Siapa sangka. Hidup bahagia bersama pria yang sangat dicintai Lala kandas begitu saja hingga akhirnya dia dijuluki sebagai pelakor. Kesabarannya telah habis hingga ia memutuskan menikah dengan pria lain. Sayangnya, Rama tidak membiarkan Lala bahagia. Dia terus mengusik hidup Lala karena baginya Lala adalah miliknya.
Bukan hanya itu saja. Pria yang dinikahi Lala juga memiliki segudang rahasia. Lala merasa frustasi melihat takdir hidupnya yang tidak pernah memihak kepadanya.
Akankah Lala bisa meraih kebahagiaan yang selama ini ia impikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sisca Nasty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BP. Bab 34
Waktu terus berjalan hingga tidak terasa sudah tiga hari Lala dan Rama ada di rumah sakit yang sama tanpa mengetahui keberadaan masing-masing. Robi tidak juga kembali ke rumah sakit selama tiga hari karena dia memiliki masalah rumit yang sampai detik ini belum terselesaikan.
Pagi itu, Lala sudah lepas infus. Wanita itu sudah kelihatan segar dan sepertinya hari ini sudah diperbolehkan pulang. Setelah selesai mandi dan makan, Lala dan Rena duduk di kursi sambil memandang keluar jendela. Pemandangan di siang hari sungguh indah. Melalui jendela mereka bisa melihat gedung-gedung tinggi yang ada di dekat rumah sakit.
Lala belum pernah meninggalkan ruangan itu sejak dia dinyatakan membaik. Rena selalu saja mencari alasan untuk menghalangi Lala keluar dari ruangannya. Setelah Rena tahu kalau di depan ruangan mereka adalah Rama, sejak saat itu dia tidak mau keluar lagi dan tidak juga membiarkan Lala sampai keluar ruangan. Wanita itu tidak mau sahabatnya sakit hati lagi. Apa lagi jika sampai melihat Rama di jaga oleh Maya.
Lala mengambil gelas di depannya dan meneguk air putih itu dengan rakus. Dia terus saja merasa haus dan lapar setelah beberapa hari yang lalu tidak berselera makan. Setelah meletakkan gelas kosong di meja, Lala mengambil potongan buah dan memakannya satu persatu. Rena juga memakan potongan yang buah yang berasal dari piring yang sama.
"Ren, semoga dokter benar-benar mengizinkan kita pulang hari ini," ujar Lala sambil mengunyah buah. "Gue bosen di sini."
"Gue sudah diperbolehkan pulang sejak semalam sore. Kan tinggal Lo aja yang belum dapat izin," sahut Rena. "Kalau Lo hari ini belum diperbolehkan pulang. Gue tinggal!" ledek Rena sambil menahan tawa. Lala hanya menyipitkan kedua matanya tanpa tertarik menanggapi ledekan Rena.
"Marah! Gitu aja marah," ledek Rena lagi. Tidak lupa di menggelitik sahabatnya agar tertawa dan bisa mencairkan suasana lagi.
"Stop, Ren. Geli," pinta Lala sambil menahan tawanya.
"La, rumah sakit ini enak ya. Makanannya enak dan ruangannya nyaman banget," ujar Rena sambil memperhatikan keadaan sekitar.
"Tapi, tetap saja namanya rumah sakit bukan hotel, Ren." Lala memandang ke arah televisi. Sebenarnya pikirannya tidak ke televisi tersebut. Wanita itu memikirkan kebaikan Robi. Ia merasa beruntung bisa mengenal Robi. "Ren, dimana Tuan Robi? Kenapa dia tidak pernah muncul?"
"Entahlah. Gue juga gak tahu. Nanti setelah kita pulang. Kita buatkan sesuatu ya untuk Tuan Robi. Sebagai ucapan terima kasih."
"Ide yang bagus," sahut Lala. "Makanan gitu kan? Atau membeli sebuah benda yang bernilai sedikit mahal?"
"Apa lagi yang bisa kita buat selain makanan? Barang mewah yang menurut kita mewah tidak akan sama dengan barang milik Tuan Robi. Sudah dech, makanan saja. Kita berdua buatkan makanan yang lezat. Kita harus berani jamin kalau Tuan Rama belum pernah memakan makanan yang kita buat nanti," sahut Rena dengan senyuman. Lala hanya tersenyum saja mendengarkannya.
"Ren, apa Lo baik-baik saja? Akhir-akhir ini gue lihat Lo sering ngelamun."
"Ngelamun? Ngelamun apaan?" Rena memalingkan wajahnya karena tidak berani menatap kedua mata Lala secara langsung.
"Ren, pandang gue. Gue tahu Lo lagi sembunyiin sesuatu. Walaupun Lo tertawa dan memasang wajah sok ceria. Tetap saja gue tahu kalau Lo lagi ada masalah. Kita memang gak berteman sejak kecil. Tetapi, kita sangat dekat sejak kita kenal. Sudah seperti saudara. Tidak ada yang bisa Lo tutupi dari gue. Dan gak ada yang bisa gue tutupi dari Lo."
"Gue butuh waktu untuk cerita La. Please ngertiin gue. Jika gue sudah menemukan waktu yang tepat, gue janji akan cerita." Rena terlihat bersungguh-sungguh.
Lala tidak lagi sanggup memaksa Rena untuk menceritakan masalah yang ia alami. Wanita itu memeluk Rena sambil mengusap pundaknya dengan lembut.
"Apapun masalah yang Lo alami saat ini. Gue harap Lo segera mendapatkan solusinya Ren," gumam Lala di dalam hati.
Suasana berubah hening ketika tidak ada lagi topik yang harus di bahas dua wanita itu. Mereka larut dalam pikiran mereka masing-masing. Sampai ketika suara ketukan pintu terdengar dan pintu itu segera terbuka.
Seorang dokter dan beberapa suster masuk ke dalam. Dokter wanita itu menyapa Lala dan Rena dengan senyuman ramah. Bisa dibilang mereka tamu mahal. Berada di kamar VVIP. Jelas saja perlakuan terhadap mereka sangat baik. Robi akan marah jika sampai Lala maupun Rena melapor kalau pelayanan di rumah sakit itu kurang.
"Nona Lala, bagaimana keadaan anda hari ini?" tanya dokter tersebut.
"Saya merasa jauh lebih baik, Dok. Apakah saya sudah boleh pulang?" tanya Lala cepat. Wanita itu tidak mau bermalam di kamar rumah sakit lagi.
"Setelah hasil tes darah keluar dan anda dinyatakan baik-baik saja. Maka anda boleh pulang, Nona." Dokter itu memegang pergelangan tangan Lala untuk memeriksa denyut nadi wanita itu.
"Dok, apa benar semua biaya pengobatan saya dan Rena sudah di tanggung oleh Tuan Robi?" Lala hanya ingin memastikan kalau dia nanti akan pulang dalam keadaan tenang. Tidak harus memikirkan bagaimana mencari uang untuk membayar biaya pengobatan.
"Benar, Nona. Semua biaya pengobatan anda dan Nona Rena telah dilunasi oleh Tuan Robi. Jika nanti hasil tes darah menunjukkan hasil yang memuaskan, maka anda bisa pulang tanpa membayar sepeserpun," sahut suster yang ada di samping dokter tersebut.
"Anda sudah dengar sendiri, Nona?" sahut Dokter tersebut.
"Terima kasih, Dok. Lalu, apa saya sudah boleh jalan-jalan keluar? Rena bilang ada roof top di ujung lorong ini. Saya ingin melihatnya," pinta Lala dengan wajah memohon.
"Tentu saja boleh, Nona. Tetapi, anda masih harus menggunakan kursi roda. Anda belum boleh banyak gerak." Dokter itu memandang suster di sampingnya. "Temani Nona Lala keluar untuk mencari udara segar."
"Baik, Dok," sahut suster.
"Saya permisi dulu, Nona," pamit dokter itu. Dia melangkah pergi meninggalkan Lala dan Rena. Sebelum keluar, dokter itu sempat bertanya sesuatu kepada suster yang ikut bersamanya. "Siapa lagi pasien berikutnya?"
"Tuan Rama, Dok," sahut suster tersebut.
Lala kaget bukan main mendengar nama Rama. "Rama?" celetuknya.
Rena mengepal kuat tangannya. Ia tidak mau sampai Lala tahu kalau Rama juga di rawat di rumah sakit ini. "Tama. Sepertinya kau salah dengar. Suster itu bilang, Tama," sangkal Rena.
Lala menggeleng pelan. "Aku tidak salah dengar," protesnya tidak terima. "Suster itu bilang Rama. Aku akan tanyakan lagi jika suster itu masuk ke dalam ruangan ini."
"Gawat! Sekarang aku harus bagaimana agar Lala tidak tahu kalau Rama yang dimaksud itu adalah Rama pacarnya?" gumam Rena di dalam hati.