,' batin Ali.

Begitu Ali keluar lobi, dia melihat ada motor ojek online yang memakai jaket warna hijau baru saja menurunkan penumpangnya.

"Pak, tolong antarkan aku ke perumahan jalan Asrama nomor 5!" pinta Ali sambil memakai helm.

"Ngebut juga tidak apa-apa, Pak. Ini sedang genting keadaannya," lanjut Ali saat mereka sudah berada di jalan utama.

Mobil Ali ditinggalkan begitu saja di hotel. Tadi dia memang membawa mobil sendiri karena niatnya langsung kembali ke kantor begitu selesai makan siang.

Motor yang ditumpangi oleh Ali melaju dengan kencang tanpa hambatan. Tukang ojek mahir menyalip dan tetap fokus pada kendaraan yang sedang dikendarai olehnya.

Begitu sampai ke pintu gerbang Ali langsung memberikan selembar uang berwarna merah kepada tukang ojek.

"Pak, ini kembaliannya!" teriak si tukang ojek.

"Buat Bapak saja semuanya," balas Ali tanpa menoleh karena dia fokus berlari ke dalam rumah.

Hafsah yang baru saja selesai mandi merasa mendengar suara teriakan orang dari luar. Lalu, dia melihat ada tukang ojek yang berada di depan gerbang rumah. Namun, dia tidak melihat Ali karena sudah masuk ke teras rumah.

"Alika atau ibu yang pulang? Kok, tidak di antar malah naik ojek," gumam Hafsah.

Jantung Hafsah terasa melonjak saat tiba-tiba pintu kamar dibuka dengan kasar. Dilihatnya Ali berlari ke arahnya dengan penuh napsu.

"Abang A–"

Ali mencium rakus bibir Hafsah sampai wanita itu pasrah diperlakukan seperti itu oleh suaminya. Selama ini dia tidak pernah melakukan hal seperti ini.

Laki-laki yang sedang diliputi oleh hawa napsu yang kuat dan setiap sentuhan balasan dari sang istri itu justru memancing birahinya. Awalnya Hafsah terkejut dengan perlakuan dari suaminya ini. Namun, selanjutnya dia mencoba mengimbangi keliaran Ali.

"Abang, ada apa? Apa sudah terjadi sesuatu?" tanya Hafsah sambil membelai wajah Ali yang masih berada di atas tubuhnya.

"Aku merasa tiba-tiba tubuhku merasa aneh. Rasanya ada seseorang yang memasukan obat perang_sang ke dalam makanan atau minuman aku," jawab Ali sambil kembali memberikan sentuhan pada tubuh istrinya.

Ali dan Hafsah bercinta sampai terdengar kumandang adzan Ashar. Mereka mandi besar untuk melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim. Apakah permainan Ali berakhir sampai sana? Jawabnya adalah tidak. Begitu mereka selesai melaksanakan sholat, Ali kembali membawa Hafsah untuk mengarungi surga dunia. Reaksi obat itu masih kuat dirasakan pada tubuhnya.

Hafsah tadi masih sempat meminta izin kepada pihak guru mengaji untuk mengganti dirinya untuk mengajar anak-anak TK. Dia berusaha untuk membantu suaminya mengatasi semua kesakitan dengan bercinta dengannya. Meski dia merasakan kelelahan dan cukup sakit akibat gempuran suaminya yang menggila dan tidak merasa puas.

'Ya Allah, ada apa dengan suamiku ini? Semoga Engkau selalu melindungi kami,' batin Hafsah.

Kini Ali merasa sudah mendingan, dia kasihan saat melihat Hafsah yang sampai kelelahan seperti ini. Dia juga beberapa kali meminta maaf kepada sang istri karena sudah menyakitinya, meski wanita itu bilang tidak apa-apa dan semua baik-baik saja.

***

Ruqoyah pulang ke rumah di antar oleh Sarah. Dia berpikir Ali tadi pulang ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaannya. Kedua wanita itu tidak tahu kalau saat ini Ali sedang mengarungi puncak surga dunia.

"Kamu akan pulang?" tanya Ruqoyah.

"Iya, Bu. Aku juga akan kembali karena masih ada urusan," jawab Sarah lalu pergi meninggalkan rumah itu.

Ruqoyah yang sudah kekenyangan makan di restoran yang menghabiskan uang belasan juta itu merasa puas lalu langsung tertidur di kamarnya yang ada di lantai bawah.

***

Ruqoyah mengedor-gedor pintu kamar Ali dan Hafsah. Sekarang sudah waktunya makan malam, tetapi tidak ada makanan di atas meja.

"Ada apa, Bu?" tanya Ali yang baru saja selesai mandi dan melaksanakan sholat Isya.

"Kenapa makan malam belum tersedia?" tanya Ruqoyah dengan kesal.

"Sudah aku pesankan, Bu. Sebentar lagi mungkin akan sampai," jawab Ali.

"Mana istrimu? Apa dia sakit? Kenapa tidak terlihat sejak tadi?" tanya Ruqoyah sambil mencuri pandang ke arah dalam kamar.

Ruqoyah tidak tahu kalau Hafsah sedang terkapar tidak berdaya akibat ulah putra kebanggaannya. Bahkan barusan Ali yang memandikan dirinya.

"Hafsah sedang tidak enak badan, Bu," ucap Ali dengan lembut.

"Dia sakit? Sakit apa? Jangan alasan sakit karena tidak mau memasak. Pasti dia sedang marah, 'kan? Karena tadi kita makan siang bersama dengan Sarah," tanya Ruqoyah dengan memberondong dan itu membuat Ali tidak suka.

"Bukan, Bu. Hafsah sedang merasakan badannya lemas, itu saja," bantah Ali dan terdengar suara bel di bawah.

Ali rasanya ingin melaporkan kejadian di restoran itu kepada pihak manajemen hotel. Namun, dia tidak punya bukti untuk memberikan tuduhan kepada Sarah.

Sementara itu di tempat lain, Sarah tersenyum puas saat melihat rekaman dirinya dengan Ali ketika sedang di dalam lift dan juga di kamar hotel. Dia memang sudah merencanakan hal itu jauh-jauh hari.

"Ali, kamu memang yang terbaik. Ciumanmu masih bisa aku rasakan sampai saat ini," ucapnya dengan senyum bahagia.

***

Apakah akan terjadi masalah baru di dalam hubungan Ali dan Hafsah? Ikuti terus kisah mereka, ya!

1
Choirul “Choso” Soleh
walah walah ... ini sich rumah seperri mau perang dunia aja tiap hari
ceuceu
ga suka karakter ali lembek terlalu nurut ke ibu,uang belanja ke ibu semua,disuru nikah lg nurut.
berbakti kpd ibu bukan harus selalu menuruti,tapi di satu sisi dzolim ke istri ga ngasi nafkah mau di pologami pula
ceuceu
Ali harusnya paham agama,memberi orangtua bagi anak laki harus,tapi memberi nafkah istri jg wajib.
bukan semua di kasi ke ibu,sedangkan istri tdk di beri nafkah
Erina Munir
waduuh kebanyakan drama nih crita mskes deh ah bacanya...😏😏😏
Erina Munir
haha alika jdi sugar baby meureeun
Erina Munir
g kuaaaat gwe maahhh...punya mertoku kaua gitu mwnding bubaarr....nenek lampir dasar...
Endang Sulistia
bagus
Endang Sulistia
aiih...panas g tuh si ali..
Rahmawati Amma
ceritanya saya suka 😍
Rahmawati Amma
puasa aku thor bacanya gue kasih like di semua babnya cuma di bab terakhir aku berkomentar 😘☺️😁✌️
🌸 Sunshine 🌸: makasih, Kak ☺️
total 1 replies
kurnia rahayu
♥️♥️♥️👍👍👍🙏🙏🙏
ayu cantik
bsgus
Daliffa
🥰🥰
Lina Suwanti
mampir kak,,bab awal dah sedih n bikin kesal sama kelakuan ibu mertua,adik ipar n jg suami yg tdk tegas pada ibu n adiknya
ayu cantik
bagus banget
Nurlaila Hasan
sukaa
Sri Puryani
terima kah thor🙏
Sri Puryani
hafsah telp p rt, rw& polisi
Sri Puryani
bimo termkn omongan yasmin jg
Sri Puryani
yasmin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!