NovelToon NovelToon
Meraih Bintang

Meraih Bintang

Status: tamat
Genre:Romantis / Fantasi / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Indah Pramana

Bunga Lestari bukan siapa-siapa.

Yatim piatu dari desa kecil di Jawa Timur, dia datang ke Jakarta dengan satu tujuan: membalas dendam kepada orang yang menghancurkan keluarganya. Tanpa uang, tanpa koneksi, tanpa pendidikan — yang dia punya hanya tinju dan tekad.

Tapi malam itu, di sebuah gala dinner yang dia coba susup, seorang pria asing menabraknya. Dan tiba-tiba, suara pria itu ada di dalam kepalanya.

Rangga Wicaksana — pewaris keluarga konglomerat, jenius hukum, tampan dingin — jiwanya terjebak di tubuh Bunga. Dia bisa merasakan apa yang Bunga rasakan. Mendengar apa yang Bunga pikirkan. Dan yang paling parah: dia tidak bisa keluar.

"Bantu aku menjatuhkan musuhku," kata Rangga.
"Bantu aku naik ke puncak," kata Bunga.

Perjanjian dimulai. Tapi bagaimana caranya menjaga rahasia, ketika dia bisa merasakan detak jantungmu setiap kali kamu berbohong?

🔥 Ikatan jiwa. Dendam. Cinta yang tak seharusnya. Dan satu gadis kampung yang bertekad meraih bintang — dengan caranya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Bab 020

Perjanjian Kedua

Dan Bunga membenci Prabu untuknya, diam-diam, saat itu juga.

Kebencian itu masih menempel ketika Melati mengantarnya pulang. Di dalam mobil, Melati tidak bertanya, tetapi ia menaruh sebotol air mineral dan roti kecil di pangkuan Bunga. Bunga memakannya tanpa banyak bicara. Rangga juga diam. Untuk pertama kalinya, keheningan di antara mereka bertiga terasa seperti benda yang sengaja tidak disentuh agar tidak pecah.

Di depan gang kos, Melati baru berkata, "Kamu tidak harus cerita sekarang. Tapi kalau suatu hari kamu butuh orang yang berdiri di luar gedung lagi, panggil aku."

Bunga menatapnya. "Kamu tidak takut?"

"Takut. Tapi aku lebih takut kamu pergi sendirian dan tidak pulang."

Bunga menggenggam botol air itu lebih erat. "Terima kasih, Mel."

Melati tersenyum kecil, lalu pergi setelah memastikan Bunga masuk gang.

Di kamar kos, Bunga menutup pintu, menyalakan lampu, dan duduk di lantai. Ia meletakkan ponsel, botol air kosong, roti yang tersisa, dan notes terbuka di depannya seperti barang bukti.

"Kita perlu bicara," katanya.

Rangga menjawab, "Ya."

"Bukan bicara seperti kamu menjelaskan risiko, lalu aku menebak sisanya. Bicara sungguhan."

"Baik."

Bunga menulis judul baru di notes:

`Perjanjian Kedua`

"Perjanjian pertama kita dibuat waktu aku belum tahu kamu siapa. Sekarang datanya berubah. Syarat berubah."

"Masuk akal."

"Syarat pertama, tubuhmu harus dipantau. Aku tidak bisa masuk tiap hari. Aku juga tidak mau Melati ikut terseret lebih jauh. Jadi kita perlu cara aman untuk tahu kalau Prabu mulai bergerak soal surat kuasa."

"Arjuna bisa menjadi penghalang."

"Arjuna tidak kenal aku."

"Dia menerima bunga darimu."

"Karena aku bilang dari orang yang pernah kamu tolong. Itu tidak bisa dipakai dua kali."

Rangga diam sebentar. "Saya punya orang yang mungkin bisa dipercaya."

"Nama?"

"Reno."

Bunga menulis. "Reno siapa?"

"Pengawal sekaligus orang rumah. Lebih tepatnya, satu dari sedikit orang yang tahu kapan saya benar-benar makan dan kapan hanya memindahkan makanan di piring."

"Itu data penting?"

"Untuk orang seperti saya, ya."

Bunga mengingat Tuan yang dulu mengaku tidak lapar tapi menikmati nasi bungkus seperti menemukan dunia. Ia menulis `Reno - cari jalur aman`.

"Syarat kedua," lanjut Bunga. "Kamu tidak boleh lagi menyimpan informasi yang membuat aku bisa celaka."

"Saya tidak bisa membuka semua hal sekaligus."

"Aku tidak minta semua. Aku minta yang berhubungan dengan keselamatanku."

"Setuju."

"Kalau ada nama keluarga, perusahaan, orang, tempat, yang bisa membahayakan aku, bilang sebelum aku berdiri di depan gedungnya seperti orang bodoh."

"Setuju."

"Syarat ketiga. Melati."

Rangga langsung berkata, "Jangan libatkan dia."

"Aku juga tidak mau. Tapi dia sudah di pinggir. Dia meminjamkan ponsel, baju, nama sosial, dan hari ini jadi titik aman. Kalau kita tidak jujur sama sekali, dia bisa celaka tanpa tahu kenapa."

"Kamu mau mengatakan semuanya?"

Bunga menatap ponsel. "Belum. Dia percaya sebelum ada bukti. Aku tidak mau membalas dengan cerita yang membuat dia terlihat gila kalau suatu hari dipaksa menjelaskan."

"Keputusan yang tepat."

"Tapi kalau ada risiko langsung ke dia, aku akan bilang."

"Setuju."

Bunga menulis cepat. Tangannya mulai mantap. Rasa marah berubah menjadi daftar. Itu lebih berguna.

"Sekarang bagianmu," katanya.

"Apa yang kamu inginkan?"

"Jangan balik tanya. Kamu yang punya keluarga, jaringan, dan musuh lima lapis. Apa yang bisa kamu beri?"

Rangga terdiam. Ketika bicara, suaranya kembali menjadi suara pria yang pernah memegang rapat direksi, tetapi kali ini tidak sepenuhnya dingin.

"Saya bisa memberimu peta orang-orang yang sedang kamu dekati. Keluarga Prawira, Permata, jejaring sponsor, kontrak Garuda Perkasa. Saya bisa mengajarimu membaca laporan, membedakan donasi palsu dan aliran dana. Saya bisa membantu kamu masuk lebih dalam tanpa terlihat seperti penyusup."

"Dan uang?"

"Akses saya sekarang terbatas."

"Aku tidak minta transfer. Aku tanya karena dunia kalian memakai uang sebagai bahasa."

"Kalau tubuh saya kembali, saya bisa memberimu lebih dari yang kamu bayangkan."

Bunga mengangkat alis. "Kalimat itu terdengar seperti promosi investasi bodong."

"Saya serius."

"Aku tahu. Makanya aku tidak mau bergantung pada itu." Ia mengetuk notes dengan jari. "Bantu aku belajar. Bantu aku membaca peta. Uang nanti. Kalau aku mau naik, aku tidak mau cuma digendong."

Emosi Rangga bergerak pelan, hangat tipis.

"Itu salah satu alasan saya memilih tetap bekerja denganmu."

"Kamu memilih? Mas, kamu tinggal di kepalaku. Pilihanmu terbatas."

"Tetap saja."

Bunga menahan senyum.

Lalu ia menulis baris terakhir:

`Tujuan bersama: Hartono Prakoso.`

Ruangan kecil itu mendadak terasa berbeda.

"Sekarang jelaskan," kata Bunga. "Kenapa kamu ingin menjatuhkan Hartono? Jangan jawab karena dia jahat. Aku sudah tahu dia jahat. Aku mau alasanmu."

Rangga tidak langsung bicara.

Di luar, tetangga kos menutup pintu. Suara televisi dari kamar sebelah bocor pelan. Hidup biasa tetap berjalan, seolah nama Hartono tidak pernah membakar desa, tidak pernah membuat orang hilang, tidak pernah membuat tubuh Rangga terbaring di fasilitas privat.

"Saya mulai menyelidiki Hartono dua tahun lalu," kata Rangga akhirnya. "Awalnya bukan karena Desa Kemuning. Saya menemukan pola dalam kontrak keamanan. PT Garuda Perkasa selalu muncul setelah konflik lahan, setelah proyek tambang, setelah warga menolak pindah. Mereka datang sebagai penyedia keamanan, lalu kekerasan terjadi, lalu perusahaan lain masuk dengan harga tanah yang sudah hancur."

Bunga menggenggam pulpen.

"Berapa banyak tempat?"

"Lebih dari yang bisa saya buktikan di pengadilan."

"Berapa banyak orang?"

Rangga menjawab sangat pelan, "Kalau menghitung langsung dan tidak langsung, sekitar lima puluh ribu terdampak. Kehilangan tanah, rumah, pekerjaan, keluarga. Beberapa mati. Beberapa hilang. Beberapa hidup tapi tidak lagi punya tempat pulang."

Lima puluh ribu.

Angka itu terlalu besar untuk masuk ke kamar kos Bunga. Ia memikirkan Desa Kemuning, Nenek Ratna, rumah terbakar, tubuh di lantai. Selama ini dukanya terasa seperti dunia paling besar. Ternyata dunia Hartono jauh lebih luas, dan penuh lubang yang berisi orang-orang seperti dirinya.

"Kenapa hukum tidak menangkapnya?" tanya Bunga.

"Karena bukti selalu berhenti di orang perantara. Karena saksi takut. Karena pejabat dibayar. Karena Hartono tahu kapan memakai seragam lama, kapan memakai yayasan, kapan memakai perusahaan. Hukum mengejarnya seperti mengejar bayangan di ruangan yang lampunya dia kendalikan."

Bunga menulis, tetapi hurufnya mulai miring.

"Malam gala?"

"Saya mencoba menyalakan lampu di depan semua orang."

"Lalu dia memukulmu sampai jiwamu tersasar ke kepalaku."

"Ringkasan kasar, tapi benar."

Bunga menatap notes.

`Hartono - lima puluh ribu. Hukum berhenti. Bukti harus dibuat publik dan utuh.`

Ia meletakkan pulpen.

"Aku ingin membunuh dia," katanya jujur.

Rangga tidak menghakimi. "Saya tahu."

"Tapi kalau dia mati begitu saja, lima puluh ribu orang tetap jadi angka yang bisa ditutup."

"Ya."

"Jadi kita harus buka semuanya."

"Ya."

Bunga menarik napas. "Perjanjian kedua. Kamu bantu aku naik tanpa membuatku jadi boneka keluargamu. Aku bantu kamu menjaga tubuhmu dan membuka kejahatan Hartono. Kalau suatu hari ada pilihan antara dendam cepat dan bukti utuh..."

Ia berhenti, karena kalimat itu sakit.

Rangga menyelesaikannya, "Kita pilih bukti utuh."

Bunga memejamkan mata sebentar. Wajah Nenek Ratna muncul, lalu hilang.

"Deal?"

"Deal."

Tidak ada jabat tangan. Tidak ada tanda tangan. Hanya seorang gadis di kamar kos dan seorang pria tanpa tubuh yang berbagi satu napas panjang.

Bunga membuka mata.

"Sekarang," katanya, "kita cari Reno."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!