Abraham dimitri mencintai sahabat semasa remaja dalam diam. Namun, ia memilih pergi menjauh, dan merelakan saat gadis itu memilih lelaki lain sebagai pasangan hidupnya. Ia pergi membawa cinta yang harus pupus bahkan sebelum sempat di ungkapkan. Ia pun mulai kembali menata hidupnya bersama wanita pilihan kedua orang tuanya, sayangnya semua tak bertahan lama. Sebuah kecelakaan di rumah membuatnya harus kembali menelan pil pahit kehilangan untuk kedua kalinya. Ia terpuruk, di hantui rasa bersalah atas kematian sang istri hingga memutuskan untuk pergi jauh bahkan saat putranya masih bayi. Namun, takdir kembali mempertemukannya dengan Shaqina, cinta pertamanya. Kehidupan Shaqina yang jauh dari ekspektasinya membuatnya memutuskan untuk kembali menetap dan mencoba memperjuangkan cintanya yang belum usai. Sayangnya keinginannya bertentangan dengan sang ibu yang menginginkan wanita lain untuk menjadi istrinya. Akankah Abraham berhasil menyelesaikan kisah cintanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elasukma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Shaqina masih memandangi undangan yang di kirim Abraham tadi siang tanpa mau membukanya. Pikirannya benar-benar kalut, ada rasa kecewa, marah, dan sedih yang bercampur jadi satu dalam benaknya.
Ia tak pernah menyangka keputusannya untuk menjaga jarak dari sahabatnya justru membuat dia kehilangan lelaki itu untuk selamanya.
Menyesal? Sudah pasti, tapi apa yang bisa ia lakukan? Ia hanya seorang sahabat yang harus mendukung apapun keputusan Abraham tanpa menuntut penjelasan. Ia tak punya hak lebih untuk itu.
Qina menghela napasnya berat, memandang wajah anak-anaknya yang tengah terlelap memberinya kekuatan baru untuk lebih tegar menjalani hidup.
"Kamu pasti bisa, Qina!" gumamnya menyemangati diri sendiri.
"Tak apa jika saat ini kamu merasa kecewa, atau pun merasa di jatuhkan oleh kenyataan yang tak sesuai harapan, yang terpenting kamu bertekad untuk segera bangkit. Ayo Qina! Jangan terlalu lama terpuruk, anak-anak membutuhkanmu kau harus kuat demi mereka!" Begitulah Qina menyemangati dirinya.
Undangan yang tergeletak di meja ia simpan kembali dalam tasnya, tak ada niat sedikitpun untuk membukanya. Simbol dua hati dan inisial huruf P&A
sudah cukup mewakilkan acara apa dan siapa yang tertera dalam undangan itu.
Sudah cukup ia terluka, tak perlu ia menambahnya dengan membaca isi undangan itu.
Pagi yang menjelang membuatnya segera menyibukan diri di dapur, Beruntung kini Safia sudah bisa membantunya untuk mengurus adik-adiknya hingga ia bisa melakukan pekerjaan lain dan segera menyiapkan sarapan untuk mereka.
Usai sarapan wanita itu mengantar anak-anaknya kesekolah kemudian bergegas menuju mini market tempatnya mencari nafkah.
"Pagi Mbak," sapa Dewi begitu ia mendorong pintu dan masuk ke dalam mini market itu.
"Pagi juga, Wi. Sudah sembuh, kamu?" tanyanya pada gadis itu. Kemarin Qina mendapat kabar bahwa teman kerjanya itu demam hingga tak bisa bekerja.
"Udah, Mbak. Kan udah di bawa ke dokter bareng ayang," ucap gadis itu sambil nyengir membuat Shaqina tertawa kecil. Qina menaruh tas selempangnya di loker miliknya lalu kembali ke depan untuk membantu Dewi.
"Mbak, perasaan mas Abraham kok gak pernah jemput kamu lagi?" cetus gadis itu.
Shaqina menoleh sebentar "Emangnya harus, ya. Dia selalu jemput aku? " ucapnya lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Ya enggak sih, cuma merasa aneh saja, biasanya kan hampir tiap hari mas Abraham jemput kamu, tapi belakangan ini dia menghilang begitu aja. Apa kalian sedang bertengkar?"
Shaqina menggeleng pelan, dia sibuk mempersiapkan pernikahannya Wi."
"Hah? Mas Abraham mau nikah? Sama siapa? " cecar gadis itu.
"Ya sama calon istrinya, lah."
Penjelasan Shaqina membuat gadis super kepo itu semakin penasaran saja, "Cewek yang pernah labrak kamu itu, Mbak? Kok bisa? "
Shaqina tersenyum, "Ya bisalah, buktinya mereka mau nikah."
"Tapi, Mbak?"
"Udah, ah. Jangan terus bahas Abram, mending pokus kerja aja, kerjaan kita masih banyak, lho." pangkas Qina membuat wanita itu mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih lanjut.
Para pembeli yang mulai berdatangan juga membuat mereka tak sempat lagi mengobrol hingga jam kerja Shaqina usai.
🌺🌺🌺🌺
Waktu berjalan begitu cepat, tak terasa sudah hampir satu minggu sejak Abraham mengantarkan surat undangan untuknya.
"Wi, temenin aku cari kado, yuk, " cetus Shaqina satu hari di jam istirahat kerja mereka.
"Buat nikahannya mas Abraham?" tanya gadis itu yang di angguki oleh Qina.
"Aku kasih kado apa ya, Wi? " tanyanya lagi.
"Aku masih gak percaya lho, kok bisa mas Abra nikah sama nenek sihir itu," ujar gadis itu lagi.
"Nenek sihir?" cetus Qina seraya terkekeh mendengar sebutan Dewi untuk Puspa.
"Ya habisnya, dia datang langsung marah-marah. Dan matanya itu lho, udah kayak mau keluar aja jafi cocok kan, ku pangil dengan sebutan nenek sihir." ujar gadis itu sembari tertawa puas.
Qina hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan gadis itu.
"Tapi serius, Mbak. Bukannya waktu itu mas abram yang bilang sendiri kalau dia gak ada hubungan apa-apa dengan cewek itu? Kenapa sekarang dia menikahi cewek itu?"
Qina mengalihkan pandangannya lurus ke depan, Kenapa? Kenapa Abraham menikah dengan wanita itu padahal sebelumnya pria itu menyangkal hubungan mereka? Itu juga yang menjadi pertanyaan Qina sampai saat ini.
Usai jam kerja selesai, dengan di temani Dewi ia pergi menuju Mall terdekat di kotanya untuk membeli kado yang akan ia berikan pada Abraham di hari pernikahannya nanti. Setelah mendapatkan apa yang ia inginkan, mereka juga masuk kesebuah toko untuk membeli beberapa pakaian.
"Hai Qina, apa kabar?"
Sapaan dari seorang wanita di belakangnya membuat keduanya menoleh. Seorang wanita dengan perut membuncit berdiri di depan mereka. Qina mengenal wanita itu, ia adalah Irene wanita yang sudah merebut suaminya.
"Gak sangka, ya bisa bertemu kamu di sini. Btw pengawal setiamu kemana? Gak ikut? Atau udah ninggalin kamu juga?" ejek wanita hamil itu.
Qina tak mau menanggapi, ia lebih memilih mengajak Dewi meninggalkan tempat itu. Sayangnya wanita hamil itu justru mengikutinya dan kembali mencibirnya.
"Qina... Qina. Jelek banget, sih nasib kamu, udah di tinggalin suami, sekarang di tinggalin pula sama cowok itu. Makanya, Qi. Jadi perempuan itu jangan cuma pintar di dapur, tapi pintar di ranjang juga, biar gak ditinggalin terus sama laki-laki!"
Plak! Satu tamparan mendarat sempurna di pipi wanita berbadan dua itu. Bukan Qina melainkan Dewi yang melakukannya.
"Berani banget kamu tampar aku!" geram wanita itu.
"Pelakor macam kamu memang pantas mendapatkan itu! Bahkan jika bukan karena kamu lagi hamil aku bisa berbuat lebih dari ini!" bentak gadis itu tak kalah lantangnya.
"Harusnya kamu tuh malu udah rebut suami orang sekarang malah buly istrinya. Dasar pelakor lucknut!" teriak gadis itu hingga menarik perhatian orang-orang.
"Apa kamu bilang?"
"Kenapa? Gak terima? Memang benar, kan! Kamu jangan terlalu senang karena berhasil rebut suaminya Mbaj Qina, ingat suatu saat nanti karma akan meninpamu!"
Ocehan Dewi membuat wanita itu naik pitam hingga berusaha menjambak wanita itu, namun dengan sigap gadis itu menepis tangannya dan berbalik mendorong nya.
"Udah, Wi. Gak usah di ladeni kita keluar saja dari sini!" ujar Qina tapi gadis itu menolak.
Dengan terpaksa Qina menarik tangan Dewi dan membawanya pergi dari tempat itu.
Tanpa mereka sadari sepasang mata tajam memperhatikan apa yang sudah terjadi di tempat itu. Rahangnya mengeras hingga giginya bergemeretak menahan amarah.
To be continued.
Hayo! Siapa tuh yang ngintipin dari jauh?
Terus, kira-kira mas Abraham beneran nikah gak, ya?
Bab kedua hari ini done ya gays😊 jangan lupa kasih dukungannya buat Qina dan Abraham.
Love-love buat kalian 😘
j
Sehat selalu author semangat berkarya.
Good job 😘😘